• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pencegahan Pencemaran Laut dengan Traffic Separation Scheme (TSS) Scheme (TSS)

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

PENYELESAIAN GANTI RUGI TERHADAP TUMPAHAN MINYAK DI PULAU NONGSA KOTA BATAM

C. Upaya Pencegahan Pencemaran Laut dengan Traffic Separation Scheme (TSS) Scheme (TSS)

Pencegahan pencemaran dari kapal adalah upaya yang harus dilakukan Nakhoda dan/atau awak kapal sedini mungkin untuk menghindari atau mengurangi pencemaran tumpahan minyak, bahan cair beracun, muatan berbahaya dalam kemasan, limbah kotoran (sewage), dan gas buang dari kapal ke perairan dan udara sedangkan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal adalah segala tindakan terpadu serta terkoordinasi untuk mengandalikan, mengurangi, dan membersihkan tumpahan minyak atau bahan cair beracun atau muatan laindari kapal ke perairan untuk meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut.105

Tindakan pencegahan pencemaran minyak yang dapat ditimbulkan akibat kecelakaan kapal adalah tindakan yang dilakukan pada kapal yang mengalami kecelakaan guna mencegah penyebaran tumpahan minyak baik minyak yang dibawa sebagai muatan atau minyak sebagai bahan bakar kapal dengan cara melokalisir tumpahan minyak, penyedotan minyak yang terdapat pada tangki bahan bakar, dan pengambilan serta mengangkut kerangka kapal tersebut apabila mengganggu alur pelayaran.106

Konsep pencegahan pencemaran merupakan penggunaan proses, praktek, bahan energi guna menghindarkan atau mengurangi timbulnya pencemaran.107 Dengan adanya upaya pencegahan tersebut selain bersifat mencegah suatu pencemaran terjadi, pencegahan itu juga mencegah terjadinya penyebaran dan

105 Pasal 1 ayat (2) dan (3) Peraturan Menteri Nomor 29 Tahun 2014

106 Pasal 1 ayat (4) Peraturan Menteri Nomor 29 Tahun 2014

107 Suhaidi, Perlindungan Terhadap Lingkungan... op.cit., hal. 217

perluasan terhadap pencemaran yang telah terjadi. Dalam suatu upaya pencegahan pencemaran laut memiliki 2 (dua) sifat yang termuat di dalamnya yaitu bersifat preventif dan represif. Dari kedua sifat tersebut dapat diketahui bahwa upaya pencegahan bukan hanya sekedar upaya yang mencegah terjadinya suatu pencemaran, namun berkaitan juga dengan penanggulangan dan pengolahan setelah terjadinya pencemaran.

Pencegahan pencemaran pada dasarnya bermanfaat dalam hal:108 1. Mengurangi atau menghindarkan timbulnya polutan;

2. Menghindarkan pindahnya polutan dari satu medium ke medium lainnya;

3. Meningkatkan pengurangan dan/atau menghilangkan polutan;

4. Mengurangi risiko kesehatan;

5. Memajukan pengembangan teknologi pengurangan sumber;

6. Menggunakan energi, bahan dan sumber lebih efisien;

7. Mengurangi kebutuhan akan penegakan yang mahal;

8. Membatasi tanggung jawab yang akan datang dengan kepastian yang lebih besar;

9. Menghindarkan pembersihan yang mahal di masa mendatang;

10. Memajukan ekonomi yang lebih kompetitif

Pencegahan pencemaran dari pengoperasian kapal, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya pada pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 adalah meliputi pencemaran dari minyak

108 Ibid

kapal, pencemaran bahan cair beracun dari kapal, pencemaran muatan bahan berbahaya dalam bentuk kemasan dari kapal, pencemaran kotoran dari kapal, pencemaran sampah dari kapal, pencemaran udara termasuk emisi mesin dan efisiensi energi dan pencemaran yang timbul akibat tumpahnya muatan dan barang dari kapal.

(1) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan melalui:

a. Pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal; dan

b. Pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhan.

(2) Pencegahan pencemaran dari pengoperasian kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan terhadap pencegahan pencemaran dari pengoperasian kapal berbendera Indonesia dan yang bersumber dari barang dan bahan berbahaya yang ada di kapal.

(3) Selain pencegahan pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pencegahan pencemaran lingkungan maritim juga dilakukan terhadap:

b. Kegiatan pencucian tangki kapal (tank cleaning);

c. Pengangkutan limbah bahan berbahaya dan beracun dengan kapal;

d. Penutuhan kapal (ship recycling); dan e. Pembuangan limbah di perairan (dumping).

Salah satu upaya pemerintah dalam mencegah terjadinya pencemaran laut yang berpotensi merusak ekosistem dan juga merugikan terhadap manusia baik dari segi kesehatan maupun dalam segi ekonomis. Hal ini mengenai penetapan

lokasi pembuangan limbah di lingkungan laut yang tidak melanggar ketentuan pasal 83 ayat (1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29 Tahun 2014 yaitu terkait pembuangan limbah yang tidak diperbolehkan di lokasi-lokasi sebagai berikut:

a. Alur-pelayaran;

b. Kawasan lindung;

c. Kawasan suaka alam;

d. Taman nasional;

e. Taman wisata alam;

f. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;

g. Sempadan pantai/garis pantai;

h. Kawasan terumbu karang;

i. Kawasan mangrove;

j. Kawasan perikanan dan budidaya;

k. Kawasan permukiman; dan

l. Daerah lain yang sensitif terhadap pencemaran sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan.

Dan selain ketentuan di atas, lokasi pembuangan limbah di lingkungan laut harus mendapatkan kordinasi terlebih dahulu dengan instansi terkait dengan pertimbangan jenis dan sumber material yang akan dibuang, lokasi pembuangan limbah, dampak terhadap lingkungan dan metode pembuangan.109 Apabila pembuangan limbah tersebut tidak mendapatkan kordinasi dari instansi terkait

109 Pasal 83 ayat (2) Peraturan Menteri Nomor 29 Tahun 2014

maka pembuangan limbah tersebut merupakan pembuangan limbah illegal dan dapat dijatuhi hukuman pidana bagi pelaku pembuangan limbah tersebut karena dapat berpotensi terjadinya pencemaran laut di wilayah pembuangan limbah tersebut akibat ketidaktahuan pihak-pihak yang beroperasi dalam pembuangan limbah.

Upaya lainnya yang dilakukan oleh Indonesia untuk mencegah terjadinya pencemaran laut yang lebih khusus mengenai jalur lintas batas negara adalah dengan ikut serta dalam pembentukan Tripartite Technical Expert Group (TTEG).

TTEG sendiri merupakan suatu kelompok yang terdiri atas negara Indonesia, Malaysia dan Singapura sebagai bagian dari negara pantai yang berada si tepi selat Malaka.

Landasan utama terbentuknya Tripartite Technical Expert Group (TTEG) adalah untuk menindaklanjuti perjanjian-perjanjian kerjasama mengenai isu-isu dengan tujuan memajukan keamanan navigasi dan proteksi lingkungan maritim, juga masalah trafik lainnya yang terjadi di Selat malaka.110

TTEG mengadakan pertemuan secara teratur untuk membuat kebijakan terkait keselamatan navigasi dan kerjasama tentang pencegahan pencemaran laut.

Salah satu pertemuan penting yang diadakan yaitu Jakarta Meeting on Malacca Straits antara negara anggota TTEG dan juga International Maritime Organization (IMO) untuk menyepakati dasar hukum diadakannya (Cooperative Mechanism) yaitu Pasal 43 UNCLOS 1982 yang dilaksanakan pada tanggal 7-8

110 Maritime Port Authority of Singapore, Factsheet on the Tripartite Technical Experts Group, Diakses dari: http://www.mpa.gov.sg/sites/images/pdf_capture/annexb_140417.pdf.

September 2005. Dalam forum tersebut disepakati bahwa Hukum Laut UNCLOS 1982 Pasal 43 sebagai dasar hukum diadakannya Cooperative Mechanism.

Forum TTEG yang diadakan setiap tahun ini diadakan guna mengevaluasi pengelolaan Selat Malaka dan Selat Singapura dalam aspek keselamatan pelayaran, perlindungan lingkungan Maritim dan aspek keamanan wilayah Selat Malaka dan pertemuan tersebut selain di hadiri oleh ketiga negara pantai yang berada di wilayah Selat Malaka juga di ikuti oleh negara pengguna Selat Malaka seperti Jepang, China, Australia, Korea Selatan, India dan beberapa Negara anggota International Maritime Organization (IMO) lainnya. Forum TTEG ini merumuska ketentuan terkait Traffic Separation Scheme (TSS) untuk keamanan dan perlindungan wilayah Selat Malaka. Kesepakatan ketiga negara tentang Traffic Separation Scheme (TSS) of Februari 1977 telah diterima oleh International Maritime Consultative Organization/ IMCO (sekarang International Maritime Organisation/IMO) berdasarkan resolusi IMCO No. A. 375 tanggal 14 Nopember 1977 yang berjudul Navigations through the Straits Malacca and Singapore.111

TSS (Traffic Separation Scheme) adalah jalur yang mengatur sistem rute lalu lintas yang peraturan digunakan oleh Intenational Maritime Organisation (IMO). Jalur lalu lintas menunjukkan arah lalu lintas berjalan mengikuti skema.

IMO bertanggung jawab terhadap rute kapal-kapal sebagaimana yang tertuang dalam Safety of Life at Sea (SOLAS) Convention, BAB V, Aturan 10, yang mengakui organisasi ini sebagai lembaga internasional satu-satunya yang

111 Dikdik Mohammad Sidik, Hukum Laut... Op. Cit , hal. 41

membentuk sistem ini. Sistem rute kapal ini untuk membantu keselamatan terhadap kehidupan laut, keselamatan dan efisiensi pelayaran dan/atau melindungi lingkungan laut.112 Dalam hal ini Selat Malaka memenuhi syarat untuk disepakatinya suatu skema pemisah lalu lintas berdasarkan kondisi Selat Malaka yang memiliki resiko tinggi dan terdapat banyak kegiatan yang sifatnya berbahaya dengan kondisi Selat Malaka yang sempit dan dangkal serta sangat cepat mencapai negara tepi pantai selat jika terjadi suatu pencemaran yang disebabkan oleh tumpahan minyak.

Kesepakatan Traffic Separation Scheme (TSS) ini mulai berlaku pada bulan Mei 1980 dan dilengkapi dengan suatu Revolving Fund (RF) yang mengatur pembayaran ganti rugi atas kerusakan lingkungan laut yang diakibatkan oleh pencemaran laut karena tumpahan minyak dari kapal.113

Pelaksanaan sistem TSS ini oleh pemerintah ketiga negara pantai selat yang bersangkutan terlebih dahulu harus diberitahukan kepada pemilik kapal dan operator untuk mentaati resolusi tersebut. Hal ini berarti bahwa utnuk mentaati pelaksanaan TSS itu para pemilik kapal supaya memberitahukan kapal-kapal untuk pelaksanaan rencana tersebut dan menggunakan nakhoda yang memenuhi persyaratan dalam pengoperasian kapalnya.114

Adapun manfaat yang diperoleh dari penerapan sistem rute pelayaran berdasarkan TSS ini adalah untuk menghindarkan kecelakaan kapal, khususnya

112 Zbigniew Pietrzykowski, Janusz Magaj, Ship Domain in Traffic Separation Scheme, Poland: Maritime University of Szcezecin, Scientific Journal of the Maritime University of Sczecin volume 45, hal. 144

113 Dikdik Mohammad Sidik, Hukum Laut... Loc. Cit, hal. 41

114 Arifin Siregar, Hukum Pencemaran.... Op.Cit, hal 120

bagi kapal-kapal tanker raksasa sehingga apabila terjadi pencemaran laut oleh minyak bumi, tidak akan mengancam lingkugan laut.115

Pengawasan dengan cara ini keamanan perairan Selat Malaka akan lebih mudah diatasi atau lebih mudah diketahui ukuran-ukuran kapal yang akan berlayar melewati selat tersebut. Selain itu terdapat cara lain yaitu berdasarkan insurance system. Jika terjadi pencemaran oleh kapa tangki, digunakan dana yang telah tersedia untuk menutup kerugian yang timbul seketika, seperti biaya-biaya pembersihan lingkungan laut yang terkena pencemaran laut.116 Dengan adanya sistem ini tanggung jawab dari pemilik kapal yang mencemari lingkungan menjadi lebih ringan karena adanya tanggungan bersama dari setiap pemilik kapal yang menggunakan jalur tersebut dan biaya dapat diperoleh seketika.

Berdasarkan Resolusi IMCO A.375 (X) on Navigation Through the Straits of Malacca and Singapore, 14 November 1977, ditetapkan berlakunya TSS Selat Singapura sesuai dengan persetujuan ketiga negara pantai. Ketentuan-ketantuan dalam TSS yang penting diperhatikan bagi pengembangan konsep perlindungan lingkungan laut atau konsep pengaturan hukumnya adalah:117

Arti sempit dan dangkalnya Selat dengan konfigurasi lingkungan fisiknya yang tidak seragam, menyebabkan:

a. Perlunya dipertahankan jarak antara lunas kapal dengan dasar laut atau under keel clearance (UKC) minimal 3,5 meter selama melalui selat;

115 Ibid

116 Ibid, hal. 121

117 Suhaidi, Perlindungan terhadap.... Op. Cit, hal 162-163

b. Menetapkan alur pelayaran yang harus dilalui oleh kapal tanker selama dalam perjalanan, terutama pada daerah “Main Straits, Philip Chanel, dan Horsbug Light House” seperti yang ditetapkan dalam peta selat;

c. Terhadap kapal tanker yang mempunyai luas dalam (deep draught vessel) yang mencapai kedalaman hingga 15 meter atau lebih, diharuskan melalui rute laut dalam atau deep water route, kecuali dalam keadaan darurat;

d. Prinsip “voluntary pilotage” berlaku pada daerah yang kritis atau berbahaya;

e. Kapal tanker yang tergolong VLCC dan ULCC disarankan untuk memelihara 10 knots selama perjalanan pada daerah berbahaya dan tidak diperkenankan saling mendahului (no overtaking);

f. Data tentang arus laut, pasang surut, dan petanya harus disempurnakan dari waktu ke waktu;

g. Terhadap kategori VLCC dan ULCC diharuskan memakai alat komunikasi yang baik;

h. Masalah ganti kerugian atau kompensasi, termasuk biaya pemulihan (cleaning -up) di lingkungan laut.

i. Sepanjang mengenai ganti rugi perdata, terdapat kemungkinan diselesaikan dengan tiga kategori, yaitu;

1. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan negara pantai;

2. Berdasaekan Konvensi, yaitu pemilik kapal atau operator kapal sebagai pihak tergugat;

3. Kerugian atau kerusakan lingkungan laut. Secara garis besar meliputi tiga kelompok materi, yaitu:

1. Biaya pemulihan atau pembersihan, termasuk biaya pencegahan meluasnya akibat pencemaran pada lingkungan laut lainnya;

2. Kerusakan tidak langsung;

3. Kerusakan ekologis;

TSS (Traffic Separation Scheme) merupakan upaya pencegahan yang dinilai dapat berlaku efektif di wilayah Selat Malaka dengan adanya aturan mengenai kapal yang akan melalui wilayah tersebut baik dengan ukuran kapal yang dibolehkan melintasi jalur ini dan juga tata cara saat kapal-kapal besar melewati jalur ini yang tidak diperbolehkan untuk mendahului kapal yang ada di depannya. Hal ini dilakukan karena mengingat sempitnya wilayah Selat Malaka yang apabila ada kapal besar yang saling mendahului di jalur skema pemisah maka akan berakibat fatal dan sangat berbahaya bagi keamanan wilayah laut Selat Malaka.

Sejauh ini, TTEG sebagai badan yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan, terus berupaya membuat ketentuan-ketentuan yang dapat melindungi wilayah Selat Malaka dari pencemaran.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dalam United Nation Convention of the Law on the Sea (UNCLOS) tahun 1972 mengatur tentang hak-hak negara dalam membuat hukum nasional masing-maisng tentang pencemaran laut akibat tumpahan minyak dan mengatur tentang tanggung jawab negara dalam memuat suatu peraturan perundang-undangan yang dapat melindungi dan mencegah wilayah laut negara tersebut dari segala bentuk pencemaran laut tidak terkecuali pencemaran akibat tumpahan minyak. Prinsip tanggung jawab yang digunakan dalam International Convention on Civil Liability for oil Pollution Damage 1969 adalah strict liability, pemilik kapal harus membuktikan bahwa ia ada di dalam pengecualian spesifik tersebut dalam kasus pencemaran agar terbebas dari hukuman yang akan diberi oleh negara asal bendera kapal tersebut. Akan tetapi, kecuali pemilik kapal bersalah untuk kesalahan aktual, pemilik kapal dapat dikenakan tangunngjawab terbatas dalam suatu kecelakaan. Sementara berdasarkan International Convention on the Establishment of an International Fund for Compensation of Pollution Damage, 1971 (Fund Convention) 1971 mengatur tentang ganti rugi oleh pemilik kapal yang ditanggung oleh konvensi ini dengan menyediakan pembayaran ganti rugi kepada korban di lain pihak membebaskan pemilik kapal dari beban keuangan yang diakibatkan oleh Civil Liability Convention Brussel 1969. Konvensi ini dipersiapkan untuk mengatur masalah tanggung jawab mutlak (strict liability)

bagi para pemilik tanker yang karena kecelakaan mengakibatkan pencemaran, termasuk laut wilayah dari suatu negara. Sementara semua pertanggungjawaban pemilik kapal dapat diperoleh melalui pengaturan hukum nasional negara asal bendera kapal yang mencemari lingkungan laut negara lain sehingga ketika lingkungan laut suatu negara tercemar akibat tumpahan minyak, yang bertanggung jawab atas segala dampak dan ganti rugi adalah negara tempat didaftarkannya kapal tersebut. Sementara dalam International Convention on Oil Pollution Preparadness, Response And Cooperation tahun 1990 memuat aturan pencemaran laut akibat tumpahan minyak yang berisi kewajiban suatu negara bekerja sama dengan negara lain agar pencemaran tidak semakin menyebar dan setiap negara yang dapat merealisasikan hal tersebut wajib membantu negara yang sedang tercemar ataupun negara yang merupakan negara pencemar sehingga pencemaran tidak semakin meluas meliputi akses dan sarana yang dapat membantu pencegahan perluasan pencemaran dan juga upaya penyelamatan terhadap korban akibat kecelakaan kapal.

2. Tanggung jawab Singapura dalam kasus pencemaran lintas batas negara di Pulau Nongsa Kota Batam ini adalah tanggung jawab terhadap pemberian informasi, pencegahan, penanggulangan dan pembayaran ganti rugi akibat dari pencemaran yang telah terjadi sebagai dana yang telah digunakan Indonesia untuk pembersihan zat pencemar yang ada di Pulau Nongsa Kota Batam. Tanggung jawab ini harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh Singapura dikarenakan adanya salah satu asas yang terdapat pada hukum lingkungan internasional yaitu asas good neighborliness yang mewajibkan suatu negara yang telah mencemari negara

lain karena apabila negara pencemar tersebut tidak bertanggung jawab atas pencemaran yang telah dilakukan oleh negara ataupun korporasinya maka akan terjadi keretakan hubungan di antara negara tersebut yang dapat berdampak pada hubungan kerja sama yang telah di jalin sebelumnya dan yang akan disepakati di masa depan, khususnya mengenai kerjasama di bidang keamanan wilayah laut Selat Malaka. Sementara bentuk penyelesaian sengketa yang digunakan dalam kasus pencemaran laut di Pulau Nongsa Kota Batam akibat tumpahan minyak yang dipilih oleh Indonesia dan Singapura adalah melalui penyelesaian sengketa secara damai yaitu dengan menyelesaikan sengketa di luar pengadilan.

3. Penyelesaian ganti rugi terhadap pencemaran laut di Pulau Nongsa Kota Batam dapat diselesaikan dengan cara negara Singapura bertanggung jawab untuk mewajibkan biaya ganti rugi yang harus di bayarkan oleh pemilik kapal yang berasal dari negaranya. Selain itu Indonesia juga dapat meminta ganti rugi terhadap pencemaran berdasarkan Malacca Strait Council sebagai dana pembersihan wilayah laut dan pulau yang tercemar.

B. Saran

1. Kepada pemerintah agar dapat lebih cepat tanggap dalam hal koordinasi dan sosialisasi terhadap pejabat instansi yang menangani masalah pencemaran sebagai dan masyarakat terkait hal-hal yang harus dilakukan ketika terjadi suatu pencemaran laut akibat tumpahan minyak serta dapat lebih memaksimalkan upaya penanggulangan pencemaran agar tidak lebih merugikan negara.

2. Mendorong pemerintah Republik Indonesia agar terus melakukan upaya-upaya penyelesaian kasus pencemaran laut di Pulau Nongsa dengan pemerintah Singapura terhadap dampak dan penanggulangannya dengan sikap yang tegas dan terus memantau perkembangan penyelidikan dalam penyelesaian sengketa kasus pencemaran laut.

3. Mendorong Pemerintah Negara Republik Indonesia dalam hal kesigapan terhadap pencegahan, perlindungan dan juga tindakan terhadap pencemaran laut agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir dan tidak meluas ke wilayah yang memiliki nilai ekonomis ataupun wilayah konservatif serta melaksanakan prosedur penuntutan ganti rugi yang optimal agar dapat mendapatkan hak ganti rugi dengan semestinya.