ULASAN SINGKAT PERKEMBANGAN PDRB
4.12. Ulasan Singkat PDRB Kecamatan
Di dalam perencanaan pembangunan, sangat diperlukan adanya dukungan data dan informasi yang lengkap, valid, dan up to date mengikuti perubahan kondisi yang terjadi. Dengan data yang baik akan dapat diproyeksikan kondisi yang dicita-citakan, dapat ditetapkan target-target kinerja sebagai patokan pelaksanaan pembangunan sesuai yang direncanakan. Pada akhirnya data akan sangat membantu dalam pemberian nilai bagi prestasi yang telah dicapai, sehingga semakin memperbesar tingkat akuntabilitas dan transparansi penyelenggaraan pemerintahan.
Tersedianya data PDRB sampai tingkat kecamatan dapat dapat memberikan gambaran tentang peranan atau posisi masing-masing kecamatankhususnya di bidang ekonomi. Manfaat PDRB Kecamatan diantaranya dapat diketahui kemajuan/pertumbuhan ekonomi masing-masing kecamatan, potensi kecamatan, tingkat kemakmuran kecamatan, tingkat kesenjangan ekonomi antar kecamatan/antar sektoral.
Secara lebih rinci, tujuan penyajian PDRB sampai pada tingkat kecamatanadalah :
Untuk mengetahui peranan ekonomi masing-masing tingkat kecamatan terhadap perekonomian Kabupaten Blora.
Untuk melihat peranan masing-masing sektor ekonomi disetiap kecamatan baik menurut harga berlaku maupun konstan.
Untuk mengetahui perbandingan PDRB perkapita antar kecamatan.
Metode yang digunakan untuk menghitung PDRB Kecamatan adalah menggunakan metoda tidak langsung yaitu metoda penghitungan
BAB IV : Ulasan Singkat
dengan menggunakan data yang bersumber dari masing-masing kecamatan namun hanya digunakan sebagai alokator untuk mengalokasikan PDRB Kabupaten.
Besar kecilnya angka PDRB menggambarkan besar kecilnya potensi ekonomi suatu wilayah. Angka PDRB yang besar menunjukkan bahwa wilayah tersebut cukup berpotensi secara ekonomi dan sebaliknya. Karena kecamatan merupakan subsetdari kabupaten, maka semakin besar PDRB di suatu kecamatan maka peran kecamatan tersebut semakin besar dalam menggerakkan ekonomi di wilayah kabupaten. Beberapa kecamatan yang cukup berpotensi di Kabupaten Blora antara lain Kecamatan Blora, Kecamatan Cepu, Kecamatan Randublatung, Ngawen dan Kunduran. Kelima kecamatan tadi cukup berperan dalam menggerakkan ekonomi di Kabupaten Blora, karena sumbangan kelima kecamatan tadi lebih dari separoh dari angka-angka PDRB kabupaten.
Atas dasar harga berlaku, pada tahun 2014, PDRB kecamatan tertinggi dicapai oleh Kecamatan Cepu yang tercatat sebesar 4.142.947,09 juta rupiah diikuti Kecamatan Blora sebesar 2.559.053,85 juta rupiah dan Kecamatan Ngawen dan Randublatung masing-masing sebesar 1.054.266,21 juta rupiah dan 1.044.803,83 juta rupiah.
Sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Bogorejo yang tercatat sebesar 245.562,80juta rupiah. Besarnya peran PDRB kecamatan terhadap PDRB Kabupaten dapat dilihat dari persentase distribusi PDRB kecamatan terhadap total PDRB Kabupaten Blora. Kontribusi terbesar disumbang oleh PDRB Kecamatan Cepu sebesar 27,52 persen disusul kemudian Kecamatan Blora sebesar 17,00 persen dan Kecamatan Ngawen dan Randublatung masing-masing sebesar 7,00 persen dan
BAB IV : Ulasan Singkat
6,94 persen, sedangkan kontribusi PDRB kecamatan lainnya memberikan andil berkisar antara 1,64 persen, yaitu Kecamatan Bogorejo hingga 6,55 persen, yaitu di Kecamatan Kunduran.
Sedangkan PDRB menurut harga konstan (2010=100), pada tahun 2014 PDRB kecamatan tertinggi masihdi Kecamatan Cepu dengan nilai PDRB sebesar 3.421.862,54 juta rupiah, kemudian diikuti PDRB Kecamatan Blora dengan nilai sebesar 2.111.718,37 juta rupiah, dan Kecamatan Ngawen dan Randublatung masing-masing sebesar 866.787,80 juta rupiah dan 848.619,69 juta rupiah, sedangkan PDRB terendah ada di Kecamatan Bogorejo dengan nilai sebesar 197.825,25 juta rupiah. Dengan andil terhadap PDRB kabupaten terbesar adalah Kecamatan Cepu yaitu sebesar 27,99 persen, diikuti Kecamatan Blora sebesar 17,27 persen dan Kecamatan Ngawen dan Randublatung masing-masing sebesar 7,09dan 6,94 persen, sedangkan terendah ditunjukkan oleh Kecamatan Bogorejo 1,62 persen.
Laju pertumbuhan PDRB kecamatan tahun 2014, menunjukan angka yang bervariasi baik menurut harga berlaku maupun harga konstan. Menurut harga berlaku, laju pertumbuhan ekonomi kecamatan berkisar antara 15,34 persen sampai 6,31 persen. Laju pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Kecamatan Cepu dengan laju pertumbuhan sebesar 15,34 persen, diikuti oleh Kecamatan Blora dan Tunjungan yang masing-masing tumbuh sebesar 12,78 persen dan 12,44 persen. Sedangkan Kecamatan dengan laju pertumbuhan terkecil dialami oleh Kecamatan Kedungtuban yang tumbuh sebesar 6,31 persen.
Menurut harga konstan, laju pertumbuhan ekonomi kecamatan berkisar antara 7,08 persen sampai 0,36 persen. Laju pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Kecamatan Blora dengan pertumbuhan
BAB IV : Ulasan Singkat
sebesar 7,08 persen, diikuti oleh Kecamatan Cepu yang tumbuh sebesar 6,00 persen. Sedangkan Kecamatan dengan laju pertumbuhan terendah terjadi di Kecamatan Kedungtuban yang mengalami pertumbuhan sebesar 0,36 persen.
Untuk PDRB perkapita kecamatan menurut harga berlaku yang tertinggi dicapai oleh Kecamatan Cepu yakni sebesar 56.585.656 rupiah disusul Kecamatan Blora yaitu sebesar 27.486.603 rupiah dan Kecamatan Ngawen yang tercatat sebesar 18.496.872 rupiah, dan yang terendah adalah Kecamatan Banjarejo yakni sebesar 8.041.580 rupiah.
Besarnya PDRB perkapita tersebut perlu dicermati dengan hati-hati karena belum tentu angka yang besar tersebut merupakan kondisi pendapatan perkapita yang sebenarnya, dikarenakan angka PDRB perkapita tersebut masih termasuk output yang dimiliki oleh penduduk luar wilayah kecamatan yang bersangkutan. Sebagai ilustrasi di Kecamatan Cepu, PDRB perkapita yang dapat diartikan bahwa rata-rata nilai tambah produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh setiap penduduk Kecamatan Cepu yang hampir mencapai 57 juta, belum tentu seluruhnya dinikmati oleh penduduk Kecamatan Cepu, namun nilai tambah tersebut juga dinikmati oleh investor luar daerah atau investor luar negeri yang turut mengelola perekonomian di Kecamatan Cepu.
1. Kecamatan Jati
Pada tahun 2014, PDRB Kecamatan Jatitercatat sebesar 440.499,87 juta rupiah adh berlaku dan 350.825,97 juta rupiah adh konstan. Dari angka tersebut, PDRB perkapita adhberlakunya tercatat sebesar 9.608.146 rupiah sedangkan adhkonstan sebesar 7.652.186 rupiah. PDRB Kecamatan Jati memberikan kontribusi sebesar
BAB IV : Ulasan Singkat
2,93persen terhadap PDRB Kabupaten adhberlakudan 2.87 persen terhadap PDRB Kabupaten adh konstan.
Sumbangan terbesar terhadap total PDRB Kecamatan Jatiadh berlaku adalah lapangan usaha pertanian sebesar 52,08 persen, diikuti perdagangan besar, eceran sebesar 10,62 persen dan lapangan usaha konstruksi sebesar 8,94 persen, sedangkan sumbangan terkecil dari lapangan usaha pengadaan air yang hanya sebesar 0,01 persen.
Menurut harga konstan, sumbangan terbesar terhadap total PDRB Kecamatan Jati masih di lapangan usaha pertanian yang tercatat sebesar 49,86 persen, diikuti lapangan usaha perdagangan sebesar 11,83 persen dan lapangan usaha konstruksi sebesar 8,94 persen, sedangkan sumbangan terkecil dari lapangan usaha pengadaan air yang hanya sebesar 0,02 persen.
Pertumbuhan PDRB Kecamatan Jati adh konstan tahun 2014 adalah sebesar 0,97 persen, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 3,35 persen. Dengan pertumbuhan lapangan usaha tertinggi adalah lapangan usaha yang mencapai 14,63 persen, diikuti oleh lapangan usaha informasi komunikasi yang tercatat sebesar 13,05 persen dan terendah adalah lapangan usahapertanianyang tumbuh sebesar minus 5,11 persen.
2. Kecamatan Randublatung
Kontribusi PDRB adhberlaku Kecamatan Randublatung terhadap PDRB Kabupaten pada tahun 2014 tercatat sebesar 6,94 persen,sedangkan menurut harga konstannya tercatat sebesar 6,94 persen. Dengan pertumbuhan PDRB adhberlaku adalah sebesar 7,17 persen, dari 974.926,83 juta rupiah di tahun 2013 menjadi 1.044.803,76 juta rupiah di tahun 2014.
BAB IV : Ulasan Singkat
Apabila dinilai dengan harga konstan, maka nilai PDRB Kecamatan Randublatung tahun 2014 tercatat sebesar 848.619,69 juta rupiah, meningkat dibanding angka PDRB tahun 2013 yang tercatat sebesar837.262,92 juta rupiah, sehingga terjadi pertumbuhan sebesar 1,36 persen. Pertumbuhan lapangan usaha tertinggi adalah lapangan usahaindustri pengolahan yang tercatat sebesar 15,21 persen dan terendah sektor pertanian yang menunjukkan pertumbuhan sebesar minus 6,47 persen. Untuk PDRB perkapita, pada tahun 2014 tercatat sebesar 13.886.281 rupiah adh berlaku dan 11.278.837 adh konstan.
Struktur PDRB Kecamatan Randublatung memperlihatkan adanya tiga lapangan usaha utama yang dominan dilihat dari sumbangannya.
Sumbangan terbesar terhadap total PDRB kecamatan adh berlaku adalah lapangan usaha pertanian yang tercatat sebesar 48,09 persen, Lapangan usaha perdagangan sebesar 14,11 persen dan lapangan usaha industri pengolahan yang tercatat sebesar 8,04 persen, sedangkan terkecil adalah sumbangan dari lapangan usaha pengadaan listrik, gas yang hanya sebesar 0,06 persen.
Menurut harga konstan, sumbangan terbesar terhadap total PDRB kecamatan adalah lapangan usaha pertanian yang tercatat sebesar 46,35 persen, disusul lapangan usaha perdagangan sebesar 15,22 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 7,69 persen, sedangkan terkecil adalah sumbangan dari lapangan usaha pengadaan listrik, gas yang hanya sebesar 0,05 persen.
3. Kecamatan Kradenan
Kecamatan Kradenan merupakan salah satu wilayahyang berlokasi di tapal batas dengan Propinsi Jawa Timur, memiliki sumberdaya alam yang cukup memadai khususnya di bidang
BAB IV : Ulasan Singkat
pertanian.Dengan kondisi tersebut tentu saja Kecamatan Kradenan memiliki peran yang cukup penting dalam memberikan sumbangan terhadap perkembangan perekonomian di Kabupaten Blora. Pada tahun 2014, PDRB Kecamatan Kradenan adhberlakutercatat sebesar 425.407,88 juta rupiah atau naik sebesar 6,84 persen apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yang tercatat sebesar398.183,21 juta rupiah, dan memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Blora sebesar 2,83 persen. Sumbangan lapangan usaha terbesar PDRB kecamatan Kradenan adalah lapangan usaha pertanian yang tercatat sebesar 54,48 persen, lapangan usaha perdagangan sebesar 9,64 persen dan lapangan usaha pertambangan penggalian sebesar 6,46 persen, sedangkan terkecil adalah sumbangan dari lapangan usaha pengadaan listrik, gas yang hanya sebesar 0,07 persen.
Apabila dinilai dengan harga konstan, tahun 2014 PDRB Kecamatan Kradenan memberikan kontribusi terhadap total PDRB Kabupaten sebesar 2,73 persen, dengan nilai PDRB mencapai 334.115,37 juta rupiah, naik dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 331.631,88 juta rupiah yang berarti mengalami pertumbuhan sebesar 0,75 persen. Pertumbuhan lapangan usaha tertinggi adalah lapangan usaha industri pengolahan, yang tumbuh sebesar 12,77 persen dan terendah adalah lapangan usahapertanian yang tumbuh sebesar minus 5,31 persen.
Struktur PDRB Kecamatan Kradenan adhkonstan memperlihatkan adanya tiga lapangan usaha yang dominan yaitu lapangan usaha pertanian sebesar 51,93 persen, lapangan usaha perdagangan sebesar 11,07 persen dan lapangan usahapertabangan penggalian, yaitu sebesar 6,54 persen. Dan untuk melihat tingkat kemakmuran
BAB IV : Ulasan Singkat
masyarakat secara kasar Kecamatan Kradenan dapat dilihat dari PDRB Perkapita yang mencapai 10.776.503,79 rupiah adhberlaku dan 8.463.866,75 rupiah adhkonstan.
4. Kecamatan Kedungtuban
PDRB Kecamatan Kedungtuban adh berlaku pada tahun 2014 tercatat sebesar 718.087,81 juta rupiah, meningkat 6,31 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 675.473,37 juta rupiah.
Sedangkan PDRB perkapitanya pada tahun yang sama mencapai 13.001.653 rupiah.Sumbangan yang diberikan oleh Kecamatan Kedungtuban terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Blora adalah sebesar 4,77 persen. Struktur perekonomian di Kecamatan Kedungtuban sangat tergantung pada lapangan usaha pertanian dimana 57,46 persen PDRB Kecamatan Kedungtuban adh berlaku merupakan sumbangan dari kegiatan dari lapangan usaha ini. Diikuti lapangan usaha perdagangan dan lapangan usaha industri pengolahan yang masing-masing tercatat sebesar 9,00 persen dan 6,41 persen.Dan sumbangan terkecil ada pada lapangan usaha pengadaan air yang tercatat sebesar 0,08 persen.
Menurut harga konstan, PDRB Kecamatan Kedungtuban pada tahun 2014 mencapai 569.049,10 juta rupiah, lebih tinggi dari tahun 2013 yang tercatat sebesar566.993,82 juta rupiah, sehingga terjadi pertumbuhan sebesar 0,36 persen. Sedangkan kontribusi terhadap total PDRB Kabupaten malahan turun yang tercatat sebesar 4,65 persen.
Pertumbuhan lapangan usaha tertinggi adalah lapangan usaha industri pengolahan yang tercatat sebesar 16,23 persen dan terendah adalah lapangan usahapertanian yang mengalami pertumbuhan sebesar minus 5,93 persen. Pertumbuhan adhkonstan tahun 2014lebih rendah dibandingkan tahun 2013. Struktur PDRB adhkonstan
BAB IV : Ulasan Singkat
PDRBKedungtuban memperlihatkan adanya tiga lapangan usaha utama yang dominan yaitu lapangan usaha pertanian sebesar 55,25 persen, lapangan usaha perdagangan sebesar 10,26 persen dan industri pengolahan sebesar 6,09 persen.
5. Kecamatan Cepu
Pada tahun 2014, adhberlaku PDRB Kecamatan Cepu memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten sebesar 27,52 persen atau sebesar 4.142.947,09 juta rupiah, sedangkan struktur perekonomian didominasi oleh lapangan usaha pertambangan penggalian, dimana kontribusi lapangan usaha ini terhadap PDRB kecamatan tercatat sebesar48,74 persen, disusullapangan usaha perdagangan dengan kontribusi sebesar 19,33 persen dan industri pengolahan dengan sharesebesar 7,96 persen. PDRB perkapita adhberlakunya untuk tahun 201 mencapai 56.585.656 rupiah lebih tinggi apabila dibandingkan dengan tahun2013yang tercatat sebesar 49.226.268 rupiah.
Berdasarkan harga konstan, pada tahun 2014 kontribusi PDRB kecamatan Cepu terhadap total Kabupaten Blora adalah sebesar 27,99 persen, atau senilai 3.421.862,54 juta rupiah, dan tumbuh sebesar6,00 persen.Secara lapangan usaha pertumbuhan tertinggi adalah lapangan usahaindustri pengolahan yang tercatat sebesar12,32 persen, diikuti lapangan usaha informasi komunikasi yang tumbuh sebesar 12,17 persen.
Adh konstan persentase distribusi PDRB Kecamatan Cepu tertinggi adalah lapangan usaha pertambangan penggalian yang tercatat sebesar 47,59 persen, lapangan usaha perdagangan sebesar21,12 persen dan industri pengolahan sebesar7,40 persen. Sedangkan PDRB perkapita adh konstan tercatat sebesar 46.736.860 rupiah lebih besar
BAB IV : Ulasan Singkat
apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 44.736.860 rupiah, dimana ini merupakan angka PDRB perkapita kecamatan terbesar di tingkat kabupaten.
Besarnya level PDRB Kecamatan Cepu karena adanya perusahaan pertambangan yaitu PT Pertamina EP yang bergerak di bidang pertambangan minyak bumi. Sumbangan kegiatan pertambangan terhadap PDRB Kecamatan Cepu sangatlah besar,sehingga jika produksi sub sektor ini mengalami kenaikan secara signifikan maka besaran PDRB juga akan mengalami kenaikan dan demikian juga sebaliknya.
Tabel 4.27 Perbandingan PDRB dengan Migas dan Tanpa MigasDi Kecamatan Cepu Tahun 2012-2014
INDIKATOR 2012 2013 2014
(1) (2) (3) (4)
DGN MIGAS
PDRB Adhb (juta rp) 3.314.291,46 3.591.967,00 4.142.947,09 PDRB Adhk (juta rp) 3.019.830,41 3.228.199,56 3.421.862,54 Kontribusi Thd adhb Kab (%) 26,98 26,52 27,52
Laju Pertumbuhan (%) 5,68 6,90 6,00
TANPA MIGAS
PDRB Adhb (juta rp) 1.668.480,68 1.804.557,17 2.094.543,46 PDRB Adhk (juta rp) 1.506.274,96 1.608.711,03 1.734.878,07 Kontribusi Thd adhb Kab (%) 15,68 15,35 16,10
Laju Pertumbuhan (%) 6,08 6,80 7,84
SELISIH
PDRB Adhb (juta rp) 1.645.810,78 1.787.409,83 2.048.403,63 PDRB Adhk (juta rp) 1.513.555,45 1.619.488,53 1.686.984,47
BAB IV : Ulasan Singkat
Dari tabel diatas terlihat nilai PDRB dengan migas lebih besar dibandingkan tanpa migas. Sedangkan jika dilihat laju pertumbuhannya, PDRB dengan migas cenderung fluktuatif sejalan dengan pertumbuhan PDRB sub sektor minyak dan gas. Pada PDRB tanpa migas laju pertumbuhannya menunjukkan kecenderungan terus meningkat.
6. Kecamatan Sambong
Pada tahun 2014 PDRB Kecamatan Sambong adh berlakumempunyai kontribusi terhadap PDRB Kabupaten sebesar 1,77 persen dengan nilai PDRB sebesar 266.567,32 juta rupiah denganpertumbuhan ekonomi sebesar 6,42 persen,sedangkan angka PDRB perkapita tercatat sebesar 10.518.381 rupiah, relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan angka rata-rata kabupaten. Struktur perekonomian di Kecamatan Sambong lebih banyak tergantung pada lapangan usaha pertanian yang memberikan kontribusi sebesar49,31 persen sehingga kondisi kemajuan perekonomian secara umum sangat dipengaruhi oleh produksi dari komoditi pertanian.Urutan berikutnya yang memberikan sumbangan besar terhadap total PDRB Kecamatan Sambong adalah lapangan usaha perdagangan yang tercatat sebesar 10,09 persen dan lapangan usaha indstri pengolahan yang tercatat sebesar 9,03 persen.
Sedangkan menurut harga konstan maka besarnya PDRB Kecamatan Sambong tahun 2014 adalah sebesar 209.690,55 juta rupiah dengan laju pertumbuhan PDRB sebesar 1,08 persen. Secara lapangan usahal pertumbuhan tertinggi adalah lapangan usaha industri pengolahanyang mencapai 13,60 persen, diikutilapangan usaha jasa pendidikan yang tercatat sebesar13,28 persen dan lapangan usaha informasi komunikasi sebesar 12,03 persen.
BAB IV : Ulasan Singkat
Untuk persentase distribusi PDRB Kecamatan Sambong tertinggi adalah lapangan usaha pertanian yang tercatat sebesar 45,89 persen, lapangan usaha perdagangan sebesar 11,50 persen dan lapangan usaha industri pengolahan, yakni sebesar 9,27 persen, sedangkan persentase distribusi terendah adalah lapangan usaha 0,03 persen.
7. Kecamatan Jiken
Pertumbuhan PDRB Kecamatan Jiken adhberlaku pada tahun 2014 tumbuh sebesar 8,38 persen,dari 286.969,05 juta rupiah di tahun 2013 menjadi 311.009,24 juta rupiah di tahun 2014. Dengan PDRB perkapita tercatat sebesar 8.099.093 rupiah. Perekonomian Kecamatan Jiken seperti daerah lainnya masih tergantung pada lapangan usaha pertanian dengan distribusi persentase sebesar 43,03 persen, diikuti lapangan usaha perdagangan yang tercatat sebesar 11,87 dan lapangan usaha industri perngolahan yang tercatat sebesar 8,18 persen. Dengan demikian pengaruh produktivitas di sektor pertanian akan berperanan terhadap pertumbuhan perekonomian di Kecamatan Jiken. Persentase distribusi terendah adalah lapangan usaha pengadaan air yang hanya sebesar 0,01 persen.
Sedangkan PDRB Kecamatan Jiken adhkonstanpada tahun 2014 besarnya adalah 249.656,61 juta rupiah, tumbuh sebesar 2,45 persen, apabila dibandingkan dengan tahun 2013 yang tercatat sebesar 243.686,43 juta rupiah.Pertumbuhan sektoral tertinggiadalahlapangan usaha industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan sebesar 14,78 persen diikuti lapangan usaha jasa pendidikan yang tumbuh sebesar 12,84 persen. Tiga sektor yang berpengaruh dalam menggerakkan perekonomianKecamatan Jiken adalah lapangan usaha pertanian, lapangan usaha perdagangan dan lapangan usaha industri pengolahan.
BAB IV : Ulasan Singkat
Persentaselapangan usaha pertanian adalah sebesar 40,71 persen, perdagangan sebesar 12,84 persen dan industri pengolahan sebesar 8,26, sedangkan yang terendah adalah lapangan usahapengadaan air yaitu sebesar 0,01 persen. Kontribusi PDRB adhkonstanKecamatan Jiken terhadap PDRB Kabupaten adalah sebesar 2,04 persen.
8. Kecamatan Bogorejo
PDRB Kecamatan Bogorejoadhberlakutahun 2014 mencapai 245.562,80 juta rupiah atau 1,63 persen terhadap total PDRB kabupaten dan merupakan kontribusi terkecil dibandingkan kecamatan lainnya.Pertumbuhan PDRB adh berlaku tahun 2014 tercatat sebesar 7,14 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 10,45 persen. Sebagai wilayah pertanian maka distribusi tertinggi dicapai oleh lapangan usaha pertanian yang mencapai 39,69 persen, disusul lapangan usaha perdagangan 18,19 persen sedangkan yang terendah adalah lapangan usaha pengadaan air yakni sebesar 0,02 persen. PDRB perkapita pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 6,75 persen yang dari9.615.435 rupiah ditahun 2013 menjadi 10.264.501 rupiahdi tahun 2014.
Pertumbuhan PDRB adhkonstanKecamatan Bogorejo tahun 2014 menunjukkan adanya kenaikan sebesar 1,71 persen, dari senilai 194.505,57 juta rupiah di tahun 2013 menjadi 197.825,25 juta rupiah di tahun 2014, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh sebesar 15,73 persen.Dari distribusi lapangan usaha memperlihatkan bahwa lapangan usaha pertanian menempati urutan tertinggi dengan kontribusi yaitu 37,84 persen disusul lapangan usaha perdagangan sebesar 19,58 persen, sedangkan yang terkecil adalah lapangan usaha pengadaan air yaitu 0,02 persen.
BAB IV : Ulasan Singkat
9. Kecamatan Jepon
Kecamatan Jepon adalah salah satu kecamatan yang terletak dekat dengan pusat pemerintahan kabupaten, sehingga merupakan daerah penyangga ibukota Kabupaten.Kontribusi PDRB Kecamatan Jepon adh berlaku terhadap PDRB Kabupatentercatat sebesar 5,28 persen dengan nilai tambah bruto sebesar 794.519,95 juta rupiah.
Seperti kecamatan-kecamatan lainnya,sharelapangan usaha pertanian terhadap PDRB adhberlaku masih tinggi yaitu mencapai 33,15 persen, disusul lapangan usaha perdagangan yang mencapai 15,98 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 16,98 persen. Sedangkan pertumbuhan PDRB Kecamatan Jepon adhberlaku tahun 2014 tercatat sebesar 11,59 persen, danbesarnya PDRB perkapita adh berlaku adalah sebesar 13.110.349 rupiah.
Adhkonstan, PDRB Kecamatan Jepon pada tahun 2014tumbuh sebesar 5,23 persen, dari 606.223,11 juta di tahun 2013 menjadi 637.940,28 juta rupiah di tahun 2014. Andil terhadap total PDRB kabupaten sebesar 5,22 persen. Struktur perekonomian memperlihatkan bahwa lapangan usaha pertanian memiliki persentase distribusi terbesar yakni sebesar 31,25 persen, kemudian lapangan usaha perdagangan sebesar 17,69 persen, dandistribusi terkecil dari lapangan usaha pengadaan air yaitu sebesar 0,03 persen.
10. Kecamatan Blora
Kecamatan Blora sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Blora sudah barang tentu merupakan kecamatan yang maju dan dinamis dalam pengembangan dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai pusat pemerintahan tentunya semua sarana prasarana baik pemerintahan, pendidikan maupun ekonomi cukup tersedian, sehingga tidak
BAB IV : Ulasan Singkat
mengherankan kalau nilai tambah kecamatan tersebut cukup tinggi.
PDRB Kecamatan Blora adhberlaku tahun 2014 memberikan andil terhadap PDRB kabupaten sebesar 17,00 persen dan tumbuh sebesar 12,78 persen,atau senilai 2.559.053,85 juta rupiah. Persentase lapangan usaha terhadapPDRB kecamatannya, tertinggi adalah lapangan usaha perdaganganyang tercatat sebesar 22,06 persen, disusul lapangan usaha sebesar 13,37 persen dan selanjutnya lapangan usaha industri pengolahan sebesar 11,94 persen. Sedangkan PDRB perkapitanya mencapai 27.496.603 rupiah.
Adhkonstan tahun 2010, PDRB Kecamatan Blora tahun 2014 mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 7,08 persen dan memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten sebesar 17,27 persen dan merupakan kontribusi terbesar kedua setelahKecamatan Cepu.Angka PDRB Kecamatan Blora adh konstan senilai 2.111.718,37 juta rupiah.
Persentase distribusi tertinggi adalah lapangan usaha perdagangan yang tercatat sebesar 23,52 persen, disusul lapangan usaha jasa pendidikan sebesar 12,25 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 11,26 persen.
11. Kecamatan Banjarejo
Kontribusi PDRB Kecamatan Banjarejo adhberlakutahun 2014 terhadap PDRB kabupaten masih relatif kecil yakni sebesar 3,10 persen atau senilai 466.616,72 juta rupiah.Tahun 2014 PDRB adh berlakunya tumbuh sebesar 8,92 persen, lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 10,99 persen.Dilihat dari pembentukannya, persentase distribusi PDRB Kecamatan Banjarejoadh berlaku didominasi oleh tiga lapangan usaha, tertinggi adalahlapangan usaha pertanian dengan sumbangan mencapai 41,54 persen, disusul
BAB IV : Ulasan Singkat
lapangan usaha perdagangan 15,60 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 8,32 persen, sedangkan yang terendah adalah lapangan usaha pengadaan air yakni sebesar 0,01 persen. Sedangkan PDRB perkapitanya pada tahun 2014 menunjukkan adanya kenaikan sebesar 8,41 persen, yang semula di tahun 2013 sebesar 7.417.626 menjadi 8.041.580 di tahun 2014.
Adhkonstan tahun 2010, pertumbuhan PDRB Kecamatan Banjarejo tercatat sebesar 2,91 persen, dimana pada tahun 2013nilai tambah brutonya sebesar428.386,45 juta rupiah menjadi 466.616,72 juta rupiah, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh sebesar 14,75 persen dan terkecil adalah lapangan usaha administrasi pemerintahan sebesar 1,75 persen.
Seiring dengan distribusi harga berlakunya, persentase distribusi memperlihatkan lapangan usaha pertanian menempati urutan tertinggi yaitu 38,81 persen disusul lapangan usaha perdagangan sebesar 16,92 persen, sedangkan yang terkecil adalah lapangan usaha pengadaan air yang tercatat sebesar 0,01 persen.
12. Kecamatan Tunjungan
Sebagai penyangga ibukota kabupaten, perkembangan di Kecamatan Tunjungan cukup dinamis. Sarana pendidikan, kesehatan maupun ekonomi berkembang cukup baik. PDRB Kecamatan Tunjungan adhberlaku tahun 2014 memberikan andil terhadap PDRB Kabupaten sebesar 4,73 persen senilai 712.312,57 juta rupiah rupiah dan mengalami kenaikan sebesar 12,44 persen. Ada tiga lapangan usaha di kecamatan ini, yaitu lapangan usaha pertanian, industri pengolahan dan jasa pendidikan.Persentase distribusi tertinggi adalah lapangan usaha pertanian sebesar 28,80 persen disusul kemudian lapangan usaha
BAB IV : Ulasan Singkat
industri pengolahan sebesar25,10 persen dan lapangan usaha jasa pendidikan. Produktivitas penduduk juga mengalami kenaikan terbukti PDRB perkapita yang tumbuh sebesar 11,66 persen, yakni yang semula
industri pengolahan sebesar25,10 persen dan lapangan usaha jasa pendidikan. Produktivitas penduduk juga mengalami kenaikan terbukti PDRB perkapita yang tumbuh sebesar 11,66 persen, yakni yang semula