BAB II KAJIAN TEORITIK
D. Pencegahan Pergaulan Bebas
2. Upaya Refresif
Upaya refresif ini pemberian sanksi atau hubungan ketika seseorang melakukan pelanggaran. Tindakan refresif pada dasarnya merupakan pencegahan setelah terjadi pelanggaran. Metode tindakan refresif yang selama ini dijalankan oleh aparat keamanan/Polisi/ ABRI cukup memadai, tetapi beberapa hal di bawah ini menurut Dadang Hawari, kiranya perlu dipertimbangkan, antara lain sebagai berikut:45 a. Aparat keamanan/penegak hukum perlu ditingkatkan
kewibawaannya.
b. Sarana dan prasarana (termasuk personil) kemtibmas perlu ditingkatkan.
c. Untuk mengatasi perkelahian massal, cukuplah personil aparat keamanan diperlengkapi dengan tongkat karet/pentungan. Penggunaan senjata api sebaiknya dihindari, sebab yang dihadapi adalah adalah remaja, anak sekolah/anak didik, bukan kriminal ataupun kaum perusuh.
d. Mereka yang tertangkap hendaknya diperlakukan bukan sebuah kriminal ataupun sebagai perusuh, tetapi sebagai anak nakal yang
45
TB. Aat Syafaat dan Sohari Sahrani, Peranan Peranana Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 2008, hlm 142
perlu “hukuman” atas perilaku menyimpangnya itu. Selanjutnya mereka diberi terapi edukatif.
e. Dalam menghadapi perkelahian massal ini hendaknya petugas tetap berkeplaa dingin, cukup pengendalian diri, tidak bertindak agresif dan emosional.
f. Diupayakan pada mereka yang tertangkap dapat dilakukan pemeriksaan awal yang membedakan mana yang berkepribadian antisosial yang merupakan “biang kerok”, dan mana yang hanya ikut-ikutan. Untuk maksud ini bantuan psikolog/ psikiater diperlukan penilaiannya. Pembedaan ini perlu guna tindakan selanjutnya dalam upaya terapi dan pemantauan.
g. Selama mereka dalam “tahanan”, hendaknya petugas mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan/pukulan dan hal-hal lain yang tidak manusiawi. Sebab, bila hal ini dilakukan dapat mengakibatkan “rasa dendam” atau “mental breakdown” pada remaja/anak jalanan.
Dari teori di atas, upaya refresif adalah sebuah tindakan yang dilakukan saat pergaulan bebas dan kenakalan remaja telah dilakukan dan bersifat menyimpang. Dalam hal ini, pihak berwajib seperti polisi/ABRI mempunyai kewajiban untuk menghentikan kenakalan remaja dengan melakukan upaya ini. Tidak hanya polisi/ABRI saja melainkan peran guru di sekolah juga dibutuhkan. Selain di lingkungan sekolah, pihak orangtua juga mempunyai kewajiban yang sama ketika anak berada di
rumah. Dalam menerapkan upaya refresif ini hal yang dilakukan seperti memberikan hukuman akan tetapi hukuman tersebut bertujuan memberikan efek jera terhadap anak dan remaja agar kenakalan dan pergaulan bebas dapat diturunkan dan dicegah.
Ruang lingkup tindakan refresif meliputi:46
a. Razia terhadap tempat-tempat atau barang-barang yang dapat dijadikan tempat atau saat berbuat nakal oleh para remaja.
b. Penyidikan atau pengusutan dan pemeriksaan terhadap remaja yang berbuat nakal.
c. Penahanan sementara untuk kepentingan pemeriksaan dan perlindungan bagi remaja.
d. Penuntutan dan peradilan terhadap perkara yang melanggar hukum. Tindakan refresif ini bersifat menekan, mengekang, dan menahan sehingga diharapkan dengan tindakan ini para pelaku juvenile deliquency berpikir dua kali untuk melakukan perbuatan-perbuatan asosial. Bila dipandang perlu, tindakan hukuman kepada mereka bisa dijalankan, yaitu berupa: 47
a. Sanksi hukum.
b. Hukuman untuk menegakkan disiplin berupa berupa tindakan fisik. c. Hukuman untuk menegakkan disiplin berupa sanksi administratif.
46 TB. Aat Syafaat dan Sohari Sahrani, Peranan Peranana Pendidikan Agama Islam
dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), (Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka,
2008), hlm 142
47 TB. Aat Syafaat dan Sohari Sahrani, Peranan Peranana Pendidikan Agama Islam
dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), (Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka,
Dalam hal ini, tindakan refresif yang dilakukan dengan memberikan hukuman dan bimbingan bertujuan agar kenakalan dan pergaulan bebas yang telah terjadi tidak terulang lagi. Apabila kenakalan remaja melanggar hukum, maka penanganan atau pemberian hukuman akan dilaksanakan oleh pihak berwajib. Jika hal itu telah dilakukan, maka anak akan dikembalikan kepada orangtua agar orangtua bisa memberi hukuman dan bimbingan sesuai dengan kebutuhan anak. Selain itu juga, pihak sekolah juga berhak untuk melakukan bimbingan di sekolah. Dari lingkungan masyarakat, lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang telah membimbing anak dalam upaya refresif ini, maka kesempatan anak untuk mengulangi melakukan pergaulan bebas dan kenakalan remaja akan menyempit.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tindakan refresif bisa dilakukan dengan pemberian hukuman. Akan tetapi hukuman yang diberikan ada berbagai macam. Hukuman tersebut bertujuan untuk memberikan rasa jera agar anak dan remaja yang melakukan pergaulan bebas serta bentuk kenakalan remaja lainnya tidak akan mengulangi hal yang sama.
Sanksi ini diberikan bukan untuk menakut-nakuti anak, apalagi untuk menyiksa anak. Sanksi hukum di sini ialah sanksi yang sifatnya memberi efek jera sehingga anak nantinya tidak berani lagi melakukan pelanggaran. Hukuman berupa fisik, misalnya “push-up” ataupun penggundulan dan sebangsanya, dapat diberikan guna menegakkan
disiplin anak, sepanjang hal itu tidak sampai menimbulkan cedera/cacat fisik. Demikian pula hanya dengan hukuman administratif dapat diberikan untuk menegakkan disiplin, misalnya:48
a. Berupa surat peringatan. b. Skorsing.
c. Denda
d. Dikeluarkan dari sekolah.
e. Pemberian/pembebanan tugas-tugas sekolah/pelajaran. f. Dan lain-lain sesuai dengan ketentuan/peraturan sekolah.
Hukuman atau efek jera yang diberikan kepada anak dan remaja pada upaya ini mempunyai batasan-batasan tersendiri. Hukuman yang dilakukan bukan lah hukuman dengan perlakuan fisik secara umumnya. Seperti yang telah dijelaskan pada teori di atas, hukuman secara fisik bisa diganti dengan hukuman bentuk lain. Hukuman bentuk lain itulah yang diharapkan bisa meminimalisir pergaulan bebas dan kenakalan anak. Bentuk hukuman yang dimaksud adalah seperti diberikannya surat peringatan terhadap anak, diberikan skorsing atau sementara waktu diliburkan dari kegiatan sekolah, dipungut denda dan yang paling parah adalah dikeluarkan dari lingkungan sekolah.
48 TB. Aat Syafaat dan Sohari Sahrani, Peranan Peranana Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Delinquency), Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 2008, hlm 145
Terapi berupa hukuman baik fisik maupun administratif tersebut dapat pula dijalankan oleh orangtua di rumah, misalnya: 49
a. Dicabut haknya untuk mengemudi/motor dalam jangka waktu tertentu. b. Pembatasan pergaulan.
c. Pembatasan fasilitas dan dana/uang. d. Dilarang keluar malam/keluar rumah. e. Dan lain sebagainya.
Dalam tindakan refresif, orangtua dapat memberikan hukuman fisik maupun administratif yang bisa dilakukan di rumah. Dalam hal ini, orangtua memberikan efek jera terhadap anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara pembatasan pergaulan dan fasilitas terhadap anak dalam waktu yang ditentukan.