• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Bangunan Pengendali Banjir 1. Bendungan

7. Unit Pelaksanaan Teknis

4.4 Deskripsi Hasil Penelitian

4.4.2 Ukuran dan Tujuan Kebijakan

Implementasi kebijakan dapat di ukuran dan tujuan kebijakan melalui sebuah program.Dimana ukuran keberhasilan dan tujuan kebijakan menurut Van Metter dan Van Horn mengemukakan implementasi kebijakan kebijakan tentunyamenegaskan standar dan sasaran yang harus di capai oleh para pelaksana kebijakan program

Kab.Tangerang bebas banjir merupakan program pemerintah yangharus dilaksanakan demi mencapai tujuan yang telah di tetapkan dalamperda Peraturan Daerah Kab.Tangerang no 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang wilayah Kab.Tangerang Tahun 2001-2031 (studi kasus sistem pengendalian banjir di kec.kresek).

Sebagaimana yang telah di ungkapkan oleh I.1.1

"Yang pertama menormalisasi sungai yang khususnya saluran-saluran pembuang yang adadi wilayah kecamatan kresek, khususnya di dinas bina marga & SDA kita membuat tandon air atau penampung air dimana disaat musim hujan dapat menampung air hujan dan disaat musim kemarau kita mempunyai kelebihan air untuk persediaan air pada saat kekeringan"(wawancara dengan I.1.1, 09 januari 2017, pukul 10.00 wib, di Kantor Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat peneliti ketahui bahwa normalisasi

sungai-sungai pembuang dan pembangunan kolam tandon halyang perlu dilakukan

sebagi pengendali banjir dan untuk menyimpan airketika musim kemarau.

Hal serupa di ungkapkan oleh I.1.3

"Memperbaiki kondisi sungai yang ada sebagai penyebab banjir di kec.kresek, pemerintah kabupaten dan pusat di berikan tanggung jawab untuk mengurangi banjir dengan cara yang telah di atur oleh perda tersebut.(Wawancara Dengani I.1.3, 18 Januari 2017,Pukul 11.00 Wib di Kantor UPT Sumber Daya AirWilayah III Dinas Bina Marga &SDA Kab.Tangerang).

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat peneliti ketahui bahwa

memperbaiki sungai yang mengakibatkan banjir menjadi tanggung jawab pemerintah

Hal serupa di ungkapkan secara umum oleh I.1.2

"Tujuannya untuk program selambat-lambatnya pada tahun 2019 kab.tangerang bebas banjir.(Wawancara DenganI.1.2, 30 Januari 2017,Pukul 10.30 Wib, Dikantor UPT Sumber Daya Air II Dinas Bina Marga &SDA Kab.Tangerang).

Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa secara umum selambat-lambatnya

Kab.Tangerang bebas banjir pada tahun 2019.

Hal yang sama di ungkapkan oleh I.2.1

"Satu yang jelas kedepan wilayah kresek tidak banjir,ketika pun banjir disitu ada tingkat kesadaran masyarakat juga, bukan hanya karena meluap itu air, lewat sampah kebersihan ini yang kecilkan, ketika berhasil masyarakat menyadari betapa pentingnya infrastruktur di pelihara di rawat bukanhanya di bangun seperti pembuang rumah tangga kalau tidak di rawat dipelihara dan banyak sampah bisa menyumbat sedikit tapi bila banyakakan besar, ketika sarana prasarana yang kita bangun dapat dipelihara dengan baik,kita jago membangun tetapi tidak jago memelihara.(Wawancara Dengan I.2.1, 17 Maret 2017, Pukul 09:00 Dikantor Kecamatan Kresek Kab.Tangerang).

Berdasarkan hasil dari wawancara dengan I.2.1 dapat peneliti ketahui yang

pertama kec.kresek di waktu mendatang tidakbanjir lagi dan masyarakat di harapkan

tidak membuang sampahsembarangan serta infrastuktur pengendali banjir telah di

bangun dapadi pelihara.

Ukuran Keberhasilan dari Perda No 13 Tahun 2011 TentangRencana Tata

Ruang Wilayah Kab.Tangerang Tahun 2011-2031 Terkait Sistem Pengendalian

"Program Kab.tangerang tahun 2019 bebas banjir, berarti tidak adatarget khusus yang penting dimana ada saluran kita normalisasi kita perbaiki kita sempurnakan dan kita manfaatkan lagi sebagai penampung air, dimana masyarakat Kab.Tangerang prioritas bebas banjir dan mempunyai persediaan air di musim kemarau”"(wawancara

dengan I.1.1, 09 januari 2017, pukul 10.00 wib, di Kantor Dinas Binamarga & SDA Kab.Tangerang)

Berdasarkan wawancara di atas, bahwa ukuran keberhasilan dari Peraturan Daerah Kab.Tangerang no 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang wilayah Kab.Tangerang Tahun 2001-2031 Terkait Sistem Pengendalian Banjir Khususnya Di kec.kresek). Bahwa tidak ada target khusus yang terpenting pada tahun 2019 wilayah kab.tangerang bebasbanjir dan memperbaiki saluran pembuang yang rusak dan di manfaatkan fungsinya.

Hal yang sama di ungkapkan oleh I.1.3

"Dapat mengurangi jumlah ataupunarea banjir di kec.kresek dan lebih cepatnya air yang meluap langsungkembali ke sungai yang terdekat dari pemukiman masyarakat dengan dinormalisasinya sungai-sungai linear oleh bina marga dan kami sebagai unit pelayanan teknis merawat dan memelihara sungai yang telah dibangun atau di perbaiki fungsinya".(Wawancara Dengan I.1.3, 18 Januari2017, Pukul 11.00 Wib Di Kantor Upt III Sumber Daya Air Dinas Binamarga &SDA Kab.Tangerang)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat peneliti ketahuibahwa ukuran

keberhasilan sistem pengendalian banjir ini adalah dapatmengurangi jumlah dan area

banjir dengan menormalisasi sungai linearoleh Dinas Bina Marga dan UPT bertugas

Tanggal 13 Februari 2017, Pukul 14:24 Wib diperbatasan Desa Koper dengan Desa Pasirampo Kec.Kresek.

Tanggal 27 Maret 2017, Pukul 14:24 Wib diperbatasan Desa Koper dengan Desa Pasirampo Kec.Kresek

Sumber Peneliti 2017

Berdasarkan wawancara tersebut sangat jelas bahwa ukuran dan tujuan kebijakan sistem pengendalian banjir selambat-lambatnya pada tahun 2019 Kabupaten Tangerang bebas banjir dan saluran drainase yang telah rusak kondisinya

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa tujuan dan ukuran kebijakanyang berkaitan dengan perda RTWR system pengendalian banjir di Kec.Kresek,peneliti dapat menyimpulkan bahwa tidak semua

keberhasilan ukuran tujuan kebijakan sistem pengendalian banjir dapat terlaksana,

seperti:

A. Rehabilitasi saluran drainase dengan memperbesar saluran drainase serta

membongkar dan/atau mengganti utilitas yang dapat mengganggu sistem drainase.

Kondisi saluran drainase di wilayah kec kresek dan desa-desa rawan banjir di

kec.kresek kondisinya dalam keadaan yang baik. Drainase-drainase telah di

rehabilitasi oleh Pemerintah Kab.Tangerang Melalui Dinas Bina Marga & SDA

Kab.Tangerang.

B. Normalisasi sungai cisadane sungai cidurian dan sungai cimanceuri berupa

pengerukan, Pelurusan, penyataan bagian sungai yang sempit serta pembuatan tebing

penguat di tepi sungai, serta pengembangan fungsi bantaran sungai.

Di kec.kresek sungai yang melewati wilayah teresebut adalah sungai cidurian

yang kewenangan menormalisasi pihak pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian

PUPR, kondisi sungai cidurian dari observasi dan wawancara peneliti dapat

mengetahui bahwa sungai cidurian tidak sama sekali tersentuh pembangunan

normalisasi sehingga sungai cidurian ketika musim penghujan menjadi penyebab

utama banjir di wilayah kec.kresek seperti di desa koper, desa pasirampo, desa

C. Operasi dan pemeliharaan yang optimal dan efisien.

Dalam pemeliharaan infrastuktur pengendali banjir di kec.kresek yang telah

dibangun pemerintah, pemeliharaan tersebut di tugaskan kepada UPT III Dinas Bina

Marga & SDA Kab.Tangerang, dari hasil wawancara serta observasi, infrastuktur

pengendali banjir ini tidak berjalan dengan baik karena para petugas yang di tugaskan

tidak rutin melakukan pemeliharaan dengan baik.

D. Memperluas daerah pelayanan yaitu dengan membuat dan memperbaiki saluran

drainase khususnya di lokasi banjir.

Dilakukan oleh Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang berdasarkan

observasi dan wawancara, daerah yang rawan terkena banjir di kec.kresek, kondisi

drainse sebagai pengalir aliran air agar cepat ke sungai besar, bentuk pelayanan yang

di berikan kepada masyarakat yang terkena banjir sudah baik hal tersebut bisa di lihat

dengan banyaknya drainase yang telah di bangun sebagai pengendali banjir di

wilayah tersebut.

E. Penerapan manajemen daerah aliran sungai, situ dan pantai dengan membentuk

badan pengelola.

Dari hasil wawancara badan pengelola das cidurian, situ hingga pantai yang

ada dari para pelaksana seperti Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang,

(BBWSC-2)balai besar wilayah sungai ciliwung-cisadane (BBWSC-3) balai besar wilayah

sungai cidanau-ciujung-cidurian tidak berjalan dengan baik karena para stakeholder

tersebut bekerja dengan tugas masing-masing dan bentuk perintah atau komando

F. Pembangunan kolam tandon air di rencanakan di wilayah kecamatan rawan banjir.

Kec.kresek termasuk daerah yang direncanakan membuat kolam tandon air

oleh Pemerintah Daerah Kab.Tangerang dengan memanfaatkan situ atau rawa yang

telah ada di wiliyah kec.kresek seperti situ gabus, situ genggong, situ garukgak dan

situ patrasana ,namun bentuk realisasi dari revitalisasi situ tersebut tidak ada.

Dari ke enam point sub-pasal 35 sistem pengendalian banjir ukuran dan tujuan

kebijakan, bahwa ukuran keberhasilan kebijkan tidak optimal karena dari ke enam

point sub-pasal 35 sistem pengendalian banjir hanya dua point sub-pasal 35 sistem

pengendalian banjir yang dapat terlaksana seperti saluran drainase dengan

memperluas saluran drainase serta membongkar dan/atau mengganti utilitas yang

dapat mengganggu sistem drainase dan memperluas daerah pelayanan yaitu dengan

membuat dan memperbaiki drainase khususnya di lokasi banjir, akan tetapi hal

tersebut tidak cukup untuk mengatasi banjir.

Tabel 4.2

Banjir Kec.Kresek Tahun 2013-2017

No Tahun Desa Penyebab Jumlah korban (KK) 1 2013 Ds.Pasisampo, Ds.Renged, Ds,Koper, Ds.Patrasana, Ds.Talok Tanggul sungai cidurian jebol 1.210 (KK) 2 2014 Ds.Koper dan Ds.pasirampo Hujan deras, &

penyempitan saluran air 156 (KK) 3 2015 Ds.Pasirampo, Ds.Koper, Ds.Patrasana, Ds.Renged, Luapan sungai cidurian 2.262

Ds.Kresek, Ds.Talok (KK) 4 2016 Ds.Jengkol Luapan anak sungai

situ patrasana

68 (KK)

5 2017 Ds.Koper Luapan sungai

cidurian

200 (KK)

Karena aktivitas pelaksanaan pembangunan sistem pengendalian banjir yang

lain seperti : (b) Normalisasi sungai cisadane sungai cidurian dan sungai cimanceuri

berupa pengerukan, Pelurusan, penyataan bagian sungai yang sempit serta pembuatan

tebing penguat di tepi sungai, serta pengembangan fungsi bantaran sungai, (c)

Operasi dan pemeliharaan yang optimal dan efisien, (e) Penerapan manajemen daerah

aliran sungai, situ dan pantai dengan membentuk badan pengelola, dan (f)

Pembangunan kolam tandon air di rencanakan di wilayah kecamatan rawan banjir,

yang belum terlaksana sehingga aktivitas pelaksanaan pembangunan pengendalian

banjir tidak berjalan secara simultan sehingga menyebabkan banjir masih saja terjadi

sampai saat ini pada tahun 2016 & 2017 yang di akibatkan oleh meluapnya situ

garukgak dan luapan sungai cidurian maka keberhasilan kebijakan belum tercapai.

Artinya jika sebuah kebijakan belum terlaksana apa yang telah di tetapkan

sebelumnya maka pelaksanaan kebijakan tersebut tidak optimal, karena ukuran dan

tujuan kebijkan terkait system pengendalian banjir ini masih belum jelas, bahwa

ukuran keberhasilanya yaitu tidak adanya target khusus yang terpenting kondisi yang

4.4.3 Sumberdaya

Keberhasilan implementasi kebijakan publik sangat tergantung dari kemapuan

memanfaatkan sumberdaya, sumber daya manusia merupakan yang terpenting dalam

menentukan suatu keberhasilan proses implementasi, tetapi di luar sumberdaya

manusia, sumberdaya sumberdaya yang perlu diperhitungankan juga ialah

sumberdaya finansial dan sumberdaya sarana prasarana menjadi perhitungan penting

dalam keberhasilan implementasi kebijakan.

Selain Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang Sebagai Pelaksana Peraturan

Daerah Kab.Tangerang No 13 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kab.Tangerang

Tahun 2011-2031 terkait sistem pengendalian banjir studi kasus sistem pengendalian

banjir di Kecamatan Kresek ada juga pihak lainyang terlibat seperti Balai Besar

Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane,Balai Besar Wilayah Sungai

Cidanau-Ciujung-Cidurian dan Upt III Sebagai Unit Pelaksana Teknis Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian Hilir

dikarenakan ada kewenangan pengelolaan oleh Pusat sebesar 3000 Ha keatas, 1000

Ha-3000 Ha Propinsi dan 1000 Ha kebawah Kewenangan Kabupaten/Kota yang

tercantum dalam Keputusan Menteri PU no 12 tahun 2012 tentang wilayah sungai.

Untuk sumberdaya manusia sendiri yang ada sebagai pengendali banjir dirasa

kurang, sesuai apa yang di katakana oleh I.1.1 Kasie Pembangunan Dan Pemeliharaan

Sumber Daya Air Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang, beliau mengatakan

"Pada saat ini masih kebutuhan pekerja, karena hampir rata-rata baik irigasi, situ maupun sungai kita hanya kebagian dari lintas-lintas propinsi kabupaten dimana irigasi yang di bawah 1000 Ha masihkewenangan pusat, situ-situ masih kewenangan pusat, saluran-saluranyang kita tangani sekarang hanya saluran pembuang, jadi untuk sumberdaya manusia kita meminta ditambahkan aja".(Wawancara Dengan I.1.1, 09 Januari 2017, Pukul 10.00 Wib, di Kantor Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang)

Berdasarkan wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa untuk sumber

daya manusia meminta untuk di tambahkan karena masih kekurangan pekerja.

Hal yang sama di ucapkan oleh I.1.3

“Aparatur yang ada sebetulnya masih kekurangan jumlahnya dan sulit

melakukan pekerjaan karena wilayah pemeliharaanya luas ".(Wawancara Dengan I.1.3, 18 Januari2017, Pukul 11.00 Wib Di Kantor Upt III Sumber Daya Air Dinas Binamarga & SDA Kab.Tangerang)

Berdasarkan wawancara di atas peneliti ketahui bahwa sebenarnya jumlah

aparatur masih kekurangan karena wilayah pemeliharaan terlalu luas.

Hal yang berbeda di ucapkan oleh I.1.2

"Aparatur sebetulnya sudah siapcuma tinggal membiasakan saja danhanya perlu di stimultankan saja,aparatur sebetulnya siap".(Wawancara DenganI.1.2, 30 Januari 2017,Pukul 10.30 Wib, Dikantor UPT Sumber Daya Air II Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang).

Berdasarkan wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa aparatur

sebenarnya sudah siap dan perlu di stimultankan saja.

Selain sumber daya manusia, sumber daya finansial yang cukup juga sangat

Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang wilayah Kab.Tangerang Tahun 2001-2031 Terkait Sistem Pengendalian Banjir Khususnya Di kec.kresek).

Seperti peneliti kutip dari media elektronik Koran Tempo

Penundaan pencairan Dana Alokasi Umum (DAU) untuk pemerintah daerah oleh Kementerian Keuangan berdampak terhadap rencana pembangunan infrastruktur di Kabupaten Tangerang sebanyak 182 proyek infrastuktur dan pengendali banjir diwilayah Kab.Tangerang ditunda, penundaan DAU membuat dinas Bina Marga memangkas 60 persen usul dalam APBD Perubahan 2016."Dari Rp 178 miliar menjadi Rp 30 miliar, Pemangkasan usul anggaran meliputi anggaran untuk peningkatan jalan dan jembatan serta normalisasi sungai dan saluran irigasi. Sebagian besar program pengendalian banjir," 1. Pembangunan saluran drainase dan gorong-gorong sebanyak tujuh kegiatan dengan nilai Rp 7,7 miliar, 2. Pembangunan turab, talud, atau brojong sebanyak tujuh kegiatan dengan nilai Rp 808 juta, 3. Peningkatan sarana dan prasarana kebinaragaan tiga kegiatan Rp 2,2 Miliar, 4. Pengembangan dan pengelolaan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan 17 kegiatan Rp 29,4 miliar, 5. Pengembangan pengelolaan konservasi sungai dan danau 14 kegiatan Rp 9,6 miliar JONIANSYAHHARDJON (Sumber:tempo.co, di kutip 2 Maret 2017) Berdasarkan berita diatas Penundaan DAU Dana Alokasi Umum dari

kementerian keuangan tersebut mengakibatkan mengurangnya pembangunan

pengendali banjir di Kab.Tangeang ternasuk Di Kec.Kresek seperti ;1. Pembangunan

saluran drainase dangorong-gorong sebanyak tujuh kegiatan dengan nilai Rp 7,7

miliar, 2. Pembangunan turab, talud, atau brojong sebanyak tujuh kegiatan dengan

nilai Rp 808 miliar, 3. Peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan tiga

kegiatan, Rp 2,2 miliar;8. Pengembangan dan pengelolaanjaringan irigasi, rawa, dan

jaringanpengairan, 17 kegiatan, Rp 29,4 miliar;9. Pengembangan pengelolaan

Diperkuat sebagaimana yang di ungkapkan oleh I.1.1

"Untuk anggaran kita masih sangat kurang dan terbentur olehpersoalan kewenangan, kita ada kegiatan tetapi tidak ada anggaran karena kewenangan, kita meminta tolong kepusat tetapi sulit".(Wawancara Dengan I.1.1, 09 Januari 2017, Pukul 10.00 Wib, Di Kantor Dinas Bina Marga & SDAKab.Tangerang)

Berdasarkan hasil dari wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa

anggaran yang di perlukan masih kurang dan terbentur oleh kewenangan dan

birokrasi yang sulit ketika meminta bantuan anggaran.

Hal yang serupa di ungkapkan oleh I.1.3

"Anggaran sebetulnya kurang tetapi kita menyiasati agar anggaran yang sedikit tersebut dapat kita gunakan dengan kebutuhan dilapangan yang penting dan harus dilakukanoleh kita".(Wawancara Dengan I.1.3, 18 Januari2017, Pukul 11.00 Wib Di Kantor Upt III Sumber Daya Air Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang).

Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti ketahui bahwaanggaran dirasa

kurang akan tetapi di siasati agar kebutuhandilapangan berjalan.

Hal berbeda di ungkapkan oleh pelaksana Teknis PPK Perencanaan BBWSCC

ciliwung-cisadane I.1.5.

"Kita di sini menganggarkan berdasarkan renstra PU berdasarkan itu kalau misalkan ada yang urgent, mungkin bisa diubah ketahun yang urgent, misalnya di dalam anggaran tahun 2016 ada yang urgent pada tahun 2017 pelaksanaan tersebut bisa di ubah ketahun 2017".(Wawancara DenganI.1.5, 11 Januari 2017,Pukul 10.30 Di KantorBBWSCCCiliwung-Cisadane).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa anggaran

yang dikeluarkan berdasarkan rencana strategis Kementerian Pekerjaan Umum, dan

apabila ada ugernt bisa di ubah ketahun yang akan dating.

Hal yang sama di ungkapkan oleh Kasie Perencanaan Umum Balai Besar

Wilayah Sungai Cidanau-Diujung-Cidurian Beliau mengungkapkan.

"Sesuai usulan dan pelaksanaan berdasarkan pola dan renstra tahun 2016".(Wawancara DenganI.1.4, 24 Februari 2017,Pukul 13.30 Wib, Dikantor Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian) Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa anggaran

yang di kelurkan bedasarkan usulan dan rencana strategis tahun 2016.

Selain sumber daya manusia dan finansial dalam pelaksanaan perda rtrwterkait

sistem pengendalian banjir di kec.kresek perlu adanya saranaprasarana yang dapat

membantu pelaksaan pengendalian banjir yang harusmendukung.

Seperti yang di ungkapkan oleh I.1.2

"Sarana ada di Dinas Bina Margasudah menyiapkan eskapator baik yanglong'am, mini maupun yang ampibius, ampibius 2, long'am 2,mini 6 darisarana prasarana yang ada menurut saya memadai untuk wilayahkab.tangerang".(Wawancara DenganI.1.2, 30 Januari 2017,Pukul 10.30 Wib, Dikantor UPT Sumber Daya Air II Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang).

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa sarana

prasarana yang ada memadai untuk wilayah Kab.Tangerang bila dibutuhkan untuk

Kec.Kresek khususnya, dan pihak Pemerintah Kab.Tangerang menerima Dana hibah

sebesar Rp 17 Milyar dari pemerintah Provinsi Dki Jakarta sebagai penanggulangan

sampah dan banjir yang di gunakan sebagai tambahan alat berat untuk mengatasi

masalah banjir di Kabupaten Tangerang.

Seperti peneliti kutip dari media elektronik NERACA

“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, menerima

hibah sebesarRp17 miliar dari Pemerintah Provinsi DKIJakarta untuk penanggulangan masalah sampah dan banjir."Dana hibah tersebut berupa enam unit alat berat pengeruk dan delapan unit truk sampah, hibah tersebut merupakan anggaran tahun 2015 tapi dapat direalisasikan awal tahun 2016.Dia mengatakan, alat berat tersebut diserahkan kepada aparat Dinas BinaMarga dan Sumber Daya Air untuk mengeruk sampah disungai.(Sumber:Neraca.co.id, di kutip 2 Maret 2017)

Berdasarkan berita yang peneliti kutip dari NERACA, Pemerintah Kabupaten

Tangerang, Banten, menerima hibah sebesar Rp17 miliar dari Pemerintah Provinsi

DKI Jakarta untuk penanggulangan masalah sampah dan banjir. Dana hibah tersebut

berupa enam unit alat berat pengeruk dan delapan unit truk sampah, Hibah tersebut

merupakan anggaran tahun 2015 tapi dapat direalisasikan awal tahun 2016. Alat berat

tersebut diserahkan kepada aparat Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air

Kabupaten Tangerang untuk tambahan sarana prasarana pengendali banjir.

Hal tersebut diperkuat oleh Kasie Perencanaan dan Pemeliharaan Sumber Daya

Air Dinas Bina Marga & SDA Kab.Tangerang I.1.1,

"Sarana prasarana termasuk ke alat berat dua tahun kebelakang ini kitatelah membeli alat berat seperti ampibi resepator, memang kondisi

perbengkelan dan alat kita yang di worshop di bitung alat berat kitamasih kurang maka dua tahun ini kita belanja terus untuk alat berat, kalau kita kekurangan alat berat kita meminjam ke balai(BBWSCC)".(Wawancara Dengan I.1.1, 09Januari 2017, Pukul 10.00 Wib, Di Kantor Dinas Bina Marga & SDAKab.Tangerang)

Berdasarkan wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa Dinas Bina Marga

&SDA Kab.Tangerang dua tahun ini telah membeli bebarapa alat berat untuk

mendukung pelaksanaan pengendalian banjir karena alat berat yang berada di

workshop masih kurang dan ketika kekurangan dapat meminjam ke balai

(BBWSCC).

Hal serupa di ungkapkan oleh I.1.4

"BBWSC-3 mempunyai beberapapersedian berupa pompa air, karung, perahu karet dan alat berat yang dapat di gunakan oleh dinas lain dengan cara meminjam kepada kami bila memang di perlukan kami pasti membantu".(Wawancara DenganI.1.4, 24 Februari 2017,Pukul 13.30 Wib, Dikantor Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian)

Berdasarkan wawancara di atas dapat peneliti ketahui bahwa alat berat yang ada

dapat di gunakan oleh dinas bila di perlukan dan pihak BBWSC-3 pasti membantu.

Berdasarkan hasil peryataan di atas dari beberapa informan yang peneliti wawancarai

dan informasi tambahan dari media masa elektronik NERACA terkait dengan sarana

prasarana dalam pelaksanaan pengendalian banjir di kec.kresek dapat ditarik

kesimpulan sementera bahwa sarana prasarana pendukung dalam pelaksanaan

peraturan daerah rencana tata ruang wilayah terkait sistem pengendalian banjir di

prasarana yang ada di Dinas Bina Marga &SDA Kab.Tangerang sudah memadai dan

bila kurangBalai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian dapat memberi

pinjaman alat berat untuk di gunakan sebagai pengendali banjir.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan penelitian yang

dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa sumberdaya yang berkaitan dengan