• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unsur-Unsur i Pelanggaran i Hak i Cipta i

Dalam dokumen EFRANTO NPM : (Halaman 67-71)

B. Tindak i Pidana i Pelanggaran i Hak i Cipta i

2. Unsur-Unsur i Pelanggaran i Hak i Cipta i

Pasali 72i UUi No.19i Tahuni 2002i menentukani pulai bentuki perbuatani pelanggarani

haki ciptai sebagaii deliki undang-undangi (weti delict)i yangi dibagii tigai kelompok,i yaknii :i

a. Dengani sengajai dani tanpai haki mengumumkan,i memperbanyaki suatui ciptaani

ataui memberii izini untuki itu.i Termasuki perbuatani pelanggarani inii antarai laini

melanggari larangani untuki mengumumkan,i memperbanyaki ataui memberii izini

untuki itui setiapi ciptaani yangi bertentangani dengani kebijaksanaani pemerintahi

dii bidangi pertahanani dani keamanani negara,i kesusilaan,i dani ketertibani umum;i

b. Dengani sengajai memamerkan,i mengedarkani ataui menjuali kepadai umumi suatui

ciptaani ataui barang-barangi hasili pelanggarani haki cipta.i Termasuki perbuatani

pelanggarani inii antarai laini penjualani bukui dani VCDi bajakan;i

c. Dengani sengajai dani tanpai haki memperbanyaki penggunaani untuki kepentingani

komersiali suatui programi komputer.i

Berdasarkani rumusani pasali 72i ayati (1),i (2),i (3)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori

19i Tahuni 2002,i makai unsur-unsuri pelanggarani merupakani sebagaii berikuti :i

a. Barangi siapa;i

b. Dengani sengaja;i

c. Tanpai hak;i

d. Mengumumkan,i memperbanyak,i menyiarkan,i memamerkan,i mengedarkani ataui

menjual;i

e. Haki ciptai dani haki terkait.i

Pertama,i unsuri barangi siapa.i Inii menandakani yangi menjadii subjeki deliki

merupakani siapapun.i Kalaui menuruti KUHi Pidanai yangi berlakui sekarang,i hanyai manusiai

yangi menjadii subyeki delik,i sedangkani badani hukumi tidaki menjadii subyeki delik.i Tetapii

dalami undang-undangi khususi sepertii Undang-Undangi Tindaki Pidanai Ekonomi,i badani

hukumi ataui korporasii termasuki jugai menjadii subyeki delik.i Dalami hali ini,i barangi siapai

termasuki pulai badani hukumi ataui korporasi.Dalami Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i

Tahuni 2002,i barangi siapai bisai ditujukan,i antarai laini kepadai pelakui dani produseri

rekamani suara.i Pelakui merupakani aktor,i pemusik,i penari,i ataui merekai yangi

menampilkan,i memperagakan,i mempertunjukkan,i menyanyikan,i menyampaikan,i

mendeklamasikan,i ataui memainkani karyai musik,i drama,i tari,i sastra,i folklor,i ataui karyai

senii lainnya.i Produseri rekamani suarai merupakani orangi ataui badani hukumi yangi pertamai

kalii merekami dani memilikii tanggungi jawabi untuki melaksanakani perekamani suarai ataui

bunyi,i baiki perekamani darii suatui pertunjukkani maupuni perekamani suarai ataui perekamani

bunyii lainnya.i Andii Hamzah,i (1994:92).i i

Kedua,unsuri dengani sengaja.i Kebanyakani tindaki pidanai mempunyaii dasari

kesengajaani ataui opzeti bukani unsuri culpai (kelalaian).i Inii merupakani layak,i olehi karenai

biasanyai yangi pantasi mendapati hukumani pidanai itui ialahi orangi yangi melakukani sesuatui

dengani sengaja:i Andii Hamzah,i (124).i i

a. Kesengajaani yangi bersifati tujuani (oogmerk)i

Bahwai dengani kesengajaani yangi bersifati tujuani (oogmerk),i pelakui dapati

dipertanggungjawabkan,i mudahi dimengertii olehi khalayaki ramai.i Makai apabilai

kesengajaani semacami inii adai padai suatui tindaki pidana,i tidaki adai yangi

menyangkal,i bahwai dengani adanyai kesengajaani yangi bersifati tujuani ini,i dapati

dikatakani pelakui benar-benari menghendakii mencapaii akibati yangi menjadii

pokoki alasani diadakannyai ancamani hukumani pidanai (constitutiefi gevlog).i

Wirjonoi Prodjodikoro,i (1969:i 62)

b. Kesengajaani secarai keinsafani kepastiani (opzeti biji zekerheidsbewustzijn)i

Kesengajaani sepertii inii adai apabilai pelaku,i dengani perbuatannya,i tidaki

bertujuani untuki mencapaii akibati yangi menjadii dasari darii delik,i tetapii iai tahui

benar,i bahwai sebagaii konsekuensinyai pastii akani mengikutii perbuatani itu.i

Kalaui inii terjadi,i makai teorii kehendaki (wilstheorie),i menganggapi akibati

tersebuti sebagaii yangi dikehendakii olehi pelaku,i berartii jugai adai kesamaan.i

Menuruti teorii bayangani (voorstelling-theorie),i keadaani inii samai dengani

kesengajaani berupai tujuani (oogmerk)i olehi karena,i keduanyai merupakani

mengenaii akibati yangi tidaki dapati dikatakani adai kehendaki pelaku,i melainkani

hanyai bayangani ataui gambarani dalami gagasani pelaku,i bahwai akibati itui pastii

akani terjadi,i itui berartii adai kesengajaan.i Wirjonoi Prodjodikoro,i (1969:i 63) c. Kesengajaani secarai keinsafani kemungkinani (opzeti biji

mogelijkheidsbewustzjin)i

Laini halnyai dengani kesengajaani yangi terang-terangani tidaki disertaii bayangani

mengenaii suatui kepastiani akani terjadii akibat,i melainkani hanyai dibayangkani

kemungkinani akani adanyai akibati itu.i Wirjonoi Prodjodikoro,i (1969:i 64)

Ketiga,i unsuri tanpai hak.i Mengenaii artii tanpai haki darii sifati melanggari hukum,i

dapati dikatakan,i bahwai mungkini seseorang,i tidaki mempunyaii haki untuki melakukani

suatui perbuatan,i yangi samai sekalii tidaki dilarangi olehi suatui peraturani hukum.Wirjonoi

Prodjodikoro,i (1980:i 2).i i

Menuruti Pasali 1i ayati (4)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni 2002,i

pemegangi haki ciptai merupakani penciptai sebagaii pemiliki haki ciptai ataui pihaki yangi

menerimai haki tersebuti darii pencipta.i Pemiliki haki ciptai dapati mengalihkani ataui

menguasakani sebagiani ataui seluruhi haknyai kepadai orang/badani hukumi baiki melaluii

perjanjian,i surati kuasai maupuni dihibahkani ataui diwariskan.i Tanpai pengalihani tersebut,i

makai tindakani itui merupakani merupakani tanpai hak.i Keempat,i unsuri perbuatani dapati

diklasifikasikani dalami bentuki mengumumkan,i menuruti pasali 1i ayati (5)i Undang-Undangi

Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni 2002,i pengumumani merupakani pembacaan,i penyiaran,i

pameran,i penjualan,i pengedaran,i ataui penyebarani suatui ciptaani dengani menggunakani

alati apapun,i termasuki mediai internet,i ataui melakukani dengani carai apapun,i sehinggai

suatui ciptaani dapati dibaca,i didengar,i ataui dilihati orangi lain;i dani unsuri memperbanyaki

(perbanyakan),i menuruti pasali 1i ayati (6)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni

2002,i merupakani penambahani jumlahi suatui ciptaan,i baiki secarai keseluruhani maupuni

sebagiani yangi sangati substantiali dengani menggunakani bahan-bahani yangi samai ataupuni

tidaki sama,i termasuki mengalihwujudkani secarai permaneni ataui temporer.i

Pengertiani perbanyakani dirumuskani dalami definisii Ketentuani Umumi pasali 1i ayati

(6)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni 2002i sebagaii berikuti :i “Perbanyakani

merupakani penambahani jumlahi sesuatui ciptaan,i baiki secarai keseluruhani maupuni bagiani

yangi sangati substantiali dengani menggunakani bahan-bahani yangi samai ataupuni tidaki

sama,i termasuki mengalihwujudkani secarai permaneni ataui temporer.”i i Kelima,i haki cipta,i

menuruti pasali 1i ayati (1)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni 2002,i merupakani

haki eksklusifi bagii penciptai ataui penerimai haki untuki mengumumkani ataui memperbanyaki

ciptaannyai ataui memberii izini untuki itu,i dengani tidaki mengurangii pembatasan-pembatasani menuruti peraturani perundang-undangani yangi berlaku.i Haki terkaiti menuruti

pasali 1i ayati (9)i Undang-Undangi Haki Ciptai Nomori 19i Tahuni 2002,i merupakani haki yangi

berkaitani dengani haki cipta,i yaitui haki eksklusifi bagii pelakui untuki memperbanyaki ataui

menyiarkani pertunjukannya;i bagii produseri rekamani suarai untuki memperbanyaki ataui

menyewakani karyai rekamani suarai ataui rekamani bunyinya;i dani bagii lembagai penyiarani

untuki membuat,i memperbanyak,i ataui menyiarkani karyai siarannyai Tindakani pidanai inii

jugai digolongkani dalami tindaki pidanai pelanggarani dani merupakani deliki biasa.i Hali inii

berarti,i bahwai tindakani negarai terhadapi parai pelanggari haki ciptai tidaki lagii semata-matai

didasarkani padai pengaduani darii pemegangi haki cipta.i Keduai ayati padai pasali 1i diatasi

merupakani rumusani umumi tentangi apai yangi dimaksudi dengani tindaki pidanai

pelanggarani haki cipta.i Dengani demikian,i yangi melakukani pelanggarani dengani sengajai

(opzet)i berartii dei bewustei richtingi vani deni wili opi eeni bepaaldi misdiffi (kehendaki yangi

disadarii yangi ditujukani untuki melakukani kejahatani tertentu).i Menuruti penjelasani

tersebut,i sengajai (opzet)i samai dengani willensi eni wetensi (dikehendakii dani diketahui).i

Andii Hamzah,i (2002:106).i i

Dalam dokumen EFRANTO NPM : (Halaman 67-71)