• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

1. Unsur Puisi

a. Diksi (Pemiihan Kata)

Karya sastra memang bukanlah sekumpulan fakta telanjang, melainkan menampilkan atau menyatakan fakta yang telah diolah dengan subjektivitas sastrawan, atau sebutlah hal itu sebagai fakta yangterindahkan (Wachid, 2005:6). Sastra yang diindahkan juga memerlukan kata-kata yang tepat dalam pembuatan karya sastra. Hasanuddin W.S. dalam bukunya Membaca dan Menilai Sajak; Pengantar Pengkajian dan Interpretasi

berpendapat, kegiatan memilih kata setepat mungkin untuk mengungkapkan gagasan disebut dengan istilah diksi (2012:79). Pemilihan diksi juga menjadi penting dalam membangun karya sastra. Sastra terbentuk juga dari susunan kata-kata. Hal tersebut dipertegas oleh Pradopo dalam Pengkajian Puisi bahwa, pemilihan kata dalam sajak disebut diksi (2005:54).

Barfield sebagaimana dikutip oleh Pradopo (2005:54) dalam Pengkajian Puisi

mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imaginasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis. Diksi menjadi alat penting bagi sastrawan

dalam mengkonsep cerita yang akan dibangunnya. Memilah diksi yang baik, menjadi modal kepintaran pengarang (penulis) untuk membina struktur cerita yang enak dibaca.

Diksi tidak hanya sebatas alat untuk membangun sebuah cerita, tetapi juga sebagai pengungkap peristiwa. Sudjiman menegaskan melalui Hasanuddin (2012:79) dalam

Membaca dan Menilai Sajak; Pengantar Pengkajian dan Interpretasi bahwa diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan atau peristiwa.

b. Pengimajian

Pada hakikatnya pengimajian masih berkaitan dengan diksi. Pengarang secara diksi juga menciptakan pengimajian (pencitraan) dalam puisi. Pengimajian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat memperjelas atau memperkonkret apa yang dinyatakan oleh penyair (Waluyo, 2003:10). Imajinasi dibuat oleh pengarang untuk membangun gambaran atau bayangan bagi pembaca dalam membaca karya sastra khususnya puisi. Seperti dijelaskan dalam diksi tentang diksi puitis, agar gambaran dalam pikiran, penginderaan, dan guna menarik perhatian bagi pembaca. Akan tetapi, itu semua tergantung kepada kemampuan masing-masing pembaca.

Lebih lanjut, Waluyo (2003:10) dalam Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa menjabarkan, bahwa melalui pengimajian, apa yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil). Berikut jabaran menurut hemat Waluyo dari ketiga gambaran tersebut:

Imaji visual menampilkan kata atau kata-kata yang menyebabkan apa yang digambarkan penyair lebih jelas seperti dapat dilihat oleh pembaca; Imaji auditif

(pendengaran) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair, sehingga pembaca seolah-olah mendengarkan suara seperti yang digambarkan oleh penyair; Imaji taktil (perasaan) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair yang mampu mempengaruhi perasaan sehingga pembaca ikut terpengaruh perasaannya (Waluyo, 2003:10-11).

Paparan di atas sebagai cara pengarang mengkongkretkan ide yang semula masih abstrak menjadi mudah ditangkap oleh pembaca. Hasanuddin menegaskan bahwa ide yang semula masih abstrak dapat ditangkap seolah-olah dilihat, didengar, dirasa, dicium, diraba, atau dipikirkan (2012:89). Pembaca juga dapat berkontemplasi dan menimbulkan suasana di dalam batinnya. Coombes melalui Pradopo mengemukakan bahwa dalam tangan sebuah penyair yang bagus, imaji itu segar dan hidup, berada dalam puncak keindahaannya untuk mengintensifkan, menjernihkan, dan memperkaya (2005:80).

Melalui imaji pengarang, kata-kata yang dibangun membuat citraan kembali menimbulkan kesan pikiran baru dalam kreasi puitis. Altenbernd melalui Padopo juga menegaskan citraan, bahwa citraan adalah salah satu alat kepuitisan yang terutama dengan itu kesusastraan mencapai sifat-sifat konkret, khusus, mengharukan, dan menyaran (2005:89).

c. Bahasa Kiasan

Bahasa figuratif atau biasa dikenal dengan bahasa kiasan (figurative languange) adalah salah satu unsur untuk mendapatkan kepuitisan sebuah puisi. Pradopo berpendapat bahwa bahasa kiasan ini mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan hidup (2005:62). Bahasa kiasan memang

banyak dipakai untuk membangun karya sastra, apalagi puisi yang salah satu genre

paling banyak menggunakan bahasa atau makna kiasan.

Menurut Altenbernd melalui Pradopo bahwa bahasa kiasan ada beberapa macam, namun meskipun bermacam-macam, mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yaitu bahasa-bahasa kiasan tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkannya dengan sesuatu yang lain (2005:62). Lanjut Pradopo dalam memformulasikan dari macam-macam bahasa kiasan ke dalam jenis-jenisnya, yaitu perbandingan (simile), metafora, perumpamaan epos (epic simile), alegori, personifikasi, metonimia, dan sinekdoki (synecdoche).

Pertama adalah perbandingan (simile). Perbandingan merupakan hal penting dalam bahasa kiasan. Dengan membandingkan sebuah kata pada kata-kata yang lain, bisa terlihat persamaan satu hal di dalam bahasa kiasan. Bahasa kiasan yang menyamakan satu hal-hal lain dengan mempergunakan kata-kata perbandingan seperti: bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penaka, se, dan kata perbandingan yang lain (Pradopo, 2005:62). Bahasa kiasan di atas dalam perbandingan yang relatif sederhana dan banyak digunakan dalam pembuatan puisi.

Kedua adalah metafora. Metafora dalam bahasa kiasan tidak jauh berbeda dengan perbandingan. Dari kata-kata perbandingan di atas, ada sebagian yang tidak dipakai oleh metafora, yaitu bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Becker berpendapat melalui Pradopo (2005:66) bahwa metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Dalam metafora sendiri juga memiliki istilah atau biasa dikenal dengan sebutan term;

Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua atau vehicle adalah hal yang untuk membandingkan (2005:66). Ketiga adalah perumpamaan epos. Pradopo mempercayai bahwa perumpamaan atau perbandingan epos (epic simile) ialah perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang. Perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang, yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingan lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut (Pradopo, 2005:69). Dalam perbandingan epos, perbandingan juga untuk memberikan gambaran yang jelas. Perbandingan epos bukan hanya sekadar dipakai untuk membandingkan saja, tetapi juga dipakai untuk memperdalam dan menandaskan dari sifat-sifat perbandingan.

Keempat adalah alegori. Menurut Suharso dkk. (2005:28) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Lengkap, kata alegori adalah cerita yang dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu. Kiasan tidak hanya dipakai dalam membangun karya sastra, tetapi juga harus ada nilai moral dalam cerita. Dengan singkat Pradopo menjelaskan bahwa alegori ialah cerita kiasan ataupun lukisan kiasan (Pradopo, 2005:71). Lukisan kiasan biasa digunakan pengarang dalam hal penggambaran imaji.

Kelima adalah personifikasi. Pradopo menerangkan bahwa, kiasan ini mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berfikir, dan sebagainya seperti manusia (2005:75). Lukisan berupa kiasan menjadi hidup dan benar-benar memberikan gambaran atau bayangan angan yang konkret. Keraf (1984:140) dalam Diksi dan Gaya Bahasa melalui Hasanuddin menegaskan bahwa, personifikasi

atau prosopopoenia adalah semacam gaya bahasa bermajas yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (2012:109).

Keenam adalah metonimia. Metonima ini sangat jarang sekali dijumpai dalam pemakaian bahasa kiasan, tidak seperti metafora, perbandingan dan personifikasi yang kerap digunakan dalam membangun karya sastra. Dalam bahasa Indonesia hanya sebagai kiasan pengganti nama. Menurut Altenbernd (1970:21) melalui Pradopo menerangkan bahwa, bahasa ini berupa penggunaan sebuah atribut, sebuah objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tertentu (2005:77). Melalui personifikasi dalam mengganti objek, juga mempunyai efek yang lebih jelas sebagai berikut:

Penggunaan metonimia ini efeknya ialah pertama untuk membuat lebih hidup dengan menunjukkan hal yang konkret itu. Penggunaan hal tersebut lebih dapat menghasilkan imaji-imaji yang nyata. Kedua, pertentangan benda-benda tersebut menekankan pemisahan status sosial antara bangsawan dan orang kebanyakan (2005:78).

Terakhir yakni sinekdoki (synecdoche). Sinekdoki adalah bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting suatu benda (hal) untuk benda atau hal itu sendiri (Pradopo, 2005:78). Bahasa kiasan dalam suatu benda atau mengganti nama menjadi benda, kerap kali pengarang menggunakan sinekdoki dalam membangun karya sastra. Menurut hemat penulis, Altenbernd (1970:22) menegaskan melalui Pradopo bahwa ada dua macam sinekdoki ini, yaitu pars pro toto: sebagai untuk keseluruhan dan

d. Versifikasi (Irama)

Menurut Waluyo (2003:12), irama (ritme) adalah suatu yang berhubungan dengan pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Irama juga suatu hal pada puisi dalam membicarakan bunyi. Dengan adanya unsur bunyi atau irama dapat menimbulkan suatu gerak yang hidup. Irama dalam bahasa asingnya rhyhm (Ing.), rhythme (Pr.), berasal dari kata Yunani reo, yang berarti riak air (Pradopo, 2005:40). Irama berarti seperti air yang mengalir tanpa putus, terus-menerus dan teratur. Irama menurut bahasa pun bisa berbeda penjelasannya, seperti bahasa asing di atas dan bahasa Indonesia yang penulis jelaskan setelah ini. Dalam bahasa Indonesia, irama adalah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur (Pradopo, 2005:40).

Beberapa pendapat mengatakan bahwa irama dibagi menjadi dua, yaitu ritme dan metrum. Penulis menggunakan pendapat Pradopo dalam menjelaskan pengertian metrum dan ritme menurut macamnya.

Metrum adalah irama yang tetap, artinya pergantiannya sudah tetap menurut pola tertentu. Hal ini disebabkan oleh jumlah suku kata yang sudah tetap dan tekanannya yang tetap hingga alun suara yang menaik dan menurun itu tetap saja. Ritme adalah irama yang disebabkan pertentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur, tetapi tidak merupakan jumlah suku kata yang tetap, melainkan hanya menjadi gema dendang sukma penyairnya (2003:40-41).

Menurut Teeuw (melalui Hasanuddin, 2012:45) bahwa masalah irama belum ada yang tahan uji di dalam bahasa Indonesia. Penulis berpendapat dengan mengacu penjelasan di atas dalam bahasa pun bisa beda penjelasannya, karena bahasa Indonesia tidak mempunyai aturan dalam persoalan bahasa, beda halnya dengan bahasa asing (Inggris) yang mempunyai tekanan pada bagian suku katanya.

e. Tata Wajah (Tipografi)

Tipografi atau tata wajah adalah tampak bentuk (gambar) dari sebuah karya sastra khususnya puisi. Mengarah pada pendapat Waluyo, dalam puisi mutakhir (setelah tahun 1976), banyak ditulis puisi yang mementingkan tata wajah, bahkan penyair berusaha menciptakan puisi seperti gambar (2003:13). Dari tipografi yang dilihat, puisi juga mewakili maksud tertentu. Ada juga puisi yang tidak mementingkan tipografinya, puisi dengan tata wajah konvensional, artinya lebih bersifat apa adanya, tanpa membentuk gambar atau bentuk-bentuk tertentu.

Tipografi bisa juga menentukan kepuitisan sebuah puisi. Bentuk panjang-pendek tipografi sebuah puisi menjadi sarana memudahkan pembaca dalam memahami makna dari puisi tersebut. Menurut hemat penulis dalam menjelaskan beberapa bentuk tipografi menurut Junus dalam Perkembangan Puisi Melayu Modern melalui Hasanuddin, ada beberapa bentuk dan suasana yang disarankan, berikut ungkapan tersebut:

Pertama tipografi yang demikian menggambarkan suasana yang sejajar dan isinya bersamaan; Kedua tipografi yang disusun berserakan, sehingga kelihatan seperti tidak terpola; Ketiga tipografi yang longgar itu melukiskan lompatan yang liar dari segi isinya dan memperlihatkan pemikiran yang tidak berhubungan tipografi semacam intensifikasi menuju suatu klimaks namun juga memberikan suasana terbentur pada suatu dunia atau terkukung; Keempat dapat memberikan gambaran tentang keinginan merinci sesuatu, hanya sekadar untuk eksperimen dan menunjukkan kesan bermain-main (zigzag) (melalui Hasanuddin, 2012:122-123). Uraian di atas memberi gambaran dalam tipografi puisi. Sutardji Calzoum Bachri juga menjadi sastrawan penting dalam pendobrakan tata wajah perpuisian di Indonesia. Lewat kumpulan puisinya O. Amuk, Kapak yang terbit pada tahun 1980-an, Sutardji menumpah-ruahkan berbagai bentuk tipografi yang aneh dan sangat berkarakter dalam ranah perpuisian.

f. Tema

Tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan oleh penyair melalui puisinya (Waluyo, 2003:17). Sebelum pengarang membuat karya sastra, ide atau gagasan harus sudah ada di pikiran pengarang. Dalam memilih tema yang baik, biasanya pengarang memberi sifat khusus (diacu dari penyair), objektif (semua pembaca harus menafsirkan sama), dan yang terakhir lugas (bukan makna kiasan dari konotasinya). Jadi penyair mempunyai arah, tema apa yang akan diangkat dalam membangun sebuah karya sastra. Ada beberapa tema yang sering sekali digunakan oleh penyair dalam membuat puisi antara lain; tema ketuhanan (religius), tema kemanusiaan, cinta, patriotisme, perjuangan, kegagalan hidup, alam, keadilan, kritik sosial, demokrasi, dan tema kesetiakawanan.

Menurut Waluyo, tema-tema yang sering dipakai oleh penyair dalam membuat sebuah puisi yaitu: pertama adalah tema ketuhanan (religius), tema ketuhanan ini sering kali disebut tema religius, yaitu tema puisi yang mampu membawa manusia untuk lebih bertakwa, lebih merenungkan kekuasaan Tuhan, dan menghargai alam seisinya (2003:18). Dengan menggunakan tema ketuhanan, pengarang lebih seakan sedang berinteraksi kepada Sang Maha Kuasa. Dalam menulis puisi dengan tema tersebut, pengarang lebih memasrahkan dirinya lewat tulisan-tulisannya.

Kedua adalah tema kemanusiaan. Melalui peristiwa atau tragedi yang

digambarkan penyair dalam puisi, ia berusaha meyakinkan pembaca tentang ketinggian martabat manusia (Waluyo, 2003:19). Pada hakikatnya memang manusia adalah mahkluk yang harus dihargai, dihormati, diperhatikan dan diperlakukan adil dan manusiawi. W.S.

Rendra adalah salah satu dari sekian banyak penulis yang sering menulis puisi bertema kemanusiaan. Maka tidak heran ketika membaca karya-karya Rendra serasa dekat sekali dengan masyarakat. Masyarakat (pembaca) merasa disadarkan oleh tulisan-tulisan Rendra untuk selalu menghargai martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Ketiga adalah tema patriotisme. Dengan puisi bertema patriotisme, penyair mengajak pembaca untuk meneladani orang-orang yang telah berkorban demi bangsa dan tanah air (Waluyo, 2003:21). Tema-tema kepatriotismean biasanya kerap dijumpai dalam karya-karya sejarah salah satunya Pangeran Diponegoro. Pahlawan Diponegoro sering menjadi inspirasi untuk membangun sikap patriot dalam diri maupun juga karya sastra.

Keempat adalah tema cinta tanah air. Di atas telah menjelaskan patriotisme dan sikap membela tanah air, maka tema cinta tanah air berupa pujaan kepada tanah kelahiran atau negeri tercinta (2003:23). Maka banyak yang merasa bangga menjadi orang Jawa, Sunda, maupun Batak dengan keberagaman tanah kelahirannya masing-masing.

Kelima adalah tema cinta kasih antara pria dan wanita. Tema yang mengandung unsur cinta terhadap lawan jenis. Di dalam puisi lama (pantun) kita juga mengenal tema cinta yang berbentuk pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perpisahan, dan pantun beriba hati (2003:24). Keenam adalah tema kerakyatan atau demokrasi. Tema kerakyatan/demokrasi mengungkapkan bahwa rakyat memiliki kekuasaan karena sebenarnya rakyatlah yang menentukan pemerintahan suatu negara (2003:27). Seperti perkataan pemerintah sekarang bahwa, mereka kerja untuk rakyat.

Ketujuh adalah tema keadilan sosial (protes sosial). Tema yang tidak beda jauh dengan tema kemanusiaan, tetapi ini lebih kepada bentuk protes. Puisi jenis ini juga

disebut puisi protes sosial karena mengungkapkan protes terhadap ketidakadilan di dalam masyarakat yang dilakukan oleh kaum kaya, penguasa, bahkan negara terhadap rakyat jelata, seperti puisi-puisi Wiji Thukul, Mustofa Bisri, W.S. Rendra, dan F. Rahardi (Waluyo, 2003:28). Tema ini sesuai dengan penelitian penulis dalam puisi “Kepada

Pejuang-Pejuang Lama” karya Soe Hok Gie dalam membedah unsur temanya.

Kedelapan adalah tema pendidikan atau budi pekerti. Tema yang erat kaitannya dengan guru dan anak muda. Puisi-puisi Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan 1945 kebanyakan ditulis oleh para guru, dan juga penyair menasihatkan bahwa kaum muda harus mempersiapkan diri menyongsong masa depan (Waluyo, 2003:30). Terakhir adalah tema-tema lain. Tema puisi lain yang tidak kalah menariknya adalah puisi mbeling. Menurut Mawardi dalam kumpulan esainya Sastra Bergelimang Makna berpendapat bahwa, mbeling mengandung arti kenakalan atau keliaran dengan permainan estetika satire alias kritik pedas (2010:127). Tidak banyak penyair yang berani dalam membuat pusi mbeling, hanya beberapa penulis saja yang berani yaitu salah satunya adalah Remy Silado.

Kesembilan tema di atas berguna dalam menentukan tema apa yang disampaikan dalam sebuah puisi. Tema seringkali dihubungkan dengan pesan yang terdapat dalam sebua karya sastra. Dengan cara membaca karya sastra berulang kali, maka pembaca dapat mengetahui maksud pengarang dalam menyampaikan sesuatu melalui tema.

g. Perasaan (feeling) dan Suasana

Bentuk perasaan penyair biasanya dituangkan melalui puisi. Nada dan perasaan penyair dapat kita tangkap kalau puisi itu kita baca keras dalam poetry reading atau deklamasi (Waluyo, 2003:39). Ketika melihat orang sedang membacakan sebuah puisi, biasanya orang itu mengeluarkan suaranya dengan keras dan juga terkadang lembut, karena itu adalah bentuk ekspresi pembaca dalam menghayati makna yang terkandung di dalam sebuah teks. Pembaca biasanya mendapatkan suasana tertentu dalam sebuah teks puisi. Suasana kadang-kadang terbentuk lewat latar cerita pada sajak (di samping memanfaatkan citraan, bahasa bermajas, dan lain-lain tentunya) (Hasanuddin, 2012:123). Dengan cara membaca teksnya, perasaan dan suasana menjadi hidup di dalam imaji-imaji pembaca.

h. Amanat

Amanat (pesan) atau nasihat yang didapat atau dirasakan oleh pembaca setelah selesai membaca karya (teks) sastra. Pembaca sangat mempengaruhi amanat itu ada atau tidak di dalam sebuah teks sastra. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang dikemukakan penyair (Waluyo, 2003:40). Dengan demikian, pembaca dapat menilai dari pendanganya masing-masing.

Dokumen terkait