• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Masyarakat Kalang

3. Unsur-unsur Masyarakat

Unsur-unsur masyarakat menurut Soerjono Soekanto adalah sebagai berikut.

a. Beranggotakan minimal dua orang. b. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.

c. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.

d. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.

Adanya bermacam-macam wujud kesatuan kolektif manusia menyebabkan bahwa kita memerlukan beberapa istilah untuk membeda- bedakan berbagai macam kesatuan manusia tadi. Kecuali istilah yang paling lazim, yaitu masyarakat, ada istilah-istilah khusus untuk menyebut kesatuan- kesatuan khusus yang merupakan unsur-unsur dari masyarakat, yaitu kategori sosial, golongan sosial, komunitas, kelompok, dan perkumpulan (Koentjaraningrat, 2000:143).

Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terwujudkan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri obyektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu. Ciri-ciri obyektif itu biasanya dikenakan oleh pihak dari luar kategori sosial itu sendiri tanpa disadari oleh yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis tertentu. Misalnya, dalam

masyarakat suatu negara ditentukan melalui hukumnya bahwa ada kategori warga di atas umur 18 tahun, dan kategori warga di bawah 18 tahun, dengan maksud untuk membedakan antara warganegara yang mempunyai hak pilih dan warganegara yang tidak memiliki hak pilih dalam pemilihan umum.

Dengan demikian tidak hanya pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu ibu kota saja yang dapat mengadakan berbagai macam penggolongan seperti itu terhadap warga masyarakat (Koentjaraningrat, 2000:149).

Golongan sosial merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu, bahkan seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak luar kalangan mereka sendiri. Walaupun demikian, suatu kesatuan manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial. Hal itu disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respons atau reaksi terhadap cara pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau juga karena golongan itu memang terkait oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan adat istiadat tertentu.

Dalam masyarakat masih ada suatu kesatuan manusia yang dapat disebut golongan sosial, yaitu lapisan, atau klas sosial. Dalam masyarakat kuno misalnya ada lapisan-lapisan seperti lapisan bangsawan, lapisan orang biasa, lapisan budak dan sebagainya; dalam masyarakat masa kini ada lapisan petani, lapisan buruh, lapisan pegawai, lapisan pegawai tinggi, lapisan cendekiawan, lapisan usahawan dan sebagainya. Lapisan atau golongan sosial semacam itu terjadi karena manusia-manusia yang diklaskan

kedalamnya mempunyai suatu gaya hidup yang khas, dan karena berdasarkan hal itu mereka dipandang oleh orang lain sebagai manusia yang menduduki suatu lapisan tertentu dalam masyarakat. Lapisan itu dapat dianggap lebih tinggi atau lebih rendah, tergantung dari sudut orang yang memandang tadi. Karena warganya mempunyai gaya hidup khas yang sama, maka suatu lapisan atau klas sosial tentu dapat juga dianggap mempunyai suatu sistem norma yang sama, dan karena itu juga suatu rasa identitas golongan.

Walaupun konsep golongan sosial dapat dibedakan dari konsep kategori sosial karena ada tiga syarat pengikat lagi, yaitu sistem norma, rasa identitas sosial, dan sudah tentu kontinuitas, namun konsep golongan sosial itu sama dengan konsep kategori sosial, dan tidak memenuhi syarat untuk disebut masyarakat. Hal itu disebabkan karena ada suatu syarat pengikat masyarakat yang tidak ada pada kedua-duanya, yaitu prasarana khusus untuk melakukan interaksi sosial (Koentjaraningrat, 2000:150).

Kelompok dan perkumpulan. Suatu kelompok atau group juga merupakan suatu masyarakat karena memenuhi syarat-syarat, dengan adanya sistem interaksi antara para anggota, dengan adanya adat-istiadat serta sistem norma yang mengatur interaksi itu, dengan adanya kontinuitas, serta dengan adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota tadi.

Disamping ketiga ciri di atas, suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok juga mempunyai ciri tambahan, yaitu organisasi dan sistem pimpinan, dan selalu tampak sebagai kesatuan dari individu-individu pada

masa-masa yang secara berulang-ulang berkumpul dan yang kemudian bubar lagi (Koentjaraningrat, 2000:154).

Aneka warna kelompok dan perkumpulan. Perkumpulan dapat dikelaskan berdasarkan prinsip guna serta keperluannya atau fungsinya, dan dengan demikian ada perkumpulan-perkumpulan yang gunanya untuk keperluan mencari nafkah, untuk melaksanakan suatu mata pencaharian hidup atau memproduksi barang; pokoknya untuk keperluan ekonomi. Perkumpulan-perkumpulan semacam itu adalah misalnya perkumpulan dagang, suatu koperasi, suatu perseroan, suatu perusahaan dan sebagainya (Koentjaraningrat, 2000:158).

4. Masyarakat Kalang

Menurut Pontjosutirto dalam Laporan Hasil Penelitian Antropologis Orang-orang Golongan Kalang (1971:13), kalang adalah sebutan dari segolongan orang atau suku bangsa yang hidup di tempat-tempat tersebar di pulau Jawa, terutama di daerah di seluruh Jawa Tengah: dikatakan, bahwa dahulu mereka hidup mengembara dari hutan ke hutan, sedangkan makanan mereka ialah buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan hutan, juga dari binatang- binatang buruan dan ikan yang mereka tangkap dari sungai-sungai. Cara perjalanan hidup mereka dalam antropologi terkenal dengan nama food gathering economics.

Upacara obong sampai sekarang masih tetap dilakukan oleh masyarakat Kalang. Untuk menyesuaikan dengan zaman nampak bahwa pelaksanaan upacara itu mengalami perubahan. Tetapi dasar dan tujuannya

masih tetap dipegang teguh. Mereka menjaga amanat dari leluhur yang memberikan pesan agar supaya mengadakan upacara obong ketika ada keluarga yang meninggal dunia. (Pontjosutirto, 1971:23)

Sejak zaman Hindu di Jawa mereka telah merupakan golongan yang telah dikenal orang. Mereka bertempat tinggal di daerah-daerah kerajaan kecil yang selalu sering berselisih dan berperang. Dengan demikian mereka sering terusir dan berpindah tempat, mengembara dari daerah satu ke daerah lain. Kalau kerajaan yang menguasai daerah dimana mereka bertempat tinggal itu kuat, mereka mengakui kekuasaan raja, akan tetapi apabila penguasa raja itu lemah, mereka akan melepaskan diri dan memperoleh kemerdekaan kembali. Sebaliknya, kalau mereka itu ditekan terlalu berat, mereka akan menyingkir dan mencari tempat kediaman baru yang dianggap aman, oleh karena pada waktu itu daerah di pulau Jawa ini masih cukup luas untuk maksud itu.

Sering kali mereka dianggap sebagai golongan orang-orang yang berbahaya. Karena sewaktu-waktu didalam keadaan yang mendesak, mereka dapat mendatangi desa-desa yang berbatasan dengan hutan tempat tinggal mereka. Mereka mita sesuatu yang dibutuhkan dari penduduk desa-desa itu atau merampasnya (Pontjosutirto, 1971:13).

Pada waktu Sultan Agung memerintah Mataram, golongan orang Kalang dianggap golongan yang dapat mengganggu ketentraman daerah kerajaan itu. Maka raja itu kemudian memberi perintah agar supaya orang- orang Kalang itu ditangkapi dan dikumpulkan di dalam suatu daerah

tersendiri. Mereka dilarang untuk meninggalkan tempat yang telah ditentukan itu, sedangkan tempat itu diberi pagar tinggi dan kuat (Jawa = dikalang). Maka dari itu menurut perkiraan dari beberapa orang ahli, nama mereka berasal dari kata kalang, yang berarti batas. Dikalang (Jawa) berarti dibatasi atau dipagari. Kalangan adalah suatu tempat terbuka yang diberi batas berkeliling, digunakan untuk mengadu ayam, burung gemak, atau juga tempat untuk menyelenggarakan tari-tarian. Bulan kalangan, berarti bulan yang dikelilingi lingkaran cahaya, karena awan-awan putih disekitar bulan itu kena sinarnya. Jadi kata kalang itu mungkin sekali berasal dari kata kalangan, yaitu suatu daerah tertentu yang tertutup dengan pagar-pagar yang kuat, yang ditunjuk oleh Sultan Agung untuk tempat menetap bagi golongan orang- orang tersebut diatas. Hingga dewasa ini kampung tempat tinggal orang- orang Kalang disebut Kalangan juga. Misalnya di kota Solo, ada sebuah kampung yang bernama Kalangan, dahulu adalah tempat orang-orang abdi dalem Kalang, begitu pula di daerah kalurahan Banguntapan, Bantul Yogyakarta ada sebuah desa bernama Kalangan juga (Pontjosutirto 1971:14).

Dokumen terkait