• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERJUDIAN DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

B. Macam- Macam Hukuman Ta’zir

3. Unsur-unsur Perjudian

…                 )… /ة د ى ﺎ ﻤ ﻟ ا ٥ : ٢(

“..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”(Q.S. Al-Maa’idah[5]: 2).

3. Unsur-unsur Perjudian

Dalam menetapkan sanksi atau hukuman terhadap suatu pelanggaran harus diketahui terlebih dahulu unsur-unsur delik dalam jarimah. Unsur-unsur ini ada pada suatu perbuatan, maka perbuatan tersebut dipandang sebagai suatu delik jarimah. Unsur-unsur delik itu ada dua macam yaitu unsur umum dan unsur khusus.32 Unsur umum tersebut adalah:

a. Adanya nash yang melarang dan mengancam perbuatan (unsur formiil).

31

Abdul Qadir Audah,Ensiklopedi Hukum Pidana Islam,h. 227. 32

Perjudian Menurut Hukum Pidana Islam dan KUHP (Studi Analisis Komparasi Unsur-Unsur dan Sanksi Pidana Perjudian)”,Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009

b. Adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan nyata atau sikap tidak berbuat (unsur materiil).

c. Pelaku adalah mukallaf (unsur moril).33

Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai perjudian, apabila telah memenuhi unsur-unsur khusus, menurut H.S. Muchlis, ada dua unsur yang merupakan syarat khusus untuk dinamakan seseorang telah melakukan jarimah perjudian, ialah:

a. Harus ada dua pihak yang masing-masing terdiri dari satu orang atau lebih yang bertaruh: yang menang (penebak tepat atau pemilik nomor yang cocok) akan dibayar oleh yang kalah menurut perjanjian dan rumusan tertentu.

b. Menang atau kalah dikaitkan dengan kesudahan suatu peristiwa yang berada di luar kekuasaan dan di luar pengetahuan terlebih dahulu dari para petaruh.34

Rasyid Ridha dan at-Tabarsi sepakat menyatakan bahwa segala bentuk permainan yang mengandung unsur taruhan termasuk ke dalam pengertian maisir yang dilarang syara’. Menurut Hasbi ash-Shiddieqy permainan yang mengandung unsur untung-untungan, termasuk judi, dilarang syara’.35

33

34

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah (Kapita Selekta Hukum Islam),h. 148. 35

Berdasarkan rumusan judi di atas, maka jika ada dua kesebelasan sepak bola yang bertanding yang oleh sponsor akan diberikan hadiah kepada yang menang, ini bukan judi, karena tidak ada dua pihak yang bertaruh. Contoh lain: dua pemain catur yang mengadakan perjanjian, siapa yang kalah membayar kepada yang menang suatu jumlah uang, juga tidak dapat dinamakan berjudi, sebab pertandingan itu merupakan adu kekuatan/keterampilan/kepandaian.36

Pada prinsipnya lomba berhadiah seperti bergulat, lomba lari, badminton, sepak bola, atau catur diperbolehkan oleh agama, asal tidak membahayakan keselamatan badan dan jiwa. Dan mengenai uang hadiah yang diperoleh dari hasil lomba tersebut diperbolehkan oleh agama, jika dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

a. Jika uang/hadiah itu disediakan oleh pemerintah atau sponsor nonpemerintah untuk para pemenang.

b. Jika uang/hadiah lomba itu merupakan janji salah satu dari dua orang yang berlomba kepada lawannya, jika ia dapat dikalahkan oleh lawannya itu.

c. Jika uang/hadiah lomba disediakan oleh para pelaku lomba dan mereka disertai muhallil, yaitu orang yang berfungsi menghalalkan perjanjian lomba dengan uang sebagai pihak ketiga, yang akan mengambil uang

36

hadiah itu, jika jagonya menang; tetapi ia tidak harus membayar, jika jagonya kalah.37

Para ulama membolehkan balapan kuda, sapi, dan sebagainya, dengan syarat uang/hadiah yang diterimanya itu berasal dari pihak ketiga (sponsor lomba) atau dari sebagian peserta lomba. Islam membolehkan balapan kuda dan sebagainya itu adalah untuk mendorong umat Islam mempunyai keterampilan dan keberanian menunggang kuda yang sangat diperlukan untuk peperangan dahulu. Tetapi sekarang orang melatih diri agar menjadi joki yang hebat. Apabila uang/hadiah itu berasal dari semua peserta lomba, untuk bertaruh: siapa yang kalah, membayar Rp. 100.000,00 dan peserta yang diajak mau bertanding, maka lomba ini haram, karena masing-masing menghadapi untung rugi.38

37

Ibid.,h. 150. 38

33 A. Pengaturan Perjudian di Aceh

1. Kondisi Sosial Politik Aceh

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) adalah sebuah Daerah yang terletak di Pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia, Ibukota Provinsi NAD adalah Banda Aceh. Secara geografis dan keluasan, kawasan ini terbentang di ujung pulau Sumatera yang berbatasan sebelah utara dengan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Lautan Hindia serta sebelah barat dengan Lautan Hindia dan Teluk Benggala (India), sayang tidak disebutkan perbatasan sebelah timur. Sangat strategis baik dari sudut ekonomi, politik, maupun geografis. sehingga menjadi jalur perniagaan internasional yang paling sibuk di kawasan Asia Tenggara.1 Berdasarkan data sensus penduduk 2012 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Provinsi Aceh sebanyak 4.726.001 jiwa dan tersebar diseluruh kabupaten/kota. Selama periode Maret 2012-September 2012, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan menurun 0,60 persen (dari 13,07 persen menjadi 12,47 persen),

!" #!$ % & '( !$, ) *+ , + , Legitimasi Politik dalam Sejarah Pemerintahan di Aceh,

(- ! . !/ 0 !12' % 0 !$ 345. 0/6 5 ! 3 !( ! !$7 ! !$4 %0 !$3!$ D% . !06 5(5$ 0 / %!$ 3 ! ( !89, : ;< ;=, ".

sementara di daerah perdesaan menurun 1,00 persen (dari 21,97 persen menjadi 20,97 persen).2

Secara geografis terletak pada 2°-6° LU dan 95°-98° BT. Provinsi NAD merupakan Provinsi yang berbatasan (laut) dengan India, Myanmar, Thailand dan Malaysia. Di sebelah timur, Provinsi NAD berbatasan laut dan darat dengan Provinsi Sumatera Utara. Provinsi NAD memiliki wilayah seluas 57.736,557 km², didalamnya terdapat kawasan hutan seluas 3.335.613 Ha atau 62 % dari luas daratan terdiri dari hutan lindung dan konservasi 2.697.113 Ha dan kawasan budidaya hutan 638.580 Ha. Puncak tertinggi pada 4.446 m diatas permukaan laut, wilayah laut yang merupakan Zona Ekonomi Exclusif (ZEE) seluas 534.520 km². Provinsi NAD memiliki 119 buah pulau, 73 sungai yang besar, 35 gunung dan 2 buah danau.3 Kabupaten dan kota di provinsi Aceh yaitu Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Barat daya, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Bener Meriah, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Simeulue, Kota

?

@ AB C DE F GEH I FJJ BCKL MK N DIBO GGIP IQ , artikel diakses pada tanggal 6 Maret 2014 dari http://www.dephut.go.id/uploads/files/4e58087e6c859194b5dfae4f6aee1058.pdf.

3

Gambaran Umum Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) , artikel diakses pada 7 Maret 2014 dari http://www.profilkabupaten.com/gambaran-umum-provinsi-nanggroe-aceh-darussalam-nad/.

Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kota Sabang, dan Kota Subulussalam.4

Bangsa Aceh seluruhnya beragama Islam, bangsa Aceh telah identik dengan agama Islam. Sejak permulaan masuknya Islam ke Asia Tenggara, Aceh adalah tempat pertama berlabuhnya agama Islam dan sejak saat itulah bangsa Aceh telah memeluk agama ini tepatnya pada awal abad lahirnya agama Islam. Bersatunya agama Islam dengan penduduk Aceh telah menjadikan bangsa ini sebagai yang mempelopori agama Islam ke wilayah-wilayah di sekitar Asia Tenggara, seperti semenanjung Malaya, wilayah Sumatera lainnya, Pulau Jawa dan lain-lain. Bumi Aceh yang telah menyatu dengan agama Islam yang dianut oleh penduduknya, sehingga sesuailah Aceh dijuluki dengan ‘Serambi Mekkah’.5 Agama lain yang di anut oleh penduduk di Aceh adalah Agama Kristen yang dianut oleh pendatang suku Batak dan sebagian warga Tionghoa yang kebanyakan bersuku Hakka. Sedangkan sebagian lainnya tetap menganut agama Khonghucu.6

Provinsi Aceh memiliki 13 buah asli yaitu Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Bahasa Aneuk Jamee, Bahasa Singkil, Bahasa Alas, Bahasa

4

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam , artikel diakses pada tanggal 6 Maret 2014 dari http://www.dephut.go.id/uploads/files/4e58087e6c859194b5dfae4f6aee1058.pdf.

5

Abdullah Sani Usman,Krisis Legitimasi Politik dalam...,h. 22-23. 6

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam , artikel diakses pada tanggal 6 Maret 2014 dari http://www.dephut.go.id/uploads/files/4e58087e6c859194b5dfae4f6aee1058.pdf.

Tamiang, Bahasa Kluet, Bahasa Devayan, Bahasa Sigulai, Bahasa Pakpak, Bahasa Haloban, Bahasa Lekon dan Bahasa Nias. Rumah Adat di Provinsi Aceh di sebutRumoh Aceh.7

Provinsi Aceh dalam perkembangannya telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah administratif dan saat ini terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota. Untuk pemerintah di bawah kabupaten/kota, selain memiliki Kecamatan dan Gampong (wilayah setingkat Desa) berdasarkan Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun 2003 dibentuk Mukim yang berkedudukan langsung dibawah Camat dan wilayahnya terdiri atas beberapa gampong. Hingga saat ini Provinsi Aceh memiliki 284 Kecamatan, 755 Mukim dan 6.450 Gampong.8

2. Materi Pengaturan Perjudian di Aceh a. Pengertian

Definisi maisir (perjudian) menurut Qanun Aceh No. 13 Tahun 2003 diatur dalam Pasal 1 ayat (20) yang berbunyi:

“Maisir (perjudian) adalah kegiatan dan/atau perbuatan yang bersifat taruhan antara dua pihak atau lebih di mana pihak yang menang mendapat bayaran.” Jadi yang dimaksud perjudian di dalam pasal ini adalah setiap kegiatan atau perbuatan yang di dalamnya terdapat unsur

7 Ibid.

8 Ibid.

taruhan antara dua pihak atau lebih dan pihak yang menang akan dibayar oleh yang kalah menurut perjanjian dan rumusan tertentu.

b. Perbuatan yang Dilarang

Adapun perbuatan yang dilarang menurut Qanun Aceh No. 13 Tahun 2003 seperti yang tercantum dalam Pasal 5, 6 dan 7, antara lain:

Pertama, melakukan perbuatan maisir. Maksudnya setiap orang dilarang melakukan perbuatan maisir; Kedua,menyelenggarakan dan/atau memberi fasilitas kepada orang yang akan melakukan perbuatan maisir. Maksudnya dilarang dan akan dikenakan hukuman bagi setiap orang atau badan hukum atau badan usaha yang menyelenggarakan dan/atau memberi fasilitas kepada orang yang akan melakukan perbuatan maisir. Dengan menyelenggarakan dan/atau memberi fasilitas kepada orang yang akan melakukan perbuatan maisir maka itu akan memberi kemudahan bagi pelaku perjudian dalam melaksanakan perbuatannya. Bila tetap dilakukan pelanggaran maka akan dikenakan hukuman bagi pelakunya; Ketiga, menjadi pelindung terhadap perbuatan maisir. Maksudnya setiap orang atau badan hukum atau badan usaha dilarang melindungi terhadap perbuatan maisir. Melindungi di sini maksudnya antara lain menutup-nutupi dari usaha penyidik melakukan penggrebekan orang yang sedang melakukan perjudian atau menghalang-halangi pekerjaan penyidik untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku perbuatan judi; Keempat,

memberikan izin usaha penyelenggaraan maisir. Maksudnya instansi pemerintah dilarang memberikan izin usaha penyelenggaraanmaisir.

c. Pelaku Tindak Pidana

Yang termasuk pelaku menurut Qanun Aceh No. 13 Tahun 2003 seperti yang tercantum dalam Pasal 5, 6 dan 7, antara lain:

Pertama, setiap orang yang melakukan perbuatan maisir(pemain). Kedua, setiap orang, badan hukum atau badan usaha yang menyelenggarakan dan/atau memberi fasilitas kepada orang yang akan melakukan perbuatanmaisir. Kedua kategori pelaku tersebut adalah orang yang beragama Islam yang melakukan tindak pidana di bidang maisir (perjudian) di wilayah hukum Nanggroe Aceh Darussalam. Pidana cambuk hanya diberikan terhadap pelaku yang terbukti melakukan tindak pidana perjudian dan dikenakan pidana cambuk di muka umum. Tujuan penerapan Syariat Islam dan penerapan sanksi pidana cambuk adalah untuk memberikan pencerahan dan kesadaran bagi masyarakat dan untuk memberikan kesadaran dan rasa malu untuk mengulangi perbuatannya lagi serta menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak melakukan pelanggaran Syariat Islam dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi keluarganya. Serta untuk menciptakan masyarakat yang bermoral dan berjiwa Islam yang berakhlak mulia.

d. Sanksi Pidana

Sanksi pidana menurut Qanun Aceh No. 13 Tahun 2003 seperti yang tercantum dalam Pasal 23, 26 dan 27, antara lain:

Pertama, setiap pemain judi yang terbukti melakukan tindak pidana perjudian dan dikenakan pidana cambuk di muka umum paling banyak 12 (dua belas) kali dan paling sedikit 6 (enam) kali.

Kedua, pemberian fasilitas atau menyelenggarakan perjudian yang dilakukan baik oleh perorangan, badan usaha atau badan hukum yang berdomisili atau beralamatkan di wilayah hukum Nanggroe Aceh Darussalam, hanya dikenakan pidana dengan pidana denda sebesar paling banyak Rp. 35.000.000,- (tiga puluh lima juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). Dan jika berkaitan dengan kegiatan usaha maka akan dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha.

Dalam qanun maisir ini juga mengatur tentang pengulangan (residivist), yaitu terdapat dalam Pasal 26 yang menyebutkan, bahwa pengulangan pelanggaran terhadap ketentuan qanun tersebut, ‘uqubatnya dapat ditambah 1/3 (sepertiga) dari ‘uqubat maksimal. Sedangkan perbuatan dapat disebut pelanggaran apabila: (1) Dilakukan oleh badan hukum atau badan usaha, maka ‘uqubatnya dijatuhkan kepada penanggung jawab. (2) Apabila ada hubungan dengan kegiatan usahanya, maka selain

sanksi ‘uqubat dapat juga dikenakan ‘uqubat administratif dengan mencabut dan membatalkan izin usaha yang telah diberikan.

e. Pelaksanaan Hukuman

Pelaksanaan hukuman menurut Qanun Aceh No. 13 Tahun 2003 seperti yang tercantum dalam Pasal 29, 30 dan 31, antara lain:

‘Uqubat cambuk dilakukan oleh seorang petugas yang ditunjuk oleh Jaksa Penuntut Umum, Jaksa Penuntut Umum harus berpedoman pada ketentuan yang diatur di dalam QanunMaisir.

‘Uqubat cambuk dilakukan di suatu tempat yang dapat disaksikan orang banyak dengan dihadiri Jaksa Penuntut Umum dan dokter yang ditunjuk. Pencambukan dilakukan dengan Rotan yang berdiameter antara 0, 75 cm sampai 1 (satu) senti meter, panjang 1 (satu) meter dan tidak mempunyai ujung ganda atau dibelah. Pencambukan dilakukan pada bagian tubuh kecuali kepala, muka, leher, dada dan kemaluan. Kadar pukulan atau cambukannya tidak sampai melukai si terhukum. Terhukum laki-laki dicambuk dalam posisi berdiri tanpa penyangga, tanpa diikat, dan memakai baju tipis yang menutup aurat. Sedangkan, jika terhukumnya adalah seorang perempuan maka posisinya duduk dan ditutup kain di atasnya. Pencambukan terhadap perempuan hamil dilakukan setelah 60 (enam puluh) hari yang bersangkutan melahirkan. Apabila selama pencambukan timbul hal-hal membahayakan terhukum, yang dapat

membahayakan nyawanya berdasarkan pendapat dokter yang ditunjuk, maka sisa cambukan ditunda sampai dengan waktu yang memungkinkan.

B. Pengaturan Perjudian di Kota Bekasi 1. Kondisi Sosial Politik di Kota Bekasi

Kota Bekasi secara administratif termasuk dalam Provinsi Jawa Barat dengan batas-batas: sebelah utara dengan Kabupaten Bekasi; sebelah selatan dengan Kabupaten Bogor dan Kota Depok; sebelah barat dengan Provinsi DKI Jakarta; dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bekasi. Kota yang luas wilayahnya sekitar 210,49 Km² dengan titik koordinat 106°48'281"-107°27'29" Bujur Timur dan 6°10'6"-6°30'6" Lintang Selatan.9 Pada perkembangannya kini sesuai dengan Perda No. 4 tahun 2004, Kota Bekasi mempunyai 12 kecamatan, yang terdiri dari 56 kelurahan, yaitu : Kecamatan Bekasi Barat, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Bekasi Timur, Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Pondok Gede, Kecamatan Jatiasih, Kecamatan Bantar Gebang, kecamatan Jatisampurna, Kecamatan Medan Satria, kecamatan Rawalumbu, kecamatan Mustika Jaya dan kecamatan Pondok Melati.10

Topografi Kota Bekasi bervariasi, namun sebagian besar berada pada dataran rendah dengan kemiringan antara 0-2% dan ketinggian antara

9

Kondisi Geografis Wilayah Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://www.bekasikota.go.id/read/5456/kondisi-geografis-wilayah-kota-bekasi.

10

Profil Daerah Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1062.

11-81 meter di atas permukaan air laut. Dataran rendah yang ketinggannya kurang dari 25 meter dari permukaan air laut sebagian besar berada di Kecamatan Medan Satria, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Bekasi Timur, dan Pondok Gede. Sedangkan, daerah berketinggan antara 25-100 meter dari permukaan air laut sebagian besar berada di Kecamatan Bantargebang, Pondok Melati, dan Jatiasih (Pemkot Bekasi, 2009).11 Jumlah penduduk Kabupaten Bekasi tahun 2014 sebanyak 2. 811. 000 jiwa.12

Salah satu hal yang membuat Kota Bekasi berkembang dengan pesat adalah karena adanya perkembangan dalam bidang industri, terutama industri pengolahan, perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini membuat mata pencaharian penduduknya pun semakin beragam dan tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Menurut data dari BPS Kota Bekasi tahun 2012, dari luas secara keseluruhan yang mencapai 21.049 ha, hanya sebagian kecil saja yang saat ini masih digunakan sebagai lahan pertanian yaitu sekitar 505 ha atau 3,15%. Selebihnya, merupakan lahan kering yang digunakan untuk bangunan dan halaman (15.072 ha), kebun (4.285 ha), dan kolam atau empang seluas (69 ha).13

11

Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://uun-halimah.blogspot.com/2014/01/kota-bekasi.html.

12

Puluhan Ribu E-KTP Baru Turun Lagi ,artikel yang diakses pada tanggal 7 Maret 2014 dari http://poskotanews.com/2014/03/05/puluhan-ribu-e-ktp-baru-turun-lagi/.

13

Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://uun-halimah.blogspot.com/2014/01/kota-bekasi.html.

Sektor industri dan perdagangan merupakan sektor yang diunggulkan, ini sesuai dengan Visi Kota Bekasi, yaitu unggul dalam jasa dan perdagangan, kini berkembang sangat pesat. Selain itu, banyak juga industri kecil yang berkembang dan telah dapat membuka pasar internasional. Perdagangan ikan hias yang ada di Kota Bekasi saat ini merupakan komoditi terbesar di Asia Tenggara. Dieksport ke berbagai negara Australia, Belanda dan Selandia Baru. Sektor industri besar juga telah menetapkan Kota Bekasi sebagai kawasan perindustrian yang dapat memberikan keuntungan bagi pengusaha lokal maupun internasional.14

Dengan lahan yang relatif kecil tersebut, tanaman pangan, buah-buahan dan hasil kebun lain yang dihasilkan hanyalah berupa padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, sawi, kacang panjang, bayam, mentimun, cabe, terong, kangkung, rambutan, jambu biji, duku, sawo, pisang, pepaya, jahe, pandan, dan kencur. Pada tahun 2012, produksi tanaman padi menghasilkan sekitar 5.950,79 ton, kangkung 4.348 ton, sawi 3.614,4 ton, bayam 3.556,65 ton, rambutan 2.006,87 ton, jambu biji 987,74 ton, jahe 366,47 kwintal per ha, dan selebihnya berupa sawo, pisang, dan pepaya sekitar 600 ton. Selain pertanian dan perkebunan, Kota Bekasi juga menghasilkan tambahan dari sektor perikanan dan peternakan. Pada tahun 2011 hasil perikanan Kota Bekasi mencapai 1.310,05 ton dengan jenis ikan lele yang paling banyak diproduksi yaitu sekitar 531,85 ton.

14

Profil Daerah Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1062.

Sedangkan dari sektor peternakan menghasilkan 1.104.525 ekor ayam ras pedaging, 172.358 ekor ayam buras, 118.500 ekor ayam petelur, dan 7.294 ekor itik.15

Agama yang dianut oleh Masyarakat Kota Bekasi sangat beragam, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan aliran Kepercayaan. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (masjid, musholla dan langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Kota Bekasi, jumlah masjid yang ada di sana mencapai 1.032 buah, musholla 695 buah, dan langgar mencapai 957 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 97 buah, agama Budha mencapai 11 buah (10 buah vihara dan 1 buah kelenteng), dan agama Hindu hanya ada satu buah pura. Sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan atau gedung pertemuan bagi penganut aliran kepercayaan belum ada.16 Dan Walikota Bekasi tahun 2014 adalah Dr. H. Rahmat Effendi.17

15

Kota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://uun-halimah.blogspot.com/2014/01/kota-bekasi.html.

16 Ibid.

17

Walikota Bekasi , artikel yang diakses pada tanggal 18 Maret 2014 dari http://www.bekasikota.go.id/read/53/walikota-bekasi.

2. Materi Pengaturan Perjudian di Kota Bekasi a. Pengertian

Definisi judi menurut Perda Bekasi No. 11 Tahun 2005 diatur dalam Pasal 1 ayat (12) yang berbunyi:

“Judi adalah tiap-tiap permainan, yang kemungkinannya akan menang pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja, juga kalau kemungkinan itu bertambah besar karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Judi mengandung juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain, yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lain.”Jadi yang dimaksud perjudian di dalam pasal ini adalah setiap permainan yang mengandalkan untung-untungan dalam kemenangannya dan bertambah besar kemungkinan menangnya karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Judi juga mengandung segala pertaruhan keputusan perlombaan atau permainan lain, yang tidak diadakan oleh mereka yang berlomba atau bermain itu, dan juga segala pertaruhan lain.

b. Perbuatan yang Dilarang

Adapun perbuatan yang dilarang menurut Perda Bekasi No. 11 Tahun 2005 seperti yang tercantum dalam Pasal 7, antara lain:

Pertama, memberikan izin perjudian. Maksudnya instansi pemerintah dilarang memberikan izin usaha perjudian; Kedua,

menggunakan tempat usaha atau tempat tinggal sebagai tempat perjudian. Maksudnya setiap orang atau sekelompok orang dilarang tempat usaha atau tempat tinggal digunakan sebagai tempat perjudian.

Ketiga, membiarkan tempat usahanya dan/atau menyediakan sarana untuk perbuatan perjudian. Maksudnya setiap orang maupun sekelompok orang dilarang membiarkan tempat usahanya dan/atau menyediakan sarana untuk perbuatan perjudian yang mengakibatkan terjadinya perbuatan perjudian. Dengan membiarkan tempat usahanya dan/atau menyediakan saranakepada orang yang akan melakukan perbuatan perjudian maka itu akan memberi kemudahan bagi pelaku perjudian dalam melaksanakan perbuatannya. Bila tetap dilakukan pelanggaran maka akan dikenakan hukuman bagi pelakunya.

Keempat, menjadi pelindung dalam bentuk apapun terhadap kegiatan perjudian maupun memberikan kesempatan untuk perjudian. Maksudnya setiap orang atau sekelompok orang dilarang menjadi pelindung dalam bentuk apapun terhadap kegiatan perjudian, maupun memberikan kesempatan untuk perjudian. Melindungi di sini maksudnya antara lain menutup-nutupi dari usaha penyidik melakukan penggrebekan orang yang sedang melakukan perjudian atau menghalang-halangi pekerjaan penyidik untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku perbuatan judi; Kelima, membiarkan di lingkungannya terjadi perjudian. Maksudnya setiap penanggung jawab dan/atau pimpinan lembaga pendidikan, lembaga swasta serta pemerintahan

dilarang memberikan kesempatan, membiarkan di lingkungannya terjadi perbuatan perjudian.

Keenam, mencegah penyalahgunaan rumah/bangunan. Maksudnya

Dokumen terkait