BAB III METODE PENELITIAN
3.6. Model dan Teknik Analisis Data
3.6.3. Pengujian Hipotesis
3.6.3.4. Uji Statistik t
Menurut Ghozali (2013), uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan level of significance 0,05 (α = 5%). Penerimaan atau penolakan suatu hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika nilai signifikansi < 0,05 maka hipotesis didukung (koefisien regresi signifikan). Ini berarti secara parsial variabel independen tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
2. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka hipotesis tidak didukung (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara parsial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.
42 BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Sampel Penelitian
Jumlah populasi pada tahun 2016 yaitu lebih dari 15,300 OP. Tenik dalam pengambilan sampel ini menggunakan teknik convenience sampling jadi kuesioner langsung dibagi kepada responden atau wajib pajak yang berada di KPP Pratama Klaten. Jumlah kuesioner yang disebar sebanyak 120 kuesioner. Berikut data kuesioner yang disebar dan pengembalian kuesioner
Tabel 4.1
Penyebaran dan Pengembalian Kuesioner
Keterangan Jumlah Presentase
Kuesioner dibagi 120 100%
Kuesioner tidak kembali 0 0%
Kuesioner tidak lengkap jawabannya 20 16.7%
Sampel penelitian 100 83.3%
Sumber: Data primer 2017
Berdasarkan Tabel 4.1, dari 120 kuesioner yang disebar dapat diketahui bahwa, jumlah kuesioner yang lengkap jawabannya adalah sebanyak 100 data, sehingga kuesioner yang dapat diolah adalah sebanyak 100 data.
4.2 Deskripsi Responden
Responden dalam penelitian ini adalah wajib pajak orang pribadi yang melakuakan pekerjaan bebas di kota Klaten. Berikut ini diskripsi identitas responden yang diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan lama menjadi wajib pajak.
4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Sampel penelitian untuk 100 responden berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin Jumlah Presentase
Laki – laki 52 52%
Perempuan 48 48%
Total 100 100%
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan Tabel 4.2, dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah berjenis kelamin laki - laki, yaitu sebanyak 52 orang (52%) dan sisanya sebesar 48 orang (48%) adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah laki - laki.
4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Sampel penelitian untuk 100 responden berdasarkan umur ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur Jumlah Presentase
25 - 35 tahun 77 77%
36 - 45 tahun 23 23%
Total 100 100%
Sumber: Data primer diolah, 2017
Berdasarkan Tabel 4.3, dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini sebagaian besar adalah berumur antara 25 - 45 tahun, yaitu sebanyak 77 orang (77%). Hal ini menunjukkan responden berusia dewasa dan produktif sehingga memiliki cukup pengalaman tentang perpajakan karena tingkat usia seseorang berhubungan dengan tingkat pengalaman dan pengetahuannya.
4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Sampel penelitian untuk 100 responden berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Presentase
SMA 38 38%
Diploma 14 14%
S1 43 43%
S2 5 5%
Total 100 100%
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan Tabel 4.4, dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini sebagaian besar adalah berpendidikan terakhir S1, yaitu sebanyak 43 orang (43%). Hal ini menunjukkan responden memiliki pendidikan tinggi, sehingga cukup memiliki pengetahuan tentang pajak.
4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama menjadi Wajib Pajak Sampel penelitian untuk 100 responden berdasarkan lama menjadi wajib pajak ditunjukkan pada berikut:
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama menjadi wajib pajak Lama Menjadi Wajib Pajak Jumlah Presentase
< 5 tahun 80 80%
5 - 10 tahun 14 14%
> 10 tahun 6 6%
Total 100 100%
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan Tabel 4.5, dapat diketahui bahwa responden dalam penelitian ini sebagaian besar menjadi wajib pajak kurang dari 5 tahun yaitu sebanyak 80 orang (80%). Hal ini menunjukkan responden belum lama terdaftar sebagai wajib pajak di KKP Pratama Klaten.
4.3 Analisis Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini hanya menggunakan nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, dan minimum. Tujuan dari analisis statistik deskriptif adalah untuk memproses transformasi data penelitian ke dalam bentuk tabulasi agar lebih mudah dipahami. Pada tabel berikut, dapat dilihat statistik deskriptif variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 4.6
Hasil Analisis Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean
Std.
Deviation
X1 100 2,25 5,00 4,0625 0,57447
X2 100 1,75 5,00 3,5275 0,74102
X3 100 2,00 5,00 3,9000 0,67887
X4 100 2,00 5,00 3,7400 0,77681
X5 100 1,75 5,00 3,6400 0,79560
Y 100 2,40 5,00 3,9460 0,56558
Valid N
(listwise) 100
Sumber: Data primer diolah 2017
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa n pada setiap variabel yang valid adalah 100.
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat disajikan hasil statistik deskriptif mengenai variabel-variabel penelitian sebagai berikut:
1. Kesadaran membayar pajak
Skala pengukuran variabel kesadaran membayar pajak menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 2,25, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 4,06, dan standar deviasi sebesar 0,574.
Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
2. Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan
Skala pengukuran variable pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 1,75, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 3,52, dan standar deviasi sebesar 0,741. Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
3. Persepsi yang baik atas sistem perpajakan
Skala pengukuran variabel persepsi yang baik atas sistem perpajakan menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 2.00, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 3,90, dan standar deviasi sebesar 0,678. Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
4. Norma moral
Skala pengukuran variabel norma moral menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 2,00, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 3,74, dan standar deviasi sebesar 0,776. Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
5. Kualitas pelayanan
Skala pengukuran variable kualitas layanan pajak menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 1,75, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 3,64, dan standar deviasi sebesar 0,795.
Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
6. Kemauan membayar pajak
Skala pengukuran variabel kemauan membayar pajak menunjukkan bahwa dengan sampel sebanyak 100, memiliki nilai minimum sebesar 2,40, nilai maksimum 5,00, nilai rata-rata 3,94, dan standar deviasi sebesar 0,565.
Nilai standar deviasi lebih kecil daripada nilai mean yang artinya penyebaran data baik atau penyimpangan data rendah.
4.3 Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengetahui valid tidaknya suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur dari kuesioner tersebut. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil uji validitas dari 5 variabel dengan 100 responden.
Tabel 4.7 Hasil Uji Validitas Variabel Indikator Factor
Loading
KMO
MSA Keterangan Kesadaran Membayar Pajak p1 0.125 0.717 Tdk Valid
p2 0.608 Valid
p3 0.788 Valid
p4 0.886 Valid
Pengetahuan dan Pemahaman
tentang Peraturan Perpajakan p5 0.871
0.782 Valid
Variabel Indikator Factor
Efektivitas Sistem Pajak p9 0.869
0.807 Valid
Kemauan membayar pajak p19 0.297 0.871 Tdk Valid
p20 0.775 Valid
p21 0.866 Valid
p22 0.720 Valid
p23 0.828 Valid
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan Tabel 4.7, dapat diketahui besarnya factor loading dari 5 butir pertanyaan lebih kecil dari 0,40 atau tidak valid (p1, p12, p17, dan p19) sehingga kelima pertanyaan tersebut dibuang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari seluruh butir pertanyaan, 18 pernyataan dinyatakan valid dan dapat dinyatakan layak sebagai instrumen untuk mengukur data penelitian.
4.4 Uji Reliabilitas
Dalam pengujian ini dilakukan dengan cara one shot atau pengukuran sekali saja. Program SPSS memberikan fasilitas untuk reliabilitas dengan uji statistik Cronbach’s Alpha (). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach’s Alpha () > 0,6. Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan bantuan program komputer SPSS 19 dapat dirangkum seperti pada tabel berikut.
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel
Koefisien Crobach’s Alpha
Nilai
Kritis Keterangan
Kesadaran Membayar Pajak 0.779 0.6 Reliabel
Pengetahuan dan Pemahaman
tentang Peraturan Pemerintah 0.843 0.6 Reliabel Persepsi yang baik atas
Efektivitas Sistem Pajak 0.874 0.6 Reliabel
Norma Moral 0.891 0.6 Reliabel
Kualitas Layanan 0.913 0.6 Reliabel
Kemauan membayar pajak 0.895 0.6 Reliabel
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan ringkasan hasil uji reliabilitas seperti yang terangkum dalam Tabel 4.8, dapat diketahui bahwa nilai koefisien Cronbach Alpha untuk keenam variabel lebih besar dari 0,6 sehingga semua butir pertanyaan dalam variabel penelitian adalah reliabel.
4.5 Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil pengujian terhadap model regresi berganda terhadap variabel kesadaran membayar pajak (X1), pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan (X2), persepsi yang baik atas efektivitas sistem pajak (X3), norma moral (X4), kualitas layanan (X5), yang mempengaruhi kemauan membayar pajak dilihat dalam tabel berikut:
Sumber: Data primer diolah 2017
Berdasarkan Tabel 4.9 terdapat nilai konstanta dan nilai-nilai koefisien regresi linier berganda untuk masing-masing variabel bebas. Berdasarkan nilai tersebut, maka dapat ditentukan model regresi linier berganda yang
dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
Y = 0,306 + 0,121X1 + 0,238X2 + 0,270X3 + 0,133X4+ 0,199X5
Berdasarkan persamaan tersebut diatas dapat dilihat hubungan dari masing- masing variabel sebagai berikut:
a. Nilai konstanta 0,306 artinya jika variabel independen (kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, norma moral, dan kualitas layanan) dianggap tidak mengalami perubahan atau diasumsikan bernilai 0 (nol), maka kemauan membayar pajak sebesar 0,306%.
b. Nilai koefisien regresi kesadaran membayar pajak sebesar 0,121 dan signifikansi sebesar 0,121 lebih besar dari 0,05.
c. Nilai koefisien regresi pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan bernilai positif sebesar 0,238 artinya jika pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan meningkat 1%, maka akan meningkat pula kemauan membayar pajak sebesar 0,238% dengan asumsi variabel lain bernilai tetap atau sama dengan 0 (nol).
d. Nilai koefisien regresi persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan bernilai positif sebesar 0,270 artinya jika persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan meningkat 1%, maka akan meningkat pula kemauan membayar pajak sebesar 0,270% dengan asumsi variabel lain bernilai tetap atau sama dengan 0 (nol).
e. Nilai koefisien regresi norma moral bernilai positif sebesar 0,133 artinya
jika kualitas layanan meningkat 1%, maka akan meningkat pula kemauan membayar pajak sebesar 0,133% dengan asumsi variabel lain bernilai tetap atau sama dengan 0 (nol).
f. Nilai koefisien regresi kualitas layanan bernilai positif sebesar 0,199 artinya jika kualitas layanan meningkat 1%, maka akan meningkat pula kemauan membayar pajak sebesar 0,199% dengan asumsi variabel lain bernilai tetap atau sama dengan 0 (nol).
4.6 Koefisien Determinasi
Berdasarkan Tabel 4.9, diketahui bahwa nilai koefisien adjusted R square adalah sebesar 0,444 atau 44,4%. Hal ini berarti bahwa 44,4% variabel kemauan membayar pajak dapat dijelaskan oleh kelima variabel independen yaitu kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, norma moral, dan kualitas layanan terhadap wajib pajak. Sedangkan sisanya (100% - 44,4% = 55,6%) dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian.
4.7 Uji Kelayakan Model (Uji F)
Berdasarkan hasil uji regresi yang ditunjukan pada Tabel 4.9, menunjukkan bahwa nilai Fhitung = 16,819 dan signifikan (0,000). Karena tingkat signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 maka dapat dikatakan bahwa model regresi layak.
4.8 Uji t
Berdasarkan hasil uji regresi yang ditunjukan pada Tabel 4.9, maka dapat dijelaskan pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut:
Hasil Uji Hipotesis 1: Kesadaran membayar pajak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak
Variabel kesadaran membayar pajak memiliki nilai thitung sebesar 1,565 dengan nilai signifikansi sebesar 0,121 (lebih besar dari 0,05). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Hasil Uji Hipotesis 2: Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak
Variabel pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan memiliki nilai thitung sebesar 3,816 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Hasil Uji Hipotesis 3: Persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak
Variabel persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan memiliki nilai thitung sebesar 4,319 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05).
Hal tersebut dapat dikatakan bahwa persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Hasil Uji Hipotesis 4: Norma moral berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak
Variabel norma moral memiliki nilai thitung sebesar 2,212 dengan nilai signifikansi sebesar 0,029 (lebih kecil dari 0,05). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa norma moral berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Hasil Uji Hipotesis 5: Kualitas layanan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak
Variabel kualitas layanan memiliki nilai thitung sebesar 3,631 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari 0,05). Hal tersebut dapat dikatakan bahwa kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
4.9 Pembahasan
Penelitian ini menguji apakah kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, norma moral, dan kualitas layanan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan terhadap beberapa hipotesis dalam penelitian, hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan, norma moral, dan kualitas layanan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak sedangkan kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
4.9.1 Pengaruh Kesadaran Membayar Pajak terhadap Kemauan Membayar Pajak
Hasil penelitian untuk variabel kesadaran membayar pajak menunjukkan bahwa kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak dengan nilai signifikansi 0,121. Nilai tersebut dinyatakan tidak signifikan karena lebih besar dari alpha 0,05. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hardiningsih dan Yulianawati (2011), tapi sejalan dengan penelitian Widayati dan Nurlis (2010) dan Handayani et al. (2012) yang menyatakan bahwa kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pada Tabel 4.5 sebagian besar responden lama menjadi wajib pajak yaitu kurang dari 5 tahun hal ini menunjukkan bahwa wajib pajak di KPP Pratama Klaten belum lama mendadi wajib pajak jadi kesardaran membayar pajaknya masih rendah, artinya wajib pajak kurang sadar dan kurang mengerti bahwa penundaan pembayaran pajak dapat berdampak pada kurangnya sumber finansial yang dapat mengakibatkan terhambatnya pembangunan negara, dan merugikan negara.
4.9.2 Pengaruh Pengetahuan dan Pemahaman Peraturan Perpajakan terhadap Kemauan Membayar Pajak
Hasil penelitian untuk variabel pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak dengan
nilai signifikansi 0,000. Nilai tersebut dinyatakan signifikan karena lebih kecil dari alpha 0,05. Sejalan dengan penelitian Handayani et al. (2012) dan Widayati dan Nurlis (2010) yang menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, hal ini berarti bahwa dengan adanya pemahaman tentang peraturan perpajakan, akan meningkatkan kemauan membayar pajak karena wajib pajak yang sudah memahami peraturan pajak berpikir lebih baik membayar daripada terkena sanksi pajak.
4.9.3 Pengaruh Persepsi Yang Baik atas Efektivitas Sistem Perpajakan terhadap Kemauan Membayar Pajak
Hasil penelitian untuk variabel persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan menunjukan bahwa persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan pajak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai tersebut dinyatakan signifikan karena lebih kecil dari alpha 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Zulaikha (2012) yang membuktikan bahwa persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, apabila wajib pajak sudah memaksimalkan sistem perpajakan yang baru yang berbasis internet, wajib pajak dapat membayar dan mengakses data perpajakannya tanpa batas waktu dan tempat. Wajib pajak hanya perlu membuka situs Ditjen Pajak dan mengisi kolom isian yang sudah disediakan sehingga dengan berbagai tawaran fasilitas
yang mempermudah wajib pajak dalam membayar pajak akan menimbulkan persepsi yang baik dan kemauan untuk membayar pajak akan meningkat.
4.9.4 Pengaruh Norma Moral terhadap Kemauan Membayar Pajak
Hasil penelitian untuk variabel norma moral menunjukan bahwa norma moral berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak dengan nilai signifikansi 0,029. Nilai tersebut dinyatakan signifikan karena lebih kecil dari alpha 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Permadi et al (2013), Yesi Mutia et al., (2012) yang menyatakan bahwa norma moral berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Seorang wajib pajak yang memiliki norma moral yang tinggi akan memahami pentingnya pajak bagi kehidupan orang banyak, serta memiliki kemauan untuk membayar pajak dalam meningkatkan kesejahteraan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, apabila wajib pajak sudah memiliki norma moral yang tinggi maka wajib pajak tersebut akan berpikir positif dan melakukan suatu hal yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan akan menghindari perbuatan yang dinilai buruk, wajib pajak yang memiliki moral yang tinggi akan memahami pentingnya pajak bagi kehidupan manusia dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, wajib pajak tersebut akan segera memenuhi kewajiban perpajakannya, dengan meningalkan asumsi-asumsi negatif yang ada dimasyarakat tentang pajak.
4.9.5 Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kemauan Membayar Pajak Hasil penelitian untuk variabel kualitas layanan menunjukan bahwa kualitas layanan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak dengan nilai signifikansi 0,000. Nilai tersebut dinyatakan signifikan karena lebih kecil dari alpha 0,05. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho dan Zulaikha (2012) dan Hardiningsih dan Yulianawati (2011) yang menyatakan bahwa kualitas layanan berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, setiap wajib pajak pasti akan senang apabila diberikan pelayanan yang baik oleh para petugas pajak dan diberikan fasilitas-fasilitas yang memadai. Pelayanan adalah cara melayani (membantu mengurus atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang).
Berbagai kemudahan disediakan untuk memperlancar proses pelaksanaan kewajiban yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Pelayanan yang baik akan menciptakan kepuasan pada wajib pajak ketika berada di KPP. Semakin baik kualitas pelayanan pajak, akan semakin tinggi kemauan wajib pajak untuk melaksanakan kewajiban pajaknya.
60 BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian seperti yang telah diuraikan pada bab sebelumnya dapat ditarik beberapa simpulan yaitu:
1. Kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hal ini berarti sebagian besar responden lama menjadi wajib pajak kurang dari 5 tahun jadi kesadaran membayar pajaknya rendah.
2. Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan pemerintah berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hal ini berarti ketika wajib pajak mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan yang tinggi, akan memiliki kemauan membayar pajak yang tinggi.
3. Persepsi yang baik atas efektivitas sistem pajak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hal ini berarti ketika wajib pajak memiliki persepsi yang baik atas efektivitas perpajakan, akan memiliki kemauan membayar pajak yang tinggi.
4. Norma moral berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hal ini berarti ketika wajib pajak memiliki norma moral yang tinggi, akan memiliki kemauan membayar pajak yang tinggi.
5. Kualitas pelayanan terhadap wajib pajak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hal ini berarti ketika memiliki kualitas pelayanan yang baik, akan meningkatkan kemauan wajib pajak untuk membayar pajak
5.2 Keterbatasan Penelitian
Hasil penelitian ini memiliki keterbatasan terkait kemauan membayar pajak, sehingga peneliti berharap yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak, akan tetapi responden dalam penelitian ini hanya wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Patama Klaten dan jumlah responden dalam penelitian ini hanya 100 responden dari 15,300 lebih populasi jadi kurang representatif.
5.3. Saran
Saran untuk penelitian berikutnya dapat diberikan saran sebagai berikut:
1. Dalam menyusun kuesioner perlu pertanyaan kontrol yang sifat pertanyaannya negatif sehingga jawaban yang tidak konsisten mudah diketahui dan dibuang sebelum dimasukkan dalam pengolahan data.
2. Dalam menyusun Kuesioner lebih baik skala netral dihilangkan agar peneliti memperoleh data yang relevan dengan tujuan penelitian.
3. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan teknik sampling probabiliy sampling yaitu memberikan peluang kepada seluruh populasi untuk menjadi sampel, sehingga dapat menjadi sampel yang representatif.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, Indri. 2010. Pengaruh Kesadaran, Kepatuhan Wajib Pajak dan Kualitas Pelayanan Terhadap Pelaporan Pajak”. Skripsi Strata-1, Fakultas Ekonomi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Basri, Yesi Mutia, Raja Adri S S, Resi F, Rahmat dan Tengku S T. 2012. Studi Kepatuhan Pajak: Faktor yang Mempengaruhinya (Kasus pada Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Tampan Pekanbaru).
Simposium Nasional Akuntansi XV, Banjarmasin.
Benk S, Cakmank AF dan Budak T. 2011. An Investigation of Tax Compliance intention : A Theory of Planne d Behavior Approach, European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences, 28 180-188.
Boediono. 2003. Pelayanan Prima Perpajakan, Cetakan Kedua. Yogyakarta:
Rineka Cipta
Devano, Sony dan Siti Kurnia Rahayu. 2006. Perpajakan Konsep, Teori, dan Isu.
Jakarta: Kencana.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro (BPUD).
Handayani, Septi Wuri, Agus Faturohman dan Umi Pratiwi. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemauan Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas. Simposium Nasional Akuntansi XV Banjarmasin.
Hardiningsih, Pancawati dan Nila Yulianawati. 2011.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan Membayar Pajak. Dinamika Keuangan dan Perbankan, 3 (2): 126-142.
Hidayat, Widi dan Argo Adhi Nugroho. 2010. Study Empiris Theory of Planned Behaviour dan Pengaruh Kewajiban Moral pada Perilaku Ketidakpatuhan WPOP. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 12 (2): 82-93
Jatmiko, Agus Nugroho. 2006. Pengaruh Sikap Wajib Pajak pada Pelaksanaan Sanksi Denda, Pelayanan Fiskus dan Kesadaran Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota Semarang). Thesis, Universitas Diponegoro.
Komara Ahmad. 2012. Cara Mudah Memahami Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Jakarta: Bee Media Indonesia.
Mardiasmo. 2011. Perpajakan, Edisi Revisi. Yogyakarta: Andi offset.
Marihot, Pahala. 2010 . Hukum Pajak Elementer Konsep Dasar Perpajakan Indonesia.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Marihot, Pahala. 2010 . Hukum Pajak Elementer Konsep Dasar Perpajakan Indonesia.Yogyakarta: Graha Ilmu.