• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori-teori Terkait Penelitian

8. Ukuran Perusahaan

11

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Kontribusi Teoritis

a. Penulis, sebagai sarana penambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas terkait dengan pengaruh likuiditas, leverage, audit tenure, dan financial distress terhadap opini audit going concern dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi.

b. Mahasiswa jurusan akuntansi, sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan sebagai sarana referensi ilmu pengetahuan terkait dengan pengaruh likuiditas, leverage, audit tenure, dan financial distress terhadap opini audit going concern dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi. c. Peneliti berikutnya, sebagai sarana referensi penelitian terkait dengan

pengaruh likuiditas, leverage, audit tenure, dan financial distress terhadap opini audit going concern dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi.

d. Keilmuan, untuk menambah bukti empiris terkait dengan pengaruh likuiditas, leverage, audit tenure, dan financial distress terhadap opini audit going concern dengan ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi. 2. Kontribusi Praktis

a. Investor, sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi sehingga dapat lebih bijak ketika mendapatkan informasi yang terdapat pada hasil penelitian ini.

b. Perusahaan, sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam memberikan informasi laporan keuangan kepada para pengguna laporan keuangan. Laporan keuangan yang dipublikasikan haruslah yang terpercaya.

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori-Teori Terkait Penelitian 1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Hubungan keagenan merupakan suatu hubungan kontrak antara pemilik (principal) dan agen (management), dimana principal mengontrak agent untuk memberikan suatu jasa dengan cara mendelegasikan wewenangnya dalam mengambil keputusan kepada agent yang dimaksud. Hubungan keagenan itu sendiri terdiri dari dua macam, yaitu hubungan keagenan antara manajemen dan para pemegang saham (stakeholders), serta hubungan antara manajer dan para pemberi pinjaman (bondholder). Masalah yang dapat muncul dalam suatu hubungan agensi adalah masalah kelengkapan informasi, yaitu saat semua kondisi tidak diketahui oleh kedua belah pihak yang bersangkutan (Jensen dan Meckling, 1967) dalam (Saad & Abdillah, 2019)

Menurut Eisenhard (1989) dalam Rahman & Siregar (2012), teori keagenan dilandasi oleh tiga buah asumsi, yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi tentang keorganisasian, dan asumsi tentang informasi. Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded rationality), dan tidak menyukai risiko (risk aversion). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas, dan adanya Asymmetric Information (AI) antara prinsipal dan agen. Asymmetric Information (AI), yaitu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen. Dalam hal ini prinsipal seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam mengukur tingkat hasil yang diperoleh dari usaha agen, namun ternyata informasi tentang ukuran keberhasilan yang diperoleh

13

oleh prinsipal tidak seluruhnya disajikan oleh agen. Akibatnya informasi yang diperoleh prinsipal kurang lengkap sehingga tetap tidak dapat menjelaskan kinerja agen yang sesungguhnya dalam mengelola kekayaan prinsipal yang telah dipercayakan kepada agen. Akibat adanya informasi yang tidak seimbang (asimetris) ini, dapat menimbulkan dua permasalahan yang disebabkan adanya kesulitan prinsipal untuk memonitor dan melakukan kontrol terhadap tindakan-tindakan agen.

Hal tersebut menjadikan hubungan agensi seperti ini rawan konflik, yaitu konflik kepentingan agensi (konflik agen). Konflik tersebut terjadi karena pemilik modal berusaha menggunakan dana sebaik-baiknya dengan risiko sekecil mungkin, sedangkan manajer cenderung mengambil keputusan pengelolaan dana untuk memaksimalkan keuntungan yang sering bertentangan dan cenderung mengutamakan kepentingannya sendiri.

Teori ini menunjukan bahwa pemegang saham memerlukan perlindungan karena agent mungkin tidak selalu bertindak untuk memenuhi kepentingan principle (Jensen dan Meckling, 1976) oleh karena itu dibutuhkan pihak ketiga yang independen untuk mencegah kecenderungan manipulasi informasi perusahaan, salah satunya adalah laporan keuangan. Dalam hal ini yang dibutuhkan seorang akuntan publik. Tugas dari akuntan publik (auditor) memberikan jasa untuk menilai laporan keuangan yang dibuat oleh agen, dengan hasil akhir adalah opini audit (Petronela, 2004) dalam (Yuliyani & Erawati, 2017)

2. Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori sinyal (signalling theory) berawal dari tulisan George Akerlof pada karyanya ditahun 1970 “The Market for Lemons”, yang memperkenalkan istilah informasi asimetris (assymetri information). Akerlof (1970) mempelajari fenomena ketidak seimbangan informasi mengenai kualitas produk antara pembeli dan penjual, dengan melakukan pengujian

14

terhadap pasar mobil bekas.

Dari penelitiannya tersebut, Akerlof (1970) menemukan bahwa ketika pembeli tidak memiliki informasi terkait spesifikasi produk dan hanya memiliki persepsi umum mengenai produk tersebut, maka pembeli akan menilai semua produk pada harga yang sama, baik produk yang berkualitas tinggi maupun yang berkualitas rendah, sehingga merugikan penjual produk berkualitas tinggi. Kondisi dimana salah satu pihak (penjual) yang melangsungkan transaksi usaha memiliki informasi lebih atas pihak lain (pembeli) ini disebut adverse selection (Scott, 2009). Menurut Akerlof (1970), adverse selection dapat dikurangi apabila penjual mengkomunikasikan produk mereka dengan memberikan sinyal berupa informasi tentang kualitas produk yang mereka miliki.

Signalling theory menjelaskan bahwa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal perusahaan. Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dengan pihak eksternal. Pihak eksternal kemudian menilai perusahaan sebagai fungsi dari mekanisme signalling yang berbeda-beda. Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan, dan kemungkinan lain pihak eksternal yang tidak memiliki informasi akan berpersepsi sama tentang nilai semua perusahaan. Pandangan seperti ini akan merugikan perusahaan yang memiliki kondisi yang lebih baik karena pihak eksternal akan menilai perusahaan lebih rendah dari yang seharusnya dan demikian juga sebaliknya (Taufiq & Wahidahwati, 2016)

Sinyal ini berupa informasi mengenai upaya yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang dapat menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Manajemen selalu berusaha

15

untuk mengungkapkan informasi privat yang menurut pertimbangannya sangat diminati investor dan pemegang saham khususnya jika informasi tersebut merupakan berita baik (good news). Manajemen juga berminat menyampaikan informasi yang dapat meningkatkan kredibilitasnya dan kesuksesan perusahaan meskipun informasi tersebut tidak diwajibkan. Pengungkapan yang bersifat sukarela merupakan signal positif bagi perusahaan (R. A. I. Sari & Priyadi, 2016).

3. Opini Audit Going Concern Opini Audit

Opini audit diberikan auditor melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan kesimpulan atas opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya (Rahman & Siregar, 2012). Opini audit dinyatakan dalam paragraf pendapat dalam laporan audit. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan. Laporan keuangan yang dimaksud dalam standar pelaporan tersebut adalah meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan semua catatan kaki serta penjelasan dan tambahan informasi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam penyajian laporan keuangan. Oleh karena itu dalam standar laporan auditor harus menyampaikan kepada pemakai laporan mengenai informasi yang menurut auditor perlu diungkapkan.

Menurut Institut Akuntan Publik Indonesia dalam Standar Profesional Akuntan Publik per 31 Maret 2011 (PSA 29 SA seksi 508), ada lima jenis pendapat akuntan, yaitu :

a) Pendapat wajar tanpa pengecualian. Hal ini menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia.

16

b) Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku. Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya.

c) Pendapatan wajar dengan pengecualian. Hal ini menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.

d) Pendapatan tidak wajar. Hal ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia. e) Pernyataan tidak memberikan pendapat. Hal ini menyatakan bahwa

auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Going Concern

Menurut Standar Profesional Akuntan Publik SA Seksi 341 paragraf 2 (IAI, 2012) mendefinisikan going concern sebagai kesangsian kemampuan suatu usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya selama periode waktu yang pantas, yaitu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan auditan. Sedangkan menurut (Belkoui : 271) going concern adalah sautu dalil yang menyatakan bahwa kesatuan usaha akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab serta aktifitas-aktifitasnya yang tidak berhenti.

Opini Audit Going Concern

Menurut Hani, Clearly & Mukhlasin (2003) dalam Kurnia & Mella (2018), opini audit going concern adalah tingkat kelangsungan hidup sebuah perusahaan yang berarti perusahaan tersebut dianggap mampu bertahan pada

17

aktivitas usahanya dalam jangka waktu panjang dan tidak akan dilikuidasi dalam jangka waktu pendek.

Opini Audit Going concern merupakan opini auditor untuk memastikan apakah perusahaan yang di audit nya dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. (SPSP, 2001). Auditor memiliki suatu tanggung jawab untuk mengevaluasi status kelangsungan hidup suatu perusahaan dalam setiap pekerjaan auditnya. Pernyataan ini mengacu pada Statement On Auditing Standard No. 59 (AICPA, 1998), auditor harus memutuskan apakah perusahaan klien akan bisa bertahan dimasa yang akan datang. Disamping menerbitkan ISAK Nomor 4 melalui Komite Standar Akuntansi Keuangan, IAI juga menyiapkan Interpretasi Pernyataan Standar Audit (IPSA) Nomor 30 melalui Komite Standar Profesional Akuntan Publik tentang “Laporan Auditor Independen tentang Dampak Memburuknya Kondisi Ekonomi Indonesia terhadap Kelangsungan Hidup Entitas”. IPSA tersebut menganggap auditor perlu mempertimbangkan tiga hal, yaitu :

1) Kewajiban auditor dalam memberikan saran bagi kliennya dalam mengungkapkan dampak kondisi ekonomi tersebut (jika ada) terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 2) Pengungkapan peristiwa kemudian yang mungkin timbul sebagai akibat

kondisi ekonomi tersebut.

3) Modifikasi laporan audit bentuk baku jika memburuknya kondisi ekonomi tersebut berdampak terhadap kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Jika Audit menyimpulkan adanya keragu-raguan atas adanya kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya, pendapat wajar tanpa pengecualian dalam paragraf perlu dibuat, terlepas dari pengungkapan laporan keuangan, PSA Nomor 30 membolehkan, tetapi tidak menganjurkan pernyataan tidak memberikan pendapat karena adanya kesangsian atas keberlangsungan hidup.

18

Auditor dalam mengeluarkan opini audit suatu perusahaan perlu memberikan pernyataan mengenai kemampuan perusahaan dalam mempertahankan hidup perusahaan (going concern). Apabila ada keraguan mengenai keberlangsungan hidup suatu perusahaan maka auditor perlu mengungkapkannya dalam opini audit (Going Concern Audit Opinion).

Apabila auditor mensangsikan kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, maka auditor wajib mengevaluasi rencana manajemen. Selanjutnya auditor akan memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelas jika rencana manajemen perusahaan dapat secara efektif dilaksanakan untuk mengatasi dampak dari kondisi dan peristiwa yang menyebabkan kesangsian auditor tentang kelangsungan usahanya. Apabila auditor menggangap bahwa rencana manajemen tidak dapat secara efektif mengurangi dampak negatif kondisi atau peristiwa tersebut maka auditor menyatakan tidak memberikan pendapat. Opini wajar dengan pengecualian diberikan kepada auditee apabila auditor mensangsikan kelangsungan hidup perusahaan dan auditor berkesimpulan bahwa manajemen tidak memuat pengungkapan dan mengenai sifat, dampak, kondisi dan peristiwa yang menyebabkan auditor mensangsikan kelangsungan hidup perusahaan. Jika pengungkapan didalam rencan manajemen tidak memadai pengungkapanya dan tidak dilakukan penyesuaian padahal dampaknya sangat material dan dapat menyimpang dari prinsip akuntansi berterima umum, maka auditor akan memberikan opini tidak wajar (Pratiwi, 2013). Pertimbangan auditor dalam memberikan opini going concern dalam hal keberlangsungan usaha suatu entitas dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :

19

Panduan Bagi Auditor dalam Memberikan Opini Going concern Gambar 2.1. Panduan bagi Auditor dalam Memberikan Opini Audit Going

Concern

Sumber : Seksi 341 paragraf 19 (SPAP, 2011) 4. Likuiditas

Menurut (Kasmir, 2016) rasio likuiditas merupakan ketidakmampuan perusahaan membayar kewajibannya terutama jangka pendek (yang sudah jatuh tempo) yang disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu:

20

1. Bisa dikarenakan memang perusahaan sedang tidak memiliki dana sama sekali, atau

2. Bisa mungkin saja perusahaan memiliki dana, namun saat jatuh tempo perusahaan tidak memiliki dana (tidak cukup dana secara tunai sehingga harus menunggu dalam waktu tertentu, untuk mencairkan aset lainnya seperti menagih piutang, menjual suratsurat berharga, atau menjual sediaan atau asel lainnya).

Likuiditas merupakan suatu kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Likuiditas sangat penting bagi suatu perusahaan dikarenakan berkaitan dengan mengubah aset menjadi kas.

Secara umum tujuan utama rasio keuangan digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Dalam praktiknya, untuk mengukur rasio keuangan secara lengkap, dapat menggunakan jenis-jenis rasio likuiditas yang ada. Menurut Kasmir (2013:134) jenis-jenis-jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan, yaitu :

1. Rasio lancar (current ratio) dihitung dengan membagi aset lancar dengan kewajiban lancar. Aset lancar meliputi kas, efek yang dapat diperdagangkan, piutang usaha, dan persediaan. Jika suatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan, perusahaan mulai lambat dalam membayar tagihan (utang usaha), tagihan bank, dan kewajiban lainnya yang akan meningkatkan kewajiban lancar. Jika kewajiban lancar tinggi dibandingkan dengan aset lancar, maka current ratio akan turun, dan ini merupakan pertanda adanya masalah.

2. Rasio sangat lancar (quick ratio atau acid test ratio) merupakan rasio uji cepat yang menunjukkan kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan.

21

seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti giro atau tabungan yang ada di bank. 5. Leverage

Menurut (Kasmir, 2016) rasio leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana asset perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya, seberapa besar beban utang yang harus ditanggung perusahaan dibandingkan dengan asetnya. Dalam arti luas dikatakan bahwa leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Apabila perusahaan memiliki rasio leverage yang tinggi maka resiko kerugian perusahaan tersebut akan bertambah. untuk memperoleh keyakinan akan laporan keuangan perusahaan maka auditor lebih waspada sehingga rentang audit delay akan lebih panjang (Witjaksono & Silvia, 2013).

Pengukuran Solvabilitas atau Rasio Leverage : 1. Debt To Total Asset

Debt to total asset merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Digunakan untuk mengetahui seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.

2. Debt To Equity Ratio

Alat untuk mengukur penelitian ini menggunakan debt equity ratio dimana rasio tersebut menggambarkan perbandingan antara liabilitas dengan ekuitas dalam suatu pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri untuk memenuhi seluruh liabilitasnya.

3. Long Term Debt to Equity Ratio

22

jaminan untuk hutang jangka panjang. Rumusnya adalah hutang jangka panjang dibagi dengan modal sendiri.

6. Audit Tenure

Audit tenure adalah lamanya masa ikatan audit dari Kantor Akuntan Publik (KAP) dalam memberikan jasa audit kepada kliennya (Hasanuddin et al., 2015). Menurut Syahputra dan Yahya (2017), audit tenure adalah jangka waktu kerja sama antara KAP dan auditee. Andiriani dan Nursiam (2018) mendefinisikan tenure sebagai masa perikatan audit antara KAP dan kliennya terkait dengan jasa audit yang telah disepakati sebelumnya. Ketentuan mengenai audit tenure diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2015 pasal 11 yang menjelaskan bahwa pemberian jasa audit terhadap laporan keuangan dari suatu perusahaan dilakukan oleh KAP paling lama untuk lima tahun buku berturut-turut. Auditor dapat menerima kembali penugasan audit untuk klien tersebut setelah dua tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut.

Dalam Pratiwi (2013) menyatakan tentang hubungan jangka panjang antara auditor dengan perusahaan klien akan menyebabkan masalah berikut: a) Auditor mempunyai hubungan yang semakin dekat dengan manajemen

klien yang menyebabkan auditor kehilangan skeptisme profesional. b) Auditor mungkin menganggap pengujian yang dilakukan sebagai

pengulangan dari perikatan sebelumnya sehingga auditor merasa mengetahui lebih dulu hasil dari pengujian. Hal ini menyebabkan auditor kurang mampu mengevaluasi perubahan penting kondisi klien.

c) Auditor mungkin berkeinginan untuk menyelesaikan masalah klien dalam rangka mempertahankan hubungan baik dengan klien, memenuhi keinginan klien mungkin menjadi prioritas auditor dibandingkan dengan mengikuti standar profesional.

23

7. Financial Distress

Financial distress (kesulitan keuangan) perusahaan terjadi sebelum kebangkrutan. Studi yang berkaitan dengan kondisi financial distress pada umumnya menggunakan rasio keuangan perusahaan. Perluasan penelitian yang berkaitan dengan prediksi financial distress suatu perusahaan telah dilakukan dengan memasukkan variabel-variabel penjelas lain yaitu kondisi ekonomi, opini yang diberikan auditor pada laporan keuangan kliennya dan perbedaan industry. Studi yang menggunakan rasio keuangan untuk memprediksi kondisi financial distress suatu perusahaan dilakukan oleh (Zmijewski, 1984) dan (Lau, 1987).

Kondisi financial distress perusahaan didefinisikan sebagai tahap penurunan kondisi dimana mengalami laba bersih (net profit) negatif selama beberapa tahun, dan hasil operasi perusahaan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban perusahaan (insolvency). Financial distress dapat timbul karena adanya pengaruh dari dalam perusahaan sendiri (internal) dan dari luar perusahaan (eksternal). Faktor internal nya adalah kesulitan arus kas, besarnya jumlah hutang dan kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun. Sedangkan faktor eksternalnya berupa kebijakan pemerintah yang dapat menambah beban perusahaan, kebijakan suku bunga yang meningkat sehingga menyebabkan meningkatnya beban bunga yang ditanggung perusahaan. (Laksmiati & Atiningsih, 2018)

8. Ukuran Perusahaan

Menurut Riyanto (2008:313), ukuran perusahaan adalah besar kecilnya suatu perusahaan berdasarkan nilai ekuitas, penjualan, atau asetnya. Sementara itu, Brigham dan Houston (2012) mendefinisikan ukuran perusahaan sebagai penjualan bersih rata-rata yang dihasilkan oleh perusahaan selama beberapa tahun.

24

dalam 4 kategori yaitu usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Pengklasifikasian ukuran perusahaan tersebut didasarkan pada total asset yang dimiliki dan total penjualan tahunan perusahaan tersebut. Kriteria ukuran perusahaan yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2008 adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1.

Kriteria Ukuran Perusahaan

No. Ukuran Perusahaan Kriteria Asset (Kecuali tanah dan bangunan tempat uasaha) Penjualan

1. Usaha Mikro Maksimal 50 Juta Maksimal 300 Juta 2. Usaha Kecil >50 Juta – 500 Juta >300 juta – 2,5 M 3. Usaha Menengah >10 juta – 10 M 2,5 M – 50 M

4. Usaha Besar >10 M >50 M

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan : 2019

Kriteria di atas menunjukkan bahwa perusahaan besar memiliki asset (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) lebih dari sepuluh miliar rupiah dengan penjualan tahunan lebih dari lima puluh miliar rupiah.

Koewn et al (2002) mengatakan bahwa perusahaan besar lebih banyak menawarkan fee audit tinggi dari pada yang ditawarkan oleh perusahaan kecil. Dalam kaitannya mengenai kehilangan fee audit yang signifikan tersebut, sehingga auditor mungkin ragu untuk mengeluarkan opiniaudit going concern pada perusahaan besar.

25

Dokumen terkait