Usaha pencegahan pencemaran air bukan merupakan proses yang sederhana, tetapi melibatkan berbagai faktor sebagai berikut:
1. Air limbah yang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih dahulu sehingga memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.
2. Menentukan dan mencegah terjadinya interaksi sinergisma antarpolutan pemerintah.
3. Menggunakan bahan yang dapat mencegah dan menyerap minyak yang tumpah di perairan
4. Tidak membuang air limbah rumah tangga langsung ke dalam perairan. Hal ini untuk mencegah pencemaran air oleh bakteri.
57 5. Limbah radioaktif harus diproses dahulu agar tidak mengandung bahaya radiasi dan
barulah dibuang di perairan.
6. Mengeluarkan atau menguraikan deterjen atau bahan kimia lain dengan menggunakan aktifitas mikroba tertentu sebelum dibuang ke dalam perairan umum
Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai, pencegahan pencemaran air sungai dilakukan melalui:
a. Penetapan daya tampung beban pencemaran;
b. Identifikasi dan inventarisasi sumber air limbah yang masuk ke sungai; c. Penetapan persyaratan dan tata cara pembuangan air limbah;
d. Pelarangan pembuangan sampah ke sungai; e. Pemantauan kualitas air pada sungai; dan f. Pengawasan air limbah yang masuk ke sungai.
7.4 Standar Baku Air Limbah agar Limbah Industri /Swasta dapat masuk ke IPAL Bojongsoang
Untuk setiap limbah industri atau perusahaan swasta yang ingin ikut membuang limbahnya melalui IPAL Bojongsoang harus dilakukan pengecekan kualitas air tersebut sebelum dibuang melalui open channel dan masuk ke sistem IPAL Bojongsoang. Hal ini perlu dilakukan agar standar baku mutu air hasil olahan IPAL tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk baku mutu air limbah industri sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014, Usaha dan/atau kegiatan yang baku mutu air limbah yang diatur dalam terdiri dari 42 jenis industri yang meliputi: industri pelapisan logam dan galvanis; industri penyamakan kulit; industri minyak sawit; industri karet; industri tapioka; industri monosodium glutamat dan inosin monofosfat; industri kayu lapis; industri pengolahan susu; industri minuman ringan; industri sabun, deterjen dan produk-produk minyak nabati; industri bir; industri baterai timbal asam; industri pengolahan buah-buahan dan/atau sayuran; industri pengolahan hasil perikanan; industri pengolahan hasil rumput laut; industri pengolahan kelapa; industri pengolahan daging; industri pengolahan kedelai; industri pengolahan obat tradisional atau jamu; industri peternakan sapi dan babi; industri minyak goreng dengan proses basah
58 dan/atau kering; industri gula; industri rokok dan/atau cerutu; industri elektronika; industri pengolahan kopi; industri gula rafinasi; industri Petrokimia Hulu; industri rayon; industri keramik; industri asam tereftalat; polyethylene tereftalat; industri petrokimia hulu; industri oleokimia dasar; industri soda kostik/khlor; industri pulp dan kertas; industri ethanol; industri baterai kering; industri cat; industri farmasi; industri pestisida; industri pupuk; industri tekstil.
Sedangkan untuk industri yang menghasilkan limbah yang mengandung bahan berbahaya dan bercun (B3) pengelolaanya harus mengikuti Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun dimana pengolahan limbah B3 wajib dilaksanakan oleh Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 dan dalam hal setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat tidak mampu melakukan sendiri, pengolahan Limbah B3 diserahkan kepada pengolah Limbah B3. Pengolahan limbah B3 dilakukan dengan cara:
a. Termal; yang meliputi emisi udara, efisiensi pembakaran dengan nilai paling sedikit mencapai 99,99% dan efisiensi penghancuran dan penghilangan senyawa principle organic hazardous constituents (POHCs) dengan nilai paling sedikit mencapai 99,99%.
b. Stabilisasi dan solidifikasi berdasarkan analisis organik dan anorganik c. Cara lain sesuai perkembangan teknologi.
Pengolahan limbah B3 dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan teknologi dan standar lingkungan hidup atau baku mutu lingkungan hidup. Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 yang akan melakukan Pengolahan Limbah B3 wajib memiliki izin Pengelolaan Limbah B3 untuk kegiatan Pengolahan Limbah B3. Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 yang telah memperoleh persetujuan pelaksanaan uji coba Pengolahan Limbah B3 wajib memiliki penetapan penghentian kegiatan jika uji coba gagal, bermaksud menghentikan usaha dan/atau, bermaksud mengubah penggunaan atau memindahkan lokasi dan/atau fasilitas uji coba.
59
BAB VIII
KESIMPULAN
1. Pemeliharaan IPAL sangat penting dilakukan karena mengingat perannya dalam menjaga kesehatan lingkungan dan masyarakat.
2. Sebagai dampak dari Operasi dan Pemeliharaan yang tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya maka kinerja kolam pengolahan belum optimal sesuai dengan maksuda dan tujuan pengolahan air limbah (IPAL) yaitu untuk mereduksi (mengeliminasi) zat-zat pencemar sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian dan perikanan, yang akhirnya dikembalikan kebadan air penerima (sungai).
3. Personil yang terlibat harus detail dalam memahami dan memelihara agar instalasi ini senantiasa dalam kondisi yang baik. Pemeliharaan harus dilakukan secara periodik sesuai dengan suatu standar yang spesifik.
4. Pengembangan IPAL sangat disarankan sebagai solusi untuk permasalahan kapasitas IPAL yang tersedia. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun IPAL baru di wilayah Bandung Barat.
60
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pambdg.co.id/new/index.php?option=com_content&view=article&id=85&Ite mid=97
https://www.scribd.com/doc/30481815/Laporan-Hasil-Studi-Lapang-ipal-Bojongsoang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang. 28 Aprl 2015.
Siregar, sohuturon. Tesis : Studi Sistim Operasi dan pemeliharaan Instalasi pengolahan Air Limbah (Studi kasus IPAL Bojongsoang Kota Bandung). 2004. Universitas diponegoro. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 38 Tahun 2011 Tentang Sungai
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah
Peraturan Gubernur Jawa Barat No. 39 Tahun 2000 Tentang Peruntukan Air dan Baku Mutu Air Pada Sungai Citarum Dan Anak-Anak Sungainya Di Jawa Barat
http://www.artikellingkunganhidup.com/cara-pengelolaan-air-mencegah-pecemaran-air.html http://s3.amazonaws.com/ppt-download/al-9pedomanpengoperasiandanpemeliharaanipal-120227030934-phpapp01.pdf?response-content disposition=attachment&Signature=2P68evI7y7B2cP91covbD4SVa38%3D&Expires=14 30573382&AWSAccessKeyId=AKIAIA7QTBOH2LDUZRTQ http://www.deq.louisiana.gov/portal/Portals/0/remediation/madisonville-o&m.pdf http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/544/jbptitbpp-gdl-leninurhay-27183-1-2007ts-1.pdf http://eprints.undip.ac.id/12051/1/2004MTS3375.pdf http://www.airlimbahku.com/2006/04/imhoff-tank-ipal-awal-di-indonesia.html