BAB II URAIAN TEORITIS
D. Unsur-Unsur Modal Kerja
Unsur-unsur modal kerja dari aktiva lancar terdiri dari :
1. Kas/Bank
Kas/bank adalah uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan. Uang yang dimiliki perusahaan tetapi telah ditentukan alokasi penggunaannya tidak dapat dimasukkan sebagai uang kas.
2. Investasi jangka pendek
Investasi jangka pendek adalah investasi sementara (jangka pendek) dengan maksud untuk memanfaatkan uang kas yang sementara belum dibutuhkan dalam operasi. Syarat investasi jangka pendek harus bersifat mudah dijual, artinya setiap saat diperlukan, investasi tersebut dapat segera
dijual dengan harga yang pasti. Investasi jangka pendek adalah deposito di bank, surat berharga berupa saham, obligasi, surat hipotek, sertifikat bank, dan sebagainya.
3. Piutang wesel
Piutang wesel adalah tagihan kepada pihak ketiga berupa wesel yang dapat diperjualbelikan atau di diskontokan. Dengan didiskontokannya piutang wesel akan berubah menjadi utang pada saat wesel bersangkutan jatuh tempo.
4. Piutang dagang
Piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain (langganan) karena penjualan secara kredit. Sebenarnya piutang tidak hanya karena penjualan secara kredit, tetapi dapat karena hal lain, misalnya piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, piutang karena penjualan saham secara angsuran, dan sebagainya. Piutang dagang atau piutang lain-lain biasanya disajikan dalam neraca sebesar nilai realisasinya, yaitu nilai nominal piutang dikurangi dengan cadangan kerugian piutang (taksiran piutang tak tertagih/bad-debt).
5. Persediaan
Persediaan adalah semua barang yang sampai tanggal neraca masih berupa persediaan di gudang.
6. Piutang Penghasilan/Penghasilan yang harus diterima
Piutang penghasilan adalah penghasilan yang telah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa, tetapi pembayarannya belum diterima.
7. Uang muka (advance payment)
Uang muka adalah pengeluaran untuk memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi belum dinikmati pada periode bersangkutan, melainkan pada periode berikutnya.
E. Jenis – Jenis Modal Kerja
Dalam menjalankan operasi sehari-hari suatu perusahaan biasanya membutuhkan modal kerja yang sifatnya suatu keharusan, yaitu modal kerja yang sifatnya harus ada dalam suatu perusahaan, dan ada modal kerja menurut kebutuhan yang jumlahnya berubah-berubah sesuai dengan keadaan. Dari hal tersebut, modal kerja dapat dibedakan dua jenis (Syahyunan, 2004 ), yaitu :
1. Modal Kerja Tetap (Permanent Working Capital)
Modal kerja tetap adalah modal kerja yang harus ada pada perusahaan untuk menjalankan operasi perusahaan sehari-hari. Tanpa adanya modal kerja ini mengakibatkan operasi akan berhenti. Modal kerja tetap dibedakan atas :
a. Modal kerja primer
Modal kerja primer adalah jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
b. Modal kerja normal
Modal kerja normal adalah modal kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sesuai kapasitas produksi normal secara dinamis. Artinya, jika rata-rata produksinya selama 6 bulan adalah 2.000 unit per bulan, maka dapat dikatakan bahwa kapasitas produksi normalnya adalah 2.000 unit. Jika 6 bulan berikutnya rata-rata produksi adalah 3.000 unit per bulan, maka kapasitas produksi normalnya berubah menjadi 3.000 unit.
2. Modal kerja Variabel (Variable Working Capital)
Modal kerja variabel adalah modal kerja yang penggunaannya selalu mengalami perubahan sesuai dengan keadaan. Perubahan tersebut dikarenakan fluktuasi musim, fluktuasi konjungtur dan perubahan yang sifatnya darurat, sehingga modal kerja variabel dibedakan atas :
a. Modal kerja musiman
Modal kerja ini berubah-ubah menyesuaikan dengan fluktuasi musiman.
b. Modal kerja siklis
Modal kerja ini berubah-ubah berdasarkan fluktuasi konjungtur.
c. Modal kerja darurat
Modal kerja ini berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak).
F. Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Modal Kerja
Untuk menentukan jumlah modal kerja yang diperlukan oleh suatu perusahaan tergantung dari faktor-faktor sebagai berikut :
3. Sifat umum atau tipe perusahaan
Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan jasa relatif rendah karena investasi dalam persediaan dan piutang pencairannya menjadi kas relatif cepat. Proporsi modal kerja dari total aktiva, pada perusahaan jasa, relatif kecil. Perusahaan industri memerlukan modal kerja yang cukup besar yakni untuk melakukan investasi dalam bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Fluktuasi dalam pendapatan bersih pada perusahaan jasa juga relatif kecil bila dibandingkan dengan perusahaan industri dan perusahaan keuangan.
4. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan barang dan ongkos produksi per unit
Jumlah modal kerja berkaitan langsung dengan waktu yang dibutuhkan mulai dari bahan baku atau barang jadi dibeli sampai barang-barang dijual kepada langganan. Makin panjang waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang atau untuk memperoleh barang makin besar kebutuhan akan modal kerja. Modal kerja bervariasi tergantung pada volume pembelian dan harga beli per unit dari barang yang dijual.
5. Syarat pembelian dan penjualan
Syarat kecil pembelian barang dagangan atau bahan baku akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja. Syarat kredit pembelian yang menguntungkan akan memperkecil kebutuhan uang kas yang harus ditanamkan dalam persediaan, sebaliknya jika pembayaran harus dilakukan segera setelah barang di terima maka kebutuhan uang kas untuk membelanjai volume perdagangan menjadi lebih besar.
Di samping itu modal kerja juga di pengaruhi oleh syarat kredit penjualan barang. Semakin lunak kredit (jangka kredit lebih panjang) yang diberikan kepada langganan akan semakin besar kebutuhan modal kerja yang harus ditanamkan dalam piutang. Untuk mengurangi kebutuhan modal kerja dan mengurangi resiko kerugian karena adanya piutang yang tak terbayar, biasanya perusahaan memberikan rangsangan potongan tunai (cash discount).
6. Tingkat perputaran persediaan
Semakin sering persediaan diganti (dibeli dan dijual kembali) maka kebutuhan modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan akan semakin rendah. Untuk mencapai tingkat perputaran persediaan yang tinggi diperlukan perencanaan dan pengawasan persediaan yang efisien. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan akan mengurangi resiko kerugian karena penurunan harga, perubahan permintaan atau perubahan
mode, juga menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan (carrying cost) dari persediaan.
7. Tingkat perputaran piutang
Kebutuhan modal kerja juga tergantung pada periode waktu yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi uang kas. Bila piutang terkumpul dalam waktu pendek berarti kebutuhan akan modal kerja menjadi semakin rendah/kecil. Untuk mencapai tingkat perputaran piutang yang tinggi diperlukan pengawasan piutang yang efektif dan kebijaksanaan yang tepat sehubungan dengan pelunasan kredit, syarat kredit penjualan, maksimum kredit bagi langganan, penagihan piutang.
8. Pengaruh konjungtur (business cycle)
Pada periode makmur (prosperity) aktivitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang-barang lebih banyak memanfaatkan harga yang masih rendah. Ini berarti perusahaan memperbesar tingkat persediaan. Peningkatan jumlah persediaan membutuhkan modal kerja yang lebih banyak. Sebaliknya pada periode depresi, volume perdagangan menurun, perusahaan cepat-cepat berusaha menjual barang-barangnya dan menarik piutang-piutangnya. Uang yang diperoleh digunakan untuk membeli surat-surat berharga, melunasi utang-utang atau untuk menutup kerugian.
9. Derajat resiko kemungkinan menurunnya harga jual aktiva jangka pendek
Menurunnya nilai riil dibanding dengan harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang, dan piutang akan menurunkan modal kerja. Bila resiko kerugian ini semakin besar berarti diperlukan tambahan modal kerja untuk membayar bunga atau melunasi utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo. Untuk melindungi diri dari hal-hal yang tak terduga dibutuhkan modal kerja yang relatif besar dalam bentuk kas atau surat-surat berharga.
10.Pengaruh musim
Banyak perusahaan di mana penjualannya hanya terpusat pada beberapa bulan saja. Perusahaan yang dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah maksimum modal kerja untuk periode yang relatif pendek. Modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan barang berangsur-angsur meningkat dalam bulan-bulan menjelang puncak penjualan.
11.Credit rating dari perusahaan
Jumlah modal kerja, dalam bentuk kas termasuk surat-surat berharga, yang dibutuhkan perusahaan untuk membiayai operasinya tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas. Penyediaan uang kas ini tergantung pada :
a. credit rating dari perusahaan b. perputaran persediaan dan piutang
c. kesempatan mendapatkan potongan harga dalam persediaan
G. Sumber Modal Kerja
Transaksi –transaksi sebagai sumber modal kerja menurut (Abdullah: 2001) meliputi :
1. Hasil Operasi Perusahaan
Merupakan pendapatan bersih (net income) yang nampak dalam laporan perhitungan laba rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Dengan adanya laba dari hasil operasional perusahaan dan apabila laba tersebut tidak dibagikan kepada pemilik perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal kerja perusahaan.
2. Penjualan Aktiva Tetap
Sumber modal kerja lainnya berasal dari hasil penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan hasil penjualan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak terpakai. Perubahan dari aktiva tetap menjadi kas maupun piutang berakibat menambah modal kerja sebesar hasil penjualan tersebut. Penjualan aktiva tetap yang tidak terpakai tersebut akan berakibat pula sebesar jumlah itu angka aktiva tetap berkurang pada neraca. Namun demikian bertambahnya modal kerja melalui penjualan aktiva tetap yang tidak terpakai tidak segera digunakan untuk penggantian aktiva tetap baru maka perusahaan akan mengalami kelebihan modal kerja.
3. Penjualan Surat Berharga Jangka Pendek (Effek)
Surat berharga jangka pendek (marketable securities) yang dimiliki perusahaan merupakan salah satu komponen aktiva lancar yang dapat dijual dan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Keuntungan penjualan ini terjadi apabila nilai jual surat berharga lebih besar daripada nilai perolehan, maka akan menambah atau sebagai sumber modal kerja.
4. Penjualan Obligasi
Untuk menambah modal kerja yang dibutuhkan, perusahaan juga dapat mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada pemilik perusahaan untuk menambah modal. Selain itu perusahaan dapat menerbitkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna menambah modal kerja perusahaan. Memang diakui penerbitan obligasi akan menimbulkan biaya, baik biaya penerbitan maupun biaya bunga tetap, sehingga keputusan menerbitkan obligasi guna menambah modal kerja seharusnya disesuaikan dengan esensi kebutuhan perusahaan.
5. Depresiasi Aktiva Tetap
Depresiasi terhadap aktiva tetap walaupun perusahaan tidak mengeluarkan dana kas namun demikian merupakan sumber modal kerja.
H. Penggunaan Modal Kerja
Adapun transaksi-transaksi sebagai penggunaan modal kerja, meliputi :
1. Kerugian Operasional Perusahaan
Operasional perusahaan yang menimbulkan kerugian (total penjualan tidak mampu menutupi biaya-biaya) maka berakibat berkurangnya modal kerja. Kondisi ini dapat diketahui melalui laporan perhitungan laba-rugi pada suatu periode tertentu.
2. Pembelian Aktiva Tetap
Guna keperluan peningkatan produksi/penjualan perusahaan membeli aktiva tetap baru guna menggantikan aktiva tetap lama dan hal ini berakibat pada penggunaan dana atau modal kerja perusahaan. Dengan demikian sejumlah aktiva tersebut bertambah pada neraca.
3. Kerugian Penjualan Surat Berharga Jangka Pendek
Apabila penjualan surat berharga jangka pendek mengalami kerugian (nilai jual lebih kecil dari pada nilai perolehan) maka akan berakibat kerugian bagi perusahaan. Guna menutup kerugian inilah perusahaan menggunakan modal kerja.
4. Pembelian Obligasi
Apabila penjualan obligasi berakibat menambah modal kerja, maka pembelian obligasi oleh perusahaan akan berakibat penggunaan atau mengurangi modal kerja. Demikian halnya apabila perusahaan membayar kembali/mengangsur hutang jangka panjang lainnya juga berakibat berkurangnya modal kerja.
5. Prive
Pengambilan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi berakibat berkurangnya modal kerja. Hal yang sama juga terjadi apabila adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik dalam perusahaan perseorangan atau adanya pembayaran deviden dalam bentuk kas.
I. Rasio Modal Kerja
Analisis dan penafsiran posisi keuangan jangka pendek adalah penting baik bagi pihak manajemen maupun pihak-pihak di luar perusahaan seperti kreditur dan pemilik perusahaan. Bank-bank komersial dan kreditur jangka pendek lainnya sangat menaruh perhatian pada tingkat keamanan bagi kredit-kredit jangka pendeknya, manajemen berkepentingan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal kerja, dan pemegang saham beserta kreditur jangka panjang berkepentingan untuk mengetahui prospek pembayaran dividen dan bunga.
Tetapi permasalahan yang dihadapi dalam perusahaan adalah aktiva lancar memiliki nilai yang lebih kecil daripada hutang lancarnya, dimana ini mempengaruhi penggunaan pendanaan jangka pendeknya, sehingga perusahaan menggunakan pendanaan jangka panjang. Sehingga rasio modal kerja yang digunakan adalah :
1. Rasio Profitabilitas, dimana rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan
sebagainya. Rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut Operating Ratio.
Beberapa jenis rasio profitabilitas ini terdiri dari :
a. Margin laba (Profit Margin) =
Penjualan bersih Pendapatan
Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang dieroeh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
b. Asset Turn Over (Return on Asset) =
Aktiva Total
bersih Penjualan
Rasio ini menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.
c. Return On Investment (Return On Equity) =
) ( modal rata Rata bersih Laba equity
Rasio ini menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Semakin besar semakin bagus.
d. Return On Total Asset =
asset total rata Rata bersih Laba
Rasio ini menujukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva.
e. Basic Earning Power =
aktiva Total pajak dan bunga sebelum Laba
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba diukur dari jumlah laba sebelum dikurangi bunga dan pajak dibandingkan dengan total aktiva. Semakin besar rasio semakin baik.
2. Kecukupan Modal Kerja, dimana rasio ini mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar. Rasio tinggi mengindikasikan profitabilitas yang rendah untuk mendukung operasional, dan rasio yang rendah menunjukkan profitabilitas tinggi.
Working capital turnover =
capital working Net venues Re x 100 %
BAB III
PERUM PERUMNAS CABANG SUMUT II MEDAN
A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 1. Sejarah Singkat Perusahaan
Perum Perumnas adalah perusahaan umum yang didirikan pada tanggal 18 Juli 1974 berdasarkan peraturan pemerintah nomor 29 tahun 1974, dengan tujuan melaksanakan kebijaksanaan dan program pemerintah dibidang pelaksanaan pembangunan perumahan rakyat serta sarana dan prasarana yang mampu mewujudkan lingkungan pemukiman sesuai dengan rencana pembangunan wilayah kota, terutama untuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Perumahan dan pemukiman ini merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa, dan perlu dibina serta dikembangkan demi kelangsungan dan peningkatan kehidupan dan penghidupan masyarakat.
Misi utama yang diemban oleh Badan Usaha Milik Negara yang sekarang berada di dalam jajaran Departemen Perumahan, Pemukiman dan Pengembangan Wilayah ini adalah melaksanakan pengadaan perumahan bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan menengah ke bawah.
Dengan misi ini, maka Perum Perumnas dihadapkan pada usaha menyediakan perumahan yang ekonomis dan terjangkau namun tetap bermutu dan layak huni. Perum Perumnas dituntut menanggulangi
masalah perumahan masyarakat secara professional, namun tetap memperhatikan kepentingan sosial dan menjauhkan diri dari orientasi komersial semata.
Berbagai cara dilakukan untuk dapat mencapai keseimbangan bisnis yang sehat sementara dapat terus membangun pemukiman yang bermutu, disertai dengan usaha mensubsidi masyarakat penghasilan rendah. Tantangan ini menggugah pengabdian dan profesionalisme karyawan dan pimpinan Perum Perumnas, yang terus membangun rumah bagi rakyat sampai ke daerah yang tidak menarik bagi developer lain. Di mana dibutuhkan, Perum Perumnas membangun kawasan-kawasan pemukiman dengan komitmen tinggi antara lain :
Jalan, saluran dan sarana lain yang memenuhi standar keamanan dan kesehatan.
Dekat dengan sarana pendidikan, kesehatan, peribadatan, olah raga dan fasilitas lainnya.
Tersedianya jaringan listrik, air minum, telepon, dan bila memungkinkan jaringan gas.
Harga yang terjangkau dan persyaratan pembayaran serta fasilitas kredit yang memudahkan kepemilikan rumah.
2. Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi didalam suatu perusahaan adalah salah satu unsur yang paling penting, dimana agar tujuan perusahaan dapat tercapai dengan hasil yang
optimal. Organisasi merupakan perkumpulan orang-orang dengan tujuan yang sama dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama dan haruslah memiliki struktur organisasi yang baik. Dengan adanya struktur organisasi orang dapat mengetahui tempat dan fungsinya masing-masing, untuk bekerja dan menunaikan tugasnya sesuai dengan tujuan pokok yang digariskan oleh pimpinan. Tanpa struktur organisasi yang baik maka tujuan perusahaan sulit untuk dicapai.
Mengingat besarnya peranan dan sumbangan dari struktur organisasi dalam mencapai tujuan perusahaan, maka Perum Perumnas Cabang Sumut II Medan turut serta memilih struktur organisasi yang baik, seperti terlihat dalam gambar berikut ini :
Dari bagan struktur organisasi Perum Perumnas Cabang Sumut II Medan diatas, maka tugas masing-masing bagian dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. General Manager
Tugas pokoknya adalah :
Bersama dengan Deputy General Manager, memimpin para manager bagian di kantor Regional yaitu Manager Cabang dan Manager Unit untuk menyusun sasaran, rencana kerja dan anggaran kantor yang merupakan bagian RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan).
Memberikan penugasan, pengendalian, pembinaan dan penilaian kerja kepada para manager bagian di kantor Regional dan Manager Cabang, Manager Pengelola Kasiba, Manager Pengelola Rusun, dan Manager UPKB.
Mengelola sumber daya dan dana dalam lingkup kantor Regional untuk melaksanakan kegiatan usaha.
Mengadakan koordinasi teknis dan administrasi dengan GM Divisi dan para GM Regional lain yang terkait dalam melaksanakan kegiatan di kantor Regional.
Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan usaha kantor Regional kantor Cabang, kantor Unit Pengelola Kasiba, kantor Unit Pengelola Rusun, kantor UPKD meliputi kegiatan : pertanahan, perencanaan, pembangunan dan peremajaan lingkungan, pemasaran, administrasi, keuangan, SDM, hukum dan PUKK (Pembinaan Usaha Kecil dan Operasi).
Melaksanakan koordinasi dengan instansi dan institusi terkait untuk mencapai sasaran kegiatan usaha.
2. Deputy General Manager Tugas pokoknya adalah :
Bersama dengan General Manager, memimpin para manager bagian di kantor Regional, Manager Cabang, Manager Pengelola Kasiba, Manager Unit Pengelola Rusun dan Manager UPKB untuk menyusun sasaran, rencana kerja dan anggaran kantor Regional yang merupakan bagian dari RKAP.
Memberikan penugasan, pengendalian, pembinaan, dan penilaian kerja kepada para Asisten Manager.
Memimpin penyelenggaraan kegiatan kantor Regional, khususnya dalam hal :
Penyusunan, pelaksanaan dan pengendalian RKAP Regional.
Pengelolaan data dan informasi kantor Regional, kantor Cabang dan kantor Unit.
Pengelolaan urusan umum, perlengkapan kearsipan serta hukum di kantor Regional, kantor Cabang dan kantor Unit.
Pengelolaan pegawai kantor Regional, kantor Cabang dan kantor Unit.
Pengelola PUKK.
Mewakili GM Regional dalam melaksanakan tugas-tugas apabila GM Regional berhalangan.
Memimpin penyelenggaraan pengelolaan (penerbitan atau laporan, pendistribusian, penyimpanan, pemelihaaran dan peretensian) data dan informasi di kantor Regional.
3. Manager Bagian Perencanaan dan Pertanahan. Tugas pokoknya adalah :
Menyusun sasaran, rencana kerja dan anggaran bagian perencanaan dan pertanahan yang merupakan bagian dari RKAP kantor Regional.
Memberikan penugasan, pengendalian, pembinaan dan penilaian kerja kepada para asisten manager dalam lingkup bagian perencanaan dan pertanahan.
Mengelola sumber daya dan dana bagian perencanaan dan pertanahan untuk melaksanakan kegiatan usaha.
Menyelenggarakan kegiatan perencanaan, yang meliputi analisa kelayakan lokasi, analisa pemanfaatan lahan, perencanaan kawasan, Buku Rencana Proyek (BPR), perencanaan teknis (detail dan engineering) dan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Mengusulkan hasil penyelenggaraan kegiatan perencanaan kepada GM Regional atau Deputy GM Regional untuk persetujuan tindak lanjut.
Mengadakan koordinasi teknis dan administrasi dengan Manager Perencanaan dan Manager Pertanahan serta Unit Kerja terkait untuk penyelenggaraan perencanaan.
Bersama Manager Produksi Pengelolaan & Peremajaan Lingkungan, Manager Pemasaran dan Manager Keuangan membantu GM Regional dan Deputy Regional dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan kegiatan perusahaan.
Mengendalikan pelaksanaan kegiatan dalam lingkungan bagian perencanaan dan pertanahan.
Menyelenggarakan kegiatan pengelolaan ( penertiban atau pelaporan, pendistribusian, penyimpanan, pemeliharaan dan peretensian ) data dan informasi dalam lingkup bidang perencanaan dan pertanahan.
4. Manager Bagian Produksi, Pengelolaan dan Peremajaan Lingkungan ( P3L). Tugas Pokoknya adalah :
Menyusun sasaran, rencana kerja dan anggaran bagian produksi pengelolaan dan peremajaan lingkungan yang merupakan bagian dari RKAP Kantor Regional.
Memberikan penugasan, pengendalian, pembinaan, dan penilaian kerja kepada para Asisten Manager dalam lingkungan bagian P3L.
Mengelola sumber daya dan dana bagian untuk melaksanakan kegiatan.
Menyelenggarakan kegiatan produksi, pengelolaan dan peremajaan lingkungan meliputi aspek pematangan tanah, pembangunan sarana dan prasarana, pembangunan rumah dan lain-lain, baik yang dikerjakan melalui mitra kerja maupun swakelola.
Mengadakan koordinasi teknis dan administrasi dengan GM Divisi Bina Teknik dan Manager Perencanaan, Manager Pertanahan dan Manager Pembangunan, bagian-bagian kantor regional serta unit kerja terkait sehubungan dengan pelaksanaan P3L.
Mengendalikan pelaksanaan kegiatan dalam lingkup bagian P3L.
Bersama Manager Perencanaan & Pertanahan, Manager Pemasaran dan Manager Keuangan membantu GM Regional dan Deputy Regional dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan kegiatan perusahaan.
Menyelenggarakan kegiatan pengelolaan (penerbitan atau pelaporan, pendistribusian, penyimpanan, pemeliharaan dan peretensian) data dan informasi dalam lingkup bagian P3L.
5. Manager Bagian Pemasaran. Tugas pokoknya adalah :
Menyusun sasaran, rencana kerja dan anggaran bagian pemasaran yang merupakan bagian dari RKAP Kantor Regional.
Memberikan penugasan, pengendalian, pembinaan dan penilaian kerja kepada para asisten manager dalam lingkup bagian pemasaran.
Mengelola sumber daya dan dana bagian pemasaran.