BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Legalitas Pemberian Uang Santunan Kepada Pihak Penerima
2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1964 tentang Bagi
DalamUndang-Undang ini menyebutkan dalam Pasal 1 huruf : b. Nelayan pemilik ialah orang atau badan hukum yang dengan hak
apapun berkuasa atas sesuatu kapal/perahu yang dipergunakan dalam usaha penangkapan ikan dan alat-alat penangkapan ikan;
c. nelayan penggarap ialah semua orang yang sebagai kesatuan dengan menyediakan tenaganya turut serta dalam usaha penangkapan ikan laut;
109 d. pemilik tambak ialah orang atau badan hukum yang dengan hak
apapun berkuasa atas suatu tambak;
e. penggarap tambak ialah orang yang secara nyata, aktif menyediakan tenaganya dalam usaha pemeliharaan ikan darat atas dasar perjanjian bagi hasil yang diadakan dengan pemilik tambak;
f. tambak ialah genangan air yang dibuat oleh orang sepanjang pantai untuk pemeliharaan ikan dengan mendapat pengairan yang teratur;
Adapun syarat-syarat bagi penggarap tambak sebagaimana diatur dalam Bab III Pasal 6 UU No. 16/1964 : “Yang diperbolehkan menjadi penggarap tambak hanyalah orang-orang warga negara Indonesia yang secara nyata aktif menyediakan tenaganya dalam usaha pemeliharaan ikan darat dan yang tambak garapannya, baik yang dimilikinya sendiri atau keluarganya maupun yang diperolehnya dengan perjanjian bagi hasil, luasnya tidak akan melebihi batas maksimum, sebagai yang ditetapkan menurut ketentuan UU No.56 Prp./1960.
Bilamana ketentuan-ketentuan tersebut dikaitkan dengan pengadaan tanah untuk proyek pembangunan gedung CCC, sebagaimana wawancara penulis dengan salah seorang warga Kecamatan Mariso bahwa uang santunan yang diberikan kepada Abdul Hamid Rahim Sese, bukanlah orang yang berhak, karena penerima santunan bukanlah nelayan penggarap pencari kerang
110 seperti yang dilakukan oleh warga Kecamatan Mariso.64Dari hasil penelitian penulis di KantorBPN Kota Makassar,bahwa Abd. Hamid Rahim Sese pernah mengajukan permohonan hak atas tanah di lokasi Tanjung Bunga akan tetapi pihak Pertanahan menolak permohonannya karena lokasitersebut adalah laut yang tidak ada penggarap di atasnya sebagaimana dalam Surat Keputusan Badan Pertanahan Nasional Kota Makassar No. 550.2-1056-53.01 hal Permohanan Hak Atas Tanah Sekitar Jalan Metro Tanjung Bunga tanggal 21 Agustus tahun 2000 dan Surat Kepetusan No. 570-873-53 hal Keberatan Atas Tidak Dikabulkannya Permohonan Persetipikatan Tanah Garapan oleh Kepala Kantor Pertanahan Kota Makassar tanggal 21 Juni 2001.
Dari keterangan wargadan hasil penelitian tersebut sejalan dengan Putusan Mahkamah Agung RI No. 2550 K/Pid.Sus/2010, bahwa Abdul Hamid Rahim Sese yang mengaku sebagai penggarap tanah yang dijadikan lokasi pembangunan gedung CCC, terbukti bahwa tanah yang diklaim sebagai milikinya tidak pernah dikuasai, digarap secara nyata dan terus menerus, tanah yang diakui sebagai miliknya adalah Tanah Negara yang timbul dari akibat pendangkalan air laut.
Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa status penggarap yang melekat pada diri penerima uang santunan dalam pengadaan
64Wawancara dengan Bapak Sudin Dg. Gasing pada tanggal 11 Oktober 2014.
111 tanah untuk proyek pembangunan gedungCCCtelah melanggar ketentuan yang ada sebagaimana dapat dilihat pada PP No. 224/1961 serta UU No. 16/1964 yang sudah penulis paparkan diatas. Oleh karenanya menurut penulis pihak penerima uang santunan tersebut tidak memenuhi persyaratan sebagai penggarap.
b. Tanah Garapan
Padadasarnya, UUPA tidak mengatur adanya tanah garapan karena tanah garapan bukanlah status hak atas tanah, sedangkan peraturan perundang-undangan tidak menentukan khusus mengenai perolehan suatu tanah garapan, yang jelas dalam memperoleh tanah garapan harus dengan persetujuan atau tanpa persetujuan dari pihak yang berwenang. Sehingga peraturan perundang-undangan tidak mempunyai standard tertentu dalam memperoleh suatu tanah garapan.
Pengertian tentang tanah garapan dapat dilihat dalam Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2003 tentang Norma Dan Standar Mekanisme Ketatalaksanaan Kewenangan Pemerintah di Bidang Pertanahan Yang Dilaksanakan Oleh Pemerintah Kabupaten/Kota tertanggal 28 Agustus Tahun 2003.
Dalam Keputusan Kepala BPN tersebut disebutkan bahwa tanah garapan adalah sebidang tanah yang sudah atau belum dilekati dengan sesuatu hak yang dikerjakan atau dimanfaatkan oleh pihak lain baik dengan persetujuan yang berhak dengan atau tanpa jangka waktu tertentu.
112 Di dalam praktek, pengertian tanah garapan yang dikembangkan oleh para penggarap, aparatur pemerintahan dan para aktor hukum, tidak sepenuhnya mendekati pengertian sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundangan di atas, utamanya ketentuan dalam Keputusan Kepala BPN tersebut. Dalam kenyataanya, alih-alih dianggap sebagai pendudukan tidak sah, tanah garapan justru dipersamakan dengan tanah hak milik. Tanah garapan dianggap sebagai hak milik karena penggarap dapat menunjukan surat-surat yang membuktikan bahwa ia memiliki alas atau bukti hak atas tanah tersebut. Untuk keperluan jual beli tanah dan mendapatkan ganti rugi, surat-surat tersebut dipersamakan dengan sertifikat hak.65
Buntut dari pandangan tersebut di atas adalah melekat setidaknya 4 (empat) hak kepada para penggarap, yaitu:
1) hak untuk mengusahakan dan menggunakan;
2) hak untuk mengalihkan (menjual, mewariskan, mewakafkan);
3) hak untuk menyewakan, dan
4) hak untuk mendapatkan ganti rugi ataupun kompensasi.
Namunberdasarkan keterangan pihak Kanwil BPN Propinsi Sulawesi Selatan sebagaimana wawancara penulis dengan Bapak Hamkabahwa Tanah Negara tidak boleh diperjual belikan apalagi sama sekali tidak mempunyai alat bukti dokumen yang kuat, sebagaimana dalam kasus pengadaan tanah untuk proyek
65Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya. Sinar Grafika, Jakarta, 2007.
Hal. 79
113 pembangunan gedung CCC dimana bukti dokumen yang dimiliki oleh pihak penerima uang santunan hanya berupa surat bukti pembayaran pajak yang pada dasarnya bukan merupakan bukti kepemilikan hak atas tanah. Selanjutnya dikatakan bahwa dokumen kepemilikan suatu bidang tanah garapan adalah :
1) Surat Pernyataan Penguasaaan Tanahnya
2) Surat keterangan dari Lurah dan diperkuat oleh Camat setempat mengenai pemilikaan Tanah garapannya.
Hal tersebut telah diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan yang menyebutkan bahwa apabila data fisik dan data yuridis tidak cukup atau tidak ditemukan lagi maka dibuatkan surat keterangan dari desa setempat. Oleh karena itu surat tanda bukti pembayaran pajak yang dimiliki oleh pihak penerima uang santunan dapat dikatakan data yuridisnya tidak cukup sehingga dengan demikikan menurut ketentuan harus disertai dengan surat keterangan tanah dari Lurah/Desa setempat.66
Terkaitpembuktian hak penguasaan atas tanah dimana sebelum terjadinya kodifikasi atas hukum tanah yang berlaku di Indonesia, menjadi Hukum Tanah Nasional, terdapat berbagai bentuk hak atas tanah dan berbagai cara penguasaan terhadap suatu bidang tanah.
Sejak berlakunya UUPA, maka dilakukan kewajiban untuk melakukan konversi terhadap berbagai jenis hak atas tanah yang ada di
66Wawancara pada tanggal 8 Oktober 2014.
114 Indonesia, menjadi salah satu bentuk hak atas tanah yang dikenal dalam UUPA, yaitu:
1. Untuk Hak Primer: Hak Milik (HM), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak GunaUsaha (HGU), Hak Pakai (HP).
2. Untuk Hak Sekunder: Hak Milik atas satuan Rumah Susun (HMSRS), HGB/HGU/HP di atas tanah Hak Milik, Hak Sewa di atas tanah Hak Pakai,dan lain lain.
Walaupun batas waktu untuk dilaksanakannya konversi tersebut sudah lama lewat, namun di masyarakat masih terdapat berbagai jenis hak atas tanah maupun bentuk-bentuk penguasaan tanah lainnya yang belum terdaftar. Secara awam, banyak yang beranggapan bahwa tanah-tanah yang belum terdaftar tersebut dianggap sebagai tanah Girik. Namun demikian, tidak selalu tanah yang belum bersertifikat tersebut adalah tanah girik. Tanah girik adalah tanah bekas hak milik adat yang diakui kepemilikannya dan dapat disertifikatkan menjadi Hak Milik jika pemohonnya adalah perorangan (WNI).
Berbeda dari surat Girik, tanah lain yang tidak memiliki surat girik bisa jadi hanyalah merupakan hak untuk menggarap tanah yang dikuasai oleh Negara (Tanah Negara), hak sewa atas tanah partikelir, atau hanya hak untuk penguasaan suatu bidang tanah yang dimiliki/dikuasai oleh Negara (Tanah Negara). Untuk jenis tanah yang demikian, yang bersangkutan hanyalah berhak untuk menempati, menggarap dan menguasai tanah tersebut sepanjang tidak ada alas
115 hak lain yang lebih kuat di bawahnya. Jadi bukan/belum merupakan hak milik atas tanah.
Pengalihan hak untuk penguasaan tanah juga tidak bisa dibuat dengan akta jual beli yang dibuat di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), karena penguasaan tanah bukanlah merupakan hak atas tanah, yang dialihkan hanyalah hak-hak keperdataan untuk menguasai tanah tersebut. Dengan demikian, biasanya pengalihannya pun dengan menggunakan surat dari Lurah/Camat setempat dengan dihadiri para saksi/kesaksian warga setempat.
Seseorang yang menguasai suatu tanah secara sah selama 20 tahun berturut-turut tanpa adanya klaim dari pihak lain, berhak untuk mengajukan pengakuan hak pada kantor pertanahan setempat. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 24 ayat (2) Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (PP No. 24/1997) :“Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu pendahulunya, dengan syarat :
a. Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya.
116 b. Penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.”
Ketentuan hukum yang diatur dalam pasal 23 dan 24 PP No.
24/1997, menunjukan konstruksi hukum yang mensyaratkan adanya alat bukti tertentu yang dapat dijadikan alas hak (title) yang dapat dipergunakan bagi seseorang atau badan hukum dapat menuntut kepada Negara adanya keberadaan hak atas tanah yang dipegang atau dimiliki. Secara hukum dengan berpegang pada alat bukti ini maka merupakan landasan yuridis guna dapat dipergunakan untuk melegalisasi asetnya untuk dapat diterbitkan sertipikat tanda bukti sekaligus alat bukti kepemilikan hak atas tanah.
Setidaknya terdapat 3(tiga) instrumen yuridis sebagai alat bukti kepemilikan hak atas tanah yakni :
1. Instrument yuridis atau alat bukti kepemilikan yang disebut sebagai
“hak baru” atas tanah harus dibuktikan dengan “Penetapan pemerintah” yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang apabila hak tersebut berasal dari tanah Negara atau tanah hak pengelolaan. Wujud konkret dari penetapan pemerintah ini adalah Surat Keputusan Pemberian hak kepemilikan atas tanah (SK hak milik, SK HGB, dst);
117 2. Akta Otentik yang dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) menurut ketentuan hukum termasuk alat bukti kepemilikan hak baru, dimana akte otentik tersebut memuat pemberian hak tersebut oleh pemegang hak milik kepada penerima hak yang bersangkutan apabila mengenai hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah hak milik. (Pasal 23 PP No. 24/1997).
3. Instrument yuridis tertulis lainnya yang disebut sebagai hak atas tanah yang “lama” (Pasal 24 PP No. 24/1997), yang diakui keberadaannya oleh hukum sebagai alat bukti tertulis kepemilikan hak atas tanah.
Selanjutnya instrument yuridis tentang keberadaan alat bukti kepemilikan tersebut secara terinci diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksana PP No. 24/1997 (PMNA/KBPN No.
3/1997). Didalam Pasal 24 PP No. 24/1997 dan Pasal 60 dari PMNA/KBPN No. 3/1997, beserta penjelasan pasalnya disebutkan alat bukti kepemilikan lama yakni: grosse/salinan akte eigendom, surat tanda bukti hak milik yang diterbitkan berdasarkan peraturan swapraja, surat tanda bukti hak milik yang dikeluarkan berdasarkan Peraturan Menteri Negara Agraria No. 9 tahun 1959, surat keputusan pemberian hak milik dari pejabat yang berwenang baik sebelum maupun sejak berlakunya UUPA, yang tidak disertai kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah memenuhi semua kewajiban yang
118 disebut didalamnya, petok D / girik, pipil, ketitir, dan verponding Indonesia sebelum berlakunya PP No. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah, akta pemindahan hak dibawah tangan yang dibubuhi tanda kesaksian oleh kepala Adat/desa/kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya peraturan pemerintah ini dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta pemindahan yang dibuat oleh PPAT yang tanahnya belum dibukukan dengan disertai alas hak yang dialihkan, akta ikrar wakaf/surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan PP No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, dengan disertai alas hak yang diwakafkan, risalah lelang, surat penunjukan pembelian kaveling tanah pengganti tanah yang diambil pemerintah, surat keterangan riwayat tanah dengan disertai alas hak yang dialihkan, lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama apapun juga sebagaimana di maksud dalam pasal II, VI, dan VII ketentuan konversi. Alat-alat bukti kepemilikan hak ini pada hakekatnya merupakan representasi dari pengakuan dari Negara terhadap hak kepemilikan yang dipunyai oleh warga Negara Indonesia.
Dari pembahasan tersebut diatas, menurut penulis penguasaan hak garap atas tanah negara dalam pengadaan tanah untuk proyek pembangunan gedung CCC tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal yang mendasari pendapat penulis sebagaimana dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah :
119 1. objek tanah garapan tidak dikuasai selama 20 tahun berturut-turut;
2. objek tersebut tidak pernah dikelola secara nyata berdasarkan kesaksian warga setempat;
3. hak garap atas tanah negara diperoleh dengan itikad buruk;
4. alat bukti yuridisnya hanya berupa bukti pembayaran pajak (P2);
5. tidak disertai Surat Keterangan Tanah dari Kelurahan/Desa setempat.
C. Akibat Hukum Pemberian Uang Santunan Kepada Pihak Penerima