• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV IMPLEMENTASI BUDAYA KORPORASI

4.1 Implementasi Nilai-Nilai Budaya Lonsum

4.1.3 Unggul

Nilai disiplin sedari mula sudah diupayakan oleh Lonsum untuk dapat diterapkan oleh semua karyawan dan stafnya. Dalam proses training para staf baru diminta untuk dapat disiplin dengan bangun dan berolahraga tepat pukul 05.30. Keterlambatan yang mungkin saja terjadi dapat berujung dengan adanya hukuman selama olahraga pagi itu berlangsung, misalnya saja dengan mengelilingi rute Rambong Sialang Training Center (RSTC) dan kantor estate yang berjarak kurang lebih 500 meter sebanyak tiga kali. Atau hukuman push up dan sit up sebanyak 10 kali yang pernah dialami oleh staff baru pabrik (Dahril) yang waktu itu terlambat sepuluh menit dari waktu yang telah disepakati.

Kebiasaan olahraga pagi ini nantinya akan berguna bagi staf field yang jika sudah terjun langsung ke lapangan harus mengikuti antrian pagi pukul 05.30 dan memberi tahu apa yang menjadi agenda kerja satu hari pada seluruh bawahannya. Menurut penjelasan Junaidi (25 tahun), akan ada peringatan atau sanksi yang biasanya di berikan jika para karyawan tidak datang tiga kali berturut-turut tanpa alasan yang jelas dalam antrian pagi, istilah mereka orang tersebut akan mendapat “penalti”. Surat peringatan pertama yang diikuti dengan pendekatan individu kepada yang bersangkutan (yang tidak menghadiri antrian pagi), dilanjutkan dengan surat peringatan kedua jika surat peringatan pertama tidak digubris lalu

berlanjut dengan surat peringatan ketiga yang mungkin saja bisa berakhir dengan pemecatan.

Bagi staf dan karyawan pabrik kedisiplinan pukul 05.30 terlalu terlihat karena mereka mulai start bekerja pukul 06.30 pagi hingga pukul 17.00. Shift kedua para karyawan pabrik adalah dari pukul 17.00 – 03.00 WIB. Apalagi pada karyawan kantor yang waktu masuknya pukul 08.00. Selama observasi di kantor Lonsum Medan, saya tidak melihat adanya peringatan atau sanksi yang diberikan jika karyawan tersebut telat dari waktu masuknya. Fenomena yang sering terlihat adalah mereka akan mempercepat langkahnya jika sudah mendekati waktu masuk untuk meletakkan jari di finger print di samping tangga (lift) yang merupakan absen yang harus mereka lakukan sebelum dan sesudah bekerja.

Kedisiplinan yang mulai diterapkan sedari awal pada karyawan maupun staf baru ternyata tidak dibarengi oleh kedisiplinan para seniornya. Ada sebuah kasus yang menurut saya mengindikasi adanya ketidakdisiplinan sekaligus kurangnya sinergis antara karyawan dalam proses training new staff field and mill. Pada training new staff field and mill Februari hingga Maret 2010 silam ada sedikit masalah. Setiap staf yang ditraining harusnya memiliki satu buku harian yang disediakan oleh perusahaan untuk mencatat segala pelajaran yang telah mereka dapatkan selama proses training. Selain buku harian itu mereka juga harusnya dibekali oleh makalah – makalah yang akan menjadi materi pelajaran mereka selanjutnya. Pembagian makalah – makalah itu sebaiknya

diberikan sebelum mereka memulai pelajaran, namun pada kenyataannya makalah – makalah itu sampai di tangan mereka sehari sebelum diadakannya ujian. Setiap seminggu sekali akan diadakan ujian untuk melihat sejauh mana staf baru tersebut memahami apa yang telah diajarkan yang nantinya itu akan menjadi job description mereka dalam proses kerja perusahaan. Ujian diselenggarakan setiap hari Sabtu. Itulah yang menjadi masalah bagi para new staf tersebut :

“Gimana bisa belajar, makalahnya saja baru dikasih sekarang (hari Jumat). Sewaktu di ruangan jarang diberi izin untuk mencatat, tetapi tergantung pemakalahnya juga. Kalau diizinkan mencatat kan lebih mudah jadi malam hari lebih gampang merangkum semua catatan itu. Kalau mengandalkan ingatan bisa-bisa lupa, setiap hari minimal dua materi yang diberikan dari pagi hingga sore. Gimana bisa ingat kalau tidak diizinkan mencatat. Udah gitu disuruh nulis buku harian, tetapi buku hariannya aja baru hari Kamis diberikan.”

Itulah penjelasan yang diberikan oleh staf baru pabrik (Dahril) yang memutuskan untuk tidak belajar pada Jumat malam, padahal esok harinya akan diadakan ujian.

Terlambatnya penyediaan keperluan selama proses training berlangsung dikarenakan adanya keterbatasan dalam dana yang dipegang oleh karyawan HRD (Desynta) untuk dapat segera menggandakan makalah-makalah untuk diberikan pada setiap peserta training. Berikut penjelasannya :

“Kakak tidak dikasih pegang dana untuk keperluan ini, semuanya harus tunggu dikirim dari Medan. Jadi gimana kalau tiba-tiba ada peserta yang minta fotocopyan makalah sementara dana belum ada sama kakak. Kakak udah bilang sama orang HRD Medan supaya ada juga dana yang kakak pegang disini (RSTC) jadi bisa cepat. Toh pada akhirnya

semua kan ada laporan jelasnya kemana aliran dana-dana itu.”

Selain masalah itu ada juga masalah yang terjadi akibat kurangnya koordinasi antara sesama karyawan dan staf untuk mengisi siapa pemakalah dalam proses training. Adanya jadwal yang mengatur siapa pemakalah selanjutnya sering kali meleset. Sebaiknya ketidakhadiran pemakalah itu diberitahu minimal sebelum hari H sehingga bisa dipersiapkan siapa penggantinya. Namun yang terjadi malah sebaliknya hingga membuat Pak Riyanto selaku Manager Training harus bersiap-siap sedia menjadi ‘cadangan’ dadakan yang menggantikan pemakalah yang batal hadir.

Gambar 13

Jadwal Training In Class

Tindakan yang diambil Pak Riyanto ini merupakan cerminan sederhana dari butir nilai disiplin yang menjadi nilai utama Lonsum yakni memahami tahapan kerja dan menyelesaikan masalah dengan keputusan cepat serta cermat mendefinisikan masalah dan berani mengambil tindakan perbaikan.

Butir dari nilai disiplin yang selanjutnya adalah selalu bersemangat dan tidak menyerah menghadapi tantangan. Contoh sederhana kali ini penulis dapatkan di pabrik BGPOM. Josef (25 tahun) karyawan dari bagian Water Treatment mengalami kendala dengan susahnya menjernihkan air dari hasil pengolahan pabrik. Kesulitan yang dihadapinya disebabkan karena dia adalah karyawan yang baru dipindahkan ke bagian Water Treatment setelah karyawan yang menempati bagian ini sebelumnya mengundurkan diri. Josef merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan dengan mesin pompa air yang nantinya akan menjernihkan air dari proses pengolahan pabrik.

“Masalah pompa ini sulit dianggap remeh karena kalau pompa itu lama diperbaiki nanti bisa-bisa masyarakat sekitar sini marah karena airnya tidak bersih. Hasil pengolahan air ini kan berpengaruh dengan air yang juga dikonsumsi masyarakat, jadi nanti masyarakat bisa complain kenapa airnya bau, dan tidak jernih.”

Itulah yang menjadi beban fikiran Josef sehingga membuatnya tidak enak badan dan membawanya untuk datang ke klinik pabrik dan menceritakan pada penulis masalah yang dialaminya.

b. Perbaikan Terus Menerus

Pada pertengahan tahun 2009 Lonsum membuat program yang diberi nama Lonsum Improvement Project (LIP). Proyek ini adalah salah satu upaya kepada seluruh karyawan dan staf Lonsum untuk membudayakan, menghayati dan menghidupkan nilai-nilai utama Lonsum (Integritas, Kerja Sama dan Unggul). LIP bertujuan member nilai tambah dalam pencapaian cita-cita Lonsum untuk menjadi perusahaan yang

terbaik serta berkelanjutan dalam hal tanaman, biaya dan lingkungan (Crop, Cost and Conditions). Disamping itu, LIP bertujuan untuk meningkatkan pola pikir (mindset) agar seluruh warga Lonsum tergerak untuk terus melakukan perbaikan secara konsisten sehingga diharapkan dapat menghasilkan produktivitas yang terbaik. Kegiatan LIP ini adalah sarana bagi seluruh karyawan untuk melakukan perbaikan dan inovasi melalui proyek keja di lingkungan mereka masing-masing. Setiap proyek dilakukan oleh satu tim yang terdiri dari staf dan karyawan. Pada awalnya setiap tim yang ikut dalam LIP ini mendapatkan sosialisasi dan bimbingan dari Tim Human Capital Development yang diketuai oleh Training Manager. Tim ini bertugas untuk menyebarkan metodologi dan perangkat yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek LIP.

Namun kenyataannya proyek yang digadang-gadang dapat menimbulkan inovasi baru yang nantinya akan membawa keuntungan bagi perusahaan hanya dapat bertahan seumur jagung. Menurut penuturan karyawan kantor (Kak Hamimah) :

“Cuma dua kali LIP ini pernah dijalankan secara benar-benar. Dulu ini pernah dilakuin di Jakarta. Kalau sekarang sih kayaknya tidak ada lagi karena setahu kakak, penggagas utama dari Lonsum Improvement Project ini udah tidak bekerja di Lonsum lagi.”

Dokumen terkait