• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Pengamatan

4.6. Upaya Pengendalian Ektoparasit

4.5.1. Pengendalian Nyamuk

Menurut (Hastutiek, et al 2014) upaya pengendalian terhadap Golongan nyamuk dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan perbaikan sanitasi lingkungan dengan menekan adanya tempat genangan air, kontrol biologi adanya larva dapat digunakan predator alami antara lain ikan gabus, ikan nila, ikan timah dan capung jika wadah genangan air sulit dihilangkan.

4.5.2. Pengendalian Lalat

Menurut (Hastutiek, et al 2014) ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengontrol lalat yaitu ;

1. Metode Non Kimiawi

Metode ini adalah metode menggunakan jebakan seperti kertas perekat lalat, perangkap lalat yang dapat membunuh lalat dengan aliran listrik (Light trap), pembersihan peralatan pengolahan makanan segera setelah dipakai, dan berbagai praktek kebersihan yang baik terus-menerus merupakan cara yang efektif mencegah meningkatnya populasi lalat.

2. Metode Kultural dan Sanitasi

Metode ini dilakukan dengan menjaga lingkungan tetap kering, memaksimalkan pengelolaan sampah dan kotoran yang dapat menjadi tempat perkembang biakan lalat. 3. Metode Biologis (Hayati)

Metode ini belum banyak dikembangkan di Indonesia prinsip metode ini adalah mengembangkan musuh alami lalat yang secara alami memakan telur dan larvanya. Pada jenis Musca domestica dapat diserang dengan spesies pathogen, parasit atau predator, jamur epizootic dapat digunakan, lalat yang terinfeksi dengan Entamophtora muscae atau E. schizophorae menurun populasinya pada kandang sapi.

4.5.3. Pengendalian Tungau

Tungau Psoroptes pada sapi dapat menyebabkan dermatitis, penurunan berat badan dan kurus, Alopecia, toksin dari tungau dapat menyerang organ organ vutal dan kematian hal tersebut perlu dilakukan penanganan secepatnya dengan cara sapi dimandikan dengan 0,05% amitraz setiap 10 hari dan diulang 2 kali, dan dapat dilakukan injeksi dengan Ivermectin (Hastutiek, et al 2014).

4.5.4. Pengendalian Caplak

Menurut (Hastutiek, et al 2014) dapat digunakan Non Chemical Methode dengan melakukan rotasi kandang gembala. Larva tidak akan dapat hidup terus tanpa makan, Rumput dipangkas, dicacah dijadikan silase, Disiplin permanent memberantas caplak, Flagging yaitu kain warna terang diletakkan diatas tanah, larva akan banyak dikumpulkan, larva akan menunggu inang lewat (Larva stadium rawan). Metode ini relatife aman karena tidak menggunakan zat zat kimia yang dapat mencemari lingkungan.

5. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

5.1.1. Ditemukan 13 jenis ektoparasit terdiri dari 10 jenis ektoparasit fakultatif yaitu Stomoxys calcitrans, Haematobia exigua, Musca domestica, Chrysomia bezziana, Tabanus atratus, Chrysops javana, Aedes albopictus, Cullicoides, Hermetia illucens, Alphitobius diperinus. Sedangkan untuk ektoparasit obligat ditemukan sebanyak 3 jenis yaitu Rhipicephalus sanguineus, Boophilus microplus, dan Psoroptes bovis

5.1.2. Ektoparasit yang ditemukan sebahagian besar sama dengan ektoparasit yang ditemukan pada kerbau dan sapi yaitu Stomoxys calcitrans, Haematobia exigua, Musca domestica, Chrysomia bezziana, Tabanus atratus, Chrysops javana, Aedes albopictus, Rhipicephalus sanguineus, Boophilus microplus, psoroptes bovies.

5.1.3. Ektoparasit yang sebagian hidupnya bersifat parasit atau fakultatif ditemukan memilki tingkat infestasi sangat tinggi, terdapat 4 jenis lalat dengan infestasi sangat tinggi yaitu, Stomoxys calcitrans, Haematobia exigua, Musca domestica, dan Chrysomia bezziana.

5.2. Saran

1. Manajemen pemeliharaan anoa di Anoa Breeding Center BP2LHK Manado perlu diperhatikan utamanya mengenai aspek kesehatan, perlu dilakukan medical check up pada anoa secara berkala, selain itu adanya lesi dan luka perlu di lakukan pengobatan segera, adanya jasa dokter hewan sangat vital dalam upaya menjaga kesehatan Anoa.

2. Perlunya dilakukan perhatian serius terhadap banyaknya infestasi lalat di sekitar kandang. Manajemen kebersihan dan saluran irigasi kandangn harus lebih bersih untuk mengurangi perkembang biakan lalat.pentingnya manajemen perkandangan yang sesuai dengan Habitus Anoa sebagai satwa liar, karena anoa yang hidup diluar kebiasaannya akan memperbesar kemungkinan stress yang nantinya akan berefek pada penurunan system kekebalan tubuh anoa, anoa yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh akan sangat rentan terhadap berbagai macam infeksi penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, T. B. (1996). Kesehatan Sapi. Yogyakarta: Kanisius.

Arini, D. I. D (2013). Anoa dan Habitatnya di Sulawesi Utara. Balai Penelitian Kehutanan Manado.

Astyawati T dan Wulansari R. 2008. Penanggulangan caplak Rhiicephalus sanguineus dengan vaksinasi. Jurnal penelitian. Ilmu penyakit hewan dan kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Aulanni'am. (2012). Penuntun Praktikum Parasitologi Veteriner. Universitas Brawijaya Malang.

Bahang, Z.B. 1978. Life history of Aedes (S) aegypty and Aedes (S) albopictus underlaboratory condition. Inst. For Med.Research. Kuala Lumpur

Belding, D. L. (2001). Textbook of Clinical Parasitology. New York: Appleton Century Croft.

Boesri,H.(2008). Biologi dan Perananan Aedes albopictus(Skuse) 1894 Sebagai Penular Penyakit.Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit . Salatiga.

Burton, J. A. (2005). Status dan rekomendasi : Konservasi in-situ Anoa (Bubalus sp.) dan implikasinya terhadap konservasi ex-situ. Buletin Konservasi Alam 5: 35-39.

Central of Disease Control and Prevention. 2013.DPDX. Laboratory Identification of Parasitic Disease of Public Health Concern. Road Atalanta.USA

Chin HC, Ahmad NW, Kian CW, Kurahashi H, Jeffrey J, Kiang HS, Omar B. 2010. A study of cow dung Diptera in Sentul Timur, Kuala Lumpur, Malaysia. J Trop Med Parasitol. 33(2):53-61.

Dharma, D.M.N. dan Putra, A.A.G. (1997). Penyidikan Penyakit Hewan. Edisi I. CV. Bali Media Adhikarsa. Denpasar.

Djaidi, S. (1988). Caplak keras (Ixodidae) dan peranannya dalam epidemiologi piroplasmosis pada sapi. IPB.

Dwiyani, et al., (2014). Ektoparasit Pada Ordo Artiodactyla di Taman Marga Satwa Semarang.Universitas Negeri Semarang. Semarang

Estuningsih SE. 2007. Stephanofilariasis (Kaskado) pada Sapi. Wartazoa 17 (4) : 172-177. Gregson. (1956). The Ixodidae of Canada. Canada Dept. Agr. Sci. Serv Entomol.

Hadi UK. 2011. Bioekologi Berbagai Jenis Serangga Pengganggu pada Hewan Ternak di Indonesia dan Pengendaliannya. Bogor (ID): Dept. Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet FKH IPB.

Hadi, U.K et al., 2013. Atlas Entomologi Veteriner. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Groves. (1969). Systematic of Anoa (Mammalia, Bovidae). Beaufortia 17 : 1-12.

Hastutiek, P. (2013) Buku Ajar Arthropoda Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya. Hastutiek, P, et al., (2014) Ilmu Penyakit Arthropoda Veteriner. Airlangga University Press.

Surabaya.

Hastutiek, P. (2007). Potensi Musca domestica Linn. Sebagai vektor beberapa penyakit.Jurnal Kedokteran Brawijaya,Vol. XXIII,

Irawan, A. (2011). Ketertarikan Struktur dan Komposisi Vegetasi terhadap Keberadaan Anoa di Kompleks Gunung Poniki Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Balai Penelitian Kehutanan Manado.

Iskandar, T. (2005). Gambaran Agen Parasit pada Ternak Sapi Potong di Salah Satu Peternakan di Sukabumi. Lokakarya Nasional Ketersediaan IPTEK dalam pengendalian Penyakit Strategis pada Ternak Ruminansia Besar. Bogor: Balai Besar Penelitian Veteriner.

Jannah. et al (2011). Hasil Surveilans Penyakit Parasit Di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan. Dilavet, Volume 21, Nomor 2, Juni 2011

Jensen, R. And B. L. Swift. 2006. Disease of Sheep. 2 years Eds. Lea & Febiger. Philadelphia.

Kasmar.I.N (2015).Prevalensi Scabies pada kambing di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba.Universitas Hasanudding. Makassar

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2013. Keputusan Menteri Kehutanan No.57 Tahun 2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Taman Nasional 2008-2018. Jakarta

Knowlton K, Solomon G, Rotkin-Ellman.M, Pitch F. 2009. Mosquito-Borne Dengue Fever Threat Spreading in the Americas. New York: Natural Resources Defense Council Issue Paper;

Levine, N. (1994). Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Mustari, A. &. (2001). Kebutuhan Nutrisi Ania (Bubalus sp.). Jurusan Konservasi

Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Mustari, A. (2003). Ecology and conservation of lowland Anoa (Bubalus depressicornis) in Sulawesi, Indonesia . University of New England.

Niebylski, M. L., Savage, H. M.,Nasci, R. S. dan Craig, G. B.Blood hosts of Ae.albopictus in the United States.J. Am. Mosq. Control Assoc., vol. 10, no. 3, hal. 447-450, 1994.

Ponlawat, A., Harrington, L.C. (2005). Food Feeding Pattern of Aedes aegypti and Aedes albopictus in Thailand.J. of Med. Entomol.,vol. 42 No. 5, hal. 844-849.

Rahman, A.M. (2001). Studi Morfologi dan Ekologi Anoa Dataran Rendah (Bubalus {Anoa} Depressicornis, Smith 1827) di Wilayah Hutan Pinogu, Gorontalo Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Fakultas MIPA, IPB

Rasyd & Hartati.2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Bogor

Rick, R. F. (1964). The Cycle of Babesia Bigemnia in The Thick Vector Boophilus Microplis . Australia.

Saim. (2004). Keanekaragaman fauna parasit pada mamalia kecil di kawasan Tesso-Nilo Propinsi Riau. Jurnal Ekologi Kesehatan, vol. 3.

Soviana S, Gunandini DJ & Akib S. 1994. Studi Inventarisasi Lalat Penyebab Miasis (Diptera : Calliphoridae) di Tiga Wilayah Peternakan Sapi Pedaging di Jawa Barat. Laporan Penelitian IPB.

Spradbery, J.P. 1991. A Manual for the Diagnosis of Screwworm Fly. CSIRO Division of Entomology. Canberra. Australia.

Subronto. (2006). Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Suwandi. (2001). Mengenal Berbagai Penyakit Parasitik pada Ternak. Bogor: Balai Penelitian Ternak.

Syafitri, N. P. (2013)Keragaman Jenis Lalat Pengganggu dan Potensi Permasalahannya pada Ternak Sapi Potong.Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Tarmudji. (1990). Studi Pendahuluan Peternakan Kerbau Rawa dan Identifikasi Parasit

Darahnya di Kalimantan Selatan. Penyakit Hewanvol.

The IUCN Red List of Threatened Species, (2007). www.iucnredlist.org.Download on 30 Mei 2016.

The IUCN Red List of Threatened Species, (2008). www.iucnredlist.org.Download on 30 Mei 2016.

The IUCN Red List of Threatened Species, (2009). www.iucnredlist.org.Download on 30 Mei 2016.

Wandasari, (2012) Konsep Penyebab Penyakit dalam Epidemologi. Prodi Kesehatan Masyarakat. Universitas Esa Unggul

Zein&Saim. (2001). Populasi, Pola Pertumbuhan dan Ektoparasit Rusa Timor (Cervus timores macassaricus Heude, 1896) di Padang Savana Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Propinsi Sulawesi Tenggara.

Dokumen terkait