BAB III : ANALISIS PRAKTIK KAWIN LARI (KERJE NAEK) DI
C. Upaya Perangkat Adat dalam Mengatasi Fenomena Kawin
Naek) di Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues
Diketahui secara umum bahwa penanganan permasalahan hukum perdata masyarakat tingkat kampung biasa dilakukan secara musyawarah, kekeluargaan,
dan dalam kasus pidana lebih mengutamakan asas perdamaian dan pemaafan.30
Model penanganannya melibatkan unsur perangkat kampung, terdiri dari kepala desa, ulama kampung dan perangkat adat lainnya. Penanganan kasus pelanggaran norma adat tidak jarang dilaksanakan dengan pembebanan hukum adat, berupa sanksi adat masing-masing daerah. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dalam mengatasi persoalan yang boleh jadi kerab dilakukan masyarakat dan di kemudian hari diharapkan tidak terjadi lagi.
Terkait dengan pemasalahan praktik kawin lari atau kerje naek merupakan persoalan hukum perdata di bidang perkawinan pada masyarakat Dabun Gelang. Perangkat adat di kecamatan, baik itu gecik, imem, petue, dan
rayat, sama-sama melakukan kerja sama dalam melakukan upaya hukum
terhadap praktik tersebut. Keempat perangkat adat tersebut memiliki peran yang relatif cukup besar dalam masyarakat Gayo pada umumnya. Gecik dalam bahasa Gayo sering disebut kepala desa, atau nama lain dari keuchik (Aceh), imem merupakan ulama kampung atau disebut juga dengan imam masjid, petue merupakan tokoh-tokoh adat memiliki pengaruh dalam sebuah kampung, dan
rayat merupakan perwakilan dari rakyat atau masyarakat.31
Menurut Samsul Bahri dan Sadim, masing-masing selaku kepala dusun di Kampung Pepalan, bahwa perangkat adat yang terdiri dari gecik, imem, petue,
30Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I’lām al-Muwāqi’īn ‘an Rabb al ‘Ālamīn, (Terj: A. Saefullah, Kamaluddin Sa’diyatulharamain), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000), hlm. 104: Ibnu Rusyd, Bidāyah al-Mujtahid, (Terj: Imam Ghazali Said dan Ahmad Zaidun), Jilid 3, (Jakarta: Pustaka Amani, 2007), hlm. 524: Lihat juga, Wahbah al-Zuḥailī, Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, (Terj: Abdul Hayyie al-Kattani, dkk), Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani Press, 2011), hlm. 506.
31Hasil wawancara dengan Ibrahim, Imem Kampung Pepalan Kecamatan Dabun Gelang Kabupatan Gayo Lues, tanggal 12 November 2019: Istilah-istilah tersebut dapat dirujuk di dalam, Mahmud Ibrahim & Hakim Aman Pinan, Syari’at dan Adat Istiadat, Jilid. 1, (Takengon: Yayasan Maqamam Mahmuda, 2010), hlm. 99-101.
dan rayat sama-sama melakukan kerja sama dalam penanganan kasus-kasus kawin lari ini berupa pemberian sanksi. Lankah-langkah yang dilakukan meliputi proses musyawarah dan penjatuhan sanksi. Musyawarah atau dalam
istilah fikih dawlah lebih dikenal dengan al-syūrā,32 model musyawarah ini juga
menjadi asas yang fundamental diterapkan dalam sistem hukum adat.
Dalam beberapa rujukan, dikemukakan bahwa makna paling umum dari istilah musyawarah adalah segala bentuk penyampaian pendapat di dalam satu perkumpulan, baik hasil pendapat itu diamalkan maupun tidak. Jadi, dalam makna umum, musyawarah tampak dan cenderung dimaknai longgar dari sudut keterikatan hasil pendapat itu. Sementara dalam makna yang paling khusus bahwa musyawarah yaitu ketentuan yang harus diamalkan sebagai hasil
keputusan jamaah.33
Konsep musyawarah dalam bagian dari model hukum diakui keberadaan dalam sistem hukum adat. Bahkan dalam kaitan dengan pemerintahan kampung juga menjadi bagian dari upaya yang umum dilakukan dalam menyelesaikan
permasalahan kampung. Musyawarah ialah salah satu tindakan yang wajib.34
Artinya, jalan musyawarah ini wajib diambil oleh seorang pemimpin, termasuk yang diambil oleh gecik-gecik di wilayah Kecamatan Dabun Gelang. Dengan begitu, cukup dipahami bahwa asas musyawarah di dalam hukum adat dan hukum Islam diakui keberadaannya dan dipandang sangat penting diterapkan di pemerintahan Kampung.
32Fikih Daulah bermakna hukum-hukum atau pemahaman hukum terkait dengan negara. Daulah dalam pengertian yang sederhana dimaknai sebagai negara. Lihat dalam, Alī Muḥammad al-Ṣallābī, al-Daulah al-Ḥadīṡah al-Muslimah: Da’āimuhā wa Waẓā’ifuhā, (Terj: Ali Nurdin), (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2017), hlm. 34.
33Taufīq Muḥammad al-Syāwī, Fiqh al-Syūrā wa al-Istisyārah, (Terj: Djamaluddin ZS), (Jakarta: Gama Insani Press, 2013), hlm. 1-2.
34Dalam Islam, muswayarah adalah perkara yang wajib diambil oleh seorang pemimpin di dalam menyelesaiakan masalah masyarakat. Lihat, Yūsuf al-Qaraḍāwī, Siyāsah al-Syar’iyyah, (Terj: Fuad Syaifudin Nur), (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2019), hlm. 140: Yūsuf al-Qaraḍāwī,
Min Fiqh al-Daulah fī al-Islām, (Terj: Kathur Suhardi), Edisi Baru, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar,
2018), hlm. 182: Lihat juga dalam, Nurcholish Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019), hlm. 656.
Khusus di kampung-kampung yang tersebar di Kecamatan Dabun Gelang Gayo Lues, model penanganan kasus-kasus adat juga ikut mengedepankan fungsi musyawarah, namun nuansa adatnya relatif sangat kental. Gecik atau keuchik (kepala desa) biasanya melakukan musyawarah dengan perangkat kampung, di antara tokoh perangkat kampung tersebut seperti
imem (imam masjid), petue (cerdik pandai), dan rayat (perwakilan dari
masyarakat). Keberadaan keempat unsur tersebut berfungsi sebagai anggota musyawarah untuk menemukan solusi-solusi atas praktik kawin lari (kerje
naek). Hasil musyawarah pada tahap akhir akan membebankan sanksi adat
kepada pelaku berupa 1 (satu) ekor kabing dan beberapa perlengkapannya.35
Menurut Abu Nipah, langkah musyawarah biasa dilakukan pemerintah kampung sebagai upaya menyelesaikan sengketa masyarakat, termasuk di dalam upaya penanganan kasus kawin lari. Gecik biasanya melibatkan tokoh-tokoh adat yang lain untuk menemukan pilihan-pilihan hukum yang bersifat solutif,
dan penyelesaiannya dengan jalur musyawarah adat.36 Demikian pula
disinggung oleh M. Nasir dan Ahmad, bahwa musyawarah adalah bagian dari model dan sekaligus menjadi salah satu yang ditempuh pemerintah kampung di dalam menyelesaikan peselisihan di dalam masyarakat, termasuk dalam
menetapkan sanksi bagi pelaku kawin lari.37 Jenis hukuman biasanya sanksi adat
berupa 1 (satu) ekor kambing yang harus diberikan oleh pihak laki-laki disertai dengan gula dan kopi, sementara di pihak perempuan wajib membawa beras
35Hasil wawancara dengan beberapa resonden, di antaranya dikemukakan oleh Husen dan Salidere, masing-masing selaku Ketua Badan Penyuluh Kampung dan Rayat Kampung Pepalan Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, tanggal 8 November 2019.
36Hasil wawancara dengan Abu Nipah, Gecik Kampung Blang Temung Kecamatan Dabun Gelang Kebupaten Gayo Lues, tanggal 12 November 2019.
37Wawancara dengan M. Nasir, Gecik Kampung Pepalan Kec. Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, tanggal 7 November 2019: Hasil wawancara dengan Ahmad, Gecik Kampung Sangir Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, tanggal 4 November 2019.
sebanyak 16 bambu serta bumbu masak kambing.38 Dengan begitu, dapat dipahami musyawarah upaya yang dilakukan perangkat adat dalam menangani kasus kawin lari.
Pemberian sanksi hukum berupa satu ekor kambing dan gula-kopi kepada pihak laki-laki dan 16 bambu besar plus bumbu masak kambing kepada wanita menjadi ketentuan umum yang berlaku bagi masyarakat dalam Kecamatan Dabun Gelang. Salah satu regulasinya dapat dilihat pada Bab II tentang Peraturan Umum, Pasal 4 ayat (8) Qanun Kampung Panglime Linting Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues No. 01 Tahun 2018 tentang Peraturan-Peraturan Kampung. Dalam pasal tersebut, dianyatakan bahwa “Apabila ada pernikahan lari akan dikenakan denda, berupa: a. Pihak laki-laki membawa satu ekor kambing dan gula kopi; b. Pihak perempuan membawa
beras 16 bambu serta bumbu masak kambing”.39
Bunyi pasal di atas terbaca jelas bahwa pelaku nikah atau kawin lari diberi hukuman adat, baik kepada laki-laki yang melarikan perempuan itu maupun pada perempuan sebagai pasangannya. Pembebanan hukum pada kedua pelaku karena keduanya telah melanggar hukum adat. Meskipun pihak yang melarikan adalah laki, namun keinginan kawin lari itu tidak hanya dari laki-laki saja, tetapi juga perempuan.
Jenis hukuman adat yang sudah ditetapkan sebagaimana Qanun Kampung Panglime Linting tersebut sebetulnya sama dengan jenis hukuman pada kampung-kampung lain yang ada di Kecamatan Dabun Gelang. Hanya saja, ditemukan ada beberapa kampung di Kecamatan Dabun Gelang yang belum membuat qanun kampung secara tersendiri, sehingga dilakukan melalui
38Wawancara dengan M. Nasir, Gecik Kampung Pepalan Kec. Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, tanggal 7 November 2019: Hasil wawancara dengan Ahmad, Gecik Kampung Sangir Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, tanggal 4 November 2019.
39Data Diperoleh dari Kantor Gecik/Kepala Desa Kampung Panglime Linting, Kecamatan Dabun Gelang.
proses dan mekanime musyawarah, sementara hukuman mengacu pada ketetapan adat, meskipun tidak tertulis.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Dabun Gelang, kasus yang terjadi pada tahun 2017 (tiga kasus), tahun 2018 (empat kasus), dan tahun 2019 (dua kasus), secara keseluruhan
diberikan hukuman adat.40 Penyelesaiannya secara keseluruhan diserahkan
kepada hukum adat gampong masing-masing sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat (8) Qanun Kampung Panglime Linting Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues No. 01 Tahun 2018 tentang Peraturan-Peraturan Kampung.
D. Pandangan Hukum Islam terhadap Praktik Kawin Lari (Kerje Naek) di