BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Unsur Intrinsik
cerita dan terdapat didalam cerita.
1) Tema : Kehidupan seorang ronggeng.
“….Aku percaya indang ronggeng masih tetap bersemayam pada diri sampean. Hati sampean yang buntu akan terobati bila sampean melupakan dia…. Selagi indang masih tinggal dalam diri, sampean tidak mungkin mendapatkan lebih dari itu. Tidak mungkin! Jadi sekali lagi, lupakan Rasus demi kebaikan sampean sendiri.” (hlm. 165)
2) Alur/Plot : Alur campuran.
Cerita dimulai ketika Srintil hendak menjadi ronggeng, lalu flashback ke peristiwa orang tua Srintil yang meracuni orang Dukuh Paruk akibat tempe bongkreknya yang mengandung racun. Secara umum, rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Tahap Penyituasian
Tahapan penyituasian, tahap yang menjelaskan atau memperkenalkan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Dalam novel
38
Ronggeng Dukuh Paruk, tahapan ini di mulai dengan menjelaskan tokoh-tokoh di dalamnya, dan tahapan ketika indang ronggeng memasuki ke dalam diri Srintil.
“Menjelang tengah malam barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya, kamitua di pedukuhan terpencil itu, masih merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam Sakarya mengikuti gerakgerik Srintil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka. Sedikit pun Sakarya tidak ragu, Srintil telah kerasukan indang ronggeng.” (hlm. 15)
Tahapan ini juga dimulai dengan sedikit flashback tentang kejadian keracunan tempe bongkrek Santayib dan Istrinya yang merupakan orang tua Srintil. Peristiwa menceritakan bagaimana proses Srintil dan Rasus menjadi yatim-piatu.
“Srintil adalah seorang yatim-piatu, sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak Dukuh Paruk kehilangan ayah-ibu…. Alam membisu mendengar ratap Sakarya. Dukuh Paruk bungkam. Hanya kadang terdengar keluh sakit. Atau tangis orang-orang yang menyaksikan saudara meregang nyawa. Bau bunga sedap malam dikalahkan oleh asap kemenyan yang mengepul dari semua rumah di Dukuh Paruk, pedukuhan yang berduka ketika Srintil genap berusia lima bulan.” (hlm. 21)
b. Tahap Pemunculan Konflik
Tahap pemunculan konflik, masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Dalam novel ini, tahap pemunculan konflik dimulai ketika proses Srintil menjadi ronggeng hingga menjadi ronggeng. Tahap ini, Srintil mulai melalui tahapan menjadi ronggeng yaitu dimulai dengan upacara pemandian di makam Ki Secamenggala dan sayembara bukak-klambu. Kedua tahapan yang harus dilalui Srintil sebagai seorang ronggeng membuat Rasus kecewa karena Srintil nantinya akan menjadi milik umum dan tidak bisa dimiliki oleh Rasus yang saat itu belum menjadi apa-apa.
“Kartareja menari makin menjadi-jadi. Berjoget dan melangkah makin mendekati Srintil. Tangan kirinya
melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Tiba-tiba dengan kekuatan yang mengherankan Kartareja mengangkat tubuh Srintil tinggi-tinggi. Menurunkannya kembali dan menciumi ronggeng itu penuh berahi…. Aku melihat tontonan itu tanpa perasaan apa pun kecuali kebencian dan kemarahan. Tak terasa tanganku mengepal. Hanya itu, karena aku tak bertindak apa-apa. Tak berani berbuat apa-apa. Dan Kartareja terus menciumi Srintil tanpa peduli puluhan pasang mata melihatnya.” (hlm. 48)
“….Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam bukakklambu itu Srintil diseret keluar dari dalam hatiku. Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah tidak akan memaafkannya. Jadi ketika Dukuh Paruk bergembira ria dengan suara calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi ronggeng aku malah mulai membencinya. Pengikat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah direnggut kembali….” (hlm. 80)
c. Tahap Peningkatan Konflik
Tahap peningkatan konflik, konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tahap peningkatan konflik terjadi setelah Rasus pergi meninggalkan Srintil. Padahal saat itu Srintil ingin dinikahi oleh Rasus, namun Srintil patah hati karena Rasus tetap pergi meninggalkannya. Hal ini yang menyebabkan hubungan Srintil dengan dukun ronggengnya merenggang karena Srintil terus-terusan menolak tawaran untuk menari.
“Sebetulnya aku bisa mengerti mengapa Srintil senang terhadap Rasus. Pokoknya tak ada yang salah. Persoalannya bila Srintil terus murung dan menolak kembali naik pentas. Dukuh Paruk jadi sepi. Itu saja yang kusayangkan.” (hlm. 115)
“Oalah, toblas, beginilah caramu membalas budi kami, ya! Kami berdua telah memberimu jalan sehingga kamu mendapatkan kamukten. Tetapi inilah imbalan yang kami terima; dipermalukan habis-habisan oleh Pak Marsusi. Anak Santayib, dasar cecurut kamu! Dan kamu bertingkah menolak sebuah kalung seratus gram? Merasa sudah kaya? Bila kamu tidak suka kalung itu, mestinya bisa kau ambil untukku. Dan kau layani Pak Marsusi karena semua orang toh tahu kau seorang ronggeng dan sundal.” (hlm. 152)
40
d. Tahap Klimaks
Tahap klimaks, konflik dan atau pertentangan pertentangan yang terjadi, yang dilakui dan atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik puncak. Dalam novel ini, tahapan klimaks terjadi ketika Srintil mulai menari kembali menjadi ronggeng. Ketika puncak ketenaran Srintil sebagai seorang ronggeng diakui oleh umum, Srintil harus menelan pahitnya hidup karena Srintil dianggap terlibat dengan PKI karena kedekatan Srintil dan orang Dukuh Paruk dengan Pak Bakar.
“Nyai Kartareja segera memperbaiki hubungannya dengan Srintil, pertama-tama dengan berusaha mengaku bersalah dalam peristiwa Marsusi beberapa minggu berselang. Perubahan sikapnya terhadap Srintil sangat nyata. Dia tidak ber-kamu lagi terhadap ronggeng Dukuh Paruk yang telah sekian lama menjadi anak akuannya, Nyai Kartareja kini memanggil Srintil dengan sebutan jenganten atau setidaknya sampean; suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya, kemandirian Srintil telah diakuinya.” (hlm. 179)
“Tetapi pada tahun 1964 itu, ketika paceklik merajalela di mana-mana, ronggeng Dukuh Paruk malah sering naik pentas. Bukan di tempat-tempat orang berhajat, melainkan di tengah rapat umum, baik siang atau malam hari. Karena sering berada di tengah rapat rombongan ronggeng Dukuh Paruk mengenal Pak Bakar; orang yang selalu berpidato berapi-api. Pak Bakar dari Dawuan yang amat pandai berbicara, sudah beruban tetapi semangatnya luar biasa…. Waktu itu kita disebut sebagai kelompok seniman rakyat. Padahal kita tidak pernah mengumumkan apa pun. Kemudian ada satu kejadian; aku dilarang membakar kemenyan dan memasang sesaji. Yang menyebut kita seniman rakyat dan melarangku memasang sesaji dialah orangnya. Pak Bakar. Aku tahu pasti. Kini orang itu malah sering datang kemari. Bagaimana, ya?” (hlm. 228-229) “Tentang orang yang mengepung Dukuh Paruk akan kami selidiki. Tetapi di luar masalah itu ada hal penting yang akan kami sampaikan buat kalian berdua. Bahwa saudara Kartereja dan saudara Srintil termasuk orang-orang yang harus kami tahan. Ini perintah atasan. Dan kami hanya melaksanakan tugas.” Srintil mendengar seluruh ucapan Komandan. Kata-kata itu menjadi masukan yang ternyata amat sulit dijabarkan menjadi pengertian dan kesadaran. Ketika pengertian itu baru muncul samar, jiwanya menampik dengan keras. Seluruh proses yang terjadi pada diri Srintil memerlukan tenaga ekstra. Jantung berdenyut
lebih cepat dan darah terpusat pada otak dan pusat-pusat saraf. Wajah Srintil pucat tidak kebagian darah. Tangan dan kakinya berkeringat dingin, dan Srintil tergagap dalam upaya menggapai dirinya kembali.” (hlm. 240-241)
e. Tahap Penyelesaian
Tahap penyelesaian, tahap yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tahap penyelesaian dibuat dengan akhir cerita yang menggantung. Tahap ini dimulai ketika Srintil mulai diterima kembali oleh masyarakat karena kedekatannya dengan Bajus. Telah terbang indang ronggeng pada diri Srintil. Kedekatan Srintil dengan Bajus memberi harapan kepada Srintil akan keinginannya untuk menjadi ibu rumah tangga atau perempuan somahan. Namun, ternyata Bajus tidak bisa menikahi Srintil dan justru membuat Srintil semakin terpuruk hingga kehilangan kesadarannya.
“Srintil merasakan perubahan itu dari wajah-wajah yang dilihatnya sehari-hari. Kadar kecurigaannya tidak lagi menjadi warna utama pada setiap pasang mata. Dan kenyataan bahwa Srintil sering digandeng oleh orang yang punya peran penting dalam pembangunan pengairan, Bajus, mempengaruhi pandangan orang kepadanya….” (hlm. 336) “Terasa urat-urat pengikat semua sendi tubuhku melemah. Apa yang tertangkap oleh mata amat sulit kucerna menjadi pengertian dan kesadaran. Srintil yang demikian kusut dengan celana kolor sampai ke lutut serta kaus oblong yang robek-robek. Srintil yang hanya menoleh sesaat kepadaku lalu kembali berbicara sendiri. Dan pelita kecil dalam kamar itu melengkapi citra punahnya kemanusiaan pada diri bekas mahkota Dukuh Paruk itu.” (hlm. 395)
3) Tokoh dan Penokohan
Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, tokoh utama dalam novel ini adalah Srintil dan Rasus. Mereka mempunyai peranan penting dalam novel, sehingga kejadian dan peristiwa yang terjadi di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk banyak dipaparkan melalui kedua tokoh utama tersebut.
42
a. Srintil : Bersahabat, cantik, dan agresif.
“Sebelum berlari pulang. Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua orang temannya akan bersedia kembali bermain bersama.” (hlm. 4)
Dari kutipan diatas terlihat bahwa Srintil adalah gadis yang bersahabat dan senang bermain layaknya anak-anak seusianya.
“ Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka.” (hlm. 18)
Dari kutipan diatas terlihat jelas bahwa Srintil adalah gadis yang sangat cantik. Selain cantik Srintil juga memiliki sifat agresif atau tidak malu terhadap lawan jenis nya. Disaat ketiga teman laki-lakinya meminta dicium Srintil tanpa tanpa malu-malu langsung mencium ke tiga temannya. Seperti kutipan berikut:
“Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah ke arah Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium pipi. Warta dan Darsun masingmasing mendapat giliran kemudian….Kali ini mereka yang berebut mencium pipi Srintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng….” (hlm. 14)
b. Rasus : Kasar, pintar, dan pemberani
“Rasus, bila kau tahu betapa ngeri hatiku tadi,” ujar Srintil yang kududukkan di atas lincak.
“Kartareja memang bajingan. Bajul buntung,” jawabku mengumpat dukun ronggeng itu.
“Eh, Rasus. Jangan berkata begitu. Kaudengar tadi kata kakekku, bukan? Kartareja hanya kesurupan arwah Ki Secamenggala.” (hlm. 49)
Dari kutipan di atas terlihat jelas bahwa Rasus adalah sosok yang kasar. Seharusnya Rasus tidak mengumpat atau menghina Kartareja yang memiliki usia lebih tua darinya.
“Berbagai pengetahuan takkan pernah kudapat bila aku tak berkesempatan mengenal Sersan Slamet. Hanya dua bulan aku belajar membaca dan menulis. Sesudah itu aku mulai berkenalan dengan buku-buku yang berisi pengetahuan umum, wayang, buku sejarah, sampai buku-buku yang berisi pengetahuan umum. Selukbeluk senjata juga kuperoleh dari sersan yang baik itu. Dari namanya seperti
Pietro Beretta, Parabellum, Lee Enfield, Thomson, dan sebagainya.” (hlm. 94)
Seperti pada kutipan di atas, Rasus digambarkan sebagai orang yang pandai dan serba ingin tahu. Dalam waktu sebentar Rasus dapat belajar banyak hal sehingga dia bisa meneruskan. Selain memiliki kepandaian, Rasus juga digambarkan sebagai orang yang berani. Hal ini terbukti ketika Rasus berani membunuh penjahat yang ingin mencuri harta Srintil di rumah Nyai Kartareja. Seperti pada kutipan berikut:
“Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika perampok membelakangiku, aku maju dengan hati-hati. Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak mengapa. Senjata yang telah terkokang itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua.” (hlm. 101-102)
Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini juga didukung oleh kehadiran tokoh-tokoh tambahan yang turut berperan dalam novel ini, di antaranya:
c. Warta : Perhatian dan kasar.
“Rasus, kau boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai sebuah ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.” (hlm. 37)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa Warta merupakan teman yang cukup perhatian kepada temannya. Warta mencoba menghibur Rasus yang terus memikirkan Srintil.
“Oh kasihan kawanku ini. Kau senang akan Srintil, tetapi nanti malam ronggeng itu dikangkangi orang. Wah...”
“Bangsat engkau, Warta.”
“Bagaimana? Bukankah aku berkata tentang
44
“Ya. Tetapi kau jangan menambah sakit hatiku.” (hlm. 63)
Kutipan di atas terlihat bahwa Warta sosok yang kasar dalam bertutur dimana ia mengunakan kata-kata yang kurang pantas walaupun semua yang ia katakan merupakan suatu kebenaran.
d. Darsun : Kurang sopan
“Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. “Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.”
“Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah sekeras ini,” ujarWarta . “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau
dapat menemukan air?” (hlm. 11)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa Darsun adalah sosok yang kurang sopan dimana Darsun kurang memikirkan perasaan mirta tuturnya ketika ia merespon tuturan dari Warta saat mengusulkan untuk menyiram pangkal singkong.
e. Sakarya : Taat pada aturan kepercayaan dan baik.
“….Walaupun sedang menunggu mayat anak dan menantunya, tengah malam Sakarya keluar menuju makam Ki Secamenggala. Laki-laki itu menangis seorang diri di sana. Dalam kesedihannya yang amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada moyang orang Dukuh Paruk. Sakarya tidak lupa, dirinya menjadi kamitua di pedukuhan itu.” (hlm. 30)
“Perasaan kakek Srintil itu lebih dirisaukan oleh peristiwa peristiwa kecil namun baginya penuh makna….Sakarya selalu membaca sasmita alam. Sakarya tidak pernah berpikir bahwa suatu perkara kecil apa pun bisa berdiri sendiri, lepas dari kehendak semesta. Dan semuanya pastilah mengemban makna yang sasmita. Sepanjang menyangkut binatang asing yang mendekat, apalagi sampai masuk rumah, siapa pun di Dukuh Paruk akan membacanya sebagai pertanda buruk.” (hlm. 158)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh kakek Srintil itu sebagai seorang yang selalu percaya akan adanya makna-makna yang tersirat pada semua pertanda-pertanda alam yang terjadi. Selain itu, tokoh
Sakarya juga digambarkan sebagai orang yang patuh dan taat terhadap kepercayaannya, terlebih ketika Sakarya telah menjadi kamitua di Dukuh Paruk.
f. Nyai Sakarya : Penyayang dan keibuan.
“Seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk berjalan merangkul cucunya. Nyai Sakarya maupun Srintil membisu. Namun dalam hati masing-masing sudah tumbuh kesepakatan mereka berdua hendak pulang ke Dukuh Paruk…. Agak jauh di depan sepasang sinar kebiruan bergerak menyeberang pematang diikuti oleh dua pasang lainnya. Srintil merapat ke tubuh neneknya.” (hlm. 134-135)
Kutipan di atas Nyai Sakarya digambarkan sebagai seorang nenek yang penyayang, dan sabar. Nyai Sakarya dengan sabar mecari Srintil yang kala itu kabur keluar Dukuh Paruk karena ingin mencari Rasus. Selain itu, Nyai Sakarya memliki sifat yang sangat keibuan sehingga dia bisa menenangkan Srintil ketika Srintil takut atau gelisah.
g. Kartareja : Matrealistis dan licik.
“Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau harus datang membawa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang panjarmu hilang. Bagaimana?”
“Kalau saya gagal memperoleh sebuah ringgit emas maka uang panjar saya hilang?” tanya Dower.
“Ya!” jawab Kartareja singkat. Rona kelicikan mewarnai wajahnya. Dower termangu, tampak berpikir keras. (hlm. 59)
Pada kutipan di atas, menggambarkan Kartareja yang licik ketika ingin melakukan sayembara bukak-klambu bagi Srintil. Kelicikan itu juga terjadi ketika bukak-klambu itu sedang berlangsung besok malamnya.
“Kartareja mengeluarkan botol-botol dari lemari. Sebuah masih penuh berisi ciu. Sebuah lagi hanya berisi seperempatnya. Botol yang kedua ditambah dengan air tempatnya hingga penuh. Kepada istrinya yang datang membawa dua buah cangkir, Kartareja memerintahkan menghidangkan minuman keras itu kepada Sulam dan Dower.
46
“Jangan keliru! Yang asli buat Sulam. Lainnya buat Dower,” kata Kartareja. Istrinya tersenyum. Walaupun tidak selicik Kartareja, namun perempuan itu sudah dapat menduga ke mana maksud tindakan suaminya.” (hlm. 73-73)
h. Nyai Kartareja : Licik, egois, dan martealistis
“Inilah susahnya momong seorang ronggeng cantik tetapi masih kekanak-kanakan. Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti yang dipakai oleh istri Lurah Pecikalan, sebuah rantai emas seberat seratus gram dengan bandul berlian. Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil itu. Nah, bagaimanakah dengan kami yang melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik mudah saja dia memberi beban berat kepada kami.”(hlm. 122)
Kutipan tersebut menggambarkan Nyai Kartareja yang licik karena sebenarnya yang menginginkan kalung emas itu bukan Srintil melainkan dirinya. Akibat Srintil yang tidak mau menemui Marsusi, maka alasan yang digunakan Nyai Kartareja adalah Srintil sedang merajuk karena menginginkan kalung emas. Tidak hanya itu, Nyai Kartareja juga digambarkan sebagai tokoh yang egois, yang tidak mengerti bagaimana perasaan Srintil setelah keluar dari penjara. Seperti pada kutipan berikut:
“Oalah, Gusti Pangeran,” tangis Srintil dalam ratap tertahan. “Nyai, kamu ini kebangetan! Kamu menyuruh aku kembali seperti dulu? Kamu tidak membaca zaman? Kamu tidak membaca betapa keadaanku sekarang? Oalah, Gusti….” “Eh, sabar dulu, Jenganten. Dengar dulu kata-kataku! Siapa bilang ada orang yang tidak mengerti keadaan sampean. Tetapi apakah sampean hanya mau mementingkan diri sendiri dan tidak mau mengerti urusan perut orang Dukuh Paruk yang hanya bisa nunut sampean?”
“Aku memang tidak mau tahu. Orang Dukuh Paruk bisa hidup tanpa bergantung kepadaku. Orang Dukuh Paruk biasa makan iles-iles, bahkan bonggol pisang. Lakukan itu dan jangan meminta aku kembali berbuat kesalahan. Oalah, Nyai. Kamu hanya mengalami dua minggu di tahanan. Sedangkan aku dua tahun. Cukup, Nyai. Cukup!” (hlm. 228)
i. Pak Bakar : Berwibawa dan Licik.
“Di mata Srintil, Bakar adalah ayah yang sangat layak. Ramah, dan kelihatannya paham akan banyak hal termasuk perasaan pribadi Srintil…. Dukuh Paruk yang bersahaja sertamerta menerima Bakar sebagai orang bijak yang bisa
memimpin dan melindunginya. Bila datang ke sana ahli pidato itu mendapat penghormatan sebagai seorang kamitua laiknya. Kata-katanya dituruti, pengaturannya dijalankan. Satu-satunya jalan yang menjadi pintu masuk ke Dukuh Paruk berhias lambang partai….” (hlm. 230)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Pak Bakar yang mudah diterima oleh orang Dukuh Paruk karena kewibawaan dan kebaikankebaikannya terhadap orang Dukuh Paruk. Dengan kepandaiannya berbicara dia digambarkan sebagai laiknya kamitua di Dukuh Paruk. Pak Bakar dipercaya dapat memimpin dan melindungi Dukuh Paruk. Padahal, Pak Bakar melakukan itu semua karena ada tujuan lain di dalamnya seperti melibatkan Dukuh Paruk ke dalam partai politiknya. Namun, setelah mengenal Pak Bakar ternyata Pak Bakar adalah orang yang tidak sopan, karena menghina Ki Secamenggala, moyang Dukuh Paruk. Seperti pada kutipan di bawah ini:
“Nanti dulu, Kang Sakarya,” ujar Bakar sambil tersenyum. “Aku yakin betul, apa yang terjadi di sawah-sawah itu seharusnya tidak asing bagi semua orang Dukuh Paruk. Nah, apa kalian mengira aku tidak tahu siapa dan bagaimana kelakuan nenek moyang kalian?” Sakarya terperanjat. Kata-kata Bakar tak diduganya sama sekali. Kata-Kata-kata itu mengandung penghinaan, menyangkut moyang Dukuh Paruk yang amat dikeramatkan oleh sekalian keturunannya. Ki Secamenggala yang semasa hidupnya menjadi bromocorah, pemimpin rampok yang tidak hanya sekali-dua membunuh korbannya. Tetapi bagaimana juga Ki Secamenggala adalah laki-laki dari siapa semua orang Dukuh Paruk berasal.” (hlm. 233)
j. Bajus : Licik dan kasar.
“Sementara Blengur terus menatap foto Srintil, Bajus terus memberi keterangan panjang tentang perempuan muda dari Dukuh Paruk itu. Ketika berkata bahwa Srintil kini kelihatan sedang berusaha keras menjadi seorang ibu rumah tangga, Bajus mengubah nada kata-katanya dengan tekanan yang khas. “Jadi begitu,” potong Blengur. “Lalu mengapa dia mau kamu bawa kemari? Kamu tipu dia, kan?” (hlm. 379)
Kutipan di atas Bajus digambarkan sebagai laki-laki yang licik dan jahat karena telah membawa Srintil hanya untuk memanfaatkan Srintil untuk karir Bajus dikedepannya.
48
“Kamu tetap menolak? Tidak bisa! Kamu orang Dukuh Paruk harus tahu diri. Aku telah banyak membantumu. Aku telah banyak mengeluarkan uang untuk kamu!” Bajus berjalan berputar-putar sambil tetap menjaga agar dirinya menjadi palang pintu. Srintil duduk kaku, tak bereaksi