BAB III UNSUR SASTRA DAN NILAI-NILAI DALAM SERAT
B. Unsur Kesastraan
Setiap karya sastra yang berupa naskah atau manuskrip yang mengkisahkan tentang asal usul wilayah tentunya memiliki unsur baik sastra maupun sejarah. Unsur keindahan dan khayalan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi dalam sebuah karya sastra (Anonim, 2007).Hal tersebut juga terdapat dalam Serat Turunan Sejarah Wirasaba.
Adapun Unsur kesastraan yang terdapat dalam serat tersebut antara lain dijabarkan sebagai berikut.
1. Bentuk dan bahasa teks
Teks Serat Turunan Sejarah Wirasaba ditulis dalam bentuk tem-bang puisi Jawa metrum macapat. Dalam puisi Jawa metrum ma-capat mempunyai aturan- aturan tertentu sesuai dengan metrum-nya. Dalam Serat Turunan Sejarah Wirasaba terdiri dari 14 pupuh.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa ragam ngoko.
Naskah ini merupakan naskah yang disalin oleh Mulyareja di Purbalingga. Keterangan mengenai naskah sebagai turunan atau salinan terdapat dalam sampul dan awal teks yang berbunyi:
Turunan Sejarah Wirasaba Punika kula kintên kathah lêpatipun Kula ingkang nurun nyuwun gunging pangapuntên.
Terjemahan:
Turunan Sejarah Wirasaba Ini saya kira banyak (yang) salahnya.
Saya yang menyalin mohon maaf yang sebesar-besarnya.
2. Unsur Hagiografi
Hagiografi juga didefinisikan sebagai praktik linguistik naratif yang menceritakan kehidupan orang-orangsehingga pembaca atau pendengar dapat mengalami kekuatan imperatif mereka. Hal ini terlihat jika narasi disusun untuk menunjukkan kekuatan yang mendorong kehidupan. Hagiografi merupakan bentuk diskursif yang tersebar luas yang ditemukan tidak hanya dalam literatur keagamaan (kitab suci) tetapi juga dalam karya sastra (Wyschogrod. 1990: 6).
Teks Serat Turunan Sejarah Wirasaba mengandung unsur hagiografi. Hagiografi menurut Kamus Besar Bahasa Indoensia adalah tulisan atau buku yang memuat legenda orang-orang suci (https:// kbbi.web.id/ hagiografi). Dalam turunan Sejarah Wirasaba versi Mulyareja unsur hagiografi itu ada pada tokoh Jaka Kaiman dan Ki Tolih. Hal itu dapat dilacak melalui cerita bahwa Ki Tolih merupakan sosok utusan dari Raja Keling yang diperintahkan untuk membunuh Raja Brawijaya Majapahit. Ketika gagal membunuh Raja Brawijaya, Ki Tolih diampuni atas niat jahatnya. Ia kemudian mengabdi kepada Patih Gajah. Suatu hari Ki Tolih mampu memenangkan sayembara Raja Brawijaya dan memperoleh hadiah kedudukan sebagai raja dan menikah dengan putri Brawijaya. Namu hadiah itu ditolak.
Ia hanya meminta sebilah keris tanpa warangka. Di sinilah tokoh Ki Tolih sebagai orang suci mulai terangkai. Dikisahkan bahwa pengembaraan Ki Tolih sampai di Kaleng. Berkat dirinya di kaleng
maka semua warga Kaleng menjadi kaya raya. Ki Tolih kemudian meminta Ki Mranggi membuatkan warangka keris. Keris kemudian diberikan Jaka Kaiman, yang kelak menjadi penguasa Wirasaba dengan gelar Adipati Warga Utama II.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa tokoh Ki Tolih meskipun merupakan seorang penjahat yang ingin membunuh raja Brawijaya, namun mampu membuktikan sebagai sosok yang sakti dan memberikan tuah terhadap tempat atau orang yang menjadi persinggahan atau tempat tinggalnya.
Unsur hagiografi tokoh Jaka Kaiman muncul ketika mengabdi kepada Adipati Warga Utama di Wirasaba. Saat itu, Jaka Kaiman tanpa disadari memperoleh “wahyu” (dalam budaya disebut kewahyon) yang berwujud cahaya. Hal itu diketahui oleh Adipati Warga Utama. Ketika suatu malam, Adipati Warga Utama melihat tubuh Jaka Kaiman memancarkan cahaya.
Dalam budaya Jawa, orang yang memancarkan cahaya me-rupakan orang yang memiliki kelebihan. Dalam hal ini, tentu saja kelebihan derajat hidup. Dapat diartikan bahwa orang tersebut merupakan sosok yang suci atau mulia. Berangkat dari itu, maka pengarang memasukkannya unsur tersebut terhadap tokoh Jaka Kaiman. Jaka Kaiman yang semula merupakan abdi bersama dengan anak-anak yang lainnya, akhirnya menjadi sosok yang suci yang memiliki kemuliaan.
Hal tersebut secara simbolik ditangkap oleh Adipati Warga Utama, bahwa Jaka Kaiman merupakan sosok yang membawa kemuliaan. Oleh sebab itu kemudian diambil menantu. Dalam kisah selnajutnya memang kemudian sosok Jaka Kaiman kemudian menggantikan kedudukan mertuanya sebagai adipati di Wirasaba dengan gelar Adipati Warga Utama II.
Adipati Warga Utama II sebagai sosok yang arif dan mulia pun berlanjut. Saat sudah menjadi adipati di Wirasaba, ia membagi wilayah menjadi 4 bagian sesuai dengan keturunan Adipati Warga Utama, yang anaknya berjumlah 4. Kemuliaan beliau masih berlanjut.
Beberapa tahun kemudian, Adipati Warga Utama II menyerahkan Wirasaba kepada adiknya. Ia membuka wilayah baru di Kejawar dan membentuk kerajaan (kadipaten) baru yaitu Banyumas. Berdasarkan kisah tersebut tampak bahwa sosok Ki Tolih dan Jaka Kaiman (Adipati Warga Utama II) merupakan sosok yang suci atau mulia.
3. Mitos
Mitos merupakan suatu cerita aneh yang seringkali sulit dipahami maknanya atau juga diterima kebenarannya disebabkan karena kisah didalamnya tidak masuk akal atau juga tidak sesuai dengan apa yang kita temui sehari-hari. Menurut Levi-strauss (dalam Ahimsa: 2009) mengatakan bahwa mitos merupakan suatu warisan bentuk cerita tertentu dari tradisi lisan yang mengisahkan dewa-dewi, manusia pertama, binatang, serta sebagainya dengan berdasarkan suatu skema logis yang terkandung di dalam mitos itu serta yang memungkinkan kita mengintegrasikan seluruh masalah yang perlu diselesaikan didalam suatu konstruksi yang sistematis.
Unsur mitos yang terdapat dalam Serat Turunan Sejarah Wirasaba tampak dalam diri tokoh Ki Tolih. Ki Tolih sebagai tokoh yangb sakti tanpa awal dan tanpa akhir. Namun dirinya merupakan perangkai cerita dalam kisah tersebut. Melalui kesaktian dan keris tuah dari Brawijaya, menjadi media seseorang memperoleh derajat yang mulia. Ki kaleng menjadi kaya karena ada Ki Tolih. Jaka Kaiman menjadi adipati Wirasaba salahsatunya karena diwarisi keris Ki Tolih.
Mitos lain adalah penceritaan Jaka Kaiman yang tubuhnya ber-cahaya. Peristiwa dan situasi itu sulit untuk dibuktikan kebenarannya, namun dalam masyarakat Jawa merupakan materi legitimasi untuk membangun cerita suatu karya sastra. Mitos lain dalam diri jaka Kaiman terjadi setelah ia menjadi Adipati di Wirasaba bergelar Warga Utama II. Ia mendapatkan bisikan atau suara gaib yang memberi petunjuk agar dirinya berpindah wilayah.