• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Temuan Khusus Penelitian

3. Upaya yang Dilakukan dalam Mengatasi Hambatan

Upaya-upaya perbaikan agar guru dapat menimalkan kesulitan yang dihadapinya ketika melaksanakan penilaian autentik di kelas telah diungkapkan secara jelas oleh Bapak Adil sebagai WKM Kurikulum sekaligus sebagai orang yang turut berperan dalam menyosialisasikan Kurikulum 2013 dalam kegiatan wawancara sebagai berikut:

Mengajak guru untuk mengikuti kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), sosialisasi dan diklat, ini sudah sampai diklat ke 15

135

Wawancara dengan Miskahayati Nasution sebagai Guru Bidang Studi Akidah Akhlak Kelas X MA Negeri 1 Medan Pada Selasa, 18 April 2017, Pukul 08.15-08.45 WIB, di Kantor Guru MA Negeri 1 Medan.

93

dan besok kami akan adakan sosialisasi lagi melalui rapat tentang indikator, penilaian dan perpisahan kelas 3. Tapi saya rasa yang paling penting adalah kepedulian guru tersebut untuk melaksanakan penilaian autentik, jangan dia sudah hadir dengarkan materi, tapi ketika di lapangan materi tidak dilaksanakan, yang ini diluar kemampuan kita untuk menyadarkannya. Selain itu, saya berharap para guru tidak lagi diikut sertakan dalam pengisian hal-hal administratif yang sebenarnya tidak terlalu penting tetapi cukup menyita waktu mereka. Ini yang membuat guru tentu tidak sempat melakukan penilaian secara maksimal di dalam kelas dengan sisa waktu yang tersedia.136

Sedangkan Ibu Miskahayati sendiri mengatakan bahwa Ia membuat suatu strategi yang dijadikan sebagai upaya meminimalkan kesulitan yang terjadi, seperti masalah waktu yang terbatas. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara sebagai berikut:

Saya menggunakan strategi begini, saya buat indikatornya terlebih dahulu, kemudian saya amati siswa satu persatu, tetapi tidak saya tuangkan dalam tulisan. Saya buat misalnya sebanyak 4 indikator, jadi dengan begitu siswa bisa saja mendapat nilai dari kisaran 1-4, kemudian baru dikonversikan lah nilai yang didapat tersebut. Tapi peraturan baru sekarang ini, penilaian 1-4 itu cukup membingungkan, jadi kami kembalikan pada penilaian yang semula dengan skala 1-10 atau 10-100 itu.137

Melalui observasi, peneliti memerhatikan beberapa kali Ibu Miskahayati mengikuti kegiatan sosialisasi berupa program-program dan diklat-diklat serta Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang membahas tentang seluruh aspek-aspek Kurikulum 2013 termasuk penilaian autentik, juga tentang cara merumuskan indikator, membuat rubrik penilaian, dan yang sejenisnya. Ini dilaksanakan di kantor guru MA Negeri 1 Medan.

Peneliti juga memerhatikan sikap yang diambil Ibu Miskahayati ketika waktu yang tersedia untuk mengajar di suatu kelas sudah akan habis, biasanya Ibu Miskahayati melihat situasi dan kondisi sebelum melakukan penilaian, dan mengadakan jam tambahan. Peneliti juga melihat Ibu Miskahayati dapat

136

Wawancara dengan Adil sebagai Wakil Kepala MA Negeri 1 Medan Bidang Kurikulum Pada Rabu, 19 April 2017, Pukul 11.20-12.05 WIB, di Kantor Guru MA Negeri 1 Medan.

137

Wawancara dengan Miskahayati Nasution sebagai Guru Bidang Studi Akidah Akhlak Kelas X MA Negeri 1 Medan Pada Selasa, 18 April 2017, Pukul 08.15-08.45 WIB, di Kantor Guru MA Negeri 1 Medan.

94

meninggalkan rapat jika rapat yang diadakan membahas hal yang kurang penting, dan menghindari urusan administrasi yang sebenarnya dapat dikerjakan pihak administrasi sekolah.

Ketika pelaksanaan penilaian kinerja berupa drama di kelas, Ibu Miskahayati memberikan kemudahan pada kelompok siswa yang tidak membawa properti dari rumah ketika akan menampilkan drama, yaitu dengan membolehkan siswa menggunakan properti milik sekolah atau properti pengganti, misalnya kertas yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi mirip buah untuk menggantikan buah asli yang harus dibawa. Ini dilakukan agar drama yang ditampilkan siswa lebih tampak menarik dengan berbagai properti yang disediakan.

Selain itu, Ibu Miskahayati mengatur waktu dengan membuat penilaian kinerja secara kelompok, yaitu membuat drama dan mengadakan tes lisan pada siswa secara berpasangan agar seluruh siswa dapat dinilai kemampuannya pada waktu yang telah disediakan sekolah.

Dalam mengatasi kesulitannya ketika melaksanakan penilaian KI 4 tentang keterampilan pada penilaian kinerja berupa drama, rubrik penilaian kinerja yang telah berisi nilai dari drama yang ditampilkan kelompok siswa disatukan dengan naskah siswa yang telah diberikan pada Ibu Miskahayati.

Sedangkan untuk mengatasi kesulitannya ketika melaksanakan penilaian KI 3 tentang pengetahuan pada teknik penilaian tes lisan, Ibu Miskahayati menilai jawaban siswa dibantu dengan siswa yang menjadi pasangan siswa tersebut. Sedangkan dalam penilaian kinerja, Ibu Miskahayati menilai performa sekelompok siswa dibantu dengan penilaian dari siswa atau kelompok lain dengan cara mengomentari hal-hal positif dan yang perlu diperbaiki dari penampilan siswa atau kelompok tersebut.

Selama pembelajaran berlangsung, peneliti memerhatikan Ibu Miskahayati membawa buku lain selain buku panduan pembelajaran yang digunakan siswa. Setelah peneliti amati, buku itu ternyata sebagai pedoman pelaksanaan penilaian autentik dan sebagai perbandingan dengan pengetahuannya yang telah ada mengenai penilaian autentik. Padahal sebelumnya, Ibu Miskahayati mengaku

95

tidak memakai buku-buku ilmiah sebagai pedoman pembuatan dan pelaksanaan penilaian autentik.

Melalui kegiatan wawancara dengan Bapak Adil, Wakil Kepala Madrasah (WKM) bidang kurikulum memperjelas skala penilaian yang digunakan di MA Negeri 1 Medan. Berikut ini wawancaranya:

Penilaian Autentik di MAN 1 Medan ini awalnya sudah diterapkan sesuai dengan prosedur, yaitu dengan skala penilaian 1-4. Namun, beberapa guru mengeluhkan skala yang terbaru ini tidak dipahami oleh orangtua, karena sudah terbiasa pada skala 1-10 atau 10-100. Maka dari itu, skala penilaian kita sesuaikan dan kita kembalikan pada skala yang lama.138

Skala penilaian yang dibuat Ibu Miskahayati dalam rubrik penilaian ternyata telah mengikuti kembali kebijakan pihak sekolah. Pada rubrik penilaian tes lisan, guru menggunakan skala 10-100. Sedangkan pada rubrik penilaian kinerja, guru menggunakan skala 1-10.

Sedangkan hasil dari studi dokumentasi, peneliti mengetahui bahwa rubrik penilaian kelompok yang dibuat Ibu Miskahayati dalam tes lisan dan penilaian kinerja tampak berbeda dengan rubrik yang ada pada buku panduan mengenai penilaian autentik. Ibu Miskahayati membuat rubrik itu sendiri dengan skala 1-10 sebagaimana yang telah ditentukan pihak sekolah, supaya memudahkannya dalam menilai seluruh siswa yang jumlahnya banyak dengan waktu yang sangat sedikit.

Dokumen terkait