• Tidak ada hasil yang ditemukan

E- mail : [email protected] Abstract

2. Perilaku Seksual Remaja

2.1. Umur Pertama Kali Berpacaran

Sumber : BKKBN:Puslitbang KB, KR. 2013

Berdasarkan tabel terlihat pendidikan responden lebih banyak tamat SLTA sebesar (43,4 %). Bila melihat kondisi ini dapat dikatakan responden dalam RPJMN Remaja berpendidikan tinggi sebab mereka telah menyelesaikan wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah, meskipun disisi lain masih ada repsonden yang tidak pernah sekolah sebesar (0,7 %). Hal ini tetap memerlukan perhatian penuh mengingat di usia remaja mereka tidak pernah mengeyam pendidikan. Apa karena fasilitas pendidikan yang tidak terjangkau terkait dengan akses atau karena faktor ekonomi yang mengharuskan mereka membantu orang tua mencari nafkah.

disayangkan juga Maka tak heran pada usia-usia tersebut orang tua maupun guru disekolah perlu memberikan arahan tentang pergaulan yang sesuai dengan norma agama, adat dan budaya agar mereka tidak terjerumus pada pergaulan bebas.

Pada sisi lain ada remaja yang memulai berpacaran pada usia 10-14 tahun baik laki-laki maupun perempuan masing-masing (26,7 % dan 31,2 % ), asumsinya usia 10-14 tahun masih berada di bangku SD kelas 5 – kelas 3 SLTP.

Ini patut untuk mendapatkan perhatian baik dari orang tua, guru maupun para tokoh agama, mengingat pada usia tersebut belum pantas mereka mengenal pacaran. Sebab semakin dini mengenal pacaran bisa berdampak pada semakin banyak menikah pada usia muda. Maka tak ada salahnya bila pendidikan tentang seksualitas diberikan sejak dini dan jangan menganggap pendidikan tentang sekualitas merupakan hal tabu yang belum pantas disampaikan pada anak SD dan SLTP. Perlu diingat bila pendidikan seksualitas disampaikan sesuai dengan umurnya, maka besar kemungkinan dalam perjalannnya mereka akan menghindari seks bebas. Hal ini sejalan dengan para peneliti internasional yang telah mempelajari efek dari pendidikan kesehatan reproduksi terhadap sejumlah murid sebagai responden. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa mereka yang menerima pendidikan kespro menjadi lebih bertanggung jawab terhadap perilaku seksual dan mampu menunda memulai hubungan seksual.

Harapannya para remaja memulai pacaran pada usia diatas 20 tahun, namun berdasarkan penelitian baik pada remaja laki-laki maupun perempuan tidak ada yang memulai pacaran pada usia tersebut. Bila banyak remaja yang memulai pacaran pada usia diatas 20 tahun maka akan berkontribusi besar pada program genre (generasi berencana) dan keluarga berencana sebab semakin matang memulai pacaran maka semakin banyak menikah pada usia ideal dan nantinya akan mengurangi jumlah kelahiran selain itu padangan secara medis usia ideal bagai perempuan untuk menikah adalah pada usia diatas 20 tahun sebab pada usia tersebut organ-organ perempuan sudah siap untuk dibuahi sedangkan untuk laki-laki idelanya pada usia 23 tahun membangun rumah tangga. Usia 23 tahun pada laki-laki biasanya mereka sudah menamatkan pendidikan Perguruan Tinggi dan sudah memiliki pendapatan.

2. 2. Perilaku Remaja Dalam Berpacaran

Maksud dari perilaku remaja dalam berpacaran disini yakni kegiatan yang dilakukan remaja bila sedang berpacaran. Maka dari itu perilaku remaja dalam berpacaran sangat patut untuk dilakukan kajian agar nantinya bisa menjadi bahan masukan bagi para orang tua, tenaga pendidikan bahkan tokoh agama serta pemerintah. Sebab perilaku yang dilakukan akan mengarahkan pada pernyataan patut atau tidak patut serta upaya apa harusnya dilakukan agar para remaja tidak melakukan hal-hal yang belum masuk pada kategori patut ataupun tidak patut.

Menurut hasil survei RPJMN Remaja tahun 2013, perilaku remaja dalam berpacaran dapat dilihat pada tabel berikut :

Sumber : BKKBN:Puslitbang KB, KR. 2013

Perilaku remaja dalam berpacaran pada penelitian ini meliputi pegangan tangan, cium bibir dan meraba/merangsang bagian tubuh tertentu. Berdasarkan hasil penelitian terlihat persentase perilaku remaja baik laki-laki maupun perempuan yang penah punya pacar dalam berpacaran melakukan pegangan tangan sebanyak 95 % sudah melakukan aktifitas tersebut, persentase ini diatas angka nasional yang hanya 87 % sementara pada perilaku ciuman bibir sebanyak 63 % responden menjawab telah melakukan lagi-lagi persentase ini jauh melonjak diatas angka nasional yang hanya 28 % terakhir pada kegiatan meraba/merangsang bagian tubuh kembali persentasenya diatas persentase nasional yakni 24 % Sulut dan nasional 8 %.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan secara umum perilkau pacaran remaja di Provinsi Sualwesi Utara diatas angka nasional.

Hal ini mengindikasikan kondisi awas yang patut diwaspadai mengingat perilaku pacaran remaja di Sulut sudah menjurus ke hal-hal yang belum sepatutnya mereka

lakukan. Kalau hal ini dibiarkan maka besar kemungkinan kondisi fatal akan banyak terjadi mulai dari hamil di luar nikah, menikah di usia muda bahkan bisa juga tingkat aborsi akan tinggi. Oleh karena itu para orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat perlu memberikan pemahaman dan mencari strategi pendekatan yang efektif sebagai langkah preventif menyelamatkan generasi muda.

Tak kalah pentingnya adalah bentengi para generasi muda kita dengan nilai-nilai agama yang kuat dari sejak dini agar mereka dapat menghadapi perubahan-perubahan zaman namun tetap mampu menyelaraskan dengan ajaran agamanya.

Sementara disisi lain pemerintah sebagai pelindung masyarakat perlu membuat kebijakan dan program yang mengena bagi mereka, mengingat mereka adalah asset bangsa yang akan mengisi negara ini dengan karya dan inovasi-inovasi.

Program yang mengena bagi remaja melalui PIK R/M harus kembali digalakkan, sebagai wadah bagi generasi muda untuk menimba ilmu dan wawasan tentang pergaulan aman, bebas dari triad KRR dan terpenting menjadi generasi berencana. Mengutip pendapat Prof. Hasbullah Trabani, beliau menyatakan bahwa menanam atau investasi pada manusia sangatlah berbeda dan harus ada perlakuan special, kalau ingin hasil untuk setahun tanamlah sayuran, bila ingin panen sepuluh tahun tanamlah pohon buah namun bila ingin panen 100 tahun ++

tanamlah manusia. Hal ini sangatlah jelas bila mengajarkan pengetahuan, sikap serta perilaku yang baik akan terus menunai kemanfaatannya.

Pertanyaan sekarang apakah ada kolerasi antara kemajuan teknologi dengan perilaku seksual remaja saat ini, mengingat semakin meluasnya media menjadikan mereka mudah mendapatkan akses ke tontonan ataupun hal-hal yang belum sepapatutnya disisi lain pengawasan lemah menjadi peluang empuk bagi tumbuhnya perilaku negatif remaja dalam hal seksual. Pelan namun pasti media memiliki andil bagi kesemuanya, tengok saja dulu ketika remaja kita belum disuguhkan kecanggihan teknologi mereka akan sibuk dengan tugas belajar kelompok, berkumpul dalam suatu wadah karang taruna dsb. Nyatanya saat ini para remaja lebih suka mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan membuka di google semua bisa dijawab dengan cepat. Hal ini disatu sisi memperluas

pengetahuan namun disisi lain meningkatkan hal-hal yang negatif bila tidak diawasi.