CAMPURAN KOTORAN DOMBA DENGAN BATANG PISANG
INSTITUT PETERNAKAN BOGOR 2011
ii RINGKASAN
Lutfi Setyo Wibowo. D14060574. 2011. Taraf Penggunaan Mikroorganisme Lokal Tapai sebagai Bioaktivator Pembuatan Pupuk Organik Campuran Kotoran Domba dengan Batang Pisang. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Salundik, M.Si.
Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Agr.Sc.
Pengolahan limbah ternak seperti kotoran domba adalah salah satu alternatif untuk menanggulangi kerusakan lingkungan dari limbah kotoran ternak. Sampai sekarang, pengolahan kotoran domba menjadi pupuk di Karawang belum dapat teroptimalisasi dengan baik. Penyebabnya adalah kesulitan dalam mendapatkan bioaktivator komersial di Karawang. Cacahan batang pisang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pupuk, karena cacahan batang pisang mengandung kalium yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pupuk organik campuran kotoran domba dengan batang pisang dengan taraf penggunaan bioaktivator MOL (mikroorganisme lokal) tapai yang berbeda.
Rancangan percobaan yang digunakan pada proses pengomposan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan penambahan aktivator EM4, MOL tapai 1% (MT1), MOL tapai 5% (MT5) dan MOL tapai 10%(MT10) dengan tiga ulangan. Peubah yang diamati adalah produksi kompos, pH dan kualitas kompos (N, P, K, C, rasio C/N). Rancangan yang digunakan pada pengujian kangkung adalah Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 4x3. Perlakuan yang digunakan pada pengujian tanam yaitu jenis pupuk yang digunakan (EM4, MT1, MT5, dan MT10) dan dosis pupuk yang digunakan (80 g, 160 g dan 240 g). Peubah yang diamati adalah tinggi batang, jumlah daun, berat kering akar dan berat kering tajuk.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa taraf pemberian MOL tapai berpengaruh pada nilai rataan bobot akhir kompos, rataan nilai kandungan karbon (C) organik, rataan nilai kandungan nitrogen (N) total, rataan nilai kandungan fosfor (P) total. Kompos yang dibuat dengan aktivator MT1 memiliki kualitas yang hampir sama dengan kompos yang dibuat dengan aktivator EM4. Kompos dengan taraf pemberian MOL tapai 1% memliki kandungan unsur hara yang terbaik dibandingkan dengan kompos dengan taraf pemberian MOL tapai 5% dan 10%.
Hasil uji tanam menunjukkan semua tanaman yang diberi kompos lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi kompos. Tanaman yang diberi dosis 160 g dan 240 g adalah tanaman yang paling tinggi. Tanaman yang diberi kompos MT10 dengan dosis 80 g adalah tanaman yang paling pendek. Semua tanaman yang diberi kompos memiliki jumlah daun lebih banyak bila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi kompos. Tanaman yang memiliki jumlah daun paling banyak adalah tanaman yang diberi dosis kompos 240 g. Tanaman yang memiliki jumlah daun paling sedikit adalah tanaman yang diberi kompos MT10. Semua tanaman yang diberi kompos memiliki bobot kering tajuk yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi kompos. Tanaman diberi kompos sebanyak 240 g merupakan tanaman dengan bobot kering terberat. Tanaman yang diberi kompos memiliki berat kering akar yang lebih berat dari tanaman yang tidak
iii diberi kompos. Tanaman yang diberi kompos 240 g merupakan tanaman yang memiliki berat kering akar tertinggi.
Kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian ini yaitu aktivator MT1 dan EM4 merupakan aktivator yang dapat membuat kompos dengan kualitas terbaik. Semua pemberian kompos memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang tanpa pemupukan. Pemberian kompos MT1 dengan dosis 240 g menghasilkan tanaman dengan produktivitas tertinggi.
iv ABSTRACT
Organic Fertilizer Production from Sheep Manure and Banana Trunk Using Local Microorganism of Tapai as an Activator.
Wibowo, L.S., Salundik, and S. Mulatsih
Processing of animal waste such as sheep manure is one alternative to prevent environmental damage from animal waste. Until now, the processing of sheep manure to produce fertilizer is not optimized yet. Difficulty to get commercial bioactivator in Karawang causes this problem. To enrich the fertilizer, banana trunk could be used because of its high kalium content. This research purpose was to know the quality of organic fertilizer made using local microorganism of tapai. The data of organic fertilizer were analyzed using completely randomized design (CRD) with 3 replications. The data from planlation test were analyzed using completely randomized factorial design with 3 replications. Result showed that organic fertilizer made using activator local microorganism of tapai 1% and local microorganism of tapai 5% have same quality, but both of them have higher quality than the organic fertilizer made using activator local microorganism of tapai 10%. All plants using fertilizer have higer productivity than plant without fertilizer. It is concluded that fertiliezer usage of local mircroorganism of tapai 1% as an activator with dosage of 240 g have the higest productivity.
Keyword: Sheep waste, Banana trunk, Local microorganism of tapai
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Direktorat Jendral Peternakan menyebutkan bahwa data populasi ternak domba di Indonesia tahun 2009 sebesar 10.471.991 ekor, dan populasi di Provinsi Jawa Barat sebanyak 5.524.329 ekor. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Kabupaten Karawang, didapatkan data dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karawang mengenai keseluruhan populasi ternak domba di Kabupaten Karawang yang terdiri dari 30 kecamatan tahun 2009 sebesar 1.189.656 ekor dan meningkat sebesar 73,16% dari tahun 2008 yang hanya sebesar 870.409 ekor. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Karawang juga menyebutkan bahwa Kecamatan Batu Jaya tahun 2009 mempunyai populasi domba sebanyak 28.801 ekor.
Domba yang dipelihara peternak di Jawa Barat rata-rata sebanyak 6 ekor. Pakan hijauan segar yang dikonsumsi domba sekitar 5,35 kg/hari (32,1 kg/peternak). Pupuk kandang yang dihasilkan sekitar 4 kg (bahan kering feses 45 %) per hari per 6 ekor. Sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar antara 40-50 % atau 14,2 kg. Feses dan sisa hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan kompos mencapai 28,2 kg untuk setiap peternak (Mathius, 2007).
Studi kasus yang dilakukan untuk mengetahui pemanfaatan feses domba di Kecamatan Batu Jaya Kabupaten Karawang pada tanggal 14-17 Agustus 2009 didapatkan hasil 8,57% peternak menjual kotoran domba ke pengumpul, 88,57% tidak memanfaatkannya (langsung ditimbun, dibakar, atau dibuang) dan 2,85% peternak memanfaatkan kotoran tersebut sebagai pupuk untuk kebun. Kotoran domba berdasarkan berat kering oven memiliki rasio C/N 29; kandungan N 1,78%; fosfor 0,79%, dan kalium 2,2% (Wibisono dan Basri, 1993).
Batang pisang merupakan bahan yang potensial untuk meningkatkan kualitas kompos. Ultra et al. (2005) menyatakan bahwa tanaman pisang banyak menyerap kalium dan kompos pisang yang diaplikasikan ke dalam tanaman pisang mampu memberikan serapan kalium yang tinggi sehingga kadarnya tinggi pada buah dan batang pisang.
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran.
2 Apabila tidak ditangani secara tepat, limbah ternak dapat menyebabkan pencemaran lingkungan (air, tanah dan udara).
Pengomposan alami memerlukan waktu yang relatif lama, namun dapat dipersingkat dengan penambahan aktivator. Aktivator adalah bahan yang sering ditambahkan dalam pengomposan dengan tujuan untuk mempercepat proses penguraian (Gaur, 1983). Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk belum dilakukan oleh petani secara optimal. Hal ini salah satunya dikarenakan kesulitan dalam mendapatkan bioaktivator komersial di lingkungan mereka. Tapai sangat familiar dalam masyarakat pedesaan, sehingga diharapkan nantinya masyarakat dapat memanfaatkan ragi tape ini sebagai bioaktivator dalam pembuatan pupuk organik.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pupuk organik campuran kotoran domba dengan batang pisang pada taraf penggunaan bioaktivator mikroorganisme lokal (MOL) tapai yang berbeda.
3 TINJAUAN PUSTAKA
Kompos
Pupuk dapat diartikan sebagai bahan-bahan yang diberikan pada tanah agar dapat menambah unsur hara atau zat makanan yang diperlukan tanah baik secara langsung maupun tidak langsung. Pupuk organik adalah bahan organik yang umumnya berasal dari tumbuhan dan atau hewan, ditambahkan ke dalam tanah secara spesifik sebagai sumber hara, pada umumnya mengandung nitrogen yang berasal dari tumbuhan dan hewan (Sutanto, 2002). Suriawiria (2003) menyatakan bahwa pupuk organik mempunyai kandungan unsur hara, terutama N, P, dan K yang relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk anorganik, tetapi mempunyai peranan lain yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan tanaman.
Pengomposan menurut Yang (1997), merupakan suatu proses biooksidasi yang menghasilkan produk organik yang stabil dan dapat dikontribusikan secara langsung ke tanah serta digunakan sebagai pupuk. Harada et al. (1993) menyatakan produk dari pengomposan berupa kompos apabila diberikan ke tanah akan mempengaruhi sifat fisik, kimia maupun biologis tanah.
Proses Pengomposan Anaerobik
Dekomposisi secara anaerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia dan biologi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (hampa udara). Proses tersebut merupakan proses yang dingin dan tidak terjadi fluktuasi suhu, seperti yang terjadi pada proses pengomposan aerobik.
Proses pengomposan secara anaerobik akan menghasilkan metana (alkohol), CO2, dan senyawa lain seperti asam organik yang memiliki berat molekul rendah (asam asetat, asam propionat, asam butirat, dan asam laktat). Proses anaerobik umumnya dapat menimbulkan bau yang tajam. Sisa hasil pengomposan anaerobik berupa lumpur yang mengandung air sebanyak 60% dengan warna cokelat gelap sampai hitam. Kehilangan unsur hara pada proses pengomposan secara anaerobik sedikit, sehingga umumnya mempunyai kandungan unsur hara yang lebih tinggi dari proses pengomposan secara aerobik (Samekto, 2006)
4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengomposan Anaerobik Ukuran Bahan
Proses pengomposan dapat dipercepat jika bahan mentah kompos dicincang menjadi bahan yang lebih kecil. Bahan yang kecil akan cepat didekomposisi karena peningkatan luas permukaan untuk aktivitas organisme perombak (Gaur, 1983). Menurut Murbandono (1993), sampai batas tertentu semakin kecil ukuran partikel bahan maka semakin cepat pula waktu pelapukannya.
Rasio Karbon-Nitrogen (C/N)
Rasio C/N bahan organik merupakan faktor yang paling penting dalam pengomposan. Hal tersebut disebabkan mikroorganisme membutuhkan karbon untuk menyediakan energi (Gunawan dan Surdiyanto, 2001) dan nitrogen yang berperan dalam memelihara dan membangun sel tubuhnya (Triadmojo, 2001). Kisaran rasio C/N yang ideal adalah 20-40, dan rasio yang terbaik adalah 30 (Center for policy and Implementation Study, 1992). Rasio C/N yang tinggi akan mengakibatkan proses berjalan lambat karena kandungan nitrogen yang rendah, sebaliknya jika rasio C/N terlalu rendah akan menyebabkan terbentuknya amoniak, sehingga nitrogen akan hilang ke udara (Gunawan dan Surdiyanto, 2001).
Temperatur Pengomposan
Pengomposan akan berjalan optimal pada suhu yang sesuai dengan suhu optimum pertumbuhan mikroorganisme perombak. Menurut Murbandono (1993), suhu optimum pengomposan berkisar antara 35-55 oC, akan tetapi setiap kelompok mikroorganisme mempunyai suhu optimum yang berbeda sehingga suhu optimum pengomposan merupakan integasi dari berbagai jenis mikroorganisme.
Derajat Keasaman (pH)
Identifikasi proses degradasi bahan organik pada proses pengomposan dapat dilakukan dengan mengamati terjadinya perubahan pH kompos. Menurut Center for Policy and Implementation Study (1992), derajat keasaman (pH) yang dituju adalah 6-8,5 yaitu kisaran pH yang pada umumnya ideal bagi tanaman. Hasil dekomposisi bahan organik ini menghasilkan kompos yang bersifat netral sebagai akibat dari sifat-sifat basa bahan organik yang difermentasikan. Pada pengomposan pupuk organik
5 padat nilai pH pada hari ketiga berkisar dari 7,66-8,84 dan hari ke-enam berkisar pada 8,66-9,08 (Nengsih, 2002).
Mikroorganisme yang Terlibat dalam Pengomposan
Pengomposan akan berjalan lama jika mikroorganisme perombak pada permulaannya sedikit. Mikroorganisme sering ditambahkan pada bahan yang akan dikomposkan yang bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan (Indriyani, 1999).
Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya proses pengomposan akan berfluktuasi. Berdasarkan kondisi habitatnya (terutama suhu), mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan tersebut terdiri dari dua golongan yaitu mesofilik dan termofilik. Mikroorganisme mesofilik adalah mikroorganisme yang hidup pada suhu antara 45-65 oC. Pada waktu suhu tumpukan kompos kurang dari 45 oC, maka proses pengomposan dibantu oleh mesofilik di atas suhu tersebut (45-65 oC) mikroorganisme yang berperan adalah termofilik (Gaur, 1983 dan Center for Policy and Implementation Study, 1992). Menurut Center for Policy and Implementation Study (1992), mikroorganisme mesofilik pada hakekatnya berfungsi memperkecil ukuran partikel zat organik sehingga luas permukaan partikel bertambah. Menurut Gaur (1983), bakteri termofilik yang tumbuh dalam waktu yang terbatas berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein, sehingga bahan-bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat.
Aktivator
Aktivator merupakan bahan yang mampu meningkatkan dekomposisi bahan organik (Gaur, 1983). Aktivator mempengaruhi proses pengomposan melalui dua cara, cara pertama yaitu dengan menginokulasi strain mikroorganisme yang efektif dalam menghancurkan bahan organik (pada activator organic), kedua yaitu meningkatkan kadar N yang merupakan makanan tambahan bagi mikroorganisme tersebut.
EM4 (Effective Microorganisms4)
Sekitar tahun 1980, Prof Dr. Teruo Higa dari Jepang mengembangkan teknologi Mikroorganisme Efektif (ME) sebagai alternatif dalam mewujudkan konsep pertanian alami. Mikroorganisme efektif adalah suatu larutan yang terdiri dari
6 kultur pertanian alami dan merupakan kultur campuran berbagai mikroba yang bermanfaat bagi tanaman dan berfungsi sebagai bio-inokulan. Setiap spesies mikroba mempunyai fungsi dan peranan masing-masing yang bersifat saling menunjang dan bekerja secara sinergis. Larutan ME di pasaran umum diperdagangkan dengan merek EM4 (Higa dan Wididana, 1994).
Higa dan Wididana (1994) menyatakan, bahwa effective Microorganisms4 (EM4) mengandung lima jenis mikroorganisme utama yaitu Lactobacillus sp. (bakteri asam laktat) dalam jumlah besar, bakteri fotosintesis, ragi, Actinomycetes dan jamur fermentasi, yang bekerja secara sinergis untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Mikroorganisme Lokal (MOL) Tapai
Tapai adalah sebuah makanan yang terbuat dari singkong yang difermentasi dengan ragi tapai. Mikroba yang terdapat di dalam ragi adalah kapang, khamir dan bakteri. Bakteri yang sering ditemukan di dalam ragi tape berasal dari genus Pediococcus dan Basillus. Kapang yang berperan adalah Amylomyces, Mucor dan Rhizopus sp. Khamir yang berperan adalah Endomycopsis fibuliger, Saccharomyces cerevisiae dan Hansenula sp. (Saono et al., 1982). Proses pembuatan ragi tapai dapat dilihat pada Gambar 1.
7 MOL tapai dibuat dengan mencampurkan tapai singkong dengan air dan gula. Campuran tersebut disimpan di dalam botol dan didiamkan selama 5 hari. Setelah 5 hari, MOL sudah dapat digunakan. Sejumlah 2,5 liter MOL dapat digunakan untuk membuat 1 ton kompos (Setiawan dan Tim ETOSA, 2010).
Kotoran Domba
Gatenby (1986) mengemukakan bahwa kotoran domba mengandung N, P, K dan mineral-mineral esensial untuk pertumbuhan tanaman juga mengandung bahan organik yang dapat memperbaiki struktur tanah, mengurangi erosi dan menambah kapasitas tanah untuk memegang air. Menurut Wibisono & Basri (1993), kotoran domba berdasarkan berat kering oven memiliki rasio C/N 29; kandungan N 1,78%; fosfor 0,79%, dan kalium. Gatenby (1986) mengemukakan bahwa kotoran domba mengandung N, P, K, dan mineral-mineral esensial untuk pertumbuhan. Kandungan hara kotoran domba dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Hara Kotoran Domba
Sumber: A= Soepardi (1983), B= Kammlade (1985), C= Setiawan (1998) Batang Pisang
Batang atau pelepah pisang merupakan bagian dari tanaman pisang yang berada di atas tanah yang berfungsi sebagai kultur penyangga daun, tunas, dan buah. Batang pisang berfungsi sebagai jalan pengakutan hasil-hasil asimilasi dari atas ke bawah. Batang semu tersusun dari cekungan-cekungan pelepah daun. Cekungan pelepah daun tersebut umumnya terdapat pada tumbuhan yang tergolong dalam tumbuhan berbiji tunggal atau Monocotyledonae gabungan daun tersebut berbentuk sirkuler (Tjitrosoepomo, 1988).
Unsur Hara A (Padat) B (Padat) C
Padat Cair ---%--- H2O 66 64 60 85 N 5,06 1,44 0,6 1,50 P 0,67 0,22 0,3 0,13 K 3,97 1,01 0,17 1,80
8 Batang pisang sebagian berisi air dan serat (selulosa), disamping mineral, kalium, dan fosfor. Komposisi kimia batang pisang dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu komposisi tanah, frekuensi pemotongan, fase pertumbuhan, pemupukan, iklim setempat, dan ketersediaan air. Serat batang pisang mengandung 63% selulosa, 20% hemiselulosa, dan 5% lignin (Small, 1954 dalam Wijaya, 2002).
Kangkung (Ipomoea reptans poir)
Ipomea aquatic Forssk, sinonimnya adalah Ipomae reptans poir yang dalam bahasa Indonesia disebut kangkung, dikenal luas masyarakat Indonesia sebagai tanaman sayuran (Van Valkenburg dan Bunyapraphatsara, 2001). Tanaman ini di Asia Tenggara memiliki dua tipe yaitu kangkung merah yang dicirikan berbunga ungu atau merah jingga atau lembayung disebut juga sebagai kangkung air dan kangkung berbunga putih yang disebut dengan kangkung darat.
Kangkung memiliki kedudukan dalam tatanama (sistematika) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
Division : Spermatophyta Sub division : Angiospermae Kelas : Dycotyledoneae Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomoea reptans poir (kangkung darat)
Masyarakat Indonesia hampir semuanya mengenal kangkung. Kangkung merupakan tanaman menetap yang dapat tumbuh lebih dari satu tahun (Rukmana, 1994). Kangkung juga dikenal dengan tumbuhan yang tumbuh cepat dan memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Di dataran rendah tropika sekitar khatulistiwa kangkung dapat dipanen sesudah 25 hari dan dapat menghasilkan lebih dari 20 ton/ha daun segar.
Pertumbuhan kangkung tidak terlalu sulit, kangkung dapat tumbuh di perairan dan daratan (bedengan). Kangkung yang tumbuh di perairan adalah kangkung air yang memiliki tangkai daun panjang, daun lebar dan warna hijau tua segar dan bunga berwarna ungu. Jenis kangkung darat berbeda dengan kangkung air. Kangkung darat banyak tumbuh di lahan kering atau tegalan. Daun lebih langsing dengan ujung daun meruncing. Warnanya hijau pucat keputih-putihan dan warna bunga putih polos. Bunga ini dipelihara untuk menghasilkan biji sebagai benih yang
9 baru. Untuk kangkung darat, varietas sutra sangat baik dikembangbiakkan. Jenis ini bukan asli Indonesia, melainkan dari tempat yang cukup jauh di Pasifik, yakni di kepulauan Hawai. Penampilanya menarik, tumbuh tegak dengan daun yang berwarna pucat keputihan. Batang berwarna hijau muda dengan daun berbentuk segi tiga lebar. Sedikit berbeda dengan sifat kangkung darat lainnya, kangkung sutra dapat dipanen pertama sekali pada umur 35-40 hari. Pada umur 50 hari bunganya yang berwarna putih sudah muncul. Kemampuan bercabang mencapai 2m. Produksinya pun tak kalah hebat, yaitu antara 12-44 ton/ha. Sedangkan kemampuan memproduksi bijinya adalah 6 ton/ha. Batas antara kecukupan dan defisiensi unsur hara kangkung berdasarkan analisis tanaman dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Batas antara Kecukupan dan Defisiensi Unsur Hara pada Kangkung berdasarkan Analisis Tanaman
Unsur hara Kangkung
N(%) 4,2 P(%) 0,26 K(%) 1,71 Ca(%) 0,36 Mg(%) 0,26 S(%) - Sumber : Sanchez (1992)
10 MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2010 yang bertempat di Laboratorium Pengolahan Limbah Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan serta di Laboratorium Lapang University Farm, Institut Pertanian Bogor.
Materi
Penelitian ini menggunakan bahan kotoran domba, batang pisang, larutan gula, molases, bioaktivator berupa MOL tapai, EM4, tanah latosol, polybag, dan benih kangkung lokal.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah drum plastik, gayung, pisau, timbangan, karung, sekop, dan penggaris.
Prosedur Penelitian Pembuatan Kompos
Salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan dekomposisi proses pengomposan yakni ukuran partikel bahan. Untuk mendapatkan ukuran bahan yang sesuai standar 2,5 hingga 4 cm (Metcalf dan Eddy, 2004), maka dilakukan pencacahan pada batang pisang.
Tahapan penelitian selanjutnya, yakni melakukan karakterisasi bahan pengompos. Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui nilai rasio pengomposan. Parameter yang diukur yakni kadar C/N masing-masing bahan. Kemudian, dilakukan penentuan jumlah bahan organik yang akan dicampurkan persamaan person squere methode.
Rasio C/N batang pisang 55 dan rasio C/N kotoran domba 29. Setelah dihitung, diketahui persen perbandingan batang pisang dan kotoran domba dengan C/N kompos yang diinginkan adalah 35 yaitu 77 % : 23 %. Jika kompos yang dibuat ukuran 10 kg maka diperlukan batang pisang 2,3 kg dan kotoran domba 7,7 kg.
Taraf yang digunakan adalah penambahan MOL tapai 1% , 5%, 10% dengan kontrol berupa EM4. Aktivasi larutan EM4 pada kompos 10 kg dilakukan dengan penambahan 500 g dedak, 500 g gula pasir dan diencerkan dengan air sampai volume
11 400 ml. MOL disiapkan dengan mencampur 25 ml MOL dengan 375 ml air. Bahan kemudian dimasukkan dalam drum dan ditutup agar terjadi pengomposan anaerobik.
Bobot bahan baku kompos yang sesuai dengan perhitungan formulasi di atas, kemudian dicampurkan. Pencampuran bahan dilakukan sesuai dengan taraf percobaan yang akan dilakukan yakni: perlakuan pemberian MOL tapai dengan taraf (1 %, 5 % dan 10 %) dan kontrol (dengan tambahan aktivator EM4). Kemudian, bahan dimasukkan dalam drum 10 kg dan ditutup agar terjadi pengomposan secara anaerob. Pengadukan dilakukan agar proses pengomposan terjadi dengan baik. Pengambilan data meliputi produksi bobot akhir kompos, kandungan karbon (C) organik, kandungan nitrogen (N) total, kandungan fosfor (P) total, kandungan K2O total, rasio karbon/nitrogen (C/N), pH akhir kompos.
Penanaman Tanaman Kangkung
Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah, dan memberikan kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui pengolahan tanah, drainase, dan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Pengolahan tanah dalam penelitian ini meliputi penjemuran tanah latosol dan juga penyaringan tanah latosol.
Penelitian uji tanaman kangkung menggunakan 4 pupuk yang berbeda (EM4, MOL tapai 1%, MOL tapai 5%, dan MOL tapai 10%) dengan 1 kontrol berupa tanah latosol 4 kg. Dosis yang diberikan pada masing-masing kompos ada 3 (80 g, 160 g dan 240 g). Setiap kombinasi jenis kompos dan dosis ditanaman pada polybag berukuran 35 cm x 35 cm dengan jumlah tanah masing-masing polybag 4 kg dan diulang sebanyak 3 kali. Banyaknya petak percobaan yang digunakan adalah 45 petak. Kombinasi perlakuan EM4 80 g, EM4 160 g, EM4 240 g, MOL tapai 1% 80 g, MOL tapai 1% 160 g, MOL tapai 1% 240 g, MOL tapai 5% 80 g, MOL tapai 5% 160 g, MOL tapai 5% 240 g, MOL tapai 10% 80 g, MOL tapai 10% 160 g, MOL tapai 10% 240 g.
Polybag yang telah terisi tanah dan juga pupuk kompos dengan berbagai dosis tersebut kemudian ditanami benih kangkung lokal dengan jarak yang memadai. Setiap polybag mempunyai 4 lubang dam setiap lubang dimasukkan 6 biji kangkung. Penyulaman dilakukan pada minggu pertama setelah penanaman dengan melihat jumlah terkecil tanaman yang tumbuh. Penyiraman secukupnya dilakukan setelah
12 benih ditanaman. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan pengambilan data dilakukan setiap minggu
Tanaman kangkung sudah dapat dipanen pada saat berumur 3 minggu setelah penanaman. Pada saat panen tanaman dipisahkan antara tajuk dengan akarnya yang kemudian dikeringkan untuk mengetahui biomasa tanaman.
Peubah yang Diamati Kadar Karbon (C)
Pupuk sebanyak 0,25 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambah 5 ml K2Cr2O7 dan 2,5 ml H2SO4 perlahan-lahan. Larutan lalu dikocok sampai bereaksi sempurna. Sebanyak 1 ml larutan yang telah dibuat dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 125 ml dan ditambah 9 ml aquades kemudian dititrasi dengan