BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Uji Simultan (Uji F)
Uji simultan (uji F) ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel dependen (pendapatan) terhadap variabel independen (biaya bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan peralatan) secara bersama–sama (simultan) dengan tingkat signifikan yang digunakan sebesar α = 5% dan df (k:n-k-1). Kaidah pengambilan keputusan dalam uji F dengan menggunakan SPSS adalah
1) Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima 2) Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak 2. Uji Partial (Uji t)
Uji partial (uji t) digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen (biaya bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja dan peralatan) terhadap variabel dependen (pendapatan).
Kaidah pengambilan keputusan dalam uji t dengan menggunakan SPSS adalah:
1) Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima 2) Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak 3. Uji Koefisien Determinasi ( R2)
Pengujian koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui besarnya hubungan atau pengaruh variabel independen (biaya bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja, peralatan) terhadap variabel dependen (pendapatan). Semakin besar nilai determinasi maka semakin besar varian sumbangan terhadap variabel terikatnya.
43
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
4.1.1Gambaran Umum Obyek Penelitian
Kecamatan Getasan merupakan salah satu kecamatan dari 19 Kecamatan di kabupaten Semarang. Kecamatan Getasan terdiri dari 13 desa, dengan luas wilayah sebanyak 63.764,30274 Ha. Secara administratif batas wilayah kecamatan Getasan adalah :
a. Sebelah Timur : Kota Salatiga
b. Sebelah Barat : Kabupaten Magelang c. Sebelah Utara : Kecamatan Banyubiru, d. Sebelah Selatan : Kecamatan Tengaran
Kecamatan Getasan mempunyai topografi daerah pegunungan karena terletak pada ketinggian ±700 m di atas permukaan laut. Daerah ini memiliki suhu rata-rata harian 230C, termasuk daerah sejuk, sehingga sangat cocok untuk usaha sapi perah. Menurut Williamson dan Payne (1993) bahwa suhu optimal untuk usaha sapi perah adalah pada suhu 21-270C. Pembagian lahan, luas lahan sawah sebanyak 63,690 Ha dan lahan kering 3,92 Ha dan lain-lain, seperti pemukiman sebanyak 58,18 Ha, kuburan 9,95 Ha dan Lapangan 2,25 Ha. Banyaknya luas lahan sawah ini memungkinkan untuk penyediaan pakan, terutama limbah pertanian maupun untuk pengembangan tanaman pakan (rumput gajah).
44
4.1.2 Identitas Responden
4.1.2.1 Usia Responden
Responden sebanyak 91 peternak sapi perah mempunyai tingkat usia yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, usia responden dapat dikelompokkan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Usia Responden
No Usia Responden Frekuensi Persentase (%)
1 25 - 34 tahun 26 28,6 2 35 - 44 tahun 32 35,2 3 45 - 54 tahun 22 24,4 4 55 - 64tahun 9 9,9 5 > 65 tahun 2 2,1 Jumlah 91 100,0
Sumber: Data primer diolah
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden dengan usia 25-34 tahun berjumlah 26 orang (28,6%). Responden terbanyak berusia 35-44 tahun yaitu sebanyak 32 orang (35,2%). Responden dengan usia 45-54 tahun sebanyak 22 orang (24.4%). Sisanya adalah usia 55-64 tahun 9 orang (9.9%) dan responden dengan usia lebih dari 64 tahun sebanyak 2 orang (2.1%) artinya rata-rata usia para peternak masih produktif dalam melakukan usaha ternak sapi.
4.1.2.2 Tingkat Pendidikan Responden
Berdasarkan hasil penelitian bahwa sumber daya manusia yang diukur dari tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam ketrampilan dalam usaha ternak sapi perah. Tingkat pendidikan Responden penelitian dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Tingkat Pendidikan Responden
No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase(%)
1 Tidak Tamat SD 2 2,20
2 Tamat SD 44 48,35
3 Tamat SLTP 27 29,67
4 Tamat SLTA 18 19,78
Jumlah 91 100,00
Sumber: Data primer diolah
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden beragam. Mulai dari tidak tamat SD, tamat SD, tamat SLTP dan tamat SLTA. Berdasarkan Tabel diketahui bahwa sebagian besar pendidikan responden hanya tamat SD yaitu sebanyak 44 responden (48,4%), sedangkan jumlah terendah adalah responden tidak tamat SD sebanyak 2 orang (2,2%). Hal tersebut mengakibatkan pengelolaan usaha ternak sapi perah lebih menitik beratkan pada kemampuan teknis yang diperoleh secara turun-temurun.
4.1.2.3 Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa usaha ternak sapi perah di kecamatan Getasan ini dikelola baik oleh laki-laki maupun wanita.
Tabel 4.3 Jenis Kelamin Responden
No Jenis kelamin Jumlah (orang) Persentase(%)
1 Laki-laki 85 93,40
2 Perempuan 6 6,60
Total 91 100,00
Sumber: Data primer yang diolah.
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa usaha ternak sapi perah di Kecamatan Getasan ini sebagian besar dikelola oleh laki-laki sebesar 25 orang (93,40%) sedangkan pengelola wanita hanya berjumlah 6 orang (6,60%). Ini menunjukkan dominansi laki-laki sebagai peternak sapi perah. Hal tersebut berkaitan dengan
46
peran laki-laki sebagai kepala keluarga yang seharusnya membiayai kehidupan keluarga sedangkan wanita masih sedikit yang dapat membuktikan perannya dalam suatu usaha.
4.1.2.4 Lama Usaha Responden
Berdasarkan hasil penelitian bahwa lama usaha para peternak sapi perah ini bervariasi mulai dari 1 sampai 15 tahun.
Tabel 4.4 Lama Usaha Ternak Sapi Perah Responden
No Lama usaha Frekuensi Persentase %
1 1-5 Tahun 48 52,74
2 6 -10 tahun 23 25,28
3 11-15 tahun 20 21,98
Jumlah 91 100,00
Sumber: Data primer diolah
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa lama usaha responden beragam. Peternak sapi dengan lama usaha ternak sapi perah antara 1 sampai 5 tahun sebanyak 48 orang (52,74%), peternak sapi perah dengan lama usaha antara 6-10 tahun sebanyak 23 orang (25,28%)dan lama usaha 11-15 tahun sebanyak 20 orang (21,98%). Lama usaha ini tentunya menentukan pengalaman peternak dalam mengelola dan mempertahankan keberlangsungan beternak sapi perah. Semakin tinggi tingkat pengalaman yang dimiliki maka semakin adaptif pula dalam menghadapi berbagai perubahan kondisi ekonomi yang berkaitan dengan usahanya.
4.1.3 Deskripsi Variabel Penelitian
4.1.3.1 Biaya Bahan Baku
Biaya bahan Baku merupakan biaya untuk membeli bibit sapi laktasi yang produktif. Biaya bahan baku ini diakumilasikan dalam 300 hari untuk satu ekor sapi laktasi. Hasil penelitian untuk biaya bahan baku dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Biaya Bibit Sapi Perah Laktasi
No Biaya bahan baku (Rp) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 1.050.000-3.240.000 35 38,46 2 3.240.001-5.430.000 39 42,86 3 5.430.001-7.620.000 14 15,38 4 7.628.001-9.810.000 1 1,10 5 9.810.001-1.200.000 2 2,20 Total 91 100,00
Sumber : Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat diketahui sebanyak 39 responden (42,86%) mengeluarkan biaya bibit laktasi antara Rp3.240.001-Rp5.430.000 sedangkan 1 responden (1,1%) mengeluarkan biaya antara Rp7.628.001- Rp9.810.000 artinya rata-rata peternak mengeluarkan biaya untuk pembelian bahan baku kurang dari Rp5.430.000.
4.1.3.2 Biaya Bahan Penolong
Biaya Bahan penolong dalam penelitian ini adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan hijauan, pakan tambahan dan obat-obatan untuk konsumsi sapi laktasi. Hasil penelitian untuk biaya bahan penolong adalah sebagai berikut
48
a. Pakan Hijauan
Pakan hijauan merupakan pakan utama yang dikonsumsi sapi perah. Untuk mendapatakan pakan hijauan, para responden juga mengeluarkan biaya untuk membeli pakan hijauan. Adapun biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli pakan hijauan untuk satu ekor sapi laktasi tahun 2010 pada tabel 4.6.
Tabel 4.6 Biaya Pakan Hijauan Pada Responden
No Biaya Pakan Hijauan (Rp) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 180.000-324.000 37 40,66 2 324.001-468.000 38 41,76 3 468.001-612000 0 0 4 61.2001-75.6000 2 2,20 5 756.000-900.000 14 15,38 Total 91 100,00
Sumber : data primer yang diolah
Tabel 4.6 di atas dapat diketahui sebanyak 38 responden (31,43%) mengeluarkan biaya bahan pakan hijauan antara Rp324.001-Rp468.000. sedangkan 2 responden (2,20%) mengeluarkan biaya antara Rp612.001- Rp756.000. Artinya rata-rata peternak mengeluarkan biaya untuk pembelian pakan hijauan kurang dari Rp324.000 untuk satu ekor sapi laktasi dalam 300 hari.
b. Pakan Tambahan
Pakan tambahan merupakan pakan untuk memenuhi asupan giji ternak selain dari pakan hijauan. Pakan tambahan seperti ampas tahu, betakul memiliki kandunga giji yang baik bagi sapi laktasi yaitu meningkatkan hasil produksi susu sapi. Peternak membeli pakan tambahan dari pasar atau pedagang. Adapun
biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli pakan tambahan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7 Biaya Pakan Tambahan Pada Responden
No Biaya Pakan Tambahan(Rp) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 1.200.000-2.160.000 37 40,66 2 2.160.001-3.120.000 37 40,66 3 3.120.001-4.080.000 1 1,10 4 4.080.001-5.040.000 1 1,10 5 5.040.001-6.000.000 15 16,48 Total 91 100,00
Sumber : Data primer yang diolah
Tabel 4.7 di atas dapat diketahui sebanyak 74 responden (81,32%) mengeluarkan biaya bahan pakan tambahan antara Rp1.200.000–Rp3.120.000. sedangkan 2 responden (2,20%) mengeluarkan biaya antara Rp3.120.001- Rp5.040.000, artinya rata-rata peternak mengeluarkan biaya untuk pembelian pakan hijauan kurang dari Rp3.120.000 untuk satu ekor sapi laktasi dalam 300 hari.
c. Obat-obatan
Biaya obat adalah biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan ternak (Rizqikuta, 2009). Adapun biaya yang dikeluarkan peternak untuk membeli obat-obatan pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Biaya Obat-obatan Pada Responden
No Biaya Obat-obatan (Rp) Jumlah (orang) Persentase(%)
1 15.000-27.000 35 38,46
2 27.001-39.000 32 35,16
3 39.001-51.000 4 4,40
50
5 63.001-75.000 18 19,78
Total 91 100,00
Sumber : Data primer yang diolah
Tabel 4.8 di atas dapat diketahui sebanyak 35 responden (31,46%) mengeluarkan biaya bahan pakan hijauan antara Rp15.000–Rp27.000 sedangkan 2 responden (2,20%) mengeluarkan biaya antara Rp51.001–Rp63.000, artinya rata- rata peternak mengeluarkan biaya untuk pembelian obat-obatan kurang dari Rp27.000 untuk satu ekor sapi laktasi dalam 300 hari. Hal ini berarti bahwa peternak mengeluarkan biaya obat-obatan tergolong rendah dibandingkan dengan biaya pakan konsentrat.
4.1.3.3 Biaya Tenaga Kerja a. Jumlah Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan dalam proses produksi baik dari segi jumlah, kualitas dan jenis tenaga kerja. Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang memadai. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal. Untuk mengetahui penggunaan tenaga kerja tenak sapi perah tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.9.
Tabel 4.9 Penggunaan Tenaga Kerja Pada Responden
No Jumlah Penggunaan Tenaga
Kerja Jumlah Persentase (%)
1 1 orang 60 65,93
2 2 orang 30 32,97
3 3 orang 1 1,10
Total 91 100,00
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa usaha ternak sapi perah kecamatan Getasan sebagian besar memiliki tenaga kerja 1 orang yaitu sebanyak 60 orang atau sekitar 65,93%, Banyak sedikitnya jumlah tenaga kerja ini menunjukkan besar usaha ternak sapi perah. Semakin banyak tenaga kerja yang dimiliki maka semakin besar pula usahanya. Sebaliknya semakin sedikit tenaga kerja yang dimiliki maka semakin kecil pula usahanya yang dikelolanya.
b. Upah Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan dalam produksi harus mempunyai keahlian yang baik agar mampu mengolah produk menjadi barang yang berkualitas. Untuk membayar tenaga kerja, setiap peternak harus mengeluarkan upah yang sesuai dengan keahliannya dan lama bekerja. Adapun rata-rata upah tenaga kerja usaha ternak sapi perah tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.10.
Tabel 4.10 Rata-rata Upah Tenaga Kerja Pada Responden
Upah per hari (Rp) Total Upah (Rp) Rata-rata Upah per orang (Rp) 5000-15000 137.725.000 1.119.715,45
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.10 di atas menunjukkan bahwa peternak memberi upah pada tenaga kerja antara Rp5.000 sampai Rp15.000 per hari dengan upah rata-rata per orang sebesar Rp1.119.715 dalam 300 hari.
4.1.3.4 Biaya Peralatan
Peralatan adalah alat-alat yang digunakan peternak untuk menunjang proses produksi. Adapun jenis peralatan yang digunakan dalam usaha sapi perah laktasi milkcand, sabit, sepatu boot, spon, ember, sapu dan lain-lain. Pembelian peralatan, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian peralatan yang
52
digunakan sebagai penunjang proses produksi/kegiatan usaha. Dalam penelitian ini peralatan usaha ternak sapi perah dinyatakan dengan rupiah. Adapun biaya peralatan usaha ternak sapi perah tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.11.
Tabel 4.11 Biaya Peralatan Responden
No Biaya Peralatan (Rp) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 7.000-77.100 84 93,32 2 77.200-147.300 3 3,29 3 147.400-217.500 3 3,29 4 217.600-287.800 0 0 5 < 358000 1 1,10 Total 91 100,00
Sumber:Data primer yang diolah
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa sebagian besar peternak mengeluarkan biaya untuk pembelian peralatan berkisar Rp 7.000-Rp 77.200 yaitu sebanyak 84 orang atau 93,32%. Biaya peralatan tahun 2010 tergolong pada tingkat yang rendah. Biaya Peralatan sebenarnya dapat ditekan lebih kecil lagi jika pemeliharaan dilakukan secara rutinitas.
4.1.3.5 Pendapatan
Pendapatan dalam penelitian ini berasal dari penerimaan hasil penjualan susu sapi setiap harinya. Penerimaan dari hasil penjualan merupakan perkalian antara hasil produksi dengan harga jual. Semakin besar kuantitas produksi susu sapi dan harga jual tinggi maka pendapatan peternak juga akan meningkat atau sebaliknya. Produksi Susu merupakan hasil akhir dari proses produksi yang diwujudkan sebagai susu murni segar yang siap untuk dijual ke pasar bebas. Adapun rata-rata produksi susu perah dan harga jual untuk tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 4.12.
Tabel 4.12 Rata-rata Produksi Susu (liter) Pada Responden
No Rata-rata produksi (liter) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 2100-2520 17 18,68 2 2521-2940 19 20,88 3 2941-3360 20 21,98 4 3361-3780 25 27,47 5 3781-4200 10 10,99 Total 91 100,00
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel di 4.12 menunjukkan sebanyak 25 responden (27,47%) memiliki hasil produksi susu sebanyak 3361-3780 liter, 20 responden (21,98%) produksi susu sebanyak 2941-3360 liter, 19 respoden (20,88) memiliki hasil produksi susu sebanyak 2521-2940 liter, 17 responden (18,68%) memiliki hasil produksi susu sebanyak 2100-2520 liter dan 10 responden (10,99%) memiliki hasil produksi susu sebanyak 3781-4200 liter, artinya bahwa rata-rata peternak dapat memperoleh susu dibawah 3780 liter dalam 300 hari. Rata-rata harga jual susu per liter antara Rp2.600 sampai Rp2.900 pada tahun 2010. Secara umun harga jual susu stabil, naik turunnya harga susu biasanya berkisar Rp100 - Rp300 per liternya. Perhitungan pendapatan berkaitan dengan jumlah produksi susu dan harga jula yang berlaku.
4.1.4 Analisis Data
4.1.4.1 Uji Normalitas
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Normal atau tidaknya data dalam model regresi dilakukan dengan uji Kolmogrov Smirnov dengan melihat besarnya nilai signifikansi setiap
54
variabel. Jika nilai nilai signifikansi lebih besar dari 5%, maka disimpulkan data berdistribusi normal( Ghozali, 2005: 74). Hasil output SPSS 17.0 uji normalitas.
Tabel 4.13 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test BAHAN_ BAKU BAHAN_ PENOLONG TENAGA_ KERJA PERALAT AN PENDAPAT AN N 91 91 91 91 91 Normal Parameters a Mean 3195074.67 3641330.62 1539438.26 44853.97 8421382.42 Std. Deviation 1730096.457 1994644.939 808461.416 48398.871 1558016.262 Most Extreme Differences Absolute .351 .357 .237 .257 .135 Positive .351 .357 .237 .257 .125 Negative -.233 -.160 -.106 -.217 -.135 Kolmogorov-Smirnov Z 3.368 3.423 2.272 2.462 1.292
Asymp. Sig. (2-tailed) .410 .070 6.583 1.085 .271
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan tabel 4.13 di atas dapat dilihat dari nilai probabilitas signifikan bahwa semua variabel bernilai diatas 5%. atau 0,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa model regresi memiliki distribusi data yang normal atau memenuhi asumsi normalitas data.
4.1.4.2 Uji Asumsi Klasik 1. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen yang terdapat dalam model hubungan yang sempurna. Salah satu cara untuk mendeteksi kolinearitas adalah dengan mengkorelasikan antar variabel dan apabila korelasinya signifikan maka antar variabel bebas tersebut
terjadi multikolinearitas. Syarat model regresi berganda dapat digunakan, apabila tidak ada hubungan yang sempurna antara variabel bebasnya. Ada tidaknya multikolinearitas dalam model regresi dilihat dengan melihat besarnya varians inflation factors (VIF) dan tolerance value. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,10 maka disimpulkan tidak ada multikolinearitas antar variabel dalam regresi (Ghozali, 2005:57). Hasil pengujian multikoliniaritas selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.14.
Tabel 4.14 Uji Multikolinearitas
Berdasarkan tabel 4.14 diketahui nilai Variance Inflaction Faktor (VIF) di bawah 10 dan nilai tolerance di atas 0,1. Artinya tidak terjadi multikolinearitas antara variabel bebas biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya peralatan terhadap variabel pendapatan.
2. Uji Heterokedastisitas
Ada tidaknya Uji Heterokedastisitas dalam model regresi dilihat dengan melihat besarnya nilai tabel signifikan dengan uji Glejser. Jika nilai signifikansi setiap variabel indenpenden lebih besar dari 0,05 atau 5% maka disimpulkan tidak
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) BAHAN_BAKU .827 3.286 BAHAN_PENOLONG .628 2.431 TENAGA_KERJA .469 3.690 PERALATAN .570 4.252
56
ada heterokedastisitas antar variabel dalam regresi. Hasil pengujian multikoliniaritas selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.15.
Tabel 4.15 menunjukkan bahwa nilai signifikan setiap variabel bebas lebih besar dari 0,05 atau 5%. Dengan demikian tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada model regresi berganda
Tabel 4.15 Uji Heterokedastisitas
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Toleranc e VIF 1 (Constant) 87433.389 8544.645 17.455 .000 BAHAN_BAKU 5371.247 1.251 .472 4.346 .246 .827 3.286 BAHAN_PENOLONG 3691.251 .246 .162 2.641 .313 .628 2.431 TENAGA_KERJA 502.251 .253 .468 1.429 .699 .469 3.690 PERALATAN 74.257 2.147 .127 4.416 .071 .570 4.252
a. Dependent Variable: LAG
3. Uji Autokorelasi
Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali, 2005: 95). Cara yang dapat digunakan untuk mendiagnosis autokorelasi adalah uji Durbin Watson (DW test) dapat dilihat pada tabel 4.16.
Berdasarkan tabel 4.16 diketahui bahwa besar Durbin Watson (DW) adalah 1.920. menurut Ghozali (2009:100), jika DW terletak antara batas atas (du) dan (4-du) maka tidak terjadi autokorelasi. Besarnya dL dalam penelitian ini adalah 1,566 dan dU adalah 1,751 sehingga DW terletak antara du (1,751) dan (4-1,751 =
2,249), maka dapat disimpulkan bahwa tiada ada korelasi antara kesalahan pengganggu dalam model regresi linier dalam penelitian.
Tabel 4.16 Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of
the Estimate Durbin-Watson
1 .870a .757 .738 .410 1.920
Predictors: (Constant), PERALATAN, BAHAN_BAKU, TENAGA_KERJA, BAHAN_PENOLONG
4.1.4.3 Analisis Regresi Linier Berganda
Berdasarkan perhitungan regresi linier berganda antara biaya bahan baku (X1), biaya bahan penolong (X2), biaya tenaga kerja(X3) dan biaya peralatan (X4) terhadap pendapatan (Y) dengan dibantu program SPSS 17 dalam proses perhitungannya dapat dilihat pada tabel 4.17.
Tabel 4.17 Regresi Linier Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 78081.691 7317.120 17.455 .000 BAHAN_BAKU 4947.029 .094 .032 2.303 .046 BAHAN_PENOLONG 2671.197 .120 .252 1.945 .013 TENAGA_KERJA 753.170 .271 .088 4.629 .000 PERALATAN 69.106 3.777 .190 2.616 .011
a. Dependent Variable: PENDAPATAN
Berdasarkan tabel 4.17 dapat diketahui persamaan regresinya sebagai berikut :
58
Keterangan: Y = Pendapatan
X1 = Biaya Bahan Baku X2 = Biaya Bahan Penolong X3 = Biaya Tenaga Kerja X4 = Biaya Peralatan
Analisis persamaan regresi berganda tersebut sebagai berikut:
1. Nilai konstanta positif menunjukkan bahwa tanpa ditambahkan variabel Biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya peralatan maka nilai pendapatan akan mengalami kenaikan atau peningkatan sebesar 78081,691.
2. Apabila biaya bahan baku mengalami peningkatan sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel biaya bahan penolong, tenaga kerja dan peralatan dianggap tetap maka pendapatan akan meningkat sebesar 4947,029.
3. Apabila biaya bahan penolong mengalami peningkatan sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel biaya bahan baku, tenaga kerja dan peralatan dianggap tetap maka pendapatan akan meningkat sebesar 2671,197.
4. Apabila biaya tenaga kerja mengalami peningkatan sebesar 1 satuan dengan asumsi variabel biaya bahan baku, bahan penolong dan peralatan dianggap tetap maka pendapatan akan meningkat sebesar 753,170.
5. Apabila biaya peralatan mengalami peningkatan sebesar satu satuan dengan asumsi variabel biaya bahan baku, bahan penolong dan tenaga kerja dianggap tetap maka pendapatan akan meningkat sebesar 69,106.
4.1.4.3 Uji Hipotesis
1. Uji Simultan (Uji F)
Hasil uji F menggunakan program SPSS dapat dilihat pada tabel 4.15. Syarat hipotesis dapat diterima apabila probabilitas value < 0,05 maka hipotesis dterima dan H0 ditolak. Hasil uji simultan dapat dilihat pada tabel 4.18.
Tabel 4.18 Uji Simultan (Uji F)
ANOVAb
Model
Sum of
Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 1.911 4 4.777E12 3.060 .030a
Residual 2.018 87 2.319E12
Total 2.209 91
a. Predictors: (Constant) : PERALATAN, BAHAN_BAKU,
TENAGA_KERJA, BAHAN_PENOLONG b. Dependent Variable: PENDAPATAN
Berdasarkan hasil uji simultan diperoleh nilai Fhitung = 3,060. Hasil tersebut menunjukkan bahwa probabilitas value 0,030 < 0,05 maka sesuai dengan syarat di atas berarti Ha kelima diterima yang menyatakan bahwa secara simultan variabel bebas (biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja dan biaya peralatan) berpengaruh signifikan terhadap pendapatan peternak sapi perah di kecamatan Getasan kabupaten Semarang.