• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Penanggulangan dalam Menghadapi Tindak

BAB IV UPAYA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA

B. Upaya Penanggulangan dalam Menghadapi Tindak

1.

Walter C. Reckless mengemukakan sebutan-sebutan “crime control” dan “prevention”. Bagi Reckless, control dan prevention adalah sinonim namun

Pencegahan (Prevention)

Tekanan ekonomi dapat membuat seseorang menjadi pencuri atau koruptor, tetapi dapat pula membuat menjadi pedagang atau pengusaha. Bahkan dapat dikatakan bahwa kaum koruptor sebagian besar terdiri dari mereka yang justru perekonomiannya lebih kuat daripada orang lain. Kegiatan-kegiatan lain yang penting dalam prevention of crime ialah pendidikan karakter melalui pendidikan di sekolah-sekolah umum, pendidikan keagamaan yang terarah untuk dunia dan akhirat, klinik-klinik pembinaan anak-anak dan sebagainya.

Jelas bahwa objek prevensi bukanlah kejahatan itu sendiri, melainkan manusia-manusianya agar tidak melakukan kejahatan dan tidak menjadi korban kejahatan.

21

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

diadakan pengertian yang terpisah-psah untuk membedakan bahwa crime control meliputi tugas-tugas kepolisian, tugas pengadilan, tugas badan-badan proteksi tertentu dan sebagainya. Control bagi Reckless adalah usaha untuk membatasi kejahatan pada batas-batas minimum, sedang prevention adalah usaha untuk menyetop, menghentikan perkembangan crime dan delinquency.22

1.

Dalam pencegahan kejahatan tersebut terdapat 2 strategi, yaitu :

a. Peningkatan kualitas hidup

Dalam hal bahwa penyebab melakukan tindakan perompakanadalah karena alasan keadaan ekonomi, maka untuk mencegahnya perlu diadakan peningkatan kualitas hidup berupa pengaturan perumahan, makanan, pendidikan, kesempatan kerja, pensiun yang memadai dan jaminan sosial yang cukup, yang ditujukan untuk menjamin kondisi hidup yang terhormat (layak) bagi seluruh penduduk.

Beberapa negara menganggap peningkatan kualitas hidup berarti tindakan-tindakan yang ditujukan pada generasi muda khususnya yang potensial melanggar hukum berarti pula perbaikan kondisi penjara. Negara-negara yang menghadapi masalah pemenuhan kebutuhan hidup, menafsirkan peningkatan kualitas hidup sebagai penghapusan daerah kumuh, atau menjamin suatu persediaan makanan yang mencukupi kebutuhan hidup penduduk.

b. Menyediakan pendidikan yang baik

Suatu strategi tidak langsung yang lain untuk pencegahan kejahatan adalah berupaya untuk menjamin kesejahteraan dan pendidikan yang benar bagi anak-anak.

Strategi Tidak Langsung

22

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

Pendidikan moral terutama sangat diperlukan untuk dapat mencegah anak-anak dari melakukan suatu tindakan kriminal di masa mendatang. Pendidikan yang menekankan adanya perbedaan atas perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk akan menjadi “bibit” yang akan dapat dituai oleh Negara Indonesia nantinya. Mungkin hal ini dinilai terlalu jauh karena perompakan ini dilakukan oleh orang dewasa, namun menurut hemat penulis, apabila hal ini dikesampingkan begitu saja, maka perompakan itu akan terus terjadi di masa mendatang yang dilakukan oleh anak-anak di masa sekarang.

c. Menyediakan kegiatan mengisi waktu senggang yang konstruktif

Mengisi waktu senggang dengan hal-hal yang bermanfaat akan mencegah seseorang dari berfikiran hal-hal yang negatif. Terutama apabila kegiatan tersebut berupa kegiatan pendalaman rohani seperti pengajian atau berupa pelatihan ketrampilan yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mencari penghasilan. d. Menyediakan kesempatan kerja

Seperti disinggung dalam bab sebelumnya, bahwa berdasarkan pengakuan pelaku perompakan mereka melakukan tindak pidana ini karena tidak memiliki pekerjaan, jadi penyediaan kesempatan kerja merupakan hal yang tepat untuk dilakukan mengingat alasan tersebut.

e. Kesejahteraan dan bantuan keuangan

Bantuan kesejahteraan dan keuangan diartikan sebagai suatu pelayanan kesejahteraan umum yang diberikan atas dasar-dasar kebutuhan dengan pertimbangan pencegahan tindak pidana.

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

Apabila warga merasa dirinya telah sejahtera dan bahagia atas hidupnya, tidak tertutup kemungkinan bahwa melakukan tindak pidana adalah sesuatu yang tidak akan terfikirkan bagi mereka.

2.

Pihak internasional sendiri merasa “gerah” dengan tindak pidana perompakan yang making sering terjadi belakangan ini. Mereka mengatakan bahwa penjagaan wilayah laut yang paling strategis dan paling sibuk di dunia ini justru dilakukan oleh pihak Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia yang dipandang miskin.

Strategi Langsung

Tokyo mendesak negara-negara Asia untuk mendukung persetujuan anti perompakan laut, tapi masalah ini peka karena menyangkut kedaulatan pengawasan wilayah teritorial. Sementara keinginan pihak industri jelas, mendesak pemerintah untuk meningkatkan efektivitas penjagaan di laut untuk menjamin keselamatan kapal-kapal yang melewati Selat Malaka.

Strategi langsung yang dimaksudkan disini adalah berupa tindakan patroli yang saat ini dilakukan secara gabungan oleh pihak militer Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Hal ini juga dinyatakan secara tegas oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Slamet Soebijanto bahwa perompakan di Selat Singapura mengalami penurunan sejak adanya patroli koordinasi trilateral antara Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

Diketahui bahwa pada periode Januari 2004 sampai Juni 2004 terjadi 23 kasus perompakan di Selat Singapura, dan sebanyak 2 kasus berhasil diatasi.

Kemudian pada periode 22 Juli 2004 sampai akhir tahun 2004 terjadi 38 kasus perompakan dan 7 diantaranya berhasil diatasi.

Upaya ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa patroli koordinasi ini berhasil mengatasi tindakan perompakan.

Hambatan yang saat ini ditemukan di lapangan yaitu kurangnya keseriusan dalam hal informasi dan publikasi tentang pelayaran di Selat Malaka sehingga kejadian di laut cenderung dilaporkan ke International Maritime Beureu (IMB) di Kuala Lumpur.

IMB ini adalah merupakan sebuah lembaga internasional yang menangani pencegahan aksi kriminalitas di laut yang merupakan bagian dari International Chambers of Commerce.

Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AL, Laksamana Pertama Slamet Yulistiono, mengakui adanya keterbatasan armada kapal TNI AL untuk mengawasi Selat Malaka, dan untuk mengatasi hal tersebut pihak TNI AL menggelar operasi pengumpulan informasi di daratan.

Saat ini yang menjadi base ops (pusat operasi) adalah Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Dumai dan untuk berpatroli TNI AL menggunakan 2 kapal yaitu KAL Tedung dan KAL Jemur.

Lanal Dumai dalam koordinasi dengan Lantamal I Belawan tersebut memiliki cakupan wilayah tugas yang luas, yaitu mulai dari Kabupaten Rokan Hilir di Riau sampai perairan Tanjung Tiram di Kabupaten Asahan, Sumatera

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

Utara. Dan untuk mencegah para perompak bersembunyi di pulau-pulau kecil yang ada di Selat Malaka, TNI AL juga menugaskan prajuritnya untuk terus mengawasi pulau-pulau tersebut.

2.

Dalam hal perompakan itu telah terjadi, maka tindakan yang diambil adalah :

Represif

Penyelidikan oleh KRI dilakukan untuk mencari atau menemukan petunjuk atau alat bukti tentang peristiwa tindak pidana, tindakan penyelidikan :

a. Pendeteksian sasaran.

Pelaksanaan operasi dilaksanakan dengan pengawasan dan pendeteksian pada daerah – daerah atau sektor patroli, berdasarkan informasi lanjutan yang didapat dari luar maupun dari unsur sendiri. Pengawasan dan deteksi dapat dilaksanakan oleh satu unsur secara mandiri atau secara gabungan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas operasi.

1. Informasi diperoleh dari :

a). Analisa Daerah Operasi ( ADO )

b). Informasi Intelejen dari komando atas, komando samping atau instansi lain

c). Laporan dari masyarakat nelayan / pantai d). Informasi / laporan dari kapal – kapal sipil

e). Informasi dari Pesawat Udara Pengintaian / Patroli Udara 2. Deteksi, peralatan deteksi yang dapat digunakan :

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

a). Radar, sonar

b). Electronic Support Measure ( ESM ) c). Pengawasan Visual

b. Pengenalan Sasaran

1. Pengenalan awal dengan Electronic Support Measure ( ESM ) untuk memperkirakan apakah sasaran kapal perang ( kombatan ) atau kapal sipil ( non- kombatan ) dengan cara menganalisa parameter pancaran elektromagnetiknya.

2. pengenalan dengan radar dan sonar untuk menentukan elemen gerak sasaran.

3. pengenalan visual dengan teropong untuk membedakan : a). Jenis sasaran

b). Tanda – tanda pengenal lainnya seperti bendera, nomor lambung, warna lambung, dan lain – lain.

4. Pengenalan dengan komunikasi radio atau isyarat untuk menentukan :

a). Nama kapal / nahkoda b). Jenis kapal

c). Agen perusahaan d). Negara / bendera

e) Pelabuhan singgah terakhir dan tujuan f). Muatan kapal

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

5. Pengenalan sasaran disamping menggunakan peralatan – peralatan tersebut di atas, diperlukan juga data intelejen untuk mendukung proses pengenalan sasaran. Data intelejen tersebut menyangkut tentang daerah rawan tindak pidana, sasaran yang diintai, dan lain – lain.

c. Penilaian Sasaran.

Penilaian sasaran dilaksanakan dengan mengkorelasi data – ata yang didapat dari hasil pengenalan sasaran untuk mendapat konfirmasi dan selanjutnya menetukan keputusan yang akan diambil berupa :

1). Mencatat posisi dan tanggal waktu posisi sasaran.

2). Sasaran diabaikan / ditinggalkan apabila tidak ada kecurigaan, atau 3). Diadakan penghentian dan pemeriksaan

4). Dalam hal memerlukan informasi tambahan dapat meminta informasi dari Komando Atas.

d. Penghentian Kapal 1). Syarat – syarat :

a. Dilakukan di Perairan Teritorial Indonesia apabila terdapat bukti atau petunjuk kuat bahwa :

1. Melakukan suatu tindak pidana yang diatur dalam perundang – undangan Indonesia

2. Melakukan salah satu kegiatan pelanggaran yang diatur dalam UNCLOS 1982 Pasal 27

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

3. Terjadi suatu peristiwa di atas kapal sebagaimana diatur dalam UNCLOS 1982 Pasal 27

4. Kapal dagang yang mengangkut senjata / amunisi selama dalam lintas pelayaran.

b. Dilakukan di Zona Ekonomi Eksklusif apabila terdapat bukti atau petunjuk kuat bahwa :

1. Melakukan penelitian kelautan tanpa persetujuan pemerintah Republik Indonesia.

2. Melakukan eksplorasi / eksploitasi sumber daya di ZEEI tanpa persetujuan pemerintah Republik Indonesia

3. Melakukan kegiatan yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan laut

4. Membongkar kabel dasar laut tanpa persetujuan pemerintah Republik Indonesia

5. Melakukan kejahatan internasional antara lain pembajakan di laut, perdagangan budak, perdagangan narkotika

6. Kapal dagang yang mengangkut senjata / amunisi dan ditujukan untuk mengancam keamanan integritas wilayah dan kedaulatan Republik Indonesia.

c. Dilakukan di Laut Lepas apabila terdapat bukti atau petunjuk kuat bahwa :

1. Kapal tersebut terlibat dalam perompakan. 2. Kapal tersebut terlibat dalam perdagangan budak.

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

3. Kapal tersebut terlibat dalam penyiaran gelap. 4. Kapal tersebut tanpa kebangsaan.

5. Kapal tersebut mengibarkan bendera asing atu menolak untuk memperlihatkan benderanya.

2). Prosedur Penghentian Kapal

a. Harus didahului dengan peran pemeriksaan

b. Dimulai dengan memberikan isyarat keinginan untuk berkomunikasi c. Apabila komunikasi belum terjalin, dilakukan dengan cara :

1. Mengibarkan bendera L pada batas cuaca yang dapat dilihat, atau 2. Megaphone pada batas yang dapat didengar

3. Isyarat gaung

d. Apabila tidak diindahkan, diberi peringatan sebagai berikut : 1. Tembakan meriam peluru hampa, atau

2. Peluru tajam dengan senjata kaliber kecil dengan arah ke atas e. Jika tidak juga diindahkan, laksanakan tembakan dengan senjata

kaliber kecil atau meriam ke arah air laut di sekitar kapal yang percikan airnya dapat dilihat dengan jelas dari kapal yang dicurigai. 3). Hal – hal khusus

Apabila peringatan – peringatan tersebut di atas kapal tidak juga berhenti maka komandan kapal dapat mengambil tindakan sebagi berikut :

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

a. Menembak ke arah badan kapal yang diperkirakan tidak ditempati oleh ABK seperti propeller, daun kemudi dan haluan kapal sehingga tidak meninggalkan korban jiwa

b. Menembak ke arah anjungan jika tembakan badan kapal di atas tidak membuahkan hasil

c. Melaksanakan tindakan pertolongan kepada ABK yang berada di air sebagai akibat bila kapal tenggelam dengan memperhatikan keamanan sendiri

d. Tindakan di atas juga dilakukan bila kapal yang akan diperiksa mengadakan manufer yang membahayakan kapal pemeriksa

e. Apabila di antara ABK melakukan perlawanan bersenjata dilakukan tindakan tegas dengan mempergunakan senjata api secara proporsional

4). Pengejaran Seketika ( Hot Persuit )

Dilakukan jika penghentian tidak dapat dilaksankan, menurut UNCLOS 1982 Pasal 111 diatur sebagai berikut :

a. Apabila pihak yang berwenang mempunyai alasan yang cukup untuk mengira bahwa kapal tersebut telah melanggar peraturan perundang-undangan.

b. Hak pengejaran seketika berhenti segera setelah kapal yang dikejar memasuki laut teritorial negara lain.

Apabila terdapat bukti atau petunjuk yang kuat telah terjadi suatu tindak pidana maka :

Eka Krisnawati : Tindak Pidana Perompakan Di Wilayah Perairan Selat Malaka, 2007. USU Repository © 2009

1. Perwira pemeriksa setelah mendapat pengarahan dari komandan kapal menyatakan kepada nahkoda kapal yang diperiksa bahwa nahkoda, ABK bersama kapalnya tidak diizinkan melanjutkan pelayaran dan akan dibawa ke pangkalan / pelabuhan yang ditentukan serta dijelaskan secara singkat tentang jenis pelanggaran hukum yang dilakukan.

2. Meminta pernyataan kepada nahkoda pada peta posisi atau gambar situasi pengejaran dan penghentian

3. Komandan mengeluarkan Surat Perintah kepada Tim Kawal untuk membawa kapal dan awak kapal ke pelabuhan yang telah ditentukan.

4. Komandan mengeluarkan Surat Perintah Penahanan Kapal.23

Sampai disini, perompak akan diselidiki oleh pihak TNI AL dengan cara interogasi dan pengumpulan alat-alat bukt i.

Setelah berdasarkan hasil penyidikan ternyata tersangka terbukti melakukan tindak pidana perompakan, maka selanjutnya kasus dilimpahkan kepada pihak Kejaksaan.

Dokumen terkait