BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
4. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas adalah alat ukur penelitian berupa kuesioner yang dilakukan sebelum digunakan untuk mengukur nilai perilaku responden. Hal ini dimaksudkan agar alat ukur yang digunakan benar- benar tepat dan cermat dalam melakukan fungsi ukurnya serta dapat dipercaya. Validitas dan reliabilitas alat ukur dilihat dari koefisien korelasinya, semakin tinggi angka koefisien korelasi berarti semakin valid dan reliabel alat ukur tersebut (Sugiono, 2001).
Uji validitas dilakukan pada 20 orang penderita diabetes mellitus yang berobat jalan di Rumah Sakit Tentara Kota Pematangsiantar dengan pertimbangan memiliki karakteristik yang hampir sama. Uji ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana suatu ukuran atau nilai yang menunjukkan tingkat kehandalan atau kesahihan suatu alat ukur dengan cara mengukur korelasi antara variabel atau item dengan skor total variabel pada analisis reability dengan melihat nilai correlation corrected item, dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel, maka dinyatakan valid dan sebaliknya.
Reliabilitas data merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
metode Cronbach’s Alpha, yaitu menganalisis reabilitas alat ukur dari satu kali
pengukuran, dengan ketentuan, jika nilai r Alpha > r tabel, maka dinyatakan relialibel
(Riwidikdo, 2008). Nilai r Tabel dalam penelitian ini menggunakan critical value of
the product moment pada taraf signifikan 95%.
Tabel 3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Pengetahuan Pertanyaan Corrected Item-Total Correlation Keterangan
P1 0,576 Valid P2 0,576 Valid P3 0,504 Valid P4 0,611 Valid P5 0,385 Valid P6 0,617 Valid P7 0,414 Valid P8 0,480 Valid P9 0,517 Valid P10 0,568 Valid P11 0,400 Valid P12 0,494 Valid P13 0,456 Valid P14 0,605 Valid P15 0,486 Valid P16 0,448 Valid P17 0,576 Valid P18 0,517 Valid P19 0,570 Valid P20 0,749 Valid
Cronbach’s Alpha 0,897 Reliabel
Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa hasil uji validitas dan reliabilitas
dapat menunjukkan bahwa semua item pertanyaan tentang pengetahuan valid karena
nilai Correctied Item-Total Correlation > 0,361. Item pertanyaan pengetahuan
Tabel 3.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Sikap Pertanyaan Corrected Item-Total Correlation Keterangan
S1 0,737 Valid S2 0,543 Valid S3 0,498 Valid S4 0,420 Valid S5 0,537 Valid S6 0,474 Valid S7 0,547 Valid S8 0,455 Valid S9 0,511 Valid S10 0,677 Valid S11 0,367 Valid S12 0,637 Valid S13 0,587 Valid S14 0,683 Valid
Cronbach’s Alpha 0.873 Reliabel
Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa hasil uji validitas dan reliabilitas
dapat menunjukkan bahwa semua item pertanyaan tentang sikap valid karena nilai
Correctied Item-Total Correlation > 0,361. Item pertanyaan sikap reliabel karena
nilai Cronbach’s Alpha 0,873 lebih besar dari 0,361.
Tabel 3.3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Tindakan Pertanyaan Corrected Item-Total Correlation Keterangan
T1 0,607 Valid T2 0,660 Valid T3 0,814 Valid T4 0,622 Valid T5 0,607 Valid T6 0,499 Valid T7 0,491 Valid T8 0,606 Valid T9 0,825 Valid T10 0,699 Valid
Berdasarkan table diatas dapat dilihat bahwa hasil uji validitas dan reliabilitas
dapat menunjukkan bahwa semua item pertanyaan tentang tindakan valid karena nilai
Correctied Item-Total Correlation > 0,361. Item pertanyaan tindakan reliabel karena
nilai Cronbach’s Alpha 0,886 lebih besar dari 0,361.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel
a. Variabel Bebas (independent variabel) yaitu penyuluhan dengan metode ceramah
dan media leaflet.
b. Variabel Terikat (dependentvariabel) yaaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.
3.5.2. Definisi Operasional
a. Perilaku adalah tanggapan seseorang terhadap rangsangan, yang meliputi
pengetahuan, sikap dan tindakan.
b. Efektivitas adalah tingkat kemampuan media dalam meningkatkan pengetahuan,
sikap dan tindakan responden, dimana dalam penelitian ini metode/media
dinyatakan efektif untuk variabel pengetahuan apabila rata-rata pada hasil
posttest dapat menjawab dengan benar minimal 70 % dari 20 soal, untuk variabel
sikap rata-rata dapat menjawab dengan benar minimai 70 % dari 14 soal dan
untuk variabel tindakan rata-rata dapat menjawab dengan benar minimal 70 %
dari 10 soal yang disediakan pada kuesioner.
c. Pengetahuan adalah kemampuan responden menjawab dengan benar pertanyaan
d. Sikap adalah tanggapan atau pandangan reponden yang dinyatakan dalam
pernyataan tentang penyakit diabetes mellitus.
e. Tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap yang berbentuk nyata dan
terbuka tentang diabetes mellitus.
f. Penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah adalah suatu proses pendidikan
kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan pasien yang
dilakukan dengan cara membagi materi tentang DM, menjadi beberapa topik
bahasan dan masing-masing topik dijelaskan satu persatu. Dalam hal ini peserta
mendengarkan dan memberikan tanggapan atau materi yang disampaikan oleh
fasilitator (penceramah) tentang DM. Dalam hal Penceramah dalam penelitian
ini adalah peneliti sendiri yang memang telah menjadi tenaga terlatih sebagai
edukator diabetes mellitus. Ceramah disampaikan dibantu oleh alat bantu
sederhana seperti slide, proyektor dan leptop. Setelah ceramah selesai para
peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan pertanyaan tersebut dijawab oleh
penceramah.
g. Penyuluhan kesehatan dengan media leaflet adalah suatu penyuluhan yang
dilakukan kepada masyarakat dengan memberikan media leaflet diabetes mellitus
kepada subjek peneliti untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan
3.6. Metode Pengukuran
Aspek pengukuran dari penelitian ini didasarkan pada jawaban responden
terhadap pertanyaan yang ada di kuesioner yang disesuaikan dengan skor.
Tabel 3.4. Metode Pengukuran
No Variabel Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
1 Pengetahuan Menjawab Kuesioner 20 pertanyaan: - Benar diberi skor 1 - Salah diberi skor 0
Skor Rasio
2 Sikap Menjawab kuesioner 14
Pertanyaan positif: - Setuju diberi skor 1 - Tidak setuju diberi skor 0
Pertanyaan negatif - Setuju diberi skor 0 - Tidak setuju diberi skor 1
Skor Rasio
3 Tindakan Menjawab Kuesioner 10
pertanyaan: - Benar diberi skor 1 - Salah diberi skor 0
Skor Rasio
1. Pengetahuan
Pengukuran variabel pengetahuan didasarkan pada skala rasio dari 20
pertanyaan dengan alternatif jawaban a, b,c dimana responden bebas memilih
jawaban yang disediakan, kemudian diberi bobot Benar (skor 1) dan Salah
(skor 0), jumlah skor maksimal 20.
2. Sikap
Pengukuran variable sikap didasarkan pada skala rasio dari 14 pertanyaan
diberi skor 0 untuk pertanyaan positif, sedangakan untuk pertanyaan negatif
jika jawaban setuju diberi skor 0 dan tidak setuju diberi skor 1, jumlah skor
maksimal 14.
3. Tindakan
Pengukuran variabel tindakan didasarkan pada skala rasio dari 10 pertanyaan
dengan alternatif jawaban a, b,c dimana responden bebas memilih jawaban
yang disediakan, kemudian diberi bobot Benar (skor 1) dan Salah (skor 0),
jumlah skor maksimal 10.
3.7. Metode Analisis Data 3.7.1. Analisis Univariat
Analisis data secara univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran
distribusi frekuensi responden. Analisa ini digunakan untuk memperoleh gambaran
variabel independen (penyuluhan kesehatan metode ceramah dan media leaflet) dan
variabel dependen (pengetahuan, sikap dan tindakan tentang diabetes mellitus)
3.7.2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan efektivitas
metode penyuluhan dengan metode ceramah dan media leaflet dalam meningkatkan
pengetahua, sikap dan tindakan terhadap perilaku penderita diabetes mellitus di
Klinik RSUD dr Djasamen Saragih pematangsiantar tahun 2014 dengan
menggunakan statistik uji Paired Samples t-test dan Independent Sample t-test
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Lokasi Penelitian
4.1.1 Sejarah Berdirinya RSUD Dr.Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar
Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Djasamen Saragih Pematang Siantar dulunya
adalah “Siantar Dokter Fonds Hospital” dengan Direktur Rumah Sakit bernama Dr.
Hoschoupt yang statusnya diberikan oleh Jendral Hindia Belanda dua kali secara
bertahap, yaitu:
1. Dari tanggal 5 Oktober 1915 – 5 Oktober 1930
2. Dari tanggal 5 Oktober 1930 – 5 Oktober 1960
Sebelum Siantar Fonds Hospital dibentuk, rumah sakit ini sudah berdiri
pertama kali pada tahun 1911 oleh perkebunan Marihat yang namanya “Marihat
Hospital”,dimana direktur rumah sakit waktu itu adalah Dr. Slotemaker. Pada saat
itu Marihat Hospital hanya melayani penderita-penderita dari perkebunan saja.
Oleh karena pesatnya perkembangan perkebunan di Kabupaten Simalungun,
Marihat Hospital tidak dapat melayani penderita-penderita yang makin bertambah
banyak, maka terpaksa dibentuk rumah sakit gabungan yang diberi nama “Siantar
Doctors Fonds Hospital“.
Siantar Doctors Fonds Hospital adalah rumah sakit gabungan dari beberapa
perusahaan perkebunan besar yang terdapat di Simalungun yaitu:
2. Perkebunan – perkebunan yang dimiliki oleh Inggris
Siantar Doctors Fonds Hospital selanjutnya lebih dikenal dengan nama
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Pematang Siantar, dan pada tanggal 23 April 2007
nama Rumah Sakit Umum Kota Pematang Siantar berubah menjadi Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Djasamen Saragih berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor : 515/ MENKES/SK/IV/2007.
Kemudian pada tahun 2013 RSUD Dr. Djasamen Saragih dinyatakan lulus
sebagai Rumah Sakit Pendidikan Kelas B berdasarkan keputusan Dirjen Bina Upaya
Kesehatan Rujukan Kemenkes RI dr.Chairul Radjab Nasution, serta sesuai dengan
keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1069/Menkes/SK/XI/2008 tentang
klarifikasi dan standart rumah sakit pendidikan.
4.1.2 Data Dasar Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar
4.1.2.1 Data Umum RSUD Dr. Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar Nama Rumah Sakit : Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Djasamen Saragih Alamat : Jl.Sutomo No.230 Pematang Siantar
Telepon : (0622) 23823-23824
Status Kepemilikan : Pemerintah Daerah Kota Pematang Siantar Nama Direktur : Dr. Ria Novida Telambanua, M.Kes
Luas Lahan : 12,28 Ha
Luas Bangunan : 16,800 m2 Jumlah Bangunan : 59 Unit
Kapasitas Tempat Tidur RS : 200 Tempat Tidur
4.1.2.2 Visi dan Misi RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar
Visi` : Terwujudnya rumah sakit yang mantap, maju, dan jaya menuju masyarakat yang sehat yang Mandiri dan berkeadilan tahun 2015.
1. Misi :
2.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan dengan menjadikan rumah sakit terakreditas 16 pelayanan.
3.
Meningkatkan sarana dan prasaranarumah sakit yang mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat dan berorientasi pada lingkungan demi mewujudkan kota Pematang Siantar eco city serta mampu memberikan jaminan Keselamatan Keamanan dan Kepuasan pada masyarakat.
4.
Meningkatkan statusrumah sakit menjadi Rumah Sakit Pendidikan yang melakukan kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan secara bertahap dan berkesinambungan.
5.
Mewujudkan RSUD Dr.Djasamen Saragih menjadi rumah sakit rujukan dengan pelayanan unggulan bagi Kabupaten, Kota sekitarnya.
Mewujudkan RSUD Dr. Djasamen Saragih menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mampu mandiri untuk membiayai sendiri operasional dan mensejahterakan karyawan nya.
4.1.2.3 Batas Wilayah RSUD Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar
Batas wilayah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar adalah :
Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Sutomo.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Siatas Barita dan Sungan Bah Bolon.
Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Kampung Kandar Besar.
Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Kampung Keliling dan Jalan Dr. Wahidin.
4.1.2.4. Data Kepegawaian
A. tenaga Medik, terdiri dari :
1. Dokter Umum : 30 orang
2. Dokter Gigi : 9 orang
3. Dokter Spesialis : 28 orang
B. Tenaga Paramedis dan tenaga Kesehatan lainnya : 241 orang C. Tenaga non Medis/Kesehatan lainnya : 64 orang
Sumber : Subbagian Umum dan Kepegawaian RSUD dr. Djasamen Saragih Data Keadaan 31 Desember 2012
1.1.2.5 BOR Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar Tahun 2010 – 2013
Tabel 4.1. BOR Instalasi Rawat Inap RSUD dr. Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar Tahun 2010 – 2013 No Ruangan 2010 2011 2012 2013 1 Kelas Utama 89,12 90,02 91,41 80.82 2 Kelas I 64,52 77,26 80,54 73.01 3 Kelas II 34,58 45,49 45,03 34.95 4 Kelas III 23,93 29,47 29,62 29.59 5 ICU 48,38 41,42 54,70 56.00
BOR (Bed Occupation Rate) adalah persentase pemakaian tempat tidur dalam
satuan waktu tertentu. Nilai parameter ideal BOR suatu Rumah Sakit adalah diantara
75% samapai 85%, apabila BOR diatas 85% maka kejadian nosokomial di RS
tersebut semakin besar.
4.2 Karakteristik Responden a. Umur Responden
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Umur Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2014
Metode Umur n % Ceramah 40 – 49 Tahun 6 18,2 50 - 59Tahun 10 30,3 >60 Tahun 17 51,5 Total 33 100,0 Leaflet 40 – 49 Tahun 6 17,6 50 - 59Tahun 10 29,4 >60 Tahun 18 52,9 Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa kelompok umur mayoritas
responden pada media ceramah terdapat pada kelompok umur> 60 Tahun sebanyak
17 orang (51,5%) dan pada media leaflet pada kelompok umur > 60 Tahun sebanyak
b. Jenis Kelamin
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2014
Metode Jenis Kelamin n %
Ceramah Laki-Laki 10 30,3 Perempuan 23 69,7 Total 33 100,0 Leaflet Laki-Laki 15 44,1 Perempuan 19 55,9 Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa jenis kelamin mayoritas
responden pada media ceramah terdapat padajenis kelamin perempuan sebanyak 23
orang (67,7%) dan pada media leaflet pada jenis kelamin perempuan sebanyak 19
orang (55,9%).
c. Pendidikan Responden
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2014
Metode Pendidikan n % Ceramah Tidak Sekolah SD 4 4 12,1 12,1 SMP 4 12,1 SMA 14 42,4 Akademi/PT 7 21,2 Total 33 100,0 Leaflet Tidak Sekolah SD 1 7 2,9 20,6 SMP 3 8,8 SMA 18 52,9 Akademi/PT 5 14,7 Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa pendidikan mayoritas pada
responden pada media ceramah terdapat pada pendidikan SMA sebanyak 14 orang
(42,4%) dan pada media leaflet pada SMA sebanyak 18 orang (52,9%).
d. Pekerjaan Responden
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2014
Metode Pekerjaan n % Ceramah Pensiun/Tdk bekerja 11 33,3 PNS/TNI/POLRI 9 27,3 Wiraswasta 4 12,1 Pegawai swasta 1 3,0
Ibu Rumah Tangga 7 21,2
Lain-lain 1 3,0 Total 33 100,0 Leaflet Pensiun/Tdk bekerja 6 17,6 PNS/TNI/POLRI 5 15,7 Wiraswasta 6 17,6 Pegawai swasta 2 5,9
Ibu Rumah Tangga 12 35,3
Lain-lain 3 8,8
Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa kelompok umur mayoritas
responden pada media ceramah terdapat pada kelompok tidak bekerja/ pensiun
sebanyak 11 orang (33,3%) dan pada media leaflet pada kelompok IRT sebanyak 12
e. Penghasilan Responden
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Penghasilan Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar Tahun 2014
Metode Penghasilan n % Ceramah < Rp 1.500.000,- 10 30,3 > Rp 1.500.000,- 23 69,7 Total 33 100,0 Leaflet < Rp 1.500.000,- 15 44,1 > Rp 1.500.000,- 19 55,9 Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa penghasilan mayoritas
responden pada media ceramahadalah penghasilan sebesar >Rp. 1.500.000 sebanyak
23 orang (69,7%) dan pada media leaflet pada kelompok penghasilan> Rp. 1.500.000
sebanyak 19 orang (55,9%).
f. Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus Responden
Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus Responden Diabetes Mellitus di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar
Tahun 2014
Metode Riwayat Penyakit n %
Ceramah Ya 10 30,3 Tidak ada 23 69,7 Total 33 100,0 Leaflet Ya 9 26,5 Tidak ada 25 73,4 Total 34 100,0
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas dapat dilihat bahwa riwayat penyakit mayoritas
(69,7%) dan pada media leaflet pada kelompok tidak ada riwayat sebanyak 25 orang
(73,5%).
4.3 Analisis Univariat
4.3.1 Pengetahuan Responden tentang Diabetes Mellitus
Indikator pengetahuan diukur dengan menggunakan 20 pertanyaan.Berikut
adalah distribusi frekuensi jawaban responden terhadap variabel pengetahuan
sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang Diabetes Mellitus pada kelompok
Ceramah.
Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Diabetes Mellitus dengan Metode Ceramah di Klinik RSUD dr Djasamen Saragih
Pematangsiantar Tahun 2014
Pengetahuan
Metode Ceramah
Pretest posttest
Benar Salah Benar Salah
n % n % n % n %
Pengertian Diabetes mellitus
15 45,5 18 54,5 27 81,8 6 18,2
Jumlah kadar gula darah normal
20 60,6 13 39,4 31 93,9 2 6,1
Tipe diabetes mellitus 7 21,2 26 78,8 24 72,7 9 27,3
Sifat diabetes mellitus 20 60,6 13 39,4 26 78,8 7 21,2
Gejala umum diabetes mellitus
6 18,2 27 81,8 18 54,5 15 45,5
Gejala lain diabetes mellitus selain gejala umum
15 45,5 18 54,5 27 81,8 6 18,2
Faktor penyebab diabetes mellitus
22 66,7 11 33,3 28 84,8 5 15,2
Cara mengendalikan diabetes mellitus
23 69,7 10 30,3 29 87,9 4 12,1
Cara diet bagi penderita diabetes mellitus
Tabel 4.8 (Lanjutan)
Pengetahuan
Metode Ceramah
Pretest posttest
Benar Salah Benar Salah
n % n % n % n %
Olahraga dan aktifitas fisik bagi penderita diabetes mellitus
24 72,7 9 27,3 29 87,9 4 12,1
Istilah 3J dalam
pengaturan pola makan penderita diabetes mellitus
20 60,6 13 39,4 24 72,7 9 27,3
Manfaat obat anti diabetes 7 21,2 26 78,8 24 72,7 9 27,3
Gejala hipoglikemia 10 30,3 23 69,7 22 66,7 11 33,3 Gejala hiperglikemia 16 48,5 17 51,5 23 69,7 10 30,3 Lama terjadinya komplikasi diabetes mellitus 20 60,6 13 39,4 25 75,8 8 24,2 Pencegahan komplikasi diabetes mellitus 4 12,1 29 87,9 25 75,8 8 24,2 Pemeriksaan laboratorium penderita diabetes mellitus
14 42,4 19 57,6 24 72,7 9 27,3
Pemeriksaan mata
penderita diabetes mellitus
11 33,3 22 66,7 22 66,7 11 33,3
Fungsi olahraga dan aktifitas fisik
12 36,4 21 63,6 24 72,7 9 27,3
Fungsi pengaturan pola makan
17 51,5 16 48,5 26 78,8 7 21,2
Berdasarkan Table 4.8 diatas diketahui bahwa untuk variabel pengetahuan
dengan metode ceramah, dari semua pertanyaan yang ada dapat dilihat bahwa semua
responden mengalami peningkatan pengetahuan dari pretest ke posttest dimana
responden yang menjawab pertanyaan yang benar dan paling tinggi mengalami
kenaikan dari pretest ke posttest adalah pertanyaan yang keenam belas tentang
pencegahan komplikasi diabetes mellitus yaitu dari 4 orang (12,1%) menjadi 25
mengalami kenaikan dari pretest ke posttest adalah pertanyaan yang ke sebelas
tentang Istilah 3J dalam pengaturan pola makan penderita diabetes mellitus yaitu dari
20 orang (60,6%) menjadi 24 orang (72,7%).
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden tentang Diabetes Mellitus dengan Media Leaflet di Klinik RSUD dr. Djasamen Saragih
Pematangsiantar Tahun 2014
Pengetahuan
Media Leaflet
Pretest posttest
Benar Salah Benar Salah
n % n % n % n %
Pengertian Diabetes mellitus
17 50,0 17 50,0 26 76,5 8 23,5
Jumlah kadar gula darah normal
16 47,1 18 52,9 22 64,7 12 35,3
Tipe diabetes mellitus 13 38,2 21 61,8 19 55,9 15 44,1
Sifat diabetes mellitus 21 61,8 13 38,2 24 70,6 10 29,4 Gejala umum diabetes
mellitus
9 26,5 25 73,5 23 67,6 11 32,4
Gejala lain diabetes mellitus selain gejala umum
16 47,1 18 52,9 19 55,9 15 44,1
Faktor penyebab diabetes mellitus
22 64,7 12 35,3 25 73,5 9 26,5
Cara mengendalikan diabetes mellitus
21 61,8 13 38,2 22 64,7 12 35,3
Cara diet bagi penderita diabetes mellitus
21 61,8 13 38,2 28 82,4 6 17,6
Olahraga dan aktifitas fisik bagi penderita diabetes mellitus
18 52,9 16 47,1 22 64,7 12 35,3
Istilah 3J dalam
pengaturan pola makan penderita diabetes mellitus
21 61,8 13 38,2 28 82,4 6 17,6
Manfaat obat anti diabetes 28 82,4 6 17,6 31 91,2 3 8,8
Gejala hipoglikemia 19 55,9 15 44,1 25 73,5 9 26,5
Tabel 4.9 (Lanjutan)
Pengetahuan
Media Leaflet
Pretest posttest
Benar Salah Benar Salah
n % n % n % n % Lama terjadinya komplikasi diabetes mellitus 15 44,1 19 55,9 22 64,7 12 35,3 Pencegahan komplikasi diabetes mellitus 16 47,1 18 52,9 25 73,5 9 26,5 Pemeriksaan laboratorium penderita diabetes mellitus
5 14,7 29 85,3 12 35,3 22 64,7
Pemeriksaan mata
penderita diabetes mellitus
18 52,9 16 47,1 21 61,8 13 38,2
Fungsi olahraga dan aktifitas fisik
16 47,1 18 52,9 21 61,8 13 38,2
Fungsi pengaturan pola makan
16 47,1 18 52,9 20 58,8 14 41,2
Berdasarkan Table 4.9 diatas diketahui bahwa untuk variabel pengetahuan
dengan media leaflet, dari semua pertanyaan yang ada dapat dilihat bahwa semua
responden mengalami peningkatan pengetahuan dari pretest ke posttest dimana
responden yang menjawab pertanyaan yang benar dan paling tinggi mengalami
peningkatan dari pretest ke posttest adalah pertanyaan yang ke lima tentang gejala
umum dari diabetes mellitus yaitu dari 9 orang (26,5%) menjadi 23 orang (67,6%).
Responden yang menjawab pertanyaan yang benar dan paling kecil mengalami
peningkatan dari pretest ke posttest adalah pertanyaan yang ke delapan tentang cara
mengendalikan diabetes mellitus yaitu dari 21 orang (61,8%) menjadi 22 orang
4.3.2 Sikap Responden tentang Diabetes Mellitus
Indikator sikap diukur dengan menggunakan 14 pernyataan. Berikut adalah distribusi frekuensi jawaban responden terhadap variabel sikap sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan tentang diabetes mellitus dengan metode ceramah dan media leaflet.
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang Diabetes Mellitus dengan Metode Ceramah di Klinik RSUD dr Djasamen Saragih
Pematangsiantar Tahun 2014
Sikap
Metode Ceramah Pretest Posttest Setuju Tidak Setuju Setuju Tidak
Setuju
n % n % n % n %
Kadar gula darah pada waktu puasa < 126 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu < 200 mg/dL disebut dengan diabetes mellitus
26 78,8 7 21,2 33 100 0 0
Kadar Gula darah meningkat sesuai dengan usia adalah hal yang wajar
12 36,4 21 63,6 25 75,8 8 24,2
Diabetes mellitus yang tidak ditanggulangi akan sembuh dengan sendirinya
27 81,8 6 18,2 31 93,9 2 6,1
Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit yang berbahaya dengan sangat jarang menimbulkan komplikasi
18 54,5 15 45,5 24 72,7 9 27,3
Mengkonsumsi obat diabetes mellitus adalah metode yang paling tepat untuk menurunkan kadar gula darah bila dibandingkan dengan menjalankan perilaku hidup sehat seperti pengaturan pola makan
9 27,3 24 72,7 27 81,8 6 18,2
Sebagai penderita diabetes mellitus dengan melakukan perilaku hidup sehat seperti mengatur pola makan dengan baik akan memperkecil kemungkinan terkena komplikasi diabetes mellitus
Tabel 4.10 (Lanjutan)
Sikap
Metode Ceramah
Pretest Posttest
Setuju Tidak Setuju Setuju Tidak Setuju
n % n % n % n %
Penderita diabetes mellitus melakukan perencanaan makan untuk menjaga agar kadar gula darah tidak meningkat
21 63,6 12 36,4 27 81,8 6 18,2
Saat gula darah saya sudah atau mendekati normal, saya diperbolehkan dengan leluasa memilih makanan yang saya mau
21 63,6 12 36,4 30 90,9 3 9,1
Penderita Diabetes mellitus memerlukan olah raga yang teratur
19 57,6 14 42,4 26 78,8 7 21,2
Obat diabetes sangat berbahaya bila diminum dalam keadaan perut kosong
19 57,6 14 42,4 26 78,8 7 21,2
Mengendalikan kadar gula darah membantu mencegah dan memperlambat terjadinya komplikasi
19 57,6 14 42,4 25 75,8 8 24,2
Konsultasikan jenis olah raga, lama waktu dan target latihan anda dengan dokter
24 72,7 9 27,3 27 81,8 6 18,2
Lakukan aktifitas fisik yang anda sukai, sehingga anda menjadi rajin melakukannya secara teratur
26 78,8 7 21,2 30 90,9 3 9,1
Makan obat diabetes mellitus dapat dilakukan sembarangan tanpa resep dokter
24 72,7 9 27,3 31 93,9 2 6,1
Berdasarkan Table 4.10 diatas diketahui bahwa untuk variabel sikap dengan
metode ceramah, dari semua pertanyaan yang ada dapat dilihat bahwa semua
yang menjawab pertanyaan yang benar dan paling tinggi mengalami peningkatan dari
pretest ke posttest adalah pertanyaan yang ke lima tentang Mengkonsumsi obat
diabetes mellitus adalah metode yang paling tepat untuk menurunkan kadar gula
darah bila dibandingkan dengan menjalankan perilaku hidup sehat seperti pengaturan
pola makan yaitu dari 9 orang (27,3%) menjadi 27 orang (81,3%). Responden yang
menjawab pertanyaan yang benar dan paling kecil mengalami peningkatan dari
pretest ke posttest adalah pertanyaan yang ke dua belas tentang konsultasikan jenis
olah raga, lama waktu dan target latihan dengan dokter yaitu dari 24 orang (72,7%)
menjadi 27 orang (81,8%).
Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Sikap Responden tentang Diabetes Mellitus pada Kelompok Leaflet di Klini RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar
Tahun 2014
Sikap
Media Leaflet
Pretest Posttest
Setuju Tidak Setuju Setuju Tidak Setuju
n % n % n % n %
Kadar gula darah pada waktu puasa < 126 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu < 200 mg/dL disebut dengan diabetes mellitus
18 52,9 16 47,1 27 79,4 7 20,6
Kadar Gula darah meningkat sesuai dengan usia adalah hal yang wajar
17 50,0 17 50,0 26 76,5 8 23,5
Diabetes mellitus yang tidak ditanggulangi akan sembuh dengan sendirinya
12 35,3 22 64,7 26 76,3 8 23,5
Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit yang berbahaya dengan sangat jarang menimbulkan komplikasi
Tabel 4.11 (Lanjutan)
Sikap
Media Leaflet
Pretest Posttest
Setuju Tidak Setuju Setuju Tidak Setuju
n % n % n % n %
Mengkonsumsi obat diabetes mellitus adalah metode yang paling tepat untuk menurunkan kadar gula darah bila
dibandingkan dengan menjalankan perilaku hidup sehat seperti pengaturan pola makan
24 70,6 10 29,4 24 70,6 10 29,4
Sebagai penderita diabetes mellitus dengan melakukan perilaku hidup sehat seperti mengatur pola makan dengan baik akan memperkecil kemungkinan terkena
komplikasi diabetes mellitus
23 67,6 11 32,4 26 76,3 8 23,5
Penderita diabetes mellitus melakukan perencanaan makan untuk menjaga agar kadar gula darah tidak meningkat
24 70,6 10 29,4 26 76,3 8 23,5
Saat gula darah saya sudah atau mendekati normal, saya diperbolehkan dengan leluasa memilih makanan yang saya mau
22 64,7 12 35,3 26 76,3 8 23,5
Penderita Diabetes mellitus memerlukan olah raga yang teratur
29 85,3 5 14,7 29 85,3 5 14,7
Obat diabetes sangat berbahaya bila diminum dalam keadaan perut kosong
24 70,6 10 29,4 27 79,4 7 20,6
Mengendalikan kadar gula darah membantu mencegah dan memperlambat terjadinya komplikasi
Tabel 4.11 (Lanjutan)
Sikap
Media Leaflet