K- M-O Measure of Sampling Adequacy Sig
1. Uji Secara Parsial
B
erdasarkan tabel 14 hasil uji koefisien determinasi, memiliki nilai
adjusted R-square sebesar 0,369. Nilai adjusted R-Square sebesar 0,369, hal ini berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen adalah sebesar 36,9%, sedangkan sisanya dijelaskan variabel lain di luar model penelitian. 2. Pembahasan
1. Uji Secara Parsial
a. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Set Kesempatan Investasi
Hipotesis pertama dari penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap Set Kesempatan Investasi. Hasil statistik uji t untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00 lebih kecil dari toleransi kesalahan = 0,05. Oleh karena nilai signifikansi dari variabel
Debt to Equity Ratio (DER) lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 4,071, hal ini berarti hipotesis yang menyatakan “Kebijakan pendanaan yang diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh negatif terhadap Set Kesempatan Investasi” ditolak.
Pada penelitian ini Kebijakan Pendanaan yang diproksikan Model R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 0,401 0,369 0,561815894
dengan Debt to Equity Ratio berpengaruh positif, sehingga hipotesis pada penelitian ini ditolak. Koefisien DER yang positif berarti semakin besar nilai DER maka nilai IOS pun akan semakin tinggi. Menurut Pecking Order Theory, sebuah tingkatan dalam pencarian dana perusahaan yang menunjukkan bahwa perusahaan lebih memilih menggunakan internal equity dalam membiayai investasi dan mengimplementasikannya sebagai peluang pertumbuhan. Pecking Order Theory menyatakan bahwa perusahaan lebih suka pendanaan internal dibandingkan pendanaan eksternal. Sejalan dengan Pecking Order Theory dalam teori Trade Off juga menyatakan bahwa semakin tingginya hutang dalam struktur modal maka akan semakin rendah tingkat investasinya. Berdasarkan data 30 perusahaan, ada 11 perusahaan yang melakukan hutang yang tinggi dibandingkan dengan struktur modalnya, sehingga ada 19 perusahaan yang melakukan hutang yang masih cukup rendah. Sehingga hasil dari penelitian menunjukkan hasil yang berlawanan arah dengan hipotesis. Terkait dengan keputusan investasi tepat yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah adanya kebijakan pendanaan yang digunakan oleh perusahaan dalam membiayai investasinya. Sebuah perusahaan dikatakan tidak solvable ketika proporsi penggunaan utangnya melebihi total asetnya. Apabila hutang tidak dikelola dengan baik maka, perusahaan yang bersangkutan tidak dapat
memanfaatkan peluang investasi yang ada, sehingga respons pasar menjadi negatif dan kesempatan perusahaan untuk berinvestasi menjadi rendah. Hal ini dikhawatirkan akan menganggu pertumbuhan perusahaan sehingga pada akhirnya juga akan menganggu tujuan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaannya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari Siska (2010) yang menyatakan Debt to Equity Ratio berpengaruh positif terhadap Set Kesempatan Investasi.
b. Pengaruh Dividend Yield (DY) terhadap Set Kesempatan Investasi Hipotesis kedua dari penelitian ini adalah Dividend Yield
berpengaruh negatif terhadap Set Kesempatan Investasi. Berdasarkan hasil statistik uji t untuk variabel Dividend Yield
diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,866 lebih besar dari toleransi kesalahan =0,05. Oleh karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 dan koefisien regresi bernilai positif sebesar -0,170 berarti hipotesis yang menyatakan “Kebijakan Dividen yang diproksikan dengan Dividend Yield (DY) memiliki pengaruh negatif terhadap Set Kesempatan Investasi” ditolak.
Pada penelitian ini Kebijakan Dividen yang diproksikan dengan Dividend Yield (DY) tidak berpengaruh terhadap Set Kesempatan Investasi. Berdasarkan jumlah 30 data yang ada, 6 perusahaan yang menunjukkan pembagian dividen yang terlalu
besar dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Perusahaan tersebut antara lain: PT Gudang Garam Tbk, PT H.M Sampoerna Tbk, PT Taisho Pharmaceutical indonesia Tbk, PT Unilever Indonesia Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Merck Tbk.
Perusahaan yang prospek pertumbuhannya tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Begitu pula sebaliknya jika
dividend yield tinggi maka prospek pertumbuhan suatu perusahaan rendah. Pembayaran dividen yang besar kepada pemegang saham mengakibatkan investasi yang dapat digunakan oleh perusahaan menjadi rendah. Hal tersebut disebabkan laba yang diperoleh perusahaan dialokasikan untuk pembayaran dividen dari pada laba ditahan sehingga menyebabkan dana yang dibutuhkan untuk investasi menjadi berkurang atau kecil. Untuk menghadapi peluang investasi yang semakin meningkat maka cara yang dapat dilakukan yaitu membayar dividen yang tidak terlalu besar.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Siska (2010) yang memiliki hasil penelitian bahwa Kebijakan Dividen yang diproksikan dengan Dividend Yield tidak berpengaruh terhadap Set Kesempatan Investasi.
c. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap Set Kesempatan Investasi
Hipotesis ketiga dari penelitian ini adalah Return On Asset
berpengaruh positif terhadap Set Kesempatan Investasi. Berdasarkan hasil statistik uji t untuk variabel Return On Asset
(ROA) diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari toleransi kesalahan =0,05. Oleh karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 dan koefisien regresi bernilai positif sebesar 4,336 berarti hipotesis yang menyatakan “Profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA) memiliki pengaruh positif terhadap Set Kesempatan Investasi” diterima.
Koefisien Return On Asset yang bertanda positif menunjukkan bahwa apabila nilai Return On Asset naik maka nilai Set Kesempatan Investasi juga akan mengalami kenaikan. Data yang ada menunjukkan ada 7 perusahaan yang mempunyai nilai ROA yang naik dan diikuti oleh nilai indek IOS yang semakin naik pula. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset, yang berarti efisiensi manajemen. Semakin tinggi profitabilitas, maka kesempatan investasi semakin tinggi karena profitabilitas merupakan sinyal pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang. Dengan kata lain profitabilitas berpengaruh positif terhadap set kesempatan investasi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Siska (2010) yang menyatakan bahwa Return On Asset
penelitian lain dari Saputro dan Hindasah (2007) juga menunjukkan hasil yang sama, bahwa Return On Asset
65
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dijelaskan di bab sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Kebijakan Pendanaan yang diproksikan dengan Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh positif terhadap Set Kesempatan Investasi (IOS), hal ini di buktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar 4,071 dan nilai signifikasi sebesar 0,000.
2. Kebijakan Dividen yang diproksikan dengan Dividend Yield (DY) tidak memiliki pengaruh terhadap Set Kesempatan Investasi (IOS), hal ini di buktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar -0,170 dan nilai signifikasi sebesar 0,866.
3. Profitabilitas yang diproksikan dengan Return On Asset (ROA) memiliki pengaruh positif terhadap Set Kesempatan Investasi (IOS), hal ini di buktikan dengan nilai koefisien regresi sebesar 4,336 dan nilai signifikasi sebesar 0,000.
4. Hasil Uji Statistik F yang memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, yaitu 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa model yang digunakan dapat untuk memprediksi variabel dependen, yaitu Set Kesempatan Investasi (IOS).
5. Nilai adjusted R-Square sebesar 0,369, hal ini berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen
adalah sebesar 36,9%, sedangkan sisanya dijelaskan variabel lain di luar model penelitian.