HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Pulau Tengah Secara Administratif
3 Unit Bioregion DAS Majunto Selagan 4 Unit Bioregion DAS Selaut
Sumber : BAPPEDA Kabupaten Kerinci 2012
b. Unit Lanskap
Dalam unit bioregion Batang Hari, dapat diidentifikasikan unit lanskap. Unit lanskap tersebut dibangun oleh tiga karakter biofisik (Sub DAS, jenis tanah, dan kemiringan lahan). Ketiga karakter ini menjadi pembeda antara satu unit lanskap dengan unit lanskap lainnya. Unit lanskap ditentukan dengan mengidentifikasikan Sub DAS dari unit bioregion DAS Batang Hari. Unit Sub DAS yang terbentuk adalah sebanyak 25 Sub DAS yang memiliki kesamaan karakteristik dalam setiap
Ga mbar 24 P eta DA S Ka bupa ten Ke rinci
unit Sub DAS, namun memiliki keunikan karakteristik yang berbeda antar Sub DASnya.
Karakteristik pada 25 Sub DAS tersebut dapat dibedakan berdasarkan jenis tanah yang pada kasus ini terdapat 4 (empat) jenis tanah yaitu Andosol, Hidromorfik, Podsolik dan Organosol. Berdasarkan karakteristik jenis tanah tersebut, kedua puluh lima Sub DAS tersebut terbagi menjadi 35 poligon yang memiliki karakteristik tanah yang berbeda antar unitnya. Selanjutnya karakteristik pada 35 poligon tersebut dapat dibedakan berdasarkan kemiringan lahan. Berdasarkan karakteristik kemiringan lahan tersebut, melalui overlay ketiga puluh lima poligon dapat dibedakan menjadi 156 poligon. Ke seratus lima puluh enam (156) poligon tersebut merupakan unit lanskap (Gambar 25) yang mempunyai kesamaan karakteristik yang homogen pada setiap unitnya ,namun berbeda antara satu unit lanskap dengan unit lanskap lainnya.
c. Unit Tempat
Menurut Kim et al (2000, dalam Pramukanto, 2004) unit tempat yaitu hirarki terendah pada subdivisi bioregion yang dicirikan oleh beberapa komponen antara lain penggunaan lahan, atribut sosial budaya komunitas masyarakat yang meliputi etnis, aspirasi masyarakat, the sense of place, the meaning of place, dan berbagai bentuk nilai-nilai lokal. Pada penelitian ini, unit tempat diklasifikasikan berdasarkan penutupan lahan yang ada dalam unit-unit lanskap. Karakteristik penutupan lahan ini mengandung nilai instrinsik yang dapat diinterpretasi sebagai bentuk aktivitas (budaya) pada kawasan Pulau Tengah. Berdasarkan karakteristik tersebut, unit lanskap kawasan Pulau Tengah terbagi menjadi 245 unit tempat (Gambar 26). Penutupan lahan pada unit tempat diperoleh dari hasil interpretasi citra yang dilakukan sebelumnya yaitu ruang pemukiman, sawah, ladang, danau dan hutan lindung.
Konsep Pelestarian
Pada dua ratus empat puluh lima unit tempat terkandung karakteristik penutupan lahan yang diinterpretasikan sebagai bentuk budaya Pulau Tengah. Untuk mempertahankan budaya tersebut, perlu dilakukan upaya pelestarian. Pelestarian ini bertujuan melestarikan kawasan Pulau Tengah baik secara ekologi, ekonomi sosial, dan budaya melalui penutupan lahan. Penutupan lahan terbagi menjadi lima yaitu pemukiman, sawah, ladang, danau dan hutan lindung. Kelima ruang ini harus dipertahankan dari perubahan ke arah pembangunan atau alih fungsi lahan tanpa mempertimbangkan aspek biofisik dan budaya setempat. Perubahan ini dapat terjadi apabila kebijakan pemerintah yang tidak mempertimbangkan nilai lokal (keberadaan rumah larik yang hilang dan lain sebagainya), nilai adat yang mulai longgar sehingga lahan sawah dan ladang dapat bebas diperjual-belikan, masuknya pengaruh budaya luar yang akan menjadi alasan hilangnya budaya lokal, dan lain sebagainya. Ancaman-ancaman ini menjadi dasar pertimbangan dalam pelestarian kawasan melalui penutupan lahan beserta komponen didalamnya.
Arahan pelestarian kawasan tersebut disusun berdasarkan karakteristik perlindungan lanskap/seascape yang termasuk kategori V dalam penentuan kawasan perlindungan menurut UNESCO (1972, dalam Phillips, 1998). Kategori
V dalam kriteria nilai penting world heritage convention tersebut mengenai tiga jenis nilai, yaitu:
1) nilai sumber daya biologi (biodiversitas), yang berkaitan dengan kompromi dalam mempertahankan keragaman biologi alam dan pertanian,
2) nilai karakteristik pemanfaatan/penggunaan sember daya oleh manusia. Seperti penggunaan lahan yang berkelanjutan,
3) nilai aspek keterkaitan hubungan manusia dengan alam dan kelekatan nilai-nilai masyarakat dengan kualitas alam (lanskap).
Berdasarkan tiga nilai tersebut, dilakukan kategorisasi terhadap dua ratus empat puluh lima (245) unit tempat (Tabel 15). Kategorisasi unit tempat dilakukan berdasarkan skoring terhadap faktor yang dinilai, yaitu biodiversitas, tata guna lahan, dan nilai terkait adat. Penilaian disusun berdasarkan kategori tinggi, sedang, dan rendah, dimana secara berturut-turut mempunyai nilai 3, 2, dan 1. Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan signifikansi tinggi, rendah, dan sedang mengacu pada Selamet (1983, dalam Hasibuan, 2014) adalah sebagai berikut :
Interval Kelas (IK) = Skor Maks(Sma) – Skor Min (Smi) Signifikansi tinggi = SMi + 2IK + 1 sampai SMa
Signifikansi sedang = SMi + 1IK + 1 sampai (SMi+2IK) Signifikansi rendah = SMi sampai SMi + 1K
Adapun kategorisasi nilai penting pada unit tempat berdasarkan kategori V penentuan kawasan perlindungan lanskap/seascape (UNESCO, 1972 dalam
Phillips, 1998) dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Kategorisasi nilai penting pada unit tempat berdasarkan Kategori V (UNESCO, 1972 dalam Phillips, 1998)
Unit Tempat
Ke-
Kriteria Nilai Penting
Total Skor
Kategori Nilai Biodiversitas Tata Guna
Lahan Nilai Terkait Adat 1 3 3 3 9 Tinggi 2 2 3 3 8 Tinggi 3 2 3 2 7 Sedang 4 2 3 2 7 Sedang 5 1 3 2 6 Rendah 6 2 3 2 7 Sedang 7 - 245 3 3 3 9 Tinggi Jumlah kategori
Berdasarkan rumus tersebut diperoleh kelas interval dengan nilai = 1. Kelas interval tersebut dibuat signifikansi tinggi, sedang dan rendah melalui rumus berikutnya, yaitu :
Signifikansi tinggi = SMi + 2IK + 1 sampai SMa = 6+2+1 sampai 9
= 8 sampai 9
Signifikansi sedang = SMi + 1IK + 1 sampai (SMi+2IK) = 6+1+1 sampai (6+2)
= 7 sampai 8
Signifikansi rendah = SMi sampai SMi + 1K = 6 sampai 6 + 1
= 6 sampai 7
Berdasarkan kategorisasi pada Tabel 15, dapat diuraikan karakteristik bioregion yang dalam hal ini berupa karakteristik unit tempat Pulau Tengah menurut kriteria nilai penting. Kriteria nilai penting terdiri atas biodiversitas, tata guna lahan dan nilai terkait adat. Karakteristik unit tempat ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendukung konsep pelestarian kawasan studi. Karakteristik unit tempat berdasarkan kriteria kawasan perlindungan lanskap/seascape
(UNESCO, 1972 dalam Phillips, 1998) dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Karakteristik unit tempat berdasarkan kriteria kawasan perlindungan lanskap/seascape (UNESCO, 1972 dalam Phillips, 1998)
Kriteria Nilai Penting Karakteristik unit tempat kawasan Pulau Tengah
1. Biodiversitas - Keanekaragaman vegetasi kawasan Pulau
Tengah dikategorikan tinggi pada lahan laman, ladang, dan hutan lindung. Keanekaragaman vegetasi pada sawah dikategorikan rendah dan sedang.
- Pada laman terdapat tanaman obat, bumbu masak, buah-buahan, sakral, hias dan lain sebagainya
- (Tabel 11).
- Pada ladang dan pelak terdapat struktur
agroforestri dengan komoditas utama kulit manis dan dipadukan dengan kopi. Selain itu terdapat beberapa tanaman kayu (surian dan melaku) dan buah (durian, jengkol, petai, langsat, jeruk, dan manggis)
- Lapisan bawah terdapat tanaman cengkeh. Kedua jenis tanaman kayu seperti surian dan melaku merupakan spesies yang tumbuh dihutan alam yang dibudidayakan oleh masyarakat dalam agroforestri pelak.
2. Tata Guna Lahan
Pemukiman - Pemukiman berada pada lereng yang datar dan
tanah Andosol.
- Prinsip dalam membangun rumah adat memakai proses ajun arah yang harus berada dalam pengawasan lembaga adat.
Kriteria Nilai Penting Karakteristik unit tempat kawasan Pulau Tengah
- Proses pengukuran dalam pembangunan rumah mengikuti patokan adat
- Berdasarkan masyarakat suku Kerinci, berdirinya suatu negri harus memiliki beberapa persyaratan yang dikemukakan dalam pepatah adat yang berbunyi :“neghoi
sekato rajea, luhah sekato tengganai”“pahit
sudut mpat, umoh batanggo,laheik bajajo,berlubuk bertapian, bersawah baladeang, babale bamesjoik, bapandan
perkuburan”
Artinya :“Negeri mengikuti kata raja, luhah
mengikuti kata penghulu, dan rumah
mengikuti kata tengganai“memiliki batas
wilayah yaitu parit bersudut empat, memiliki rumah tempat tinggal, memiliki larik yang berjajar, memiliki jalan dan pemandian umum,memiliki sawah dan ladang, memiliki balai dan masjid atau surau,memiliki tempat
pemakaman” (Hasibuan, 2010)
Sawah - Lahan ini berada pada lereng yang datar dan
tanah Andosol, sebagai penyangga bagi pemukiman dan danau serta penyangga bagi pemukiman dan ladang.
- Kepemilikan sawah bergantung pada anok janton artinya sawah giliran yang dilakukan oleh kaka beradik laki-laki dalam buyut yang sama.
- Padi Payo merupakan varietas padi unggulan khas Kabupaten Kerinci
- Sistem pertanian sawah berupa sistem legowo yang berarti lapang
- Acara adat yang dilakukan oleh adat yaitu
nyemai dan turun ke sawah serentak
Ladang - Lahan ini terletak pada semua kelas lereng
yaitu datar, landai, agak curam, curam dan sangat curam
- Lahan ini terletak pada tiga jenis tanah yaitu Andosol, Podsolik dan Organosol
- Petani ladang biasanya memiliki beberapa pilihan dalam menentukan sistem tanamnya, ada beberapa sistem yang dipakai dalam pengelolaan lahan perbukitan, yaitu:
1. tanaman semusim akan ditanam bersamaan dengan kopi dan kulit manis dalam dua tahun pertama,
2. kopi diproduksi setelah dua setengah tahun tanam sampai tahun ke delapan,
3. setelah tahun ke delapan tersebut, petani memiliki beberapa pilihan diantaranya:
Kriteria Nilai Penting Karakteristik unit tempat kawasan Pulau Tengah
a. kulit manis ditebang dan dipanen, kopi dipangkas pendek dan tanaman semusim lain ditanam lalu kembali ke tahap awal, b. kulit manis dipertahankan dan dirawat terus
menerus sampai masa panen (umur 25 tahun) dan ditebang, lalu kembali ke tahap awal,
c. kebun campuran permanen yaitu jenis pepohonan berguna yang ditanam atau tumbuh secara alami selama tahap pada nomor satu dan dua yang dipertahankan bersamaan dengan kulit manis.
- Lahan kulit manis yang berada pada hutan lindung dinamakan ranah sikang yang harus diatur dan dijaga oleh petani dan diawasi oleh adat
- Terdapat stratifikasi nyata pada kebun kebun agroforest (Gambar 27) yang berupa spesies kanopi utama adalah pohon durian yang besar dan petai. Dalam lapisan tengah terdapat pohon duku dan manggis. Pada lapisan bawah terdapat pohon cengkeh.
- Pada saat peremajaan kebun, maka pohon- pohon yang kurang produktif diganti dengan pohon pecinta matahari seperti jengkol, kopi, pisang, dan melaku atau surian. Melaku dan surian merupakan spesies yang biasa tumbuh dalam rumpang pada hutan alam
- Pada lapisan terbawah, dahan-dahan dikumpulkan untuk kayu bakar dan daun- daun kopi dikumpulkan untuk membuat minuman kawa.
- Profil arsitektur agroforest pelak dapat dilihat pada Gambar 27 (Aumeeruddy, 1991)
Hutan Lindung - Lahan ini berada pada semua kelas lereng
(datar, landai, agak curam, curam dan sangat curam) dan jenis tanah Andosol, Podsolik dan Organosol.
- Hutan lindung berupa taman nasional yaitu TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) yang memiliki beragam biodiversitas yang harus dilindungi. Selain itu, hutan lindung menjadi sumber mata air bagi kehidupan yang ada dibawahnya. Oleh karena itu, terdapat hubungan simbolik yang erat antara masyarakat dan kepercayaannya mengenai sakralnya hutan lindung. Hutan dianggap sebagai tempat tinggal para leluhur. Hutan memiliki beragam fungsi yaitu;
Kriteria Nilai Penting Karakteristik unit tempat kawasan Pulau Tengah
a) fungsi ekologis, sebagai pelindung mata air dan keanekaragaman hayati b) fungsi magis, tempat sakral yang
didiami oleh para leluhur c) fungsi ekonomis, menghasilkan
berbagai hasil hutan melalui agroforestri sebagai penyangga
Danau Kerinci - Lahan ini berada pada lereng datar dan tanah
Hidromorfik.
- Danau kerinci bertipe vulkanik akibat dari meletusnya gunung berapi
- Danau Kerinci menyuplai air ke sungai Batang Hari melalui sungai Batang Merangin. - Sungai Buai menyalurkan air dari hulu
(Pancuran Rayo dan Pancuran Gading) ke Danau Kerinci.
- Keberadaan danau menjadi sumber air baik untuk irigasi maupun kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat tepian danau. - Danau juga sebagai habitat berbagai jenis
ikan yaitu; ikan semah, barau, puyu, seluang, madik, nila, baung, koan, dan ikan mas. - Kawasan sempadan Danau Kerinci
seharusnya berjarak 100 meter dari titik pasang tertinggi.