HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.4. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
IV.6.1. Uji serempak (F-Tes)
Pegawai Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai mendapat Tunjangan Penyelenggaraan Pemasyarakatan sebagai bentuk konvensasi atas risiko bahaya keselamatan dan kesehatan dalam melaksanakan tugas pemasyarakatan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 88 tahun 2006. Dengan mendapat tunjangan tersebut pegawai dapat meningkatkan kesejahteraan dan lebih menghargai pekerjaannya sebagai abdi Negara di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
Setelah ada penambahan tunjangan bagi pegawai pemasyarakatan terdapat dampak positif terhadap kinerja pegawai pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai. Adapun dampak positif yang dimaksud adalah :
1. Pegawai jarang absen masuk kerja, hal ini dapat dilihat dari absensi pegawai
(sumber data dari bagian sub tata usaha).
2. Angka pegawai yang mendapat hukuman displin menurun, hal ini dapat dilihat
dari buku hukuman disiplin pegawai (sumber data dari bagian Adm Kamtib).
3. Penyelesaian kerja sehari-hari meningkat, hal ini dapat dilihat dari jumlah
narapidana yang mendapat pembebasan bersyarat dan cuti bersyarat (sumber data dari bagian pembinaan).
Menurut Hasibuan (2005) mengatakan benefit dan service adalah konvensasi
tambahan (financial atau nonfinansial) yang diberikan berdasarkan kebijaksanaan
terhadap semua pegawai dalam usaha meningkatkan kesejahteraan. Selanjutnya Simamora (1995) menyatakan bahwa disamping gaji, konvensasi juga meliputi
cakupan tunjangan-tunjangan (benefits). Tunjangan pegawai (employee benefit)
adalah pembayaran-pembayaran dan jasa-jasa yang melindungi dan melengkapi gaji pokok, dan perusahaan membayar semua atau sebagian dari tunjangan.
Dari hasi penelitian penulis di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjngbalai. PP. No. 88 Tahun 2006 mengatur tentang tata cara memperoleh tunjangan penyelengaran pemasyarakatan. Pegawai bagian pengamanan mendapat tunjangan yang lebih besar, karena resiko sewaktu menjalankan tugas sangat besar dan masuk kerja harus tepat waktu. Hal ini sesuai dengan pendapat Schuller dan Jackson (1996) dalam teorinya menyatakan bahwa insentif berpengaruh positif terhadap produktivitas, yakni dengan jumlah insentif yang layak dan memadai akan menimbulkan hasil kerja yang baik. Selanjutnya Ranupandojo dan Hasnan (2002) dengan jelas menyatakan ukuran pemberian insentif yang efektif, diindikasikan dalam
dua hal yaitu Keadilan pembayaran upah (Internal Consistency), dan kelayakan
pembayaran upah (External Consistency).
Setiap pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai cara dan gaya masing-masing dan mempunyai sifat, kebiasaan, watak dan kepribadian sendiri yang khas. Gaya hidup juga pasti akan mewarnai prilaku dan gaya kepemimpinan
hidup yang sederhana dan santun bila berbicara juga sangat menghargai pendapat orang lain, hal ini membuat para pegawai sangat menyegani pemimpinnya. Dan membuat suasana dalam bekerja penuh dengan keakraban sesama pegawai. Baik antara atasan dengan bawahan maupun antara sesama pegawai. Hal ini sesuai dengan pendapat Rivai (2003) menyatakan pendekatan prilaku, gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan searang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja bawahannya.
Dalam mengambil suatu kebijakan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai tetap mengadakan rapat dinas, tujuannya supaya semua pegawai terlibat dalam mengambil keputusan yang akan ditetapkan, dengan harapan bila keputusan itu adalah keputusan bersama maka akan dapat dilaksanakan dengan senang hati, dan kalau dalam bekerja ada rasa senang tentu hasilnya adalah lebih baik. (hasil wawacara dengan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai). Sesuai pendapat Arif dan Tanjung (2003) menyatakan gaya kepemimpinan dalam usaha untuk dapat menguasai dan mempengaruhi serta memotivasi orang lain, maka diperlukan suatu keputusan untuk mengambil gaya kepemimpinan yang paling sesuai untuk pegawai dan perusahaan.
Tugas pokok dan fungsi di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai yang paling utama adalah pembinaan dan keamanan. Oleh sebab itu Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai serta seluruh pegawai harus dapat menjadi contoh yang baik bagi tahanan dan narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan
Klas II B Tanjungbalai. Sistem pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai adalah mengedepankan pendekatan dengan cara kekeluargaan. Hal ini dapat dilihat sehari-hari dengan jumlah keluarga para tahanan dan narapidana yang datang berkunjung ke dalam Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai. Keluarga para tahanan dan narapidana yang datang berkunjung mendapat perhatian positif dari pegawai Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai.
Keamanan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai kalau dibandingkan dimasa sebelum mendapat tunjangan penyelenggaraan pemasyarakatan jauh lebih kondusif. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pelarian tahanan dan narapidana. Setelah Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai dijabat oleh Bapak Asih Widodo, BcIP, SH. keakraban sesama pegawai semakin baik dibanding dengan kepemimpinan sebelunnya. Sesuai dengan pendapat Kartono (2000) kepemimpinan dikatakan baik apabila memiliki azas
1. Azas Kemanusiaan
Azas kemanusiaan adalah mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan, pembimbingan manusia oleh manusia, untuk mengembangkan potensi dan kemampuan setiap individu demi tujuan–tujuan human.
2. Azas Efisiensi
Azas efisiensi adalah teknis maupun social yang berkaitan dengan terbatasnya sumber-sumber materil, dan manusia atas prinsip penghematan dan adanya nilai-nilai ekonomis serta azas-azas manajemen modern.
3. Azas Kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih merata menuju pada taraf kehidupan yang lebih tinggi.
Selain ketiga azas di atas, Robbins (1996) juga menyatakan yaitu secara umum gaya kepemimpinan yang di terapkan seorang pemimpin dalam organisasi terdiri dari tiga macam model :
4. Kepemimpinan direktif
Kepemimpinan direktif adalah pemimipin yang membiarkan para bawahan tahu
apa yang diharapkan oleh atasan, menjadwalkan kerja untuk dilakukan, dan memberi bimbingan khusus bagaimana menyelesaikan tugas. Pemimpin yang berorientasi pada prestasi, menetapkan tujuan yang menantangdan mengharapkan bawahan berprestasi pada tingkat tinggi.
5. Kepemimpinan partisipatif
Kepemimpinan partisipatif adalah pemimpin yang berkonsultasi dengan bawahan
dan menggunakan saran mereka sebelum mengambil suatu keputusan. 6. Kepemimpina suportif
Kepemimpina suportif mendukung, adalah pemimpin yang bersifat ramah dan
menunjukkan kepedulian akan kebutuhan bawahan.
Jika seorang pemimpin mampu menkondisikan ketiga perilaku ini maka gaya kepemimpinan yang dimilikinya akan dapat menunjang suatu pencapaian produktivitas yang tinggi bagi bawahannya.
Untuk menguji pengaruh secara serempak tunjangan (X1) dan gaya
kepemimpinan (X2) terhadap produktivitas pegawai di Lembaga Pemasyarakatan Klas
II B Tanjungbalai (Y) di gunakan uji F. Uji serempak adalah uji yang digunakan
untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Hasil F-Test menunjukkan variabel independen secara bersama-sama
berpengaruh terhadap variabel dependen jika p-value lebih kecil dari level of
significant yang ditentukan, atau nilai F hitung > nilai F Tabel maka H0 ditolak dan Ha
diterima. Sebaliknya apabila nilai F hitung < F Tabel, maka H0 diterima danHa ditolak. Hasil uji secara simultan dapat dilihat pada Tabel IV.20 berikut ini.
Tabel IV.20. Tabel Uji Statistik F ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Squares F Sig.
1 Regression Residual 1119,622 134,204 2 43 559,881 3,121 179,367 ,000 Total 1253,826 45
a. Predictors: (Constant), Gaya Kepemimpinan, Tunjangan
b. Dependent Variable: Produktivitas
Sumber : Hasil Penelitian, 2009 (data Diolah)
Dari Tabel IV.20 diatas menunjukkan Sig. 0,000<0,05, artinya signifikan,
sedangkan F hitung sebesar 179,367. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan
(confidence interval) 95% atau = 0,05 maka diperoleh nilai F Tabel sebesar 3,23. dengan membandingkan nilai F hitung dengan F Tabel, maka F hitung (179,367) > F Tabel
signifikant) terhadap pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B
Tanjungbalai. Keputusannya adalah H0 ditolak, dan Ha diterima, artinya variabel
tunjangan (X1) dan gaya kepemimpinan (X2) berpengaruh sangat signifikan (high signifikant) terhadap produktivitas pegawai di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tanjungbalai.