BAB II: INTERAKSI TRANSNASIONAL DAN PARA-
A. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang
Kepastian hukum dan pengaturan kewenangan mengenai wewenang daerah otonom untuk melakukan kerja sama luar negeri secara jelas telah diatur pula dalam UU No. 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri ini dalam beberapa pasal, yakni;
1. Pasal 1, ayat (1); “Hubungan Luar Negeri adalah setiap ke- giatan yang menyangkut aspek regional dan internasional yang dilakukan oleh Pemerintah di tingkat pusat dan daerah atau lembaga-lembaganya, lembaga negara, badan usaha, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau warga Negara”.
63
Jemmy Rumengan, Perspektif Hukum dan Ekonomi KerjasamaLuar Negeri oleh Pemerintah Daerah’, Jurnal Hukum Internasional, Vol. 8, Nomor 2, Hal. 242, Tahun Januari 2009
Ayat (4); “Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri”. 2. Pasal 5, ayat (1); “Hubungan luar negeri diselenggarakan
sesuai dengan politik luar negeri, peraturan perundang- undangan nasional, dan hukum serta kebiasaan inter- nasional”.
Ayat (2); “Ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (1) berlaku bagi semua penyelenggara hubungan luar negeri, baik pemerintah maupun non-pemerintah”.
3. Pasal 7, ayat (1); “Presiden dapat menunjuk pejabat Negara selain Menteri Luar Negeri, pejabat pemerintah, atau orang lain untuk menyelenggarakan hubungan luar negeri di bidang tertentu”.
Ayat (2); “Dalam melaksanakan tugasnya, pejabat Negara selain Menteri Luar Negeri, pejabat pemerintah atau orang lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melakukan konsultasi dan koordinasi dengan Menteri.”
4. Pasal 28, ayat (1); “Menteri menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan dalam bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri.” Ayat (2); “Koordinasi dalam penyelenggaraan Hubungan Luar Negeri dan pelaksanaan politik luar negeri diseleng-
garakan oleh menteri.”64
B. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Per-
janjian Internasional
Dalam UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, disebutkan bahwa;
64 Undang-Undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Ne-
1. Pasal 1, poin nomor (1), “Perjanjian Internasional adalah perjanjian, dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur dalam hukum internasional yang dibuat secara tertulis serta menimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.”
Poin nomor (9), “Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri.”
2. Pasal 5 ayat (1), bahwa; “Lembaga negara dan lembaga pe- merintah, baik departemen maupun non-departemen, di tingkat pusat dan daerah, yang mempunyai rencana untuk membuat perjanjian internasional, terlebih dahulu melaku- kan konsultasi dan koordinasi mengenai rencana tersebut
dengan Menteri”. 65
Terkait dengan ketentuan-ketentuan undang-undang terse- but, dan dengan telah terjadinya praktik-praktik kerja sama luar negeri oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia selama ini, Jawahir Thontowi mencatat ada 3 pertanyaan yang dapat di-
munculkan. Pertama, apakah pemerintah daerah dalam hukum
pertanggungjawaban internasional dapat dij adikan salah satu
subyek hukum internasional? Kedua, apa status hukum MOU
(Memorandum of Understanding) dalam hukum internasional,
dan apa implikasinya apabila terjadi konfl ik? Ketiga, apakah
pemberian wewenang kepada pemerintah daerah untuk melak- sanakan kerja sama luar negeri bertentangan dengan kerangka
konstruksi NKRI dalam konteks Undang-Undang Dasar 1945? 66
65 Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasio-
nal, SETNEG, 2001
66 Thontowi, Jawahir, ‘Kewenangan Daerah Dalam Melaksanakan
Pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang hubungan luar negeri tersebut semakin menegaskan kembali bahwa hubungan luar negeri oleh pemerintah daerah merupakan bagian dari regim undang-undang ini sebagai kon- sekuensi logis dari prinsip bahwa hubungan luar negeri meru- pakan kewenangan pemerintah pusat dan bukan kewenangan daerah. Undang-undang ini juga mengambil alih klausul da- lam Pasal 88, ayat (1), Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, yang berbunyi, “Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan luar negeri, yang diatur dengan keputusan bersama kecuali menyangkut kewenangan pemerintah, sebagaimana dimaksud dalam pa- sal 7”, sehingga tidak lagi dimasukkan dalam undang-undang tentang pemerintah daerah yang menggantikannya, sehingg UU Nomor 32 tahun 2004 hanya mengatur tentang perlunya persetujuan DPRD dalam setiap rencana kerja sama luar negeri oleh daerah.67
Dalam tataran hukum internasional, Negara di satu sisi ma- sih menjadi subyek hukum internasional yang utama, di sisi lain peningkatan peran subyek-subyek hukum bukan Negara, mem- berikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan hukum
internasional. Hal ini juga dapat dilihat dari defi nisi hukum
internasional yang dinyatakan oleh Mochtar Kusuma Atmadja, bahwa hukum internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas Negara antara Negara dengan Negara dan antara Ne- gara dengan subyek hukum lain bukan Negara, atau subyek hukum bukan Negara satu sama lain. Jelaslah bahwa hukum
67 Departemen Luar Negeri, Panduan Umum Tata Cara Hubungan
dan Kerjasama Luar Negeri Oleh Pemerintah Daerah (Revisi Tahun 2006), Kata Pengantar Dirjen Hukum dan Perjanjian Internsional, Hal. vii, DE- PLU, 2007
internasional dapat dibentuk tidak hanya oleh Negara, tetapi juga oleh subyek hukum lain bukan Negara. Pemerintah daerah atau Negara bagian hingga saat ini memang belum tercakup dalam subyek hukum lain bukan Negara, sehingga menyisakan pertanyaan terkait dengan pertanggungjawaban apabila terjadi pelanggaran norma-norma dalam hukum internasional dalam kerangka kesepakatan kerja sama atau perjanjian internasional
mereka.68
Pemerintah daerah dalam bertindak melakukan perjanjian
dengan pihak asing wajib mengantongi surat kuasa (Full Power)
dari menteri Luar Negeri, sebab dalam konteks ini, pemerintah daerah tidak bisa melangkahi kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah pusat dalam masalah pengaturan dan pelaksanaan
kebij akan dan politik luar negeri RI. Dalam Pasal 7, ayat (1),
UU Nomor 24 Tahun 2000, dinyatakan bahwa seseorang yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia, dengan tujuan me- nerima atau menandatangani naskah suatu perjanjian atau mengikatkan diri pada perjanjian internasional, memerlukan Surat Kuasa. Sedangkan, dalam ayat (2), disebutkan bahwa Pejabat yang tidak memerlukan Surat Kuasa sebagaimana di- maksud dalam Pasal 1 Angka 3 adalah: a. Presiden; dan b.
Menteri. 69 Dengan surat kuasa ini menegaskan bahwa jika ada
sengketa atau konfl ik dalam perjanjian internasional yang di-
tandatangani oleh pemda, maka otomatis Negara, dalam arti pemerintah pusat, akan terlibat langsung melalui aparat dip- lomatiknya untuk menangani masalah tersebut. Namun, se- jauh ini, Damos Dumoli Agusman menyatakan bahwa dalam praktek diplomasi Indonesia saat ini, sebenarnya belum ada kecenderungan untuk mengarahkan penyelesaian sengketa atas
68 Op.Cit., Jemmy Remungan, Hal. 240.
suatu perjanjian internasional melalui pengadilan internasio- nal.70
Surat kuasa, atau dalam istilah Konvensi Jeneva 1969 disebut
dengan full power tersebut, dimaknai sebagai mandat yang
diberikan oleh pemerintah pusat melalui Menteri Luar Negeri, untuk melakukan sebahagian kewenangan pemerintah pusat yang diserahkan kepada daerah dalam bidang kerja sama luar negeri sesuai dengan prinsip-prisip penyerahan urusan kepada daerah otonom. Dalam konteks ini, kekhawatiran terjadinya singgungan antara pelaksanaan kerja sama luar negeri daerah otonom atau pemda dengan kerangka konstruksi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak akan terjadi. Untuk menjaga serta mengantisipasi, UU nomor 24 Tahun 2000 dalam Pasal 12, ayat (2), dinyatakan bahwa Lembaga pemrakarsa, yang terdiri atas lembaga negara dan lembaga pemerintah, baik departemen maupun non-departemen, mengkoordinasikan pembahasan rancangan dan/atau materi permasalahan dimaksud dalam ayat (1) yang pelaksanaannya dilakukan bersama dengan pihak- pihak terkait. Di sinilah, Kementerian Luar Negeri bertindak
sebagai satu-satunya pintu, atau semacam ‘one gate policy”,
yang harus dilalui dalam membuat perjanjian internasional, sekalipun itu dilakukan oleh pemerintah daerah.
Dengan diundangkannya UU Nomor 37 Tahun 1999 ten- tang Hubungan luar negeri dan UU Nomor 24 Tahun 2000, maka menjadi jelas regim atau politik hukum atas hubungan dan kerja sama luar negeri yang akan dilaksanakan oleh Bang- sa Indonesia, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
70 Agusman, Damos Dumoli, Apakah Perjanjian Internasional itu?
Beberapa Perkembangan Teori dan Praktek di Indonesia Hukum Per- janjian Internasional, KEMLU, di http://e-library.kemlu.go.id/index. php?option=com_ content&view=article&id=65%3Aapa-perjanjian-in- ternasional-itu&catid=, diakses 20 Januari 2013
maupun lembaga-lembaga lainnya. Permasalahan mulai timbul saat disahkannya Amandemen UUD 1945 pada Tahun 2002, di mana memuat kaidah yang dipahami secara berbeda oleh ber- bagai pihak, di antaranya pemahaman politis oleh DPR RI, para akademisi dan ahli hukum internasional serta para diplomat. Ketentuan yang diperdebatkan dalam UUD 1945 itu adalah Pa- sal 11, ayat (1), dan terutama ayat (2), sebagai berikut; ayat (1), “Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat me- nyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain”; sedangkan ayat (2), “Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat.” 71
Perdebatan muncul terkait wilayah hukum privaat yang belum masuk atau bahkan tidak bisa masuk dalam undang- undang tentang perjanjian internasional dimaksud, sehingga kontrak-kontrak kerja dengan perusahaan asing tidak memer- lukan persetujuan DPR RI. Padahal, beberapa kontrak dengan pihak swasta asing itu bermasalah dan dianggap merugikan Negara RI. Diskusi lebih lanjut dalam buku ini ada di Bab IV terkait Perjanjian Internasional, terkait dengan perlunya revisi undang-undang tentang perjanjian internasional.