• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya pemerintah Somalia mengatasi perompakan

BAB III PEROMPAKAN DI PERAIRAN SOMALIA

C. Upaya pemerintah Somalia mengatasi perompakan

Somalia merupakan negara yang mengalami krisis keamanan sejak tahun 1991, ditandai dengan turunnya diktator Muhammed Siad Barre. Sejak saat itu pemerintah Somalia tidak berjalan efektif. Tidak berfungsinya pemerintahan yang terjadi dimanfaatkan oleh klan-klan atau kelompok-kelompok bersenjata di Somalia untuk menguasai beberapa daerah di Somalia. Klan-klan ini mulai melakukan aksi-aksi krimal dengan melakukan perompakan kepada kapal-kapal yang melintasi perairan Somalia maupun perairan di sekitarnya. Teluk Aden yang merupakan akses untuk menuju terusan Suez merupakan daerah yang sangat mendukung aksi-aksi perompakan yang dilakukan oleh klan-klan bersenjata tersebut. Mereka menyandera setiap kapal-kapal berbadan besar yang tertangkap oleh radar miliknya dan meminta sejumlah uang tebusan kepada negara pemilik kapal sebagai syarat agar mereka melepaskan kapal yang telah mereka sandera.

TFG (Transnational Federal Government) yang merupakan pemerintahan transisi sementara yang di bentuk oleh PBB. TFG telah melakukan beberapa upaya untuk menanggulangi perompakan yang terjadi di negaranya, tetapi upaya yang dilakukan TFG ini tidak berjalan dengan lancar. Kondisi pemerintahan yang tidak berfungsi lagi juga mengakibatkan melemahnya kekuatan nasional bersenjata Somalia sendiri. Kekurangan persenjataan yang dimiliki angkatan bersenjata Somalia merupakan salah satu penyebab TFG tidak dapat memberantas perompakan yang terjadi. Kelompok-kelompok perompak yang berada di daerah

pesisir Somalia memiliki persenjataan yang lebih canggih dibandingkan dengan angkatan bersenjata somalia.

Keadaan yang tidak dapat di kendalikan lagi oleh pemerintah Somalia membuat Presiden Abdullahi Yusuf Ahmed mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB untuk meminta negra-negara yang mempunyai kekuatan untuk memerangi perompak yang terjadi dinegaranya. Dengan surat ini pemerintah Somalia tidak hanya meminta PBB sebagai induk organisasi dunia untuk membantu krisis yang terjadi di negaranya, namun juga meminta negara-negara lain untuk membantu menangani perompakan yang terjadi. Surat ini ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB, agar Dewan Keamanan PBB dapat mengeluarkan resolusi yang dapat membantu pemerintah Somalia dalam menghadapi perompak.45

Semakin meningkatnya aksi pembajakan yang terjadi di perairan somalia, memaksa pemerintah Somalia mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan negara-negra lain yang mempunyai kepentingan dan organisasi internasional untuk memasuki wilayah teritorial Somalia baik darat maupun laut untuk mengejar para perompak. Kebijakan ini di keluarkan pemerintah Somalia (TFG) dengan harapan dunia internasional dapat melemahkan kekuatan para perompak yang umumnya memiliki kekuatan di darat.

TFG juga telah melakukan kerjasama dengan negara Mauritius untuk mengadili perompak Somalia, ini merupakan langkah Mauritius untuk membantu

45

Somalia Ijinkan Perangi Bajak Laut Hingga Daratan.

Somalia mengatasi salah satu halangan dalam penumpasan pembajakan yang mengganggu pelayaran internasional.46

Pada bulan Agustus 2008, TFG membentuk Combined Task Force 150, yaitu sebuah koalisi multinasional satuan tugas yang terdiri dari beberapa negara, yang mengambil peran dalam pemberantasan pembajakan di Somalia dengan membentuk Wilayah Patroli Keamanan Laut di Teluk Aden.47

TFG telah meminta agar PBB segera menggelar United Nations Peace Keeping Operation (UN-PKO), namun PBB belum memenuhi permintaan TFG hingga TFG (Somalia) dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu pembentukan sebuah persatuan nasional Somalia secara inklusif melibatkan pihak-pihak lain yang ada diluar, pembentukan operasi Joint Security Force di Mogandishu, implementasi genjatan senjata dan kontribusi tentara dan kapasitas militer yang memadai dari negara anggota PBB. Menurut PBB pengelaran UN-PKO sekarang ini memiliki resiko tinggi karena para pihak yang menentang proses perdamaian di Somalia akan memandang misi PBB tersebut sebagai musuh baru, sehingga misi akan menjadi sasaran serangan.48

Pemerintah Somalia juga melakukan kerjasama dengan negara-negara sekawasan dengan mengadakan rapat di Djibouti pada tanggal 29 Januari 2009. Rapat ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Somalia, Djibouti, Ethiopia, Kenya,

46

Makin Meresakan, Perompak Somalia akan Diculik dan Diadili.

47

Bajak Laut Somalia

48

Perkembangan Politik, Keamanan, dan Ekonami Somalia.

Madagaskar, Maladewa, Seychelles, Somalia, Republik Tanzania dan Yaman. Rapat ini bertujuan untuk mengurangi aksi perompakan melalui kerjasama antar negara-negara sekawasan. Dalam rapat ini lahirlah sebuah kesepakatan yang disebut Kode Etik Djibouti, yang berlaku efektif sejak tanggal penandatanganan oleh para wakil negara, yaitu pada 29 Januari 2009.

Secara khusus, para penandatangan Kode Etik ini telah sepakat untuk bekerjasama sama, dengan cara yang konsisten dengan hukum internasional dalam :49

a) Penyidikan, penangkapan dan penuntutan orang, yang patut diduga melakukan tindakan-tindakan pembajakan dan perompakan bersenjata dalam hal kapal-kapal termasuk orang yang mendanai atau sengaja memfasilitasi tindakan tersebut.

b) Penyitaan kapal tersangka dan barang-barang di kapal tersebut

c) Penyelamatan atas kapal, orang dan barang dari perompakan dan perampokan bersenjata mendapat penanganan yang tepat. Pengobatan dan pemulangan pelaut, nelayan, awak kapal dan penumpang lainnya.

d) Pelaksanan operasi bersama antar negara penandatangan dan angkatan laut dari negara-negara daerah untuk memulai patrol kapal atau pesawat udara lain.

49

Djabouti Kode Etik,

BAB IV

TINJAUAN YURIDIS PEROMPAKAN KAPAL LAUT DI PERAIRAN SOMALIA

A. Pertanggungjawaban Pelaku Perompakan Menurut Hukum Internasional

Masalah pertanggungjawaban erat kaitannya dengan kesalahan. Kesalahan dapat diartikan sebagai keadaan phsikis yang tertentu pada orang yang melakukan perbuatan tindak pidana dan adanya hubungan antara kesalahan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang tersebut dapat di cela karena melakukan perbuatan pidana.

Pertanggungjawaban pidana menjurus kepada pemidanaan pelaku, jika telah melakukan suatu tindak pidana dan memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan oleh Undang-Undang. Dilihat dari terjadinya perbuatan yang terlarang atau melanggar ketentuan Undang-Undang, seseorang akan diminta pertanggungjawaban apabila perbuatan tersebut telah terbukti melanggar Undang-Undang. Dilihat dari kemampuan untuk dapat diminta pertanggungjawaban maka hanya individu atau orang-orang yang mampu bertanggungjawab yang dapat diminta pertanggungjawabannya.50

50

Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum. Kencana Prenada Media Group ; Jakarta, 2008, hal 257

Individu sebagai subjek hukum internasional tidak hanya dapat, mengajukan tuntutan ke pengadilan, melainkan juga sebagai pihak yang dapat dituntut atas dasar telah melakukan perbuatan melanggar Hukum Internasional. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Chairul Anwar sebagai berikut.

“Tetapi walaupun umumnya negaralah yang dipandang sebagai pengemban hak dan kewajiban dalam hukum internasional, kadang-kadang individupun dapat dipandang sebagai subjek hukum internasional dalam berbagai hal. Perompak-perompak telah lama dikenal malakukan kejahatan terhadap hukum internasional dan dapat dihukum oleh negara manapun”51

Perompakan yang dilakukan oleh perompak Somalia yang sudah tergolong sebagai transnational crimes, dapat dikaji dengan menggunakan teori Cesare Beccaria yaitu “Deterence Theori” yaitu kejahatan yang dilakukan atas kehendak bebas (freewill) individu sebelum melakukan kejahatan telah melalui pertimbangan dan pilihan, oleh karena itu pelaku pantas dimintakan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan (hukuman/efek jera) dapat berdampak langsung terhadap pelaku (special deterrence) maupun calon pelaku lainnya (general deterrence).52

Sebelum melakukan tindakan perompakan para pelaku perompakan telah terbentuk dalam beberapa klan-klan yang menguasai kota-kota di Somalia dengan mengunakan senjata serta kapal untuk melancarkan aksi perompakan.

51

Chairul Anwar, Hukum Internasional, Pengantar Hukum Bangsa-Bangsa, Djamban, Jakarta, 1989, hal 29

52

Keterkaitan Hukum Pidana Internasional dalam Penegakan Hukum Transnasional

Crime,

Melalui pertimbangan yang dilakukan, mereka melaksanakan aksi perompakan terhadap kapal-kapal asing yang melintas di perairan Somalia. Hal ini dikarenakan buruknya kondisi perekonomian dan tidak adanya pemerintahan yang efekif di negara Somalia, sehingga ini dijadikan alasan pembenar bagi para perompak Somalia untuk melakukan aksi pembajakan, dan dengan jaminan kehidupan mereka akan terjamin dari uang tebusan yang diperoleh dari para pemilik kapal yang mereka bajak.

Melalui aksi pembajakan kapal yang dilakukan perompak di perairan Somalia, pemilik kapal yang berasal dari negara lain telah mengalami kerugian karena harus mengeluarkan uang tebusan agar kapal beserta para awaknya agar dapat di bebaskan dari tangan pembajak. Melalui aksi pembajakan ini juga para perompak Somalia telah meciptakan gangguan keamanan dalam dunia pelyaran dan menganggu keamanan internasional.

Berdasarkan tindakan pembajakan yang telah dilakukan para perompak Somalia di sekitar perairan negaranya, maka pelaku pantas untuk dimintakan pertanggungjawaban atas aksi yang telah mereka lakukan dengan membajak kapal-kapal asing yang melintas di sekitar wilayah perairan negaranya. Karena pembajakan sudah diatur di dalam pasal 100-107 (United Nation Convention on The Law of The Sea) UNCLOS 1982.

B. Yurisdiksi Pengadilan Yang Berwenang untuk Mengadili Perompak Somalia

1. Pengertian Yurisdiksi Negara Dalam Hukum Internasional

Setiap negara berdaulat yang telah diakui memiliki yurisdiksi untuk menunjukkan kewibawaannya pada rakyatnya atau pada masyarakat internasional. Diakui secara universal baik setiap negara memiliki kewenangan untuk mengatur tindakan-tindakan dalam teritorinya sendiri dan tindakan lainnya yang dapat merugikan kepentingan yang harus dilindunginya.

Dalam kaitannya dengan prinsip dasar kedaulatan negara, suatu negara yang berdaulat menjalankan yurisdiksi/kewenangannnya dalam wilayah negara itu. Berdasarkan kedaulatannya itu, maka dapat diturunkan hak, kekuasaan, atau kewenangan negara untuk mengatur masalah intern dan ekstern. Dengan kata lain dari kedaulatannya itulah diturunkan atau lahir yurisdiksi negara. Dengan hak, kekuasaan, atau dengan yurisdiksi tersebut suatu negara mengatur secara lebih rinci dan jelas masalah-masalah yang dihadapinya sehingga terwujud apa yang menjadi tujuan negara itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hanya negara berdaulat yang dapat memiliki yurisdiksi menurut hukum internasional. Adakalanya yurisdiksi itu harus tunduk kepada pembatasan tertentu yang ditetapkan oleh hukum internasional.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah “hak- hak istimewa ekstrateritorial”, yakni suatu istilah yang dipakai untuk melukiskan suatu keadaan dimana status seseorang atau benda yang secara fisik terdapat didalam suatu wilayah negara, tetapi seluruhnya atau sebagian dikeluarkan dari yurisdiksi negara tersebut oleh ketentuan hukum internasional.

Yurisdiksi dapat digolongkan ke dalam prinsip-prinsip jurisdiksi berikut :

1. Yurisdiksi teritorial.

Menurut prinsip yurisdiksi teritorial, negara mempunyai yurisdiksi terhadap semua persoalan dan kejadian di dalam wilayahnya. Prinsip ini adalah prinsip yang paling mapan dan penting dalam hukum internasional. Menurut Hakim Lord Macmillan suatu negara memiliki yurisdiksi terhadap semua orang, benda, perkara-perkara pidana atau perdata dalam batas-batas wilayahnya sebagai pertanda bahwa negara tersebut berdaulat. Pernyataan beliau berbunyi demikian :

“It is esseutial attribute of the sovereignity, of this realm, as of all sovereign independent states, that it should posses jurisdiction over all persons and things within its territorial limits and in all causes and criminal arising within these limits.” “adalah suatu ciri pokok dari kedaulatan dalam batas-batas ini, seperti semua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus memiliki yurisdiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas-batas teritorialnya dan dalam semua perkara perdata dan pidana yang timbul didalam batas-batas teritorial ini”. 53

53

J.G Starke. Pengantar Hukum Internasional, Edisi Kesepuluh 1, Sinar Grafika,Jakarta, 2008, hal 271

Ciri pokok dari kedaulatan dalam batas-batas ini, seperti semua negara merdeka yang berdaulat, bahwa negara harus memiliki yurisdiksi terhadap semua orang dan benda di dalam batas-batas teritorialnya dan dalam semua perkara perdata dan pidana yang timbul di dalam batas-batas teritorial ini.

Prinsip teritorial ini terbagi atas dua : suatu tindak pidana yang dimulai di suatu negara dan berakhir di negara lain. Misalnya seorang yang menembak di daerah perbatasan negara A melukai seorang lainnya di wilayah negara B. Dalam keadaan ini, kedua negara memiliki yurisdiksi. Negara, dimana perbuatan itu dimulai (A), memiliki yurisdiksi menurut prinsip teritorial subyektif (subjective territorial principle). Negara dimana tindakan tersebut diselesaikan (B), memiliki yurisdiksi berdasarkan prinsip teritorial obyektif (objective territorial principle).

Dari uraian di atas tampak terdapat hubungan yang sangat erat antara wilayah suatu negara dengan kewenangan yurisdiksinya. Menurut Glanville Williams, hubungan yang erat tersebut dapat dijelaskan karena adanya faktor-faktor berikut:54

1. Negara dimana suatu perbuatan tindak pidana kejahatan dilakukan biasanya mempunyai kepentingan yang paling kuat untuk menghukumnya.

2. Biasanya si pelaku kejahatan ditemukan di negara tempat ia melakukan tindak pidana.

54

Huala Adolf, .Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hal. 146.

3. Biasanya, pengadilan setempat (local forum) dimana tindak pidana terjadi adalah yang paling tepat, karena saksi-saksi (dan mungkin barang buktinya) dapat ditemukan di negara tersebut.

4. Adanya fakta bahwa dengan tersangkutnya lebih dari satu sistem hukum yang berbeda, maka akan janggal bila seseorang tunduk pada dua sistem hukum.

Meskipun yurisdiksi berkaitan erat dengan wilayah, namun keterkaitan ini tidaklah mutlak sifatnya. Negara-negara lain pun dapat mempunyai yurisdiksi untuk mengadili suatu perbuatan yang dilakukan di luar negeri. Disamping itu, ada beberapa orang (subyek hukum) tertentu memiliki kekebalan terhadap yurisdiksi wilayah suatu negara meskipun mereka berada di dalam negara tersebut.

Hubungan antara yurisdiksi dengan wilayah dalam kaitannya dengan suatu tindak pidana (kejahatan) tampak dalam sengketa terkenal the Lotus Case. Dalam sengketa ini, kapal uap Prancis, the Lotus, bertabrakan dengan kapal Turki the Boz-Kourt di laut lepas. Kapal Turki tenggelam dan menewaskan 8 pelaut dan penumpangnya. Menghadapi insiden ini, pejabat Turki menahan awak kapal the Lotus ketika kapal ini merapat di pelabuhan Turki. Mereka dituduh telah melakukan pembunuhan (pembantaian) terhadap para awak Turki. Pihak Perancis memprotes keras atas tindakan pemerintah Turki tidak memilih yurisdiksi untuk mengadili perkara tersebut. Sengketa ini lalu diserahkan ke Mahkamah Internasional Permanen untuk mengadili apakah ada

ketentuan-ketentuan Hukum Internasional yang melarang Turki melaksanakan yurisdiksinya. Dari hasil penyelidikan, Mahkamah berpendapat bahwa suatu negara tidak dapat melaksanakan kekuasaan di luar wilayahnya.

Mahkamah menolak argumentasi Prancis bahwa negara benderalah yang memiliki yurisdiksi eksklusif atas kapal di laut lepas. Mahkamah berpendapat bahwa tidak ada ketentuan tentang hal ini dalam hukum internasional dan menyatakan pula bahwa kerusakan terhadap kapal Turki sama saja dengan kerusakan terhadap wilayah Turki. Hal ini memungkinkan Turki melaksanakan yurisdiksinya berdasarkan prinsip teritorial obyektif. Namun, lanjut pengadilan, hal tersebut tidak berarti bahwa hukum internasional melarang suatu negara melaksanakan yurisdiksi di dalam wilayahnya sehubungan dengan setiap perkara (sengketa) yang terjadi di luar negeri.55

Dari sengketa ini dapat disimpulkan bahwa prinsip yurisdiksi teritorial dapat pula berlaku terhadap kejahatan yang dilakukan tidak hanya di wilayah negara yang bersangkutan, tapi juga dalam atau di luar laut teritorial, yakni terhadap sengketa-sengketa tertentu yang terjadi di jalur tambahan atau di laut lepas yaitu manakala negara tersebut adalah negara bendera kapal.

Prinsip teritorial ini berlaku pada hal-hal berikut ini : a. Hak Lintas Damai di Laut teritorial.

55

Prinsip yurisdiksi teritorial yang dimiliki oleh suatu negara (pantai) telah diakui sejak lama. Pengakuan dan pengaturan yurisdiksi negara pantai tampak dalam hasil Konferensi Kodifikasi Hukum laut Den Haag 1930, dimana diakui adanya dua macam yurisdiksi negara pantai atas kapal laut yang berlayar di laut teritorialnya, yaitu yurisdiksi pidana dan yurisdiksi perdata. Hasil konferensi ini dipertegas kembali oleh Konvensi Hukum laut Jenewa 1958 tentang Laut Teritorial dan Jalur Tambahan. Dalam Konvensi Hukum laut 1982, pengakuan dan pengaturan terhadap yurisdiksi (kriminal dan perdata) negara pantai terdapat dalam pasal 27 dan 28.

Dalam pasal tersebut ditentukan bahwa Jurisdiksi kriminal negara pantai tidak dapat dilaksanakan atas kapal asing yang sedang melintasi laut teritorial untuk menangkap siapapun atau untuk mengadakan penyelidikan sehubungan dengan kejahatan yang dilakukan diatas kapal selama kapal tersebut melakukan lintasan kecuali dalam hal-hal berikut:56

1. Apabila kejahatan itu dirasakan oleh negara pantai;

2. Apabila kejahatan itu termasuk jenis yang mengganggu kedamaian negara tersebut atau ketertiban laut teritorial;

3. Apabila telah diminta bantuan penguasa setempat oleh nahkoda kapal atau oleh wakil diplomatic atau pejabat konsuler negara bendera, atau;

56

4. Apabila tindakan demikian diperlukan untuk menumpas perdagangan gelap narkotik atau bahan psykotropis.

5. Adapun ketentuan-ketentuan tentang yurisdiksi perdata negara pantai bertalian dengan kapal asing adalah sebgai berikut:

a) Negara pantai seyogyanya tidak menghentikan atau mengubah haluan kapal asing yang melintasi laut teritorialnya untuk tujuan melaksanakan jurisdiksi perdata bertalian dengan seseorang yang berada diatas kapal itu.

b) Negara pantai tidak dapat melaksanakan eksekusi terhadap atau menahan kapal untuk keperluan peroses perdata apapun, kecuali hanya apabila berkenaan dengan kewajiban atau tanggung jawab ganti rugi yang diterima atau dibebankan oleh kapal itu sendiri dalam melakukan untuk maksud perjalanannya melalui perairan negara pantai.

c) Ketentuan (2) diatas tidak mengurangi hak negara pantai untuk melaksanakan eksekusi atau penangkapan sesuai dengan Undang-Undangnya dengan tujuan atau guna keperluan proses perdata terhadap suatu kapal asing yang berada dilaut teritorial atau melintasi lauat teritorial setelah meninggalkan perairan pedalaman.

b. Kapal Berbendera Asing di Laut teritorial.

Kapal perang dan kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan nonkomersial hanya tunduk kepada yurisdiksi legislatif

(legislative jurisdiction) negara pantai. Artinya, kapal-kapal itu pun tunduk kepada kewajiban untuk menghormati perundang-undangan negara pantai dan hukum kebiasaan internasional.

Sepanjang menyangkut kapal perang dan kapal pemerintah yang dioperasikan untuk tujuan non-komersial, terdapat teori mengenai kapal-kapal ini, yakni :57

1. Teori Pulau Terapung‟ (the Floating Island Theory). Menurut teori ini, kapal-kapal tersebut harus diperlakukan oleh negara lain sebagai bagian dari wilayah negara. Menurut teori ini, yurisdiksi pengadilan tidak berlaku terhadap setiap tindakan yang dilakukan diatas kapal atau menahan seseorang yang melakukan kejahatan di atas kapal tersebut.

2. Teori yang menyatakan bahwa pengadilan negara pantai memberikan kekebalan (imunitas) tertentu kepada kapal asing beserta wakilnya. Pemberian ini bukan berdasarkan pada teori obyektif yang menyatakan bahwa kapal perang/negara itu adalah wilayah negara asing, tapi didasarkan pada pembebasan atau pengecualian yang diberikan oleh Undang-Undang negara pantai. Pengecualian ini sifatnya bersyarat dan karenanya dapat ditarik kembali oleh negara pantai tersebut.

c. Pelabuhan.

57

Pelabuhan adalah salah satu bagian dari perairan pedalaman. Karena di perairan pedalaman ini suatu negara berdaulat penuh, maka kedaulatan penuh ini berlaku di pelabuhan-pelabuhannya. Suatu kapal asing yang memasuki pelabuhan suatu negara, maka kapal tersebut berada dalam kedaulatan teritorial suatu negara pantai. Karena itu pula negara pantai berhak untuk menegakkan hukumnya terhadap kapal dan awaknya. Di pelabuhan, negara pantai memiliki yurisdiksi terhadap setiap tindak pidana yang mengganggu perdamaian dan ketertiban negara pantai. Negara pantai dapat pula menerapkan yurisdiksi teritorial apabila diminta atau dikehendaki oleh kapten atau konsul dari negara bendera kapal. Namun, ada suatu pengecualian penting, yaitu bahwa sebuah kapal yang mengalami kesulitan berhak untuk mencari perlindungan di suatu pelabuhan asing, dan mengingat keadaan-keadaan pada saat kapal tersebut masuk pelabuhan maka kapal itu kebal dari yurisdiksi lokal, kapal tersebut tidak boleh melakukan tindakan yang melanggar hukum lokal pada waktu keberadaaanya di pelabuhan tersebut.58

d. Orang asing.

Yurisdiksi teritorial suatu negara terhadap orang asing sama halnya yurisdiksi teritorial negara terhadap warga negaranya. Tidak ada perlakuan khusus yang diberikan kepada orang asing. Namun demikian,

58

J.G. Starke., Pengantar Hukum Internasional, Edisi Kespuluh 1, Sinar Grafika, 2008, hal: 271

seorang warga negara asing dapat meminta pembebasan dari yurisdiksi teritorial suatu negara dalam hal berikut :59

1. Dengan adanya imunitas tertentu, orang asing itu menjadi tidak tunduk kepada hukum nasional negara pantai; atau

2. Bahwa hukum nasional negara tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional.

3.

3. Yurisdiksi Personal.

Menurut prinsip yurisdiksi personal, suatu negara dapat mengadili warga negaranya karena kejahatan yang dilakukannya di mana pun juga. Sebaliknya, adalah kewajiban negara untuk memberikan perlindungan diplomatik kepada warga negaranya di luar negeri. Ketentuan ini telah diterima secara universal. Menurut praktek internasional dewasa ini, yurisdiksi terhadap individu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip berikut:

a. Prinsip Nasionalitas Aktif.

Menurut prinsip ini negara dapat melaksanakan yurisdiksi terhadap warga negaranya. Prinsip ini pada umumnya diberikan oleh Hukum Internasional kepada semua negara yang hendak memberlakukannya. Semua prinsip lain yang berkaitan dengan hal ini

59

adalah negara tidak wajib menyerahkan warga negaranya yang telah melakukan suatu tindak pidana di luar negeri.60

b. Prinsip Nasionalitas Pasif.

Prinsip ini membenarkan negara untuk menjalankan yurisdiksi apabila seorang warga negaranya menderita kerugian. Dasar pembenaran prinsip nasionalitas ini adalah bahwa setiap negara berhak melindungi warga negaranya di luar negeri , dan apabila negara teritorial di mana tindak pidana itu terjadi tidak menghukum orang yang menyebabkan kerugian tersebut, maka negara asal korban berwenang menghukum tindak pidana itu, apabila orang itu berada di wilayahnya.

4. Yurisdiksi menurut Prinsip Perlindungan

Berdasarkan prinsip yurisdiksi perlindungan, suatu negara dapat

Dokumen terkait