• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HAMBATAN-HAMBATAN YANG TERJADI PADA

D. Upaya Mengatasi hambatan Yang Terjadi Dalam

Pelaksanaan pembangunan tower telkomsel di berbagai tempat di wilayah Indonesia, tidak selalu berjalan lancar dan tanpa hambatan. Di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi dan Sumatera pelaksanaan pembangunan tower telkomsel tersebut mengalami hambatan di lapangan. Hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan pembangunan tower telkomsel tersebut datang dari pihak masyarakat disekitar lokasi pelaksanaan pembangunan tower telekomunikasi tersebut maupun dari pihak mitra kerja. Hambatan dari pihak masyarakat disekitar lokasi pembangunan tower telekomunikasi yang terjadi dapat berupa aksi penolakan dari warga di sekitar lokasi pelaksanaan pembangunan tower telkomsel dan hambatan mitra kerja dapat berupa penolakan pemilik lahan/bangunan tempat didirikannya tower telkomsel tersebut, karena alasan keamanan dan keselamatan pemilik lahan/bangunan, kekuatan terhadap nilai sewa lahan/bangunan dari pemilik lahan/bangunan yang dipandang terlalu rendah oleh pemilik lahan/bangunan. Hambatan Internal lainnya datang dari kontraktor pelaksana pembangunan tower telkomsel yang cidera janji (wanprestasi)

terhadap perjanjian kerja borongan telah disepakati bersama pihak telkomsel.173 Hambatan Eksternal yang berasal dari masyarakat yang bertempat tiggal disekitar lokasi pelaksanaan pembangunan tower telkomsel adalah yang paling sering dialami oleh pihak telkomsel. Hambatan seperti ini lazim disebut dengan istilah Community Case.Kasus yang melibatkan suatu komunitas di suatu daerah tentu yang melakukan aksi penolakan terhadap pelaksanaan pembangunan tower telkomsel dengan alasan- alasan keamanan, keselamatan dan tidak adanya izin mendirikan bangunan dari tower tersebut.

Dalam menghadapi hambatan Community case ini, pihak telkomsel pada umumnya melakukan tindakan negoisasi dan mediasi terhadap warga yang melakukan penolakan tersebut. Negoisasi terhadap warga, dilakukan dengan melibatkan aparat terkait di daerah tersebut dan juga tokoh-tokoh masyarakat terpandang di daerah tersebut sebagai mediator pelaksanaan mediasi negoisasi antara pihak telkomsel dan warga didasarkan kepada substansi permasalahan yang terjadi dan yang dituntut oleh warga terhadap pihak telkomsel. Alasan warga yang pada akhirnya menimbulkan aksi penolakan tersebut yang paling sering adalah alasan kemanan dan keselamatan oleh karena itu pihak telkomsel dalam pelaksanaan mediasi memberikan penjelasan kepada warga bahwa tower telkomsel tersebut telah dilengkapi dengan alat pengamanan yang berupa anti radiasi dan juga kontruksi bangunan yang telah disesuaikan dengan satndart Nasional dan Internasional yang

173 Wawan Cora dengan Linda Nora Siregar,

Sekretaris NetworkOperation Support Telkomsel Wilayah SUMBAGUT, di ruang Kerjanya pada hari Rabu 19 Oktober 2011, Pukul 10.00 WIB.

telah ditetapkan oleh Pemerintah. Standart pembangunan tower operator adalah pendirian tower dengan menggunakan pondasi cakar ayam dimana kedalaman pondasi minimal 5 meter di dalam tanah untuk ketinggian tiang pancang tower maksimal 30 meter. Pondasi tersebut dicor beton keliling dengan rangka besi baja dengan ketebalan rangka baja 0,8 mm, dan pada keempat sisi tiang pencang tower diberi penopang kawat baja dengan ketebalan 0,5 mm.174Pelaksanaan pembangunan tower tersebut juga wajib dilengkapi dengan alat pengaman anti radiasi yang berfungsi untuk meredam radiasi yang dipantulkan oleh tiang tower tersebut pada saat beroperasi.

Apabila permasalahan yang terjadi adalah masalah kelengkapan izin mendirikan bangunan tower maka pihak telkomsel meminta kepada warga disekitar lokasi pembangunan tower, agar tetap memperbolehkan pelaksanaan pembangunan tower berlangsung, dan berjanji kepada warga untuk melengkapi dokumen izin mendirikan bangunan tower tersebut dalam jangka waktu tertentu. Pda umumnya mediasi yang dilakukan pihak telkomsel dengan warga dengan disaksikan oleh aparat pemerintah terkait dan tokoh-tokoh masyarakat diwilayah tersebut berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan win-win solution. Permasalahan lainnya yang sering terjadi adalah pihak kontraktor tidak melakukan pelaksanaan pembangunan ganti rugi kepada warga disekitar lokasi pembangunan tower telkomsel sesuai kesepakatan yang telah dicapai dengan pihak telkomsel dan warga

174 Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001,tentang Konstruksi Bangun Tower

sebagaimana yang telah dimuat dalam perjanjian. Untuk masalah tersebut pihak telkomsel akan melakukan negoisasi kepada kontraktor untuk segera melakukan pembayaran ganti rugi sesuai kesepakatan yang telah dicapai. Apabila kontraktor tersebut tetap tidak mau melaksanakan prestasinya, maka pihak telkomsel akan melakukan penuntutan ganti rugi sesuai prosedur hukum yang berlaku dan untuk sementara akan menahan uang jaminan proyek pembangunan tower yang menjadi hak kontraktor sampai permasalahan ganti rugi tersebut dapat diselesaikan dengan baik oleh pihak kontraktor.175

Namun tidak semua permasalahan yang terjadi di lapangan dapat diatasi dengan baik, untuk pelaksanaan pembangunan tower telkomsel di Bumi Serpong Damai Tangerang yang menimbulkan aksi protes dan penolakan keras dari warga di sekitar lokasi pembangunan tower tersebut hingga saat ini belum dapat diselesaikan. Pihak Telkomsel dengan terpaksa menunda pelaksanaan pembangunan tower tersebut, hingga permasalahan dengan warga dapat diselesaikan lebih dulu. Permasalahan tersebut telah pula melibatkan Aparat Pemerintah terkait dan tokoh- tokoh masyarakat di sekitar wilayah tersebut, dan telah melakukan negoisasi dan mediasi dengan warga berkali-kali. Namun dalam negoisasi dan mediasi tersebut belum ditemukan suatu kata sepakat antara warga dengan pihak telkomsel. Akibat belum tercapainya kata sepakat tersebut pihak telkomsel terpaksa menunda pelaksanaan pembangunan tower di wilayah Bumi Serpong Damai Tangerang

175Wawancara dengan Linda Nora Siregar, Sekretaris Network Operation Support Telkomsel

tersebut dan karena penundaan tersebut pihak telkomsel mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Dari uaraian di atas dapat dikatakan bahwa upaya mengatasi hambatan yang terjadi di lapangan dalam pelaksanaan pembangunan adalah melakukan negoisasi dan mediasi baik dengan warga disekitar lokasi pembangunan Tower maupun dengan pihak kontraktor sebagai pelaksana pembangunan tower tersebut. Negoisasi dari mediasi dengan pihak warga dan juga kontraktor tersebut melibatkan aparat pemerintah terkait dan juga tokoh-tokoh masyarakat di wilayah timbulnya masalah. Namun demikian tidak semua upaya mengatasi masalah yang dilakukan oleh pihak telkomsel tersebut dapat berjalan lancar dan sukses. Ada kalanya upaya negoisasi dan mediasi yang dilakukan oleh pihak telkomsel tidak berlangsung sesuai yang diharapkan, akibatnya pihak telkomsel terpaksa harus menunda pelaksanaan proyek pembangunan tower tersebut atau bahkan terpaksa mencari lokasi baru untuk melaksanakan proyek pembangunan tower tersebut dengan konsekuensi mengalami kerugian secara financial yang cukup besar.

Dokumen terkait