• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara kondisi topografi dengan tingkat partisipasi pemilih pada Pilpers 2014 di Kabupaten Bantul. Oleh karena itu, analisis dimulai dari deskripsi karakteristik responden berdasarkan jawaban responden dalam kuesioner dan analisis hasil wawancara.

1. Analisis Kuesioner

a) Karakteristik Responden

Karakteristik responden dapat dipahami sebagai keterangan responden berdasarkan kriteria, seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dikarenakan penelitian ini mengambil sampel secara random di lapangan, mengingat luasnya wilayah penelitian, maka perlu diketahui karakterisasi respondennya. Oleh karena itu responden perlu dideskripsikan sehingga diketahui karakteristiknya agar responden dalam penelitian ini dapat dijelaskan secara statistik.

1) Karakteristik Berdasarkan Umur

Setelah dilakukan pengelompokan jumlah dan persentase karakteristik responden berdasarkan usia, maka diketahuilah bahwa responden paling banyak adalah berusia 39 - 54 tahun yakni sebanyak 28 orang atau 28% dari seluruh responden dalam penelitian ini. Responden paling sedikit adalah kelompok usia di

55

atas 71 tahun, yakni 8 orang atau 8% dari total sampel penelitian. Untuk lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 14 di bawah ini:

Tabel 14. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur No Rentang Usia

(tahun) Jumlah Persentase (%)

1 17 – 32 24 24 2 33 – 38 25 25 3 39 – 54 28 28 4 55 – 70 15 15 5 .> 71 8 8 Total 100 100

Sumber: Olah data, 2015

2) Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin

Karakteristik berdasarkan jenis kelamin dalam penelitian ini telah ditentukan di awal penelitian sehingga persentasenya dapat dibagi rata, antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, sebagaimana terlihat pada Tabel 15 berikut:

Tabel 15. Karakteristik Berdasarkan Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase

1 Laki-Laki 50 50%

2 Perempuan 50 50%

Total 100 100%

Sumber: Olah data, 2015

3) Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan tidak ditentukan di awal sehingga persentasenya baru dapat diketahui setelah dilakukan pengolahan data dari kuesioner. Berdasarkan tingkat pendidikan, responden dalam penelitian ini mayoritas adalah tidak tamat SMA, yaitu 32 orang atau 32% sedangkan paling sedikit adalah responden tidak tamat SMP yakni 7 orang

56

atau 7%. Karakteristik responden berdasar tingkat pendidikan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 16 berikut:

Tabel 16. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Tk Pendidikan Jumlah Persentase

1 Sarjana 14 14% 2 Tamat SMA 26 26% 3 Tdk Tamat SMA 32 32% 4 Tamat SMP 21 21% 5 Tdk Tamat SMP 7 7% Total 100 100%

Sumber: Olah data, 2015

4) Karakteristik Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Berdasarkan jenis pekerjaan, responden dalam penelitian ini didominasi oleh buruh, yakni sebanyak 34 orang atau 34%. Sedangkan responden yang paling sedikit adalah yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), yakni 9 orang atau 9% dari seluruh sampel yang digunakan dalam penelitian. Data lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 17 berikut ini:

Tabel 17. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

1 PNS 9 9 2 UKM 19 19 3 Pertanian 27 27 4 Buruh 34 34 5 Peternakan 11 11 Total 100 100

Sumber: Olah data, 2015

5) Karakteristik Berdasarkan Partisipasi Pemilu

Karakteristik berdasarkan partisipasi dan tidak berpartisipasi dalam pemilihan presiden dimaksudkan untuk mengetahui atau mendapat informasi langsung berupa pernyataan

57

responden, terkait Pilpres 2014 lalu. Berdasarkan data dari 100 responden yang dipilih secara acak dalam penelitian ini, diperoleh responden yang menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan presiden (tidak menggunakan hak pilih) sebanyak 30 orang, dan yang menyatakan berpartisipasi dalam pemilihan presiden (menggunakan hak pilih) sebanyak 70 orang, sebagaimana terlihat pada Tabel 18 di bawah ini:

Tabel 18. Karakteristik Partisipasi Pemilih

No Responden Jumlah Persentase (%)

1 Golput 30 30%

2 Memilih 70 70%

Total 100 100

Sumber: Olah data, 2015

Berdasarkan karakteristik responden yang telah dijelaskan pada Tabel 18, maka diketahuilah karakterisasi atau latar belakang responden yang memberikan data dalam penelitian ini. Dalam suatu penelitian lapangan, hal ini dapat dijadikan tolok ukur awal, apakah data yang dihasilkan akurat sesuai dengan kompetensi responden yang dibutuhkan. Diketahui pula bahwa dari 100 responden ada sebanyak 30 orang yang tidak berpartisipasi menggunakan hak pilihnya. Ke-30 responden inilah yang akan dianalisis dengan serangkaian teknik statistik dengan bantuan program SPSS. Demikianlah karakteristik responden telah dideskripsikan dengan jelas dan seharusnya sudah sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan sebagai pemberi informasi atau data yang akan diolah dan diinterpretasikan dalam penelitian ini.

58

b) Uji Normalitas Data

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak. Metode yang digunakan adalah metode nilai kemiringan kurva atau nilai keruncingan kurva. Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data riil membentuk garis kurva cenderung simetris terhadap mean (U). sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

Gambar 7 Histogram Uji Normalitas Data

59

Gambar 7 dan 8 menunjukkan bahwa kurva berdistribusi normal dan plot data mengikuti garis diagonal, yang berarti data simetris terhadap mean-nya. Hal ini dapat diartikan bahwa data-data yang digunakan dalam penelitian ini mengikuti pola distribusi yang normal. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dibentuk telah memenuhi asumsi normalitas.

c) Uji Regresi Linier

1) Koefisien Determinasi

Tabel 19. Koefisien Determinasi Variabel X terhadap Y

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .584a .341 .318 3.203

a. Predictors: (Constant), variabelX

b. Dependent Variable: VariabelY

Sumber: Olah data, 2015

Uji regresi digunakan untuk mengetahui besarnya kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terikat, dapat dilihat dari hasil nilai koefisien determinasi. Besarnya nilai koefisien variabel kondisi topografi terhadap variabel partisipasi pemilih = 0,341 atau 34,1%, artinya variabel kondisi topografi mampu menerangkan variasi variabel pemilih yang tidak

60

berpartisipasi 34,1 % dan sisanya 65,9% dipengaruhi oleh faktor lain diluar model.

2) Persamaan Regresi dan Uji Hipotesis

Tabel 20. t hitung dan Signifikansi Variabel X terhadap Y

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -2.170 5.067 -.428 .672

variabelX .670 .176 .584 3.809 0.07

a. Dependent Variable: VariabelY

Sumber: Olah Data, 2015

Persamaan regresi yang dibentuk dari pengaruh antara variabel kondisi topografi (X) terhadap partisipasi pemilih (Y) adalah sebagai berikut :

Y = (2.170) + 0,670 X Y = Kondisi Topografi X = Partisipasi Pemilih

Angka koefisien regresi 0,670 menyatakan bahwa setiap penambahan satu nilai variabel kondisi topografi (Y) akan menurunkan tingkat partisipasi pemilih (nilai X) sebesar 0,670 kali. 3) Uji F

Uji F digunakan untuk membuktikan pengaruh variabel kondisi topografi (X) terhadap partisipasi pemilih (Y), pada level of significant = 0,05.

61

Tabel 21. F-hitung dan Signifikansi Variabel X dan Y

ANOVAb

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 148.804 1 148.804 3.508 0.07a

Residual 287.196 28 10.257

Total 436.000 29

Sumber : Olah data, 2015

a. Predictors: (Constant), variabelX

b. Dependent Variable: VariabelY

Menurut Tabel di atas diketahui besarnya F hitung = 3,508 lebih kecil dari F Tabel = 4,20, karena F hitung < F Tabel maka Ho diterima. Hal ini berarti bahwa kondisi topografi tidak berpengaruh terhadap adanya tingkat partisipasi pemilih.

Uji F yang dilakukan dengan melihat nilai probabilitas = 0,07 > α = 0,05 maka Ho diterima, yang berarti bahwa variabel kondisi topografi tidak berpengaruh signifikan terhadap partisipasi pemilih. Jadi, sesuai dengan apa yang dihipotesiskan bahwa “terdapat pengaruh positif antara variabel kondisi topografi terhadap variabel partisipasi pemilih”, maka untuk pemilih di Kabupaten Bantul hipotesis tersebut tidak terbukti secara statistik.

2. Analisis Hasil Wawancara

Analisis wawancara dilakukan sebagai interpretasi dan deskripsi berdasarkan jawaban narasumber terhadap pertanyaan penelitian. Oleh karena itu, analisis didasarkan pada setiap item pertanyaan yang diajukan,

62

yang telah dibatasi dalam kisi-kisi wawancara. Analisis yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Berkaitan dengan apakah bentang lahan Kabupaten Bantul berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih di Kabupaten Bantul, narasumber menyatakan sebagaimana tertera pada kutipan wawancara di bawah ini:

“Secara menyeluruh, pengaruh langsungnya tidak. Tapi pengaruh tidak langsung, itu mungkin. Kondisi wilayah itu kan nanti mempengaruhi penduduknya ya, bisa dari karakter sosialnya, mata pencaharian, dan sebagainya. Itulah yang berpengaruh.” (Wawancara, 2015)

Berdasarkan kutipan wawancara di atas, diketahui bahwa bentang lahan Kabupaten Bantul tidak berpengaruh langsung terhadap tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 lalu. Hal ini dikarenakan bentang lahan yang menjadi tempat terjadinya segala aktivitas masyarakat, merupakan faktor yang mempengaruhi karakterisasi penduduk. Karakter penduduk seperti karakter sosial dan jenis mata pencaharian adalah faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap tingkat partisipasi pemilih.

Narasumber menyatakan bahwa siteplan persebaran TPS telah ada sejak lama pada pertanyaan tentang persebaran TPS di Kabupaten Bantul pada Pilpres 2014 lalu. Lokasi TPS tidak banyak berpindah setiap ada pemilu. Warga biasanya membangun TPS di balai pedukuhan atau rumah kepala dukuh, rumah ketua RT/RW, rumah tokoh masyarakat setempat dan beberapa tempat lain yang dianggap memungkinkan. Berikut ini kutipan wawancaranya:

63

“Persebaran TPS di Kab Bantul sebetulnya sudah ada site plan-nya sejak lama. Setiap ada pemilu, kebanyakan proses pemungutan suara dilakukan di tempat yang sama. Misalnya balai pedukuhan atau rumah kepala dukuh, rumah ketua RT/RW atau rumah tokoh masyarakat dan beberapa tempat lain yang sengaja diperuntukkan sebagai TPS. Yang jelas persebarannya selalu mengacu pada optimalitas akses menuju TPS. Artinya lokasi TPS juga menentukan adanya pemilih golput.” (Wawancara, 2015)

Berdasarkan kutipan di atas, narasumber menyatakan bahwa persebaran TPS di Kabupaten Bantul pada dasarnya kemudahan akses masyarakat menuju lokasi, sehingga aspek penentuan lokasi juga mempengaruhi partisipasi pemilih. Terkait gambaran umum optimalitas akses menuju TPS pada Pilpres 2014 diketahuilah bahwa akses menuju TPS di Kabupaten Bantul dapat dikatakan sudah bagus. Seluruh TPS telah direncanakan sejak awal. Berikut ini pernyataan autentik dari narasumber:

“Akses menuju TPS di Kabupaten Bantul bisa dikatakan sudah bagus. Maksudnya semua TPS pastinya lokasinya telah direncanakan sejak awal. Jadi lokasinya pasti mudah diakses. Tapi tidak menutup kemungkinan pula pada beberapa TPS yang di plosok-plosok pedukuhan, di daerah-daerah perbatasan dengan kabupaten Gunungkidul, dan beberapa desa di perbukitan di daerah Pajangan dan Kasihan yang kondisi infrastrukurnya tidak sebaik di daerah dataran. Tapi secara umum, kondisi infrastruktur jalan di Kabupaten Bantul mayoritas sudah bagus sehingga akses ke TPS harusnya tidak sulit.” (Wawancara, 2015)

Narasumber menyatakan bahwa mayoritas desa di kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul sudah memiliki jalur aspal. Hal tersebut tersirat pada tanggapan atas pertanyaan yang diajukan terhadap narasumber tentang infrastruktur di Kabupaten Bantul dan kaitannya dengan tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 lalu. Kemudian

64

bangunan-bangunan pemerintahan kecamatan dan pemerintahan desa sudah tergolong baik, sehingga infrastruktur utama yang mendukung kegiatan masyarakat sudah optimal. Narasumber juga menyatakan bahwa infrastruktur sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan Pilpres 2014. Berikut ini kutipan wawancaranya:

“Infrastruktur Kab Bantul sudah tergolong bagus. Mayoritas seluruh desa di setiap kecamatan sudah memiliki jalan aspal. Mayoritas sudah memiliki bangunan yang memadai untuk aktivitas administrasi kepemerintahan, kesehatan, dan pendidikan. Jadi infrastruktur di Bantul tidak menjadi hambatan untuk program apapun. Kalau dikatakan bahwa infrastruktur berpengaruh terhadap partisipasi pemilih, saya rasa tidak. Karena di Bantul infrastrukturnya sudah bagus. Jalan sudah banyak yang bagus, sudah aspal, minimal konblok atau cor, itu sudah baik. Jaringan listrik juga sudah menjangkau hingga ke pelosok. Jadi saya rasa infrastruktur tidak mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih. Hanya saja kalau di daerah pelosok itu tidak ada listrik, ya dari mana masyarakat sana tahu kalau ada pemilu. Sosialisasi lewat media-media elektronik kan biasanya lebih luas jangkauannya dan lebih efektif ya, nah kalau tidak ada listrik ya mereka tidak bisa dapat informasi di televisi atau radio. Kira-kira begitu. (Wawancara, 2015)

Pertanyaan yang diajukan peneliti dalam kelompok pertanyaan untuk memperkuat pemahaman mengenai partisipasi pemilih dan mengenai tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres 2014, narasumber menyatakan bahwa masyarakat Bantul mayoritas dapat dikatakan telah memiliki kesadaran tentang fungsi hak pilih, karena golput pada Pilpres 2014 lalu hanya sebesar 18,69%. Menurut narasumber persentase tersebut bisa jadi merupakan sekumpulan masyarakat yang tidak peduli atau mengesampingkan urgensitas memberikan suara pada Pilpres 2014, sebagaimana tertuang dalam kutipan wawancara di bawah ini:

65

“Kesadaran mengenai hak pilih sudah cukup tinggi di kabupaten Bantul. Buktinya golput pada Pilpres 2014 lalu hanya sekitar 18,69%, artinya tingkat partisipasinya kan 81,31%. Menurut saya, masyarakat telah memiliki kesadaran yang tinggi tentang fungsi pemilu bagi negara demokrasi. Nah, yang 18,69 % persen itulah bisa jadi merupakan sekumpulan masyarakat yang tidak memiliki kesadaran tentang pentingnya ikut pemilu, atau Pilpres 2014 lalu. Atau sudah sadar tapi punya alasan lain untuk tidak ikut mencoblos” (Wawancara, 2015)

Jawaban pada pertanyaan tentang pemahaman masyarakat tentang partisipasi dalam pemilu, narasumber menyatakan bahwa masyarakat telah memahami apa dampak dan untung-ruginya golput. Masyarakat mendapat pemahaman tersebut dari kemudahan mengakses media, seperti elektronik, cetak, dan penyuluhan langsung dari pemerintah setempat. Berikut ini kutipan wawancaranya:

“Masyarakat sekarang memiliki banyak akses untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Bisa dari TV, koran, internet, dan isu-isu yang berkembang di lingkunganya. Menurut saya, seluruh pemilih yang ada di Kab Bantul telah memiliki pemahaman tentang golput. Maksudnya masyarakat memahami apa dampaknya golput, apa untung-ruginya golput atau memilih. Jadi pemahaman tentang partisipasi dalam pemilu sudah cukup mendalam untuk kalangan masyarakat Bantul.” (Wawancara, 2015)

Sehubungan dengan respon masyarakat terhadap pasangan capres dan cawapres serta pengaruhnya terhadap partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 lalu, narasumber menyatakan bahwa masyarakat telah memiliki banyak akses informasi dari berbagai sudut pandang, dan mempengaruhi pandangan masyarakat. Artinya, masyarakat telah memiliki gambaran tentang pasangan calon yang akan bertarung pada Pilpres 2014 lalu. Untuk lebih jelas dapat disimak kutipan wawancara berikut:

66

“Seperti yang sudah saya katakan tadi, masyarakat sudah memiliki multi akses informasi dari berbagai sudut pandang dan isu yang berkembang. Kampanye dari partai-partai yang mengusung pasangan dalam Pilpres yang turun ke lapangan juga merupakan sumber informasi terkait seperti apa capres dan cawapres dari kedua pasangan yang diusung. Begitu pula informasi yang diperoleh dari berbagai media nasional, regional, dan lokal. Semua mempengaruhi bagaimana respon masyarakat. Apalagi di Pilpres kemarin itu black campaign-nya kan banyak sekali. Cara-cara kampanye negatif seperti itu dapat juga mempengaruhi preferensi pemilih untuk memilih atau tidak memilih. Ada juga yang memilih atau tidak memilih itu karena suka atau tidak suka dengan pilihan yang ada.” (Wawancara, 2015)

Pertanyaan mengenai optimalitas sosialisasi tentang Pilpres 2014 di Kabupaten Bantul, narasumber menyatakan bahwa sosialisasi jelas sudah optimal. Sosialisasi dari KPU, baik di media maupun langsung ke lapangan dengan pemerintah setempat telah dilakukan secara matang sehingga masyarakat sudah tahu tentang Pilpres 2014, sebagaimana terlihat dalam kutipan wawancara berikut :

“Jelas sudah sangat optimal. KPU dari tingkat nasional regional dan lokal telah melakukan sosialisasi secara masif. Dan, Pilpres itu kan pesta demokrasi tingkat nasional. Mana ada media yang melewatkan momentum tersebut sebagai bulan-bulanan berita. Jadi sosialisasi Pilpres di Bantul dan di Papua pun, saya rasa kurang lebih sama, jika ditinjau dari segi kontekstual Pilpres itu sendiri. Kalau dari segi intensitas, mungkin tiap daerah bisa berbeda.” (Wawancara, 2015) Analisis deskriptif dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui berdasarkan informasi dari narasumber bahwa kondisi topografi Kabupaten Bantul tidak mempengaruhi tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres2014 lalu. Hal ini juga telah dibuktikan dengan hasil analisis kuesioner secara statistik bahwa kondisi topografi Kabupaten Bantul berpengaruh terhadap partisipasi pemilih pada Pilpres 2014.

67

D. Pembahasan

Deskripsi kondisi topografi tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori lanskap yang ada di Kabupaten Bantul, yakni topografi datar hingga berombak, berombak hingga berbukit, berbukit hingga bergunung. Pengklasifikasian tersebut bertujuan untuk membagi kecamatan-kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bantul menjadi beberapa bagian berdasarkan kondisi topografi yang kemudian akan dianalisis seberapa besar tingkat partisipasi pemilih pada masing-masing kecamatan yang termasuk dalam kategori wilayah berdasarkan kondisi topografi tersebut.

a. Wilayah dengan Topografi Datar-Berombak

Kecamatan yang dapat dimasukkan ke dalam pengklasifikasian ini merupakan kecamatan yang sebagian besar wilayahnya (>50%) berada pada area dengan kemiringan lereng 0-2% hingga 2-8%. Beberapa kecamatan yang termasuk ke dalam klasifikasi ini, antara lain :

a) Kecamatan Srandakan

Secara administratif Kecamatan Srandakan berbatasan langsung dengan Sungai Progo di sebelah barat dan utara, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pandak dan Sanden, dan bagian selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kecamatan Srandakan mempunyai luas wilayah kurang lebih 1.455 ha. Dilihat berdasarkan ketinggian tempatnya, sebagian besar wilayah Kecamatan Srandakan berada pada ketinggian <30 mdpal.

68

Tabel 22. Kemiringan Lereng Kecamatan Srandakan Kemiringan

Lereng (hektare) Luas Persentase Luas Keterangan

0 - 2 % 1.301,33 87,69 % Datar 2 – 8 % 182,63 12,31 % Landai 8 – 15 % 0,04 0,002 % Miring 15 – 25 % - - Agak Curam 25 – 40 % - - Curam > 40 % - - Sangat Curam Total 1.484 100 % Sumber : bantulkab.go.id

Berdasarkan Tabel 22 menunjukkan sebagian besar wilayah Kecamatan Srandakan berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 1.301,33 ha atau 87,69% dari luas total Kecamatan Srandakan. Jumlah pemilih di Kecamatan Srandakan sebesar 25.166 jiwa, dengan tingkat partisipasi pemilih sebesar 80,28% atau sebanyak 20.203 pemilih yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

b) Kecamatan Sanden

Secara administratif Kecamatan Sanden berbatasan dengan Kecamatan Pandak sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Kretek, sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Srandakan, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Kecamatan Sanden mempunyai luas wilayah kurang lebih 2.315 ha, dilihat berdasarkan ketinggian tempatnya seluruh area Kecamatan Sanden berupa dataran rendah dengan ketinggian <30 mdpal yang mencapai luasan area 2315 ha (www.bantulkab.go.id).

69

Tabel 23. Kemiringan Lereng Kecamatan Sanden Kemiringan

Lereng (hektare) Luas Persentase Luas Keterangan

0 - 2 % 1.855,95 80,13 % Datar 2 – 8 % 460,05 19,86 % Landai 8 – 15 % - - Miring 15 – 25 % - - Agak Curam 25 – 40 % - - Curam > 40 % - - Sangat Curam Total 2.315 100 % Sumber : bantulkab.go.id

Berdasarkan pada Tabel 23 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Sanden berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 1.855,95 ha atau 80,13 % dari luas total Kecamatan Sanden. Jumlah pemilih di Kecamatan Sanden sebesar 27.143 jiwa, dengan tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,94% atau sebanyak 21.156 pemilih yang menggunakan hak pilihnya.

c) Kecamatan Bambanglipuro

Kecamatan Bambanglipuro berbatasan dengan Kecamatan Bantul di sebelah utara, Kecamatan Pundong di timur, Kecamatan Pandak di sebelah barat, dan sebelah selatan dengan Kecamatan Kretek. Kecamatan Bambanglipuro memiliki luas lahan 2.282 Ha.

Tabel 24. Kemiringan Lereng Kecamatan Bambanglipuro

Kemiringan

Lereng Luas (hektare) Persentase Luas Keterangan

0 - 2 % 2170,99 95,13 % Datar 2 – 8 % 65,73 2,88 % Landai 8 – 15 % 45,27 1,98 % Miring 15 – 25 % - - Agak Curam 25 – 40 % - - Curam > 40 % - - Sangat Curam Total 2.282 100 % Sumber : bantulkab.go.id

70

Dilihat dari topografinya secara umum, Kecamatan Bambanglipuro berada pada dataran rendah dengan ketinggian tempat <30 mdpal yang mencapai area sebesar 2187,69 ha.

Tabel 24 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Bambanglipuro berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 2170,99 ha atau 95,13 % dari luas total Kecamatan Bambanglipuro. Jumlah pemilih di kecamatan ini sebanyak 33.624 jiwa, dengan tingkat partisipasi sebesar 78,56% atau sebanyak 26.414 pemilih yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

d) Kecamatan Pandak

Secara administratif Kecamatan Pandak berada di sebelah barat daya ibukota Kabupaten Bantul, sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pajangan dan Bantul, sebelah timur dengan Kecamatan Bambanglipuro dan Bantul, sebelah selatan dengan Kecamatan Sanden, dan sebelah barat dengan Kecamatan Srandakan.

Tabel 25. Kemiringan Lereng Kecamatan Pandak Kemiringan

Lereng (hektare) Luas Persentase Luas Keterangan

0 - 2 % 3.425,01 84,15 % Datar 2 – 8 % 535,44 13,15 % Landai 8 – 15 % 109,54 2,69 % Miring 15 – 25 % - - Agak Curam 25 – 40 % - - Curam > 40 % - - Sangat Curam Total 4.069 100 % Sumber : bantulkab.go.id

71

Kecamatan Pandak mempunyai luas wilayah 4.069 ha, secara topografi berada pada dataran rendah dengan ketinggian tempat < 30 mdpal yang mencapai luasan area sebesar 1659,69 ha. Tabel 25 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Pandak berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 3.425,01 ha atau 84,15 % dari luas total Kecamatan Pandak. Jumlah pemilih di kecamatan ini sebanyak 40.903 jiwa, dengan tingkat partisipasi sebesar 82.50% atau sejumlah 33.744 pemilih yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

e) Kecamatan Bantul

Secara administratif Kecamatan Bantul berada di ibukota Kabupaten Bantul dan merupakan ibukota dari Kabupaten Bantul. Kecamatan Bantul mempunyai luas wilayah 2.251 ha dengan corak perkotaan. Dilihat berdasarkan topografinya, sebagian besar wilayah Kecamatan Bantul berada pada daerah dataran rendah dengan ketinggian tempat 30-60 mdpal yang mencapai luasan area 1881,6 ha (www.bantulkab.go.id).

Wilayah Kecamatan Bantul seluruhnya berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 2.251 ha atau 100 % dari luas total Kecamatan Bantul. Kecamatan ini memiliki pemilih sejumlah 48.521 jiwa, dengan tingkat partisipasi sebesar 84,33% atau sebanyak 40.918 pemilih yang berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

72

f) Kecamatan Jetis

Secara administratif Kecamatan Jetis berada di sebelah tenggara ibukota Kabupaten Bantul dengan luas wilayah 3.759 ha. Wilayah Kecamatan Jetis berbatasan dengan Kecamatan Sewon di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Imogiri, sebelah selatan dengan Kecamatan Pundong dan Bambanglipuro, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bantul. Dilihat berdasarkan ketinggian tempatnya wilayah Kecamatan Jetis terletak pada ketinggian antara 30-60 mdpal dengan luasan area mencapai 1136,3 ha (www.bantulkab.go.id).

Tabel 26. Kemiringan Lereng Kecamatan Jetis Kemiringan

Lereng (hektare) Luas Persentase Luas Keterangan

0 - 2 % 3.596,82 95,66 % Datar 2 – 8 % 37,96 1,01 % Landai 8 – 15 % 125,23 3,33 % Miring 15 – 25 % - - Agak Curam 25 – 40 % - - Curam > 40 % - - Sangat Curam Total 3.760 100 % Sumber : bantulkab.go.id

Tabel 26 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Jetis berada pada daerah dengan tingkat kemiringan lereng 0-2% atau datar, yaitu mencapai 3.596,82 ha atau 95,66 % dari luas total Kecamatan Jetis. Di kecamatan ini terdapat jumlah pemilih sebanyak 45.291 jiwa dari jumlah penduduk sebanyak 52.313 jiwa, dengan tingkat partisipasi sebesar 81,11% atau sebanyak 36.735 pemilih berpartisipasi menggunakan hak pilihnya.

73

g) Kecamatan Banguntapan

Secara administratif Kecamatan Banguntapan berada di sebelah timur laut Ibukota Kabupaten Bantul dengan wilayah seluas 2.865 Ha. Kecamatan Banguntapan pada sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sleman, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan

Dokumen terkait