• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

C. Upacara Kelahiran ( Kehamilan)

Sudah menjadi takdir seorang wanita mengalami masa – masa yang penuh keajaiban, yaitu masa ketika janin telah tumbuh dalam rahim seorang ibu. Dari fase ke fase janin terus tumbuh menjadi besar. Dalam proses tersebut kita sebagai manusia tidak ada salahnya jika kita mengadakan berbagai upacara mulai dari ngapati sampai mitoni.

Upacara ngapati diadakan ketika usia kehamilan memasuki usia 4 bulan. Hal tersebut berdasarkan keyakinan bahwa pada masa ini ruh telah ditiupkan ke janin. Dengan diadakan doa bersama sebagai sikap syukur, ketundukan, dan kepasrahan. Selain itu kita juga sebaiknya mengajukan permohonan kepada Allah SWT supaya agar nanti anak yang lahir sebagai manusia yang utuh sempurna, sehat, yang dianugerahi rizki yang baik dan lapang, berumur panjang yang penuh nilai- nilai ibadah, beruntung di dunia dan akhirat.

Setelah usia kehamilan memasuki usia ketujuh, pada masyarakat Desa Jogoyasan telah mengadakan upacara mitoni atau tingkeban. Yang dilaksanakan pada hari Sabtu Wage. Adapun waktunya yaitu pukul 03.00. ritual diadakan dirumah dan juga di tempat di mana ibu hamil tersebut mandi. Ritual yang diadakan dirumah yaitu dengan mengadakan kenduri yang di dalamnya disiapkan nasi golong dan telur ayam kampung yang jumlahnya 7 buah yang diletakkan di atas tampah . Kenduri dilaksanakan di depan pintu rumah, dan tidak diperbolehkan diadakan di dalam rumah. Jumlah orang yang diundang dalam upacara tersebut juga berjumlah 7 orang. Setelah kenduri dilaksanakan, si ibu mandi kembang pada air yang mengalir dengan membawa

40

sapu lidi, tikar dan tampah yang telah selesai digunakan. Hal tersebut dipercaya masyarakat dapat mempermudah kelahiran sang bayi, dan setelah itu si ibu tinggal menunggu hingga waktu kelahiran si jabang bayi tersebut.

Upacara kelahiran dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur ataupun sambutan atas lahirnya anggota baru dalam keluarga. Akan tetapi bentuk ataupun perwujudan dalam menyambut kelahiran atas putra – putri mereka berbeda – beda. Ada yang dilaksanakan secara sederhana, dan ada pula yang dilaksanakan secara mewah.

D. Upacara Kematian

Penghormatan ala Jawa bagi orang yang telah meninggal Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selametan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Berikut diantaranya ritual yang dilakukan menurut adat istiadat Jawa.

1. Upacara ngesur tanah (geblag)

Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag

41

semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga. Bahan yang digunakan untuk kenduri terdiri atas:

a. Nasi gurih (sekul wuduk) b. Ingkung (ayam dimasak utuh)

c. Urap (gudhangan dengan kelengkapannya) d. Cabai merah utuh

e. Krupuk rambak f. Kedelai hitam

g. Bawang merah yang telah dikupas kulitnya h. Bunga kenanga

i. Garam yang telah dihaluskan

j. Tumpeng yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng ungkur-ungkuran) yang memiliki makna bahwa mayat telah berpisah antara jasmani dan ruhnya.

Dalam prosesi pemakaman, sering kita jumpai masyarakat menggunakan bunga yang dirangkai dan dikalungkan pada keranda yang dibawa untuk mengangkut mayat ke pemakaman. Bunga memiliki makna penghormatan kepada jenazah dan untuk mengenang kebaikan-kebaikan yang dilakukan selama hidupnya dan suatu upaya keluarga untuk mendoakan agar arwahnya diterima disisi Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Selain bunga, perangkat yang selalu digunakan dalam prosesi pemakaman yaitu payung. Payung ini memiliki makna tanda belas kasih,

42

cinta sanak keluarga terhadap orang yang baru saja meninggal itu tidak kehujanan dan kepanasan selama di liang kubur.

2. Upacara tigang dinten (tiga hari)

Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Bahan untuk krnduri biasanya terdiri atas: Takir pontang yang berisi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang telah dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang telah digerus (dihaluskan), kue apem putih, uang, gantal dua buah. Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan, sayur menir, jenang merah. Adapun makna dari sesajen tersebut adalah untuk menyempurnakan 4 perkara yang disebut anasir yaitu bumi, api, angin, dan air.

3. Upacara pitung dinten (tujuh hari)

Upacara ini untuk memperingati tujuh hari meninggalnya seseorang. Bahan yang digunakna untuk kenduri biasanya terdiri atas: Kue apem yang di dalamnya diberi uang logam, ketan, kolak (semuanya diletakkan dalam satu takir) Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang yang diikat kecil-kecil, dan daging jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut (conthong), serta pindang putih. Sesajen tersebut maksudnya untuk

43

menyempurnakan pembawaan dari ayah dan ibu berupa darah, daging, sungsum, jeroan (isi perut), kuku, rambut, tulang, dan otot.

4. Upacara sekawan dasa dinten (empat puluh hari)

Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri. Bahan untuk kenduri biasanya sama dengan kenduri pada saat memperingati tujuh hari meninggalnya, namun ada tambahan sebagai berikut:

a. Nasi wuduk b. Ingkung c. Kedelai

d. Cabai merah utuh e. Rambak kulit

f. Bawang merah yang telah dikupas kulitnya g. Garam

h. Bunga kenanga

Sesajen tersebut mempunyai maksud untuk menyempurnakan semua yang bersifat badan wadag (jasad)

5. Upacara nyatus (seratus hari)

Upacara ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan empat puluh hari.

44

6. Upacara mendhak pisan (setahun pertama)

Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan bahan yang diigunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari.Hal tersebut dilaksanakan dengan maksud untuk menyempurnakan kulit, daging, dan organ dalamnya.

7. Upacara mendhak pindho (tahun kedua)

Upacara mendhak pindho merupakan upacara terakhir untuk memperingati meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan mendhak pisan. Hal tersebut dilaksanakan dengan maksud untuk menyempurnakan semua kulit, darah, dan semacamnya yang tinggal hanyalah tulangnya saja.

8. Upacara mendhak katelu (nyewu)

Merupakan peringatan seribu hari bagi orang yang sudah meninggal. Peringatan dilakukan dengan mengadakan kenduri yang diselenggarakan pada malam hari. Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan yang digunakan pada peringatan empat puluh hari. ditambah dengan: daging kambing/domba becek bagi yang belum mengadakan aqiqah. Hal tersebut bermaksud supaya kambing tersebut nantinya dapat dijadikan kendaraan bagi si mayat untuk menuju ke hadapan Tuhan. Sedangkan peringatan mendhak katelu ini dimaksudkan

45

untuk menyempurnakan semua rasa dan bau hingga semua rasa dan bau sudah lenyap.

9. Kol(kol kolan)

Kol merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal setelah seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan dengan satu tahun setelah nyewu. Saat peringatan ini harus bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan kenduri dengan bahan kenduri: kue apem, ketan, dan kolak. Semuanya diletakkan dalam satu takir. Pisang raja satu tangkep, uang “wajib”, dan dupa.

10.Nyadran

Nyadran adalah hari berkunjung ke makam para leluhur/kerabat yang telah mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi umat Islam. untuk memperjelas lagi sedikit arti/makna sesajinya dan unsur- unsur upacarnya: Sesajen upacara ngesur tanah : bermakna memindahkan roh jenazah dari alam fana ke alam baka. Kematian tersebut didoakan oleh para ahli waris dengan berbagai sesajen yang tujuannya mengharap keselamatan bagi orang yang meninggal dan mendapat ampunan dari Tuhan.

Budaya Jawa terkenal mudah untuk menyerap budaya dari luar yang masuk tanpa kehilangan identitasnya. Suatu misal, dengan masuknya agama Islam, ritual selametan biasanya ditambahi dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Surat Yasiin dan Tahlil. Meski bagi sebagian masyarakat yang memahami Islam secara murni hal ini dapat

46

dikategorikan sebagai bid’ah, namun bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur hal ini sulit untuk ditinggalkan. Karena hal ini merupakan wujud dari sikap hormat terhadap orang tua, serta sebagai bentuk pengejawantahan anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya dalam kepercayaan Islam.

E. Saparan

Mayoritas masyarakat Desa Jogoyasan bermata pencaharian sebagai petani. Dimana pada setiap tahunnya masyarakat mengadakan upacara- upacara yang berkaitan dengan masa tanam atau yang dikatakan sebagai wiwitan dan ada masa panen. Pada masyarakat ini ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah tersebut tidak pasti dilaksanakan setelah masa panen tersebut berlangsung. Akan tetapi sebagai ungkapan rasa syukur tersebut masyarakat telah mengadakan tradisi sendiri yang dinamakan Saparan. Yang mana tradisi tersebut dilaksanakan setiap bulan Sapar. Sehingga dapat dikatakan Saparan berhubungan erat dengan tradisi pertanian.

Pelaksanaan tradisi ini dilaksanakan tidak berdasarkan tanggal tertentu akan tetapi menurut hari yang dipercaya warga masyarakat desa itu sendiri yaitu hari Sabtu Legi. Hari Sabtu Legi diambil berdasarkan kepercayaan dari sesepuh desa yang mempercayai bahwa hari sabtu Legi itulah hari jadi Desa Jogoyasan.

Tiga atau dua hari sebelum acara tersebut dilaksanakan para warga saling bergotong royong bersama- sama mengadakan kerja bakti untuk

47

membersihkan desa dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Pada hari malam Jum’at sebelum hari sabtu legi, para warga mengadakan doa bersama yang diadakan yang dilaksanakan di rumah kepala dusun yang dipimpin oleh ulama setempat.

Pada Jum’at pagi para warga bersama- sama mengadakan Nyadran. Nyadran adalah bersih – bersih makam pada makam leluhur mereka. Mereka saling membantu satu sama lain untuk membersihkan makam sehingga dari kebiasaan tersebut terlihat adanya keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat mereka.

Kemudian pada hari Sabtu Legi dari setiap warga masyarakat mengundang para saudara atau kerabat dari desa lain untuk berkunjung ke rumah mereka dengan berbagai suguhan istimewa. Baik berupa makanan ataupun pertunjukan seni yang diadakan di desa tersebut. Pada hari inilah disuguhkan beberapa jenis makanan yang memiliki makna simbolik:

a. Ingkung Ayam

Ingkung ayam adalah ayam yang sudah dimasak dan masih utuh. melambangkan pengorbanan selama hidup, cinta kasih terhadap sesama juga melambangkan hasil bumi (hewan darat)

b. Tumpeng

Tumpeng adalah nasi yang dibentuk lancip dan menyerupai kerucut. Melambangkan ketuntasan dan kesempurnaan. Artinya, jika melakukan sesuatu harus dengan tuntas dan tidak setengah-setengah. Sedangkan

48

tumpeng berasal dari kata tumungkulo sing mempeng, artinya jika kita ingin selamat, hendaknya kita selalu rajin beribadah.

c. Jajan Pasar

Jajan pasar adalah makanan yang terdiri dari berbagai macam jajanan yang ada di pasar. Misalnya : tape, kacang, buah - buahan, cethil ( makanan yang terbuat dari ketela pohon ) dan yang lainnya. Melambangkan kerukunan walaupun ada perbedaan, tenggang rasa.

Kecenderungan upacara tradisi dalam saparan, khususnya warga masyarakat Jogoyasan cukup menarik. Meskipun ada kesulitan penulis untuk memahami tradisi saparan. Mungkin hasil dari pengamatan yang kami dapatkan baik secara langsung di masyarakat atau dengan wawancara dengan warga akan bisa memaparkan tentang tradisi sparan. Hasil wawancara dari salah satu warda dusun pagertengah tentang pandangan tradisi saparan, sebagaimana diungkapkan Saudara Parli:

’’Sebenarnya acara saparan itu sendiri bagus, tujuannya pun jelas yaitu : Syukuran dusun atau memperingati cikal-bakal adanya dusun istilahnya dalam bahasa Jawa (merti dusun), itu juga sama halnya seperti syukuran yang diadakan setiap hari kemerdekaan tanggal 17 agustus. Mungkin yang perlu ditinjau kembali adalah dalam pelaksanaannya’’.

Warga masyarakat Pagertengah mempunyai cara pandang sendiri terhadap tradisi saparan. Salah satu tokoh warga masyarakat dusun Pagertengah tentang apa saja acara yang ada di dalamnya, yang di ungkapkan Bapak Tarjo:

“Saparan itu memang dari dulu sudah ada sejak zaman nenek moyang, kalau cikal-bakalnya atau pertama kali muncul kurang begitu jelas, entah itu datangnya pada masa transisi dari Hindu-Budha ke agama Islam, sebelum itu atau bahkan sesudah Islam menyebar”.

49

Dengan acara Saparan masyarakat dapat melengkapi pemenuhan kebutuhannya akan sarana pengungkapan persaan mereka akan aspek-aspek pengalaman hidup mereka.

50 BAB IV PEMBAHASAN

Kearifan lokal memiliki peran penting dalam memahami siklus kehidupan. Adapun fungsi kearifan lokal dalam bidang pendidikan yaitu: A. MendidikCintaKepadaTuhan

Sebagaiinsan yang

beragamasudahsepantasnyakitadapatmengambilhikmahakanartipesan yang

disampaikandariberbagaikegiatankeagamaan yang

dilakukanpadamasyarakattersebut. Denganadanyarangkaiankegiatan yang dilaksanakan di dalam ritual upacarakeagamaan, misalnyamanakiban, tahlilan,

yasinandapatdijadikanperantarakomunikasikitasebagaiumatmanusiakepada

Allah SWT.Dan denganadanya ritual

tersebutdiharapkankitadapatmencapaikeridhoanNyadalammenjalanihidup. Karena yang terlibatdalamacaratersebuttidakhanya orang tuasaja,

melainkandarianak – anaksampaidewasa,

makasecaratidaklangsungmelaluiacaratersebuttelahmengajarkandanmendid ikanakuntukmerefleksikanperasaancintakepadaTuhan Yang MahaEsa.Dan denganmelibatkananakdalamkegiatantersebutsecaratidaklangsunganaktela

hdiperkenalkandengantradisikeagamaan yang

telahterjadisecaraturuntemurun.Dan

anakterdidikuntukmelaksanakanibadahsecarabertahapdariamalan – amalan yang telahdijalankan.

52 B. MendidikCintaTerhadapAlam

Aspekreligiusitasmasyarakatlokalsangatsederhanadanlogis,

bahkancarakeberagamaannyatidakberhentipadaaspek ritual danformalistik, akantetapimerekalebihmenghayatidalamsetiapdetikkehidupansebagaibagai andariaspekkedekatanmerekadengan Sang penciptadanalamsemesta.

Denganlandasanlocal wisdomtersebut,

perlumenumbuhkanpandangankeislaman universal yang mempunyaikomitmenkuatterhadapbudayalokal, sehingga proses transformasimasyarakattidaktercerabutdariakarnya. Hal inisangatpentingdalamrangkamenggalikearifanlokal (local wisdom) yang selamainitertimbunolehbudaya-budaya lain.

UpacaraPertanianadalahsebuahsaranapendidikancintalingkunganhi dup.Di sinimasyarakatmenghayatilagihubunganeratmerekadenganbumidan air.Dimanajikasalahsatunyatidakterpenuhimakahasilpertanianjugatidakaka nmaksimal. Misalnyaadatanamannamuntidakdiberikanpengairan yang

cukup, makatanamantersebutakanlayuataumati.

Bahkankalaupuntanamantersebuttumbuh, makapertumbuhannyaakanterhambat.

C. Kerukunanbermasyarakat

Aspek local wisdom yang mendidikkerukunanmasyarakatterjadi di setiapupacakeagamaan,

53

rekasalingmembutuhkansatusamalain.Sikap rukun merupakan suatu sikap yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan, kita tidak menginginkan suatu permusuhan ataupun pertengkaran dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai mana yang telah tercantum dalam surat asy – Syu’ara ayat 15 berikut ini :

 Selain ayat tersebut, sikap rukun tertuang dalam surat Al- Hujurat ayat 12 sebagai berikut :

 

 Artinya :Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan

purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Sikap rukun yang tercermin dari tradisi saparan yaitu adanya kerja sama antara warga satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dapat kita lihat dari prosesi demi prosesi yang dilaksanakan. Misalnya upacara kematian , dari kegiatan tersebut kita bisa melihat kebersamaan yang terjalin dengan harmonis, dimana secara bersama- sama membersihkan makam, kemudian dalam pelaksanaannya para warga saling bahu membahu untuk mengumpulkan segala sesuatu yang diperlukan misalnya : pemasangan tratak, lampu, kursi dan lain sebagainya.

Dokumen terkait