• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

KAJIAN NORMATIF TERKAIT HUBUNGAN ANTARA PELANGGAN DAN PENYELENGGARA SPAM

2.2. UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Lahirnya Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut UUPK) telah membawa perubahan fundamental bagi perlindungan konsumen. Beberapa catatan hukum terkait UUPK ini akan menjadi pembahasan dalam bagian ini untuk menjawab soal-soal seperti:

a. Apa makna dan fungsi UUPK bagi konsumen dalam hubungan kontraktualnya dengan pelaku usaha.

b. Sejauh mana luas campur tangan negara melalui UUPK ini untuk membatasi klausula-klausula baku yang lahir dalam perikatan kontraktual antara konsumen dan pelaku usaha. Apakah UUPK ini mampu menetapkan batas-batas asas kebebasan berkontrak yang mempunyai kekuatan berlaku sangat kuat itu. Dalam banyak transaksi bisnis dan lalu lintas perdagangan, klausula-klausula baku tersebut dicantumkan dalam apa yang dinamakan perjanjian standar (algemene voorwaarden)

c. Apa aturan-aturan dasar yang harus diperhatikan dalam UUPK ini. Artinya prinsip-prinsip hukum apa saja yang dimuat dalam UUPK ini untuk menguatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan berkontrak. Asas kebebasan berkontrak (beginsel van de contract vrijheid) ini telah berlaku sangat kuat khususnya di negara-negara yang sistem hukumnya menganut faham civil law seperti Francis dan Belanda. Perlu diketahui Indonesia adalah penganut sistem hukum civil law.

d. Apakah secara subtantif muatan-muatan dalam UUPK ini sudah dianggap cukup melindungi kepentingan konsumen bilamana terdapat unsur-unsur perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) oleh pelaku usaha yang mungkin timbul dalam suatu hubungan kontraktual. Tanggungjawab kontraktual sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dalam hukum perdata. Unsur perbuatan melawan hukum ini akan melukai kepentingan konsumen dalam hal adanya pelanggaran terhadap kontrak meskipun perbuatan melawan hukum ini pada umumnya tidak didasari hubungan konntraktual.

e. Bagaimana praktik penggunaan UUPK ini di lapangangan hukum yurisprudensi di Indonesia. Artinya bagaimana pandangan peradilan di Indonesia dalam memutus kasus-kasus yang melibatkan konsumen, khususnya melalui putusan-putusan Mahkamah Agung sebagai puncak badan peradilan. Dan beberapa permasalahan hukum lainnya seperti apakah seorang hakim dengan sifat kekuasaan yang dimilikinya (Independence of Judiciary) dapat mencampuri klausula-klausula baku yang termuat dalam suatu

perjanjian standar oleh pelaku usaha terhadap konsumen. Termasuk juga bagaimana klausula-klausula UUPK ini ditafsirkan dalam praktik penggunaannya.

f. Dalam kaitannya dengan perlindungan konsumen, asas-asas hukum apa yang dapat dikembangkan dari aturan-aturan konkrit yang dirumuskan UUPK ini. Doktrin-doktrin hukum apa yang dianut oleh UUPK dalam memperkuat kedudukan konsumen dalam hubungan kontraktualnya dengan pelaku usaha. Penting diketahui juga filsafat hukum apa yang melandasi lahirnya UUPK ini.

Secara yuridis-formal, UUPK telah merumuskan secara limitatif yang melarang dengan tegas pelaku usaha memuat klausula-klausula baku yang akan memberatkan konsumen.

Pencantuman klausula-klausula baku ini biasanya sangat tersamar dan terkandung di dalamnya muatan-muatan pengecualian pertanggungjawaban oleh pelaku usaha dalam suatu perjanjian standar. Ketentuan-ketentuan pengecualian pertanggungjawaban inilah yang dalam kepustakaan hukum perjanjian dikenal dengan istilah klausula eksonerasi.

UUPK dengan tegas menolak eksistensi aturan eksonerasi itu yang biasa termuat dalam perjanjian standar antara konsumen dan pelaku usaha. Pasal 1 butir 10 dan pasal 18 ayat 1 UUPK menunjukkan penolakkan keras UUPK terhadap penerapan klausula tersebut.

Rumusan pasal 18 ayat 1 UUPK ini jelas bersifat memaksa sehingga masuk kategori pasal imperatif. Hal ini berarti ketentuan pasal 18 ayat 1 UUPK tidak dapat disimpangi (dwingend recht) para pihak dalam membuat suatu perjanjian khususnya perjanjian antara konsumen dan pelaku usaha yang dalam praktiknya. Bahkan seorang hakim di sidang peradilanpun tidak dibolehkan lagi menafsirkan pasal ini untuk disimpangi. Pasal 18 ayat 1 UUPK ini dapat disimpulkan bersifat tertutup. Sifat tertutup dan memaksa dari pasal 18 ayat 1 UUPK akan lebih menjamin kepastian hukum perlindungan konsumen.

Dalam berbagai kasus, konsumen dalam hubungan kontraktualnya dengan pelaku usaha selalu dalam posisi tawar yang sangat lemah. Dalam praktik perjanjian standar, konsumen tidak berdaya ketika berhadapan dengan pelaku usaha. Kedudukan hukum konsumen sangat lemah. Dalam penerapan perjanjian standar, konsumen dipaksa tunduk kepada seluruh aturan yang ditetapkan pelaku usaha secara sepihak. Konsumen tidak diberi ruang sedikitpun untuk menawar dan merundingkan syarat-syarat yang ditetap sepihak dan memberatkan itu. Hal ini disebabkan karena konsumen sangat membutuhkan produk atau jasa yang dikuasai pelaku usaha yang tidak mungkin diusahakan sendiri oleh konsumen.

Apabila konsumen mencoba menawar dan merundingkan pilihan lain maka ia akan

menerima konsekuensi kehilangan apa yang dibutuhkan (taken for granted). Dalam perjanjian standar ini tidak dikenal proses negosiasi sehingga sangat berat sebelah dan tidak wajar. UUPK telah melakukan antisipasi yuridis terhadap fenomena perjanjian standar ini melalui pasal 18 ayat 1.

Hubungan kontraktual yang lahir dalam perjanjian standar ini sama sekali tidak mencerminkan sepakat para pihak yang mengikatkan diri sebagaimana yang disyaratkan oleh pasal 1320 BW. Konsesus yang dilahirkan antara konsumen dan pelaku usaha tidak didahului oleh proses negosiasi.

UU No. 8 Tahun 1999 dalam Pasal 3 UUPK yang menyebutkan bahwa perlindungan konsumen bertujuan untuk:

a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;

b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;

c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen;

d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;

e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha;

f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

Hal ini diperkuat dengan dimuatnya Pasal 4 tentang hak-hak konsumen yang menyatakan bahwa hak konsumen adalah:

a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;

e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;

f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g. Hak unduk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.

Namun, untuk memperoleh hak-hak tersebut, konsumen diwajibkan melakukan hal-hal sebagaimana dimuat dalam Pasal 5 UUPK yang menyatakan, bahwa Kewajiban konsumen adalah:

a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;

b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati; dan

d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Selanjutnya, selain hak dan kewajiban konsumen, pengaturan hak dan kewajiban bagi pelaku usaha juga cukup penting. Hal ini dalam rangka menciptakan keseimbangan antara konsumen dan produsen itu sendiri. Adapun hak pelaku usaha diatur dalam Pasal 6 UUPK yang menyatakan bahwa hak pelaku usaha adalah:

a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

b. Hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik;

c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum sengketa konsumen;

d. Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.

Selanjutnya Kewajiban pelaku usaha dimuat dalam Pasal 7 UUPK yang menyatakan bahwa Kewajiban pelaku usaha adalah:

a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang;

dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;

f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

g. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

Berdasarkan ketentuan diatas mengenai hak dan kewajiban baik dari konsumen maupun pelaku usaha, maka dalam rangka menjaga kepentingan konsumen terhadap pelaku usaha yang diberikan kewenangan hak monopoli dalam penyelenggaraan penyediaan air, maka pemerintah melarang adanya klausula baku yang cenderung merugikan pihak konsumen.

Adapun klausula baku tersebut diatur dalam Pasal 18 UUPK yang menyatakan:

1. Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila:

a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;

b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen;

c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;

d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;

e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen;

f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;

g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan, lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran.

2. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti.

3. Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum.

4. Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-undang ini.

Dalam rangka memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan hak dan kewajiban diatara pelaku usaha dan konsumen dalam UUPK, maka diatur pula mengenai ketentuan penyelesaian sengketa baik melalui pengadilan maupun penyelesaian sengketa diluar pengadilan. Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan diatur dalam Pasal 46 UUPK yang menyatakan:

“Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen”

Penyelesaian melalui pengadilan dimuat dalam Pasal 45 UUPK yang menyatakan:

1. Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.

2. Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.

3. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

4. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

Adapun pihak-pihak yang dapat melakukan gugatan adalah sebagaimana dimuat dalam Pasal 46 UUPK, yaitu:

1. Gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh:

a. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;

b. Kelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;

c. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya;

d. Pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.

2. Gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat atau pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, atau huruf d diajukan kepada peradilan umum.

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Khusus untuk gugatan yang diajukan melalui pengadilan sebaiknya tidak dimuat di dalam klausula perjanjian antara pelanggan dan pelaku usaha, hal ini dalam rangka menjaga konsistensi dan menerapkan asas lex spesialis derogate lex generalis, dimana Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum tetap menjadi rujukan utama dan dasar bagi pelanggan dan pelaku usaha dalam penyelenggaraannya dibandingkan dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Oleh karena itu sebaiknya sengketa yang terjadi sedapat mungkin diselesaikan melalui mediasi antara forum komunikasi pelanggan dan pelaku usaha atau cara lain sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan alternatif Penyelesaian Sengketa. Hal ini sebagaimana dicontohkan dalam dunia perbankan yang dikenal dengan “Mediasi Perbankan”.

2.3. PERATURAN PEMERINTAH NO. 16 TAHUN 2005 TENTANG