BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Pidana
3. Unsur-unsur Tindak Pidana
35 4) Perawatan di LPKS.
5) Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta.
6) Pencabutan surat izin mengemudi.
7) Perbaikan akibat tindak pidana.Yang dimaksud disini misalnya memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh tindak pidana dan memulihkan keadaan sesuai dengan sebelum terjadi tindak pidana.
36 2) Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan atau pogging seperti
yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP;
3) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain-lain;
4) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP.
5) Perasaan takut yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.
Sementara unsur-unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan saat tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan. Menurut Moeljatno (Adami Chazawi 2001:79), unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana yaitu:
1. Sifat melanggar hukum atau wedderrechtelicjkheid;
2. Kualitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai seseorang pegawai negeri di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu Perseroan Terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP.
3. Kausualitas yakni hubungan antara suatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
A. Tindak Pidana Kekerasan
1. Pengertian Tindak Pidana Kekerasan
37 Bila ditinjau dari segi bahasa, kekerasan berasal dari kata “keras”.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan berarti: “bersifat keras;
perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; atau dapat diartikan sebagai paksaan”.
Didalam KUHP tidak diberikan pengertian khusus mengenai apa yang dimaksud dengan kekerasan, namun dalam Pasal 89 KUHP disebutkan bahwa:
“Melakukan kekerasan itu artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil secara yang tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya. Yang disamakan dengan melakukan kekerasan menurut pasal ini ialah : membuat orang jadi pingsan atau tidak berdaya (lemah)”.
Yang dimaksud “pingsan” dalam Pasal 89 KUHP berarti tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya. Sedangkan “tidak berdaya” berarti tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali, sehingga tidak dapat mengadakan perlawanan sedikitpun, namun orang yang tidak berdaya itu masih dapat mengetahui apa yang terjadi atas dirinya.
Pengertian kekerasan dalam konteks anak yang berhadapan dengan hukum menurut Pasal 1 angka 16 dalam Undang-UndangRepublik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak berarti:
“Setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran,
38 termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hokum”.
Tindak pidana kekerasan menurut ahli kriminologi yang dikemukakan oleh Stephen Schafer dalam ( mulyana w. kusuma, 1984:24 ) “kejahatan kekerasan yang utama yaitu pembunuhan, penganiayaan, pencurian dengan kekerasan”.
2. Jenis-jenis tindak pidana kekerasan
Mengenai kekerasan tidak diatur dalam satu bab khusus di dalam KUHP, melainkan terpisah-pisah dalam beberapa bab. Kualifikasi kekerasan dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Kejahatan terhadap nyawa orang lain (Pasal 338-350 KUHP) b. Kejahatan penganiayaan (Pasal 351-358 KUHP)
c. Kejahatan pencurian (Pasal 365 KUHP)
d. Kejahatan terhadap kesusilaan (Pasal 285 KUHP)
e. Kejahatan yang menyebabkan kematian atau luka karena kealpaan (Pasal 359-367 KUHP).
F. Teori Upaya Penanggulangan Kejahatan
Sutherland mengungkapkan penanggulangan kejahatan melalui 2 (dua) metode yaitu:
1. Metode reformasi, yaitu suatu cara yang ditunjukan kepada pengurangan jumlah recidivist atau kejahatan ulangan. Metode ini meliputi:
a. Metode reformasi dinamik, metode ini berkaitan dengan cara bagaimana merubah penjahat dari kebiasaan yang tidak baik.
39 b. Metode reformasi klinis, metode ini kondisi individulah yang menyebabkan kejahatan, karenannya perhatian dipusatkan lebih besar pada penjahat dari pada kejahatan itu sendiri.
c. Metode hubungan kelompok dalam reformasi, menurut metode ini tingkah laku seseorang dikatakan sebagai hasil dari kelompok pergaulannya lebih besar dari pada sumbangan yang diberikan individu dalam tingkahlakunya yang khas ataupun karakternya.
2. Metode prevensi, yaitu suatu cara yang diarahkan kepada suatu usaha pencegahan terhadap kejahatan yang pertama kali akan dilakukan seseorang.
Penanggulangan kejahatan mencakup kegiatan mencegah sebelum terjadi dan memperbaiki pelaku yang dinyatakan bersalah dan dihukum dalam penjara atau lembaga pemasyarakatan. Secara umum upaya penanggulangan kejahatan dilakukan melalui 2 (dua) metode, yaitu :
1) Metode Moralistik
Metode Moralistik dilakukan dengan cara membina mental spiritual yang dapat dilakukan oleh para ulama, para pendidik, dan lain-lain.
2) Metode Abolisionistik
Metode abolisinistik adalah cara penanggulangan yang bersifat konseptual yang harus direncanakan dengandasar penelitian kriminologi dan menggali sebab musababnya dari berbagai faktor yang berhubungan.
Konsep umur dalam upaya penanggulangan kejahatan yang berhubungan dengan mekanisme peradilan pidana dan partisipasi masyarakat, secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut:
40 a. Peningkatan dan pemantapan aparatur penegak hukum yang meliputi pemantapan organisasi, personel dan sarana-sarana untuk menyelesaikan perkara pidana.
b. Perundang-undangan dapat berfungsi menganalisis dan membendung kejahatan dan mempunyai jangkauan kemasa depan.
c. Mekanisme peradilan pidana yang efektif dan memenuhi syarat-syarat cepat, tepat murah dan sederhana.
d. Koordinasi aparatur penegak hukum dan aparatur hukum lainnya yang berhubungan, untuk meningkatkan daya guna dalam penanggulangan kriminalitas.
e. Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangan kriminalitas.
Kelima unsur tersebut merupakan konsep umum yang penerapannya dalam bentuk perintah operasional yang harus disesuaikan pada waktu dan tempat yang tepat dan selaras dengan kondisi masyarakat.
Untuk memperkuat daya kemampuan operasional penanggulangan perlu pula dipadukan 3 (tiga) kemauan (will), yaitu political-will, dan individual-will, kehendak pemerintah (political-will) dengan berbagai upaya, perlu didukung oleh citra sosial (social-will) melalui berbagai media melancarkan penerapan keinginan pemerintah. Dan kekuatan besar yang tidak boleh dilupakan adalah human atau individual-will, berupa kesadaran untuk patuh dan taat pada hukum serta senatiasa berusaha menghindari diri untuk tidak berbuat kejahatan.