• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upacara Palangehon Boru Yang Dilakukan Oleh Marga Pasaribu D

Dalam dokumen Palangehon Boru (Halaman 39-45)

BAB IV PALANGEHON BORU YANG DI LAKUKAN OLEH MARGA

4.3 Upacara Palangehon Boru Yang Dilakukan Oleh Marga Pasaribu D

A. Saat Mengandung Dan Saat Melahirkan Bayi

sama halnya dengan ketidakwajaran yang dirasakan oleh keluarga bapak B.Pasaribu yang pada saat isterinya mengandung anak perempuan Pertamanya yang juga banyak mengalami kejanggalan seperti halnya keluarga Pandiangan saat sebelum melahirkan anak perempuan tersebut. Dalam kasus yang di rasakan dan dialami oleh keluarga bapak Benget Pasaribu yang paling sulit dirasakan adalah permasalahan ladang mereka yang tidak memberikan hasil sama sekali dan tidak seperti biasanya, tanaman cabai dan kelapa yang di tanam oleh mereka biasanya berbuah hingga dapat dipanen tepat waktu, padahal menurut penduduk setempat keadaan tanah pertanian di Desa Pargarutan termasuk tanah yang subur untuk lahan pertanian maupun perkebunan.

Saat melahirkan boru (anak perempuan) ibu merasa melhirkan dengan cara berbeda dengan anak nya yang sebelumnya, saat kelahiran san anak di lilit oleh tali pusarnya dan kotoran ibu keluar bersama anak nya tersebut, berbeda dengan bayi lainnya anak dari ibu Misna Panjaitan (umur 40 Tahun) yang merupakan isteri dari bapak Benget Pasaribu ini lahir dengan gigi yang sudah tumbuh tepat di gusi depan bayi tersebut padahal bayi tersebut lahir sesuai dengan kelahiran anak bayi normal lainnya. Setelah mengetahui hal tersebut maka pihak keluarga

langsung menemui oppung mereka yaitu Op.Tahe Pasaribu (umur 63 tahun) dan menceritakan mengenai proses persalinan serta keadaan sang anak tersebut, dan saat itu mereka di nyatakan harus segera melakukan proses upacara setelah anak perempuannnya itu di babtis di gereja dan melaksanakan upacara palanehon boru ini karena hal-lah tidak wajar tersebut adalah bentuk-bentuk kesialan yang dapat merugikan keluarga besar sang anak tersebut.

B. Penentuan Hari Yang Tepat Untuk Melaksanakan Upacara

Palangehon Boru

Setelah melakukan konsultasi serta berkumpul dengan seluruh pihak keluarga Besar Pasaribu (martonggoraja) maka diputuskan untuk menemui datu di kampung yang berlainan dengan desa tempat mereka tinggal untuk menanyakan hari yang tepat untuk melksanakan proses upacara palangehon boru ini. Menurut informan yaitu Bapak Benget Pasaribu saat itu hari yang tepat untuk melksanakan upacra ini adalah bulan ke 4 (sipaha opat) di tahun berikutnya setelah kelahiran si bayi, di karenakan pada saat tersebut bayi sudah dapat menelungkupkan tubuhnya sekitar 8 bulan setelah kelahiran bayi tersebut.

C. Tempat-tempat Melakukan Upacara Palangehon Boru

Setelah menentukan hari yang tepat untuk melakukan upacara tersebut maka pihak keluarga Pasaribu sebagai hasuhutan mengundang dan menetukan tempattempat yang akan digunakan utuk melakukan upacara palangehon boru yang akan dilaksanakan menurut informan yang melakukan upacara yaitu Bapak Benget Pasaribu dan ibu Misna Panjaitan adalah sebagai berikut:

 Gereja yang merupakan tempat pertama yang akan di tuju oleh pihak keluarga Pasaribu untuk meminta berkat dari Tuhan Yang Maha dan Mereka melakukan proses pembukaan di gereja HKBP Pargarutan, karena mereka merukan jemaat gereja tersebut.

 Di halaman rumah keluarga yang melakukan upacara, digunakan untuk tempat membelah pinahan yang akan digunakan untuk membasuh si anak tersebut, ruangan yang dibutuhkan memanglah harus ruangan terbuka agar kesialan terbuang dan hilang dari keluarga.

 Semak yang dinantinya digunakan untuk meletakkan bayi oleh hula-hula keluarga, semak yang bersampingan dengan rumah keluara bapak Benget Pasaribu

 Di dalam rumah untuk acara partamiangan acara tersebut serta melakukan parjambaran untuk setiap undangan serta acara untuk ucapan syukur. Dan letak rumah ini bedekatan dengan sekolah dasar yang berada di dekat Desa Pearaja

 Sungai yang digunakan untuk menghanyutkan pakaian si bayi tersebut. Dan sungai yang digunakan untuk nmenghanyutkan baju tersebut adalah sungai yang cukup jauh yaitu di sungai Kolang.

D. Aktivitas Pelaksanaan Upacara Palangehon Boru Yang di Laksanakan Oleh Marga Pasaribu

Pendeta yaitu bapak Pdt.Sahala Pasaribu selaku pengurus gereja HKBP di desa Pargarutan bertugas untuk membuka dan memimpin acara doa pembukaan

yang dilakukan di gereja tempat pihak hasuhuton beribadah atau sebagai jemaat di gereja tersebut serta dihadiri oleh para undangan yang diundang oleh pihak Hasuhuton tersebut.

Setelah melakukan prosesi doa bersama di gereja maka tidak jauh beda dengan upacara yang dilaksanakan oleh marga Pandiangan ketika melakukan proses upacara palangehon boru, yang membuat beda hanyalah lokasi tempat- tempat yang di gunakan dalam melaksanakan upacara ini beserta permasalahan yang di alami oleh setiap pihak keluarga yang anaknya lahir dengan cara yang dianggap tidak wajar serta bayi yang lahir tidak seperti cara lahir bayi yan normal lainnya sehingga mengakibatkan banyak anggapan-anggapan yan membuat pihak keluarga merasa dirugikan dengan proses kelahiran tersebut. Dalam hal ini maka akan dijelaskan kembali bagaimana proses berlangsungnya upacara palangehon boru yang di lakukan oleh marga Pasaribu untuk melihat perbandingan atau perbedaan marga yang melakukan upacara tersebut.

Menurut informasi yang diperoleh dari informan yang melaksanakan upacara palangehon boru dalam marga Pasaribu ini setelah melakukan proses doa permohonan di Gereja HKBP Pargarutan maka akan dilanjutkan acara di kediaman hasuhutan dengan hata-hata (kata-kata) pembukaan sambil diiringi oleh pargonci (Pemain music) yang pada saat itu telah menggunakan keyboard dan bukan dengan ansamble music yang biasanya khusus di pakai dalam upacara adat Batak sepeti Gondang dan lain-lain seperti yang telah di jelaskan di atas.

Setelah membacakan doa-doa maka dilaksanakan lah proses upacara yang dimulai mengatur tata letak tempat untuk melakukan upacara sesuai dengan peserta yang hadir dalam upacara tersebut atau yang di sebut dengan

Paraturan parhundulan sesuai dengan falsafah Batak Dalihan Natolu. Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting. Didalam kehidupan Orang Batak kekarabatan (partuturan) adalah sebagai hal yang menonjol didalam Falsafah Batak , Bahkan kekarabatan tersebut menjadi tiang himpunan pertemuan satu darah serta kekerabatan itu pula yang menentukan sikap dan etika didalam mejalin silaturahmi, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu.

Setelah hal tersebut maka dilanjutkan oleh pihak namboru dan amangboru untuk menyembelih pinahan sesuai dengan anjuran datu yang menentukan hari dilaksanakan upacara tersebut dan memberikan doa-doa kepada rajamulajadi nabolon. Setelah selesai dibelah dan diambil perkakas dalam pinahan tersebut maka parhata meminta Datu untuk berdoa kembali maka Datu mengatakan: “boan ma akka sasude parmaraan songon pinalangehon dohot pinaridihon nami si boru on tu mudar ni pinahan on, lok ma ro imana na imbaru”. Yang berarti “bawalah segala kesialan dengan kami basuhkan dan mandikan anak perempuan ini (sambil menyebut nama lengkap bayi yang di palangehon serta nama kedua orang tua si anak) biarkan lah ia datang dalam dirinya yang baru,yang jauh dari segala bentuk kesialan dan ketidakwajaran.

Maka setelah dilakukan doa tersebut bayi tersebut di masukkan oleh kedua orang tuanya kedalam pinahan yang sudah di belah dua dengan posisi telungkup serta membasuh nya dengan darah yang ada di dalam pinahan tersebut.

Setelah melakukan proses upacara juga diadakan partamiangan serta acara mangulosi yang juga bertujuan untuk:

1. Upacara syukuran kepada Debata Mulajadi Nabolon

2. Menghidarkan suatu malapetaka yang mungkin terjadi lagi. Dalam hal ini Marga Pasaribu melakukan upacara Palangehon Boru sebagai upaya untuk menghindakan suatu malapetaka yang akan terjadi.

3. Mencapai maksud tertentu, Adakalanya Palangehon boru ini dikakukan sebagai upaya untuk memohon sesuatu kepada Debata Mula Jadi Nabolon.

4. Memohon agar perekonomian dan hasil pertanian keluarga besar mereka menjadi lebih baik dan tidak seperti saat ibu mengandung.

Dari informasi yang diketahui dari beberapa informan, setelah melakukan upacara Palangehon boru dan meneliti beberapa sampel keluarga yang pernah melakukan upacara ini, memang mereka mendapatkan perubahan dari pada saat mengandung anak perempuan mereka. Dan mengapa upacara ini dilakukan pada saat anak masih bayi, karena menurut salah seorang informan yang pernah juga melakukan upacara palangehon boru untuk anak perempuannya, tidak ada orang yang mau mengalami kesialan dan marabahaya lebih lama, sehingga upacara harus dilakukan secepat mungkin agar terhindar dari hal-hal tidak wajar tersebut.

BAB V

UPACARA PALANGEHON BORU SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA BATAK TOBA

Dalam dokumen Palangehon Boru (Halaman 39-45)

Dokumen terkait