BAB III DERAJAT KESEHATAN
B. Umur Harapan Hidup (UHH)
Komponen lamanya hidup (Longevity) lebih umum disebut sebagai indikator yang mewakili pembangunan kesehatan. Komponen lamanya hidup diukur dengan indikator harapan hidup pada saat lahir (life expectacy at birth). Antara tahun 2006-2011 perkembangan angka harapan hidup Kalimantan Selatan menunjukkan indikasi perkembangan yang sangat baik. Umur Harapan Hidup dapat didefinisikan sebagai
rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x pada tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Umur Harapan Hidup waktu lahir adalah rata-rata hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada tahun tertentu.
Indikator ini digunakan untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.
Dari data Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan angka berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, dapat dijelaskan bahwa
Umur Harapan Hidup adalah sebesar 68.4 targetnya sebesar 65.16.tahun.
Angka harapan hidup pada waktu lahir meningkat dari 62,1 tahun 2009 menjadi 63,45 tahun 2009 dan tahun 2010 menjadi 68,4 (tabel.5) meskipun perkembangan tersebut menggambarkan kondisi yang sangat baik namun angka harapan hidup Kalimantan Selatan masih berada di bawah angka rata-rata nasional.
Grafik 3.3
Angka Harapan Hidup (Tahun) Provinsi Kalimantan Selatan 2011
Sumber : BPS Prov. Kalimantan Selatan
Meningkatnya Angka Harapan Hidup (UHH) masyarakat Kalimantan Selatan disatu sisi bedampak positif bagi indikator meningkatnya kesejahteraan, namun disisi lain juga dapat menimbulkan masalah bagi upaya kesehatan pada usia lanjut. Sehingga perlu adanya antisipasi terhadap upaya pelayanan bagi kelompok tertentu.
Data BPS menunjukkan asumsi adanya kecenderungan AKB menurun.
Serta perubahan susunan umur penduduk, maka angka harapan hidup penduduk kalimantan selatan naik dari 66,9 tahun (2005-2010), 69,2 tahun (2010-2015), 70,9 tahun (2015-2020) dan 72,1 tahun (2020-2025).
C. Angka Kesakitan/ Morbidity
Banyaknya orang sakit menggambarkan kondisi kesehatan suatu wilayah. Indikator yang biasa digunakan antara lain adalah insiden (Insiden Rate = IR) dan atau Prevalensi (Prevalensi Rate = PR), keduanya
menunjukkan kejadian penyakit tertentu saja. Bersama dengan prevalensi dan insiden, digunakan juga indikator tingkat kematian suatu penyakit (Case Fatality Rate = CFR).
1. Penyakit Menular Langsung.
Penyakit Menular Langsung adalah penyakit infeksi yang dapat ditularkan dari penderita ke orang lain tanpa perantara. Penyakit ini pada umumnya masih merupakan masalah kesehatan masyarakat mengingat kasusnya yang masih banyak ditemui di masyarakat. Berikut ini adalah beberapa penyakit munular langsung yang masih menjadi masalah kesehatan di Provinsi Kalimantan Selatan.
a) Tuberkulosis paru (TB Paru)
Penyakit Tuberkulosis Paru masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang termasuk pada golongan penyebab kematian besar di Indonesia.
Penderita Tuberculosis adalah penderita yang menurut pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan sediaan dahaknya) dinyatakan positif TB Paru. Pengukuran ini digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit TB-Paru BTA (+) sehingga Prevalensi Tuberculosis adalah sebesar 210 per 100.000 penduduk atau 106.67% dari target 225 per 100.000 penduduk pada
tahun 2011. Berdasarkan angka prevalensi TB ini, setiap tahunnya diperkirakan terdapat lebih dari 7.600 penderita TB BTA Positif dan kematian lebih dari 1.000 orang.
Meskipun begitu selama tahun 2011 baru ditemukan 3.328 penderita TB BTA Positif. Artinya hampir 60% penderita TB BTA positif di Kalimantan Selatan masih belum ditemukan. Berikut sebaran perkiraan jumlah penderita TB paru BTA positif di Kalimantan Selatan.
Tabel 3.1
Sebaran Perkiraan Jumlah Penderita TB Paru BTA
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
Perkiraan Suspek TB Baru BTA+
CDR Penderita Baru Ditemukan Ditemukan
TB BTA+
Tanah Laut 296,333 622 1,627 186 29.9
Kotabaru 290,142 609 1,968 363 59.6
Banjar 506,839 1,064 3,603 450 42.3
Barito Kuala 276,147 580 3,860 365 62.9
Tapin 167,877 353 893 113 32.1
Hulu Sungai Selatan 212,485 446 1,368 185 41.5
Hulu Sungai Tengah 243,460 511 1,233 182 35.6
Hulu Sungai Utara 209,246 439 2,240 233 53.0
Tabalong 218,620 459 1,117 155 33.8
Tanah Bumbu 267,929 563 1,215 147 26.1
Balangan 112,430 236 416 55 23.3
Banjarmasin 625,481 1,314 7,035 697 53.1
Banjarbaru 199,627 419 2,045 197 47.0
KALIMANTAN SELATAN 3,626,616 7,615 28,620 3,328 44
Upaya penanggulangan TB dapat dilihat dari Case Detection Rate (CDR) dan Success Rate (RT). CDR menunjukkan kecenderungan yang meningkat yaitu 78,42% (2000), 42,5% (2001), 54,45% (2002), 54,2% (2003), 81,94% (2004), 71,28% (2005, 52,2%
(2006), 44% (2010), dan 43,7% (tahun 2011). Sedangkan untuk % Kesembuhan (Success Rate) pada Kalimantan Selatan Tahun 2011 sebesar 94,36%.
b) Diare
Penyakit diare di Kalimantan Selatan masih termasuk dalam salah satu golongan penykit terbesar yang angka kejadiannya relatif cukup tinggi keadaan ini di dukung oleh faktor lingkungan, terutama kondisi sanitasi dasar yang masih tidak baik, misalnya penggunaan air untuk keperluan sehari-hari yang tidak memenuhi syarat, jamban keluarga yang masih kurang dan keberadaannya kurang memenuhi syarat, serta kondisi sanitasi perumahan yang masih kurang dan tidak higienis.
Di Kalimantan Selatan masih banyak ditemui kasus diare. Sebagai perbandingan kasus diare pada tahun 2008 sebanyak 54.316 kasus ,2009 sebanyak 72.020 kasus, tahun 2010 sebanyak 52.908 kasus, serta tahun 2011 sebanyak 66.765 kasus pada Grafik 3.4.
Grafik. 3.4
Sumber : Profil Kesehatan Prov. Kal-Sel
c) Penyakit menular seksual (PMS)
Penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS merupakan masalah kesehatan masyarakat. Saat ini di dunia di masih ditemukan penderita PMS meliputi penyakit sifilis, herpes genetalis, gonorhoe dan HIV/AIDS.
Provinsi Kalimantan Selatan juga sudh terancam akan penyebaran atas HIV/AIDS. Berdasarkan hasil laporan kumulatif kasus HIV/AIDS di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2010 sebanyak 144 orang menderita HIV, 65 orang menderita AIDS, sedangkan pada tahun 2011 jumlah kumulatif sebanyak 229 orang menderita HIV, 66 orang menderita AIDS.
Grafik.3.5
Jumlah penderita HIV/AIDS Provinsi Kalimantan Selatan
39%
11%
50%
Jumlah Kasus HIV
Jumlah Kasus AIDS Jumlah Kumulatif HIV dan AIDS
Sumber : KPA DInas Kesehatan Prov. Kalsel 2011
2. Penyakit bersumber binatang a) Malaria
Malaria merupakan masalah kesehatan Nasional termasuk di Provinsi Kalimantan Selatan karena mengakibatkan dampak yang luas dan berpeluang menjadi penyakit emerging atau re-emerging.
Penyakit malaria di beberapa daerah masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan beberapa diantaranya menimbulkan KLB khususnya di daerah yang mempunyai kawasan hutan. Penderita sebagian besar terinfeksi karena pekerjaan mereka berada di sekitar hutan seperti pendulang emas, pencari hasil hutan, pekerja tambang atau tempat tinggal mereka di tepi hutan. Disamping itu penggunaan lahan sebagai akibat untuk investasi dan peningkatan sosial ekonomi
di hutan, seperti pertambangan, hutan tanaman industri dan pertanian menjadi bentuk baru dari habitat vektor malaria selain habitat tersebut diatas.
Grafik. 3.6
Sumber : Riskesdas 2010
Dari gambar diatas kondisi Kalimantan Selatan Masih berada di bawah Angka Nasional Indonesia. Dimasa mendatang kemungkinan masih dihadapkan oleh tingginya kasus bahkan terjadinya peningkatan kasus malaria. Oleh karena itu kajian epidemiologis terhadap vektor pembawa penyakit harus selalu dilaksanakan sepeeti sistem kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa (KLB).
b) Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit dbd perlu diwaspadai sejalan dengan semakin meningkatnya mobilitas penduduk karena lancarnya transportasi. Selain itu kejadian
penyakit ini juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan prilaku masyarakat terutama kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan serta perubahan iklim.
Selama beberapa tahun ini semua provinsi di Indonesia melaporkan adanya penemuan kasus DBD. Terdapat
Insidens penyakitr DBD di kalimantan Selatan mulai menunjukkan penurunan, meskipun demikian penyakit ini perlu terus diwaspadai mengingat angka kesakitan DBD masih terus naik turun dan daerah yang terjangkit semakin luas. Pada tahun 2011 IR/1000 penduduk adalah sebesar 11,03.
c) Filaria.
Upaya peningkatan pemberantasan penyakit filaria (kaki gajah) dilakukan melalui program Eliminasi Kaki Gajah (ELKAGA) sampai tahun 2020 terus dilaksanakan karena penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program ELKAGA dicanangkan pada tahun 2003 di kecamatan Klumpang Utara Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan berada di posisi 16 dari 33 provinsi di Indonesia dengan jumlah penderita kronis sebanyak 144 orang tersebar di semua kabupaten/kota. Hasil suervei yang dilaksanakan pada tahun 2005 di tujuh Kabupaten yaitu Balangan, HST, HSU Kotabaru, Tabalong, Tapin dan Tanah Bumbu angka mikro filaria masih tinggi yaitu antara 1,11% sampai 9,24% (Micro Filaria Rate tinggi bila angkanya lebih besar sama dengan 1 %). Pada tahun 2006, survei darah jari sebanyak 1.944 slide yang dilaksanakan di
Kabupaten Tanah Laut, Barito Kuala, dan Tapin menghasilkan 1 slide positif (MF Rate o,051%). Pada tahun 2006 pelaksanaan pengobatan massal dengan implementasi Kabupaten dilakukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara sedangkan Kabupaten Kotabaru pada tahun 2010.
3. Penyakit Tidak Menular
DI Provinsi Kalimantan Selatan, dalam 1 tahun terakhir prevalensi penyakit persendian pada penduduk usia 15 tahun ke atas 35,8%
(rentang 16,6-50%), prevalensi hipertensi pada penduduk 18 tahun ke atas berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 39,6%
(rentang: 34,9-48,2%). Kasus hipertensi lebih banyak terdeteksi dengan pengukuran dan minum obat dibandingkan yang terdeteksi oleh tenaga kesehatan.
Prevalensi stroke dalam kurun waktu 12 bulan terakhir di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 9,7 per seribu penduduk (rentang 5,2-18,5 per seribu penduduk). Prevalensi penyakit persendian, hipertensi maupun stroke meningkat sesuai peningkatan umur, cenderung lebih tinggi pada wanita, cenderung lebih tinggi pada pendidikan yang lebih rendah, lebih tinggi di perdesaan. Penyakit persendian paling tinggi pada responden dengan pekerjaan utama sebagai petani/buruh/nelayan, sedangkan hipertensi dan stroke lebih tinggi pada yang tidak bekerja.
Hipertensi cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan status ekonomi, sedangkan penyakit persendian dan stroke tidak banyak berbeda di antara tingkat pengeluaran per kapita.
Dalam 12 bulan terakhir prevalensi penyakit Asma pada penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 5,4% (rentang 1,8-9,2%), prevalensi penyakit jantung pada penduduk sebesar 8,1% (rentang 1,7-12,7%), prevalensi diabetes mellitus pada penduduk sebesar 1% (rentang 0,3-1,7%), dan prevalensi penyakit tumor/kanker 3,9 per seribu penduduk ( rentang: 1,8-8,8 per seribu penduduk).
Prevalensi penyakit asma, jantung, diabetes dan kanker/tumor meningkat dengan bertambahnya umur, untuk diabetes dan kanker/tumor menurun kembali pada umur 75 tahun ke atas. Penyakit jantung sedikit lebih tinggi pada perempuan, sedangkan penyakit asma, diabetes dan tumor tidak banyak berbeda pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi penyakit asma dan jantung meningkat pada pendidikan yang lebih rendah, lebih tinggi di perdesaan, dan cenderung lebih tinggi pada status ekonomi yang lebih rendah. Sebaliknya penyakit diabetes dan tumor lebih tinggi di perkotaan, dan cenderung meningkat pada status ekonomi yang lebih tinggi.
Prevalensi penyakit keturunan pada penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan paling tinggi adalah dermatitis (113,0 per seribu penduduk), diikuti rhinitis (27,7 per seribu penduduk) dan glaukoma (11,0 per seribu penduduk), sedangkan penyakit keturunan lain seperti gangguan jiwa berat, buta warna, bibir sumbing, talasemia dan hemophilia antara 0,7-5,1 per seribu penduduk.
Prevalensi glaukoma pada penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan 11 per seribu penduduk (rentang antara 1,0-69,0 per seribu penduduk).
Khususnya di Kabupaten Banjar, angka prevalensi glaukoma diperoleh sangat tinggi yaitu 69,0 per seribu penduduk.
Prevalensi dermatitis pada penduduk di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 11,3 %, (rentang 1,2-22,5%) dan prevalensi rhinitis pada penduduk sebesar 2,8%, (rentang 0,3- 8,4%).
Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Utara merupakan kabupaten dengan beberapa jenis penyakit turunan yang paling tinggi. Di Kabupaten Banjar paling tinggi untuk gangguan jiwa berat, glaukoma, bibir sumbing, dermatitis dan rhinitis, sedangkan Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan kabupaten yang tertinggi untuk penyakit turunan buta warna, talasemia dan hemofilia.
D. Gizi
Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Secara umum kondisi gizi masyarakat telah mencapai banyak kemajuan, tetapi masih banyaknya masalah gizi diantaranya Kurang Gizi yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, yang ditandai denga masih tingginya prevalensi balita gizi kurang yaitu sebesar 28% (Susenas, 2005), angka BBLR diperkirakan sekitar 14-17% (Depkes, 2007). Masalah Kurang Vitamin A juga masih perlu diwaspadai karena berdasarkan data 50% balita masih menunjukkan kadar vitamin A dalam serum < 20 mcg/dl.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2007 prevalensi gizi buruk dan gizi kurang sebesar 26,6% (rentang 17-35,6%), prrevalensi masalah pendek sebesar 41,8% (rentang 27,8 – 50,4%) dan prevalensi gizi sangat kurus pada balita masih cukup tinggi yaitu sebesar 7,8 % (rentang 3,7 – 17,0 %). Rata-rata konsumsi kalori di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 1532,2 kkal dan protein 58,7 gram. Kualitas konsumsi garam cukup iodium pada rumah tangga adalah 76,2%. Presentase penimbangan 6 bulan terakhir umur 6 – 59 bulan sebesar 38,5%.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Tahun 2010 Presentase balita gizi kurang dan buruk terjadi penurunan sebesar 23%, Provinsi Kalimantan Selatan berada pada peta berwarna merah > 20%
(termasuk dalam 15 provinsi terendah) dan balita dengan prevalensi masalah pendek sebesar 39,4%. Walaupun terjadi penurunan dibanding tahun 2007 tapi presentase balita gizi kurang dan buruk masih sangat tinggi diatas rata-rata nasional.
1. Kasus Gizi Buruk
Dampak Krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997 dan terus diikuti krisi multi dimensi telah mempengaruhi kemampuan ekonomi masyarakat terutama dalam hal daya beli. Kemampuan daya beli ini berkorelasi terhadap persediaan pangan di rumah tangga salah satunya persediaan dan ketahanan pangan. Persediaan dan ketahanan pangan menyebabkan konsumsi energi dan protein berkurang sehingga status gizi dan masyarakat menurun. Pada tahun 2000 berdasarkan indikator berat badan menurut umur telah ditemukan sekitar 1,3 balita di Indonesia menderita
gizi buruk, sedangkan sekitar 10% dari jumlah tersebut menderita gizi buruk tingkat berat seperti marasmus, kwashiorkor atau bentuk kombinasi keduanya.
Penderita gizi buruk yang dilaporkan oleh kabupaten / kota pada tahun 2011 dapat dilihat pada tabel berikut :
Grafik 3.7
Gizi Buruk Berdasarkan Diagnosa
Sumber : Bidang Yankes Dinkes Prov. Kalsel
2. Cakupan Kapsul Vitamin A
Pemberian kapsul vitamin A 100.000 IU tiap 6 bulan kepada bayi (umur 6 bulan – 11 Bulan) dan kapsul Vitamin A 200.000 IU kepada Balita (umur 1- 5 Tahun) telah terbukti merupakan upaya efektif untuk mencegah dan menanggulangi masalah kekurangan viatmin A.
Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi KVA pada masyarakat apabila cakupannya tinggi (minimal 80%). Selain itu,
pemberian kapsul dosis tinggi juga telah terbukti aman, apabila diberikan menurut cara yang dianjurkan. Cakupan pemberian kapsul vitamin A untuk bayi dan anak balita yang telah dilaporkan sebagaimana dibawah ini :
Grafik. 3.8.
89,1495,90 92,15 94,73 85,5895,22 94,67 97,48
95,51 96,61 86,61
Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita 2010 (target 75%)
Sumber : Dinkes Prov. Kalsel
3. Balita Bawah Garis Merah (BGM)
Kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di posyandu menggunakan media Kartu Menuju Sehat (KMS). Tujuan dari penimbangan dapat dipantau perkembangan balita pada setiap bulannya, dengan menggunakan KMS dapat dipantau jumlah balita yang berada di Bawah Garis Merah (BGM). Jumlah penderita BGM dapat dilihat pada gambar dibawah :
Grafik. 3.9.
Sumber : Dinkes Prov. Kalsel
BAB IV
SUMBER DAYA KESEHATAN
Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan seperti terlihat pada uraian sebagaimana berikut :
A. Sarana Kesehatan
Pada bagian ini diuraikan tentang sarana kesehatan diantaranya puskesmas, Rumah sakit, sarana upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM).
1. Puskesmas
Jumlah Puskesmas dari tahun ke tahun terus meningkat di Kalimantan Selatan. Meningkatnya jumlah puskesmas ini diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakt terhadap pelayanan kesehatan.
Berdasarkan konsep wilayah setiap 30.000 penduduk maka harus tersedia 1 buah puskesmas. Di Kalimantan Selatan harus tersedia sebanyak 115 buah puskesmas. Jumlah puskesmas di Kalimantan Selatan yang ada pada tahun 2010 adalah sebanyak 220 puskesmas sedangkan pada tahun 2011 sebanyak 225. Jumlah puskesmas yang sudah memenuhi berdasarkan jumlah ini perlu mendapatkan kajian lebih mendalam lagi berkenaan dengan luasnya wilyayah Kalimantan Selatan dan penduduknya yang menyebar sampai pada pelosok-pelosok daerah yang sulit dijangkau. Untuk itulah puskesmas pembantu dan pengembangan
desa siaga serta pos kesehatan desa (POSKESDES) akan menjadi hal yanng sangat penting dalam upaya pelayanan kesehatan di Kalimantan Selatan.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan Kabupaten/Kota yang berada di wilayah kecamatan yang melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan kesehatan.
Pada tahun 2008 jumlah puskesmas di seluruh Kalimantan Selatan sebanyak 210 buah dan pada tahun 2009 sebanyak 211 buah, sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 220 buah dan pada tahun 2011 sebanyak 225 buah. Jumlah puskesmas pembantu yang pada tahun 2011 sebanyak 580 buah. Distribusi Puskesmas, Puskesmas Pembantu seperti pada gambar berikut :
Grafik. 4.1
Jumlah Sebaran Sarana Pelayanan Kesehatan
Sumber : Bidang Yankes Dinkes Prov. Kalsel 0
Jumlah 225 580 173 51 35
Berdasarkan rasio puskesmas terhadap jumlah penduduk sebagian besar sudah memenuhi 1 puskesmas untuk melayani penduduk sebanyak 30.000.
2. Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah sebagai salah satu sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
Untuk memberikan pelayanan rujukan, di Kalimantan Selatan terdapat 10 RSUD kelas C dan 2 RSUD kelas D yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten/Kota. Selain itu juga terdapat 2 RSUD (kelas B dan Kelas B pendidikan) dan 1 Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kelas A yang dikelola oleh pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Di samping RSUD, di Kalimantan Selatan juga terdapat 3 RS yang dikelola TNI, 1 RS dikelola Polri dan 11 RS dikelola oleh swasta.
RSUD Ulin Banjarmasin merupakan satu-satunya rumah sakit pendidikan di Kalimantan Selatan, dan sekarang rumah sakit ini sudah resmi sebagai teaching hospital.
Kapasitas rumah sakit di Kalimantan Selatan saat ini masih belum sebanding dengan jumlah penduduk yang dilayani. Jumlah tempat tidur di seluruh rumah sakit di Kalimantan Selatan mencapai 2.428 tempat tidur, sehingga satu tempat tidur rumah sakit rata-rata digunakan maksimal untuk melayani 1.000 orang. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 3,6 juta orang, Kalimantan Selatan masih kekurangan sekitar 1.200 tempat tidur rumah sakit.
Tabel.4.1
Sumber : Kepegawaian dan Umum Dinkes Prov. Kalsel
3. Upaya Kesehatan Bersumber daya Masyarakat (UKBM)
Dalam upaya meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) diantaranya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), Polindes (Pondok Bersalin Desa) dan Desa Siaga. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling diikenal oleh masyarakat. Kegiatan posyandu merupakan salah satu UKBM yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan dalam memperoleh kesehatan dasar, tujuan utama untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Untuk memantau perkembangannya posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata, yaitu posyandu pratama, posyandu madya, posyandu purnama dan posyandu mandiri. Jumlah posyandu di Kalimantan Selatan sebagaimana dikelompokkan adalah sebagai berikut :
Tabel.4.2.
Data Posyandu di Prov. Kalimantan Selatan Tahun 2011
Sumber : Bidang Promkes dan SDK Prov. Kalsel
B. Tenaga Kesehatan
Gambaran keberadaan tenaga kesehatan di provinsi Kalimantan Selatan sangat penting untuk diketahui. Keberhasilan pembangunan kesehatan disuatu daerah sangat tergantung kepada ketersedian sarana dan prasarana kesehatan yang memadai dan ditunjang dengan SDM yang cukup baik dari segi jumlah, mutu dan penyebarannya.
PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
1 KOTA BANJARMASIN 380 92 231 53 14
2 KOTA BANJARBARU 143 52 62 29 0
3 KAB.BANJAR 489 358 85 34 12
4 TAPIN 211 17 145 45 4
5 HULU SUNGAI SELATAN 287 42 147 80 18
6 HULU SUNGAI TENGAH 395 107 152 129 7
7 BALANGAN 184 71 89 23 1
8 HULU SUNGAI UTARA 219 50 130 37 2
9 TABALONG 272 35 152 77 8
10 TANAH LAUT 273 70 121 67 15
11 TANAH BUMBU 178 31 69 65 13
12 KOTABARU 278 139 91 35 13
13 BARITO KUALA 383 174 161 45 2
TOTAL 3692 1238 1635 719 109
NO KAB/KOTA JUMLAH POSYANDU TINGKATAN POSYANDU
Grafik.4.2
Keadaan Puskesmas Kab/Kota se-Prov. Kalimantan Selatan
Sumber : Profil SDK Promkes Dinkes Prov. Kalsel
Dari data diatas terlihat bahwa Banjarmasin dan kotabaru memiliki puskesmas terbanyak sejumlah 26 buah. Sedangkan untuk Rumah Sakit masing-masing kab/kota memiliki 1 Rumah Sakit umum daerah dan 3 Rumah Sakit Umum pemerintah Provinsi sehingga jumlah Rumah Sakit yang ada di Prov. Kalimantan Selatan sebanyak 15 buah.
1. Tenaga Medis
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.32 Tahun 1996, yang dimaksud dengan tenaga medis adalah meliputi dokter dan dokter gigi.
Berikut gambaran tentang keadaan tenaga dokter di Kab/Kota se-Provinsi Kalimantan Selatan.
0 5 10 15 20 25 30
B.MASIN B.BARU BANJAR TAPIN HSS HST HSU BLG TBL TALA TANBU KTB BTL
puskesmas
Grafik 4.3
Keadaan Tenaga Dokter yang bertugas di Puskesmas Kab/Kota Se-Prov. Kalimantan Selatan Tahun 2011
Sumber : Profil SDK Promkes Dinkes Prov. Kalsel
Pada Grafik tersebut diatas, menunjukkan bahwa dokter umum terbanyak bertugas di kota Banjarmasin sebanyak 79 Orang, menyusul Kab. Tanah Bumbu 31 orang dan Kab. Tanah Laut sebanyak 31 orang.
Sementara dokter gigi terbanyak pada kota Banjarmasin sebanyak 29 orang, sedangkan di Kab. Banjar, HST dan Balangan hanya memiliki 1 orang. Sedangkan untuk dokter spesialis tidak terdapat pada Puskesmas yang menyebar di Provinsi Kalimantan Selatan.
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa dokter gigi merupakan tenaga medis yang jumlahnya sangat sedikit dibanding dengan dokter umum. Secara umum dapat dikatakan bahwa keberadaan dokter gigi di puskesmas kab/kota di Provinsi Kalimantan Selatan sangat kurang dan penyebarannya tidak merata. Kurangnya dokter gigi yang bertugas di kab/kota disebabkan oleh kurangnya pengangkatan dokter gigi, meskipun formasi pengangkatan dokter gigi telah dibuka di Kab/Kota.
0
Adapun sebagian dokter gigi yang bertugas disetiap puskesmas adalah dokter gigi PTT.
Sedangkan untuk tenaga dokter yang bertugas di Rumah Sakit Kab/Kota se-Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2011 dapat dilihat pada grafik berikut.
Grafik.4.4
Keadaan Tenaga Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Kab/Kota Se-Prov. Kalimantan Selatan Tahun 2011
Sumber : Profil SDK Bidang Promkes Dinas Kesehatan Prov. Kalsel
Dari data grafik tersebut diatas menunjukkan bahwa dokter umum, dokter gigi dan Dokter spesialis terbanyak bertugas di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin, kemudian yang terkecil adalah rumah sakit Balangan.
Keberadaan Rumah Sakit Umum Ulin Banjarmasin sebagai rumah sakit rujukan di Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu alas an banyaknya tenaga medis yang ditempatkan di Rumah Sakit tersebut, disamping lokasinya berada di Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.
10 30 20 50 40 60
ULIN ANSYARI SALEH SAMBANG LIHUM BANJARBARU RATU ZALEHA DATU SANGGUL PAMBALAH BATUNG HASAN BASRY DAMANHURI BALANGAN H.BADARUDIN BOEYASIN AMANAH HUSADA KOTA BARU ABDUL AZIS
34 25
2. Tenaga Keperawatan
Tenaga keperawatan adalah tenaga professional dibidang keperawatan kesehatan yang terlibat dalam kegiatan perawatan.
Perawat bertanggung jawab untuk perawatan, perlindungan dan pemulihan orang yang luka atau pasien penderita penyakit akut atau
Perawat bertanggung jawab untuk perawatan, perlindungan dan pemulihan orang yang luka atau pasien penderita penyakit akut atau