BISA DIKENDALIKAN POTENSIAL BISA DIKENDALIKAN DIKENDALIKAN TIDAK BISA
B. Upaya Promotif dan Preventif PTM 1. Upaya promotif
PTM merupakan penyakit yang dapat dicegah, sehingga promosi kesehatan di Puskesmas/FKTP memiliki peran yang penting dalam upaya penanggulangannya. Promosi kesehatan dapat dilakukan dengan
62
berbagai cara, diantaranya melalui advokasi, sosialisasi, diseminasi informasi dan edukasi dengan menggunakan media promosi, seminar/workshop dengan melibatkan lintas program/lintas sektor. Promosi kesehatan dilaksanakan di masyarakat dengan mengajak masyarakat berperilaku “CERDIK”, yaitu menuju masa muda sehat dan hari tua nikmat tanpa PTM, yang secara harfiah adalah:
C : Cek kesehatan secara berkala E : Enyahkan asap rokok
R : Rajin aktivitas fisik
D : Diet sehat dengan kalori seimbang I : Istirahat yang cukup
K : Kendalikan stres
Promosi kesehatan juga dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat melalui Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM), seperti Pos Pembinaan Terpadu PTM (Posbindu PTM). Pada Posbindu PTM dilaksanakan kegiatan deteksi dini faktor risiko PTM dan pemantauan rutin terhadap faktor risiko yang ditemukan. Pelaksanaan kegiatan di posbindu mengacu pada buku pedoman posbindu yang telah ada, dengan pembinaan dan pengawasan dari Puskesmas.
Selain sebagai pembina dan pengawas Posbindu PTM, Puskesmas/FKTP juga merupakan tempat rujukan kasus bagi Posbindu PTM. Berikut Alur Pengendalian PTM mulai dari Posindu PTM, Puskesmas dan Rumah Sakit.
Alur. 5
Pengendalian PTM mulai dari Posbindu PTM, Puskesmas dan Rumah Sakit
FKRTL Melaporkan dan
berkoordinasi Pembinaan
Dokter dan tenaga medis melakukan pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium sederhana, penegakkan diagnosis, serta tatalaksana
kasus PTM (PELAYANAN TERPADU PTM/PANDU PTM)
Melakukan deteksi dini FR PTM, monitoring, konseling
dan aktivitas bersama
Melakukan rujukan kasus bila ada kerusakan organ target
atau penyakit penyerta Melakukan upaya rehabilitatif
dan paliatif berbasis masyarakat Melakukan pelayanan spesialistik sesuai permasalahan kesehatan Melakukan rujuk balik Perilaku Hidup CERDIK Perilaku PATUH Menjadi Peserta JKN FKTP LAINNYA PUSKESMAS FKRTL Melakukan deteksi dini FR PTM, monitoring, konseling dan aktivitas bersama Melakukan rujukan
Puskesmas/FKTP sesuai kriteria
PTM memiliki faktor risiko bersama, yaitu: diet tidak sehat (tinggi gula, garam dan lemak, serta rendah serat), kurang aktivitas fisik, merokok dan konsumsi alkohol.
Jika faktor risiko tersebut tidak dicegah, maka dapat menimbulkan faktor risiko fisiologi yaitu hipertensi, dislipidemia, kadar gula darah tinggi dan berat badan lebih/obesitas. Dengan mengetahui faktor risiko lebih dini, maka intervensi yang tepat dapat dilakukan sehingga PTM dan/atau komplikasinya dapat dicegah sedini mungkin.
Faktor risiko perilaku dan faktor risiko fisiologi PTM dapat dikendalikan melalui kegiatan deteksi dini dan tatalaksana dini sehingga tidak berlanjut menjadi PTM dan atau komplikasinya. Upaya deteksi dini dapat dilaksanakan di masyarakat secara perorangan, kelompok dan massal, baik diluar gedung maupun dalam gedung puskesmas/FKTP secara terintegrasi.
Hubungan antara faktor risiko bersama dan PTM terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar. 5 Faktor Risiko PTM
Puskesmas/FKTP sebagai pembina dan rujukan bagi posbindu PTM, berperan memberikan penyuluhan kesehatan dan konseling serta penatalaksanaan penyakit. Penyuluhan kesehatan dan konseling merupakan bagian dari tatalaksana dini untuk pengendalian faktor risiko dan penyakit tidak menular.
Berikut adalah panduan dalam memberikan penyuluhan kesehatan maupun konseling kepada masyarakat (gambar 6).
Sehubungan dengan pengendalian faktor risiko merokok alur. 6 digunakan sebagai pendidikan kesehatan dan konseling untuk berhenti merokok.
Merokok
Diet tidak sehat
Kurang aktivitas fisik Konsumsi alkohol
Penyakit jantung & pembuluh darah
Kanker
Diabetes Melitus
Penyakit pernapasan kronik dan Gangguan Imunologi
64
Gambar. 6
KIE dan Konseling Kesehatan
Cek Kesehatan Secara Berkala
Mendorong masyarakat untuk mau memeriksakan diri dengan melakukan deteksi dini secara berkala
Lakukan pemeriksaan di UKBM dan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
Enyahkan Asap Rokok
Mendorong masyarakat untuk tidak mulai merokok
Manganjurkan perokok untuk berhenti merokok melalui upaya berhenti merokok
Mendorong masyarakat untuk berhenti menggunakan tembakau dalam bentuk lain
Rajin Aktivitas Fisik
Diet Sehat
Konsumsi gula tidak melebihi empat sendok makan perhari
Kurangi garam saat memasak (< 5 gram /1 sendok teh perhari)
Batasi konsumsi makanan olahan dan cepat saji
Total konsumsi lemak 5 sendok makan perhari. Batasi daging berlemak, lemak susu, dan minyak goreng, ganti minyak sawit dan minyak kelapa dengan zaitun, kedelai, jagung
Konsumsi 5 porsi (400-500 gram) buah dan sayuran perhari. Satu porsi setara dengan 1 buah jeruk, apel, mangga, pisang atau 1 mangkok sayuran dimasak
Konsumsi ikan sedikitnya 3 kali perminggu
Kendalikan Stres
Berpikir positif, tanamkan sikap optimis, dengarkan musik, relaksasi (misalnya dengan pemijatan), seleksi bahan bacaan, bangun hubungan positif dengan lingkungan sekitar, meditasi, mendekatkan diri pada sang pencipta
Berhenti Minum Alkohol
Tidak mengonsumsi alkohol
Tidak menyarankan masyarakat mengonsumsi alkohol dengan alasan kesehatan
Istirahat Cukup
Istirahat, tidur yang cukup serta berkualitas
Tidur sesuai jumlah jam yang dianjurkan, yaitu: orang dewasa sebanyak 7-9 jam sehari, remaja 8-10 jam
Lakukan aktifitas fisik atau latihan fisik dengan baik, benar, terukur dan teratur sedikitnya 30 menit perhari (lima kali dalam seminggu)
2. Upaya Preventif
Puskesmas/FKTP sebagai penanggung jawab upaya kesehatan terdepan mempunyai dua fungsi yaitu penyelenggara Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan tingkat pertama di wilayah kerjanya. Dalam hal pengendalian PTM, Puskesmas/FKTP berperan melakukan upaya pencegahan primordial, primer, dan sekunder.
Pencegahan Primordial merupakan upaya mencegah terjadinya faktor risiko penyakit atau mempertahankan keadaan sehat pada masyarakat. Tujuan dari pencegahan primordial adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup masyarakat yang dapat meningkatkan faktor risiko penyakit. Kunci keberhasilan pencegahan primordial adalah adanya dukungan kebijakan dari pemerintah, seperti adanya aturan mengenai Kawasan Tanpa Rokok (KTR), aturan yang mendukung terbentuknya kondisi lingkungan yang kondusif untuk kegiatan aktifitas fisik bersama, dan lain-lain.
Pencegahan Primer adalah upaya mengendalikan dan menghentikan faktor risiko fisiologi yang telah ada pada seseorang, sehingga tidak berlanjut menjadi penyakit. Upaya pencegahan primer dilakukan di Puskesmas/FKTP melalui kegiatan promosi dan edukasi kesehatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam menjaga kesehatan. Pada akhirnya hal ini diharapkan akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Perilaku hidup "CERDIK" yang akan dijelaskan kemudian merupakan contoh penerapan pencegahan primer.
Pencegahan Sekunder adalah upaya menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah terjadinya komplikasi. Sasarannya adalah orang
Cegah Gangguan Penglihatan dan Pendengaran
Pada pasien yang mendapat terapi obat, jelaskan hal-hal sebagai berikut:
Cara minum obat di rumah
Jelaskan cara kerja, dosis dan jumlah obat yang diminum
Perbedaan antara pemakaian obat yang harus diminum untuk jangka panjang (misalnya obat hipertensi) dan jangka pendek (misalnya pelega untuk mengatasi asma)
Efek samping obat
Minum obat secara teratur seperti yang disarankan
Pentingnya menjaga kecukupan obat-obatan
Memastikan pemahaman pasien sebelum meninggalkan tempat pengambilan obat
Konsultasikan ke dokter jika ada keluhan setelah minum obat
Patuh Terhadap Pengobatan
Gunakan kacamata anti Ultra Violet (UV) saat keluar rumah terutama di tempat - tempat dengan kadar UV tinggi untuk mencegah gangguan penglihatan
Hindari suara bising atau Gunakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi yang berisiko terhadap paparan bising untuk mencegah gangguan pendengaran
Hindari penggunaan earphone/headset (perangkat telinga) yang terlalu keras (melebihi 60% dari volume maksimal) dan lama (lebih dari 60 menit/hari).
66
yang sudah menderita penyakit. Pada tahap ini perlu dilakukan diagnosis dini, misalnya dengan kegiatan deteksi dini untuk menemukan kasus sehingga pemberian pengobatan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.
Gambar. 7
Faktor Risiko dan Tingkatan Pencegahan PTM