• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya-Upaya Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

Dalam dokumen DASAR DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN ISBN (Halaman 39-43)

PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

D. Upaya-Upaya Penanggulangan Pencemaran Lingkungan

Menurut Wisnu (2001) usaha untuk menanggulangi pencemaran ada 2, yaitu:

1. Penanggulangan secara Non-teknis

Penanggulangan secara non-teknis yaitu usaha atau cara untuk menanggulangi pencemaran lingkungan dengan cara membuat peraturan perundangan-undangan agar dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan.

a. Penyajian Informasi Lingkungan (PIL)

PIL adalah gambaran awal kegiatan yang akan diusulkan. PIL diberikan sebelum melaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Berdasarkan penyajian informasi lingkungan ini dapat menentukan dilaksanakan atau tidak Analisis Mengenai Dampak Lingkungan(AMDAL) yang diusulkan. Secara umum PIL memuat tentang:

1) Kegiatan yang diusulkan

2) Kondisi lingkungan yang akan dianalisa

3) Dampak yang mungkin terjadi akibat kegiatan yang diusulkan serta tindakan yang direncanakan untuk mengendalikannya

b. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

AMDAL adalah pembahasan tentang beberapa masalah rencana kegiatan yang diusulkan. AMDAL bertujuan untuk memperkirakan dampak yang mungkin terjadi sebagai akibat dari suatu kegiatan atau proyek pembangunan yang direncanakan. Hal yang harus diketahui sebelum melakukan AMDAL yaitu perencanaan kegiatan dan keadaan lingkungan sebelum ada kegiatan. Hal tersebut harus diketahui untuk menjadi patokan mengukur pencemaran yang akan terjadi dan untuk membandingkan keadaan sebelum dan sesudah ada kegiatan. Hasil yang ideal akan didapatkan jika tidak terjadi dampak pencemaran lingkungan, dampak tersebut hendaknya dampak positif. Artinya, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar.

c. Perencanaan Kawasan Kegiatan Industri dan Teknologi

Perencanaan kawasan kegiatan industri dan teknologi dilakukan agar jika terjadi pencemaran lingkungan dari kegiatan dapat dipantau dengan cepat dan penanggulangannya dapat dilakukan secara terpadu, serta daya dukung alam lingkungannya tetap terjamin bagi kelangsungan hidup manusia.

Perencanaan kawasan yang baik harus mempunyai surat ijin kegiatan industri dan teknologi untuk menerapkan peraturan perundangan-undangan yang telah berlaku.

d. Pengaturan dan Pengawasan Kegiatan

Pengaturan dan pengawasan kegiatan dilakukan agar persyaratan keselamatan kerja dan keselamatan lingkungan dapat dipenuhi dengan baik sehingga kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan dapat

diminimalkan. Sebagai contoh ditetapkannya UU No. 4 tahun 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, penetapan peraturan menteri kesehatan RI nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tanggal 3 september 1990 tentang persyaratan kualitas air minum, surat keputusan menteri negara KLH nomor KEP-03/MENKLH/H/1991 tanggal 1 pebruari 1991 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi.

e. Menanamkan Perilaku Disiplin

Perilaku disiplin sangat penting karena dengan disiplin kita dapat menjaga lingkungan dengan baik. Kata disiplin mudah diucapkan namun sulit dilakukan bagi orang yang tidak terbiasa melakukannya. Misalnya budaya membuang sampah disungai. Sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai manusia untuk menjaga lingkungan sekitar. Segenap lapisan masyarakat dituntut untuk berdisiplin, tidak membuang limbah sembarangan yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Penanaman perilaku disiplin hendaknya ditanamkan sejak dini kepada penerus bangsa.

2. Penanggulangan Secara Teknis

Penanggulangan secara teknis adalah lanjutan dari penanggulangan secara non-teknis. Kriteria yang digunakan untuk memilih dan menentukan cara yang akan digunakan dalam penanggulangan secara teknis tergantung pada faktor berikut:

a. Mengutamakan keselamatan lingkungan b. Teknologinya telah dikuasai dengan baik

c. Secara teknis dan ekonomis dapat diperanggungjawabkan.

Berdasarkan kriteria diatas diperoleh beberapa cara penanggulangan secara teknis sebagai berikut:

a. Mengubah Proses

Mengubah proses bertujuan untuk menghindari pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh bahan buangan (limbah) yang berupa zat-zat kimia.

Sebagai contoh pada industri pengolahan bahan nuklir. Untuk mendapatkan unsur uranium dari batuan uranium digunakan serangkaian proses yang melibatkan penggunaan zat kimia. Pemakaian zat kimia dapat mencemari lingkungan. Sebagai ganti zat kimia, telah dipikirkan pemakaian bakteri tertentu untuk memecah batuan uranium yang tidak membahayakan lingkungan.

b. Mengganti Sumber Energi

Sumber energi yang biasa digunakan pada kegiatan industri dan teknologi adalah bahan bakar fosil, baik minyak maupun batu bara. Pemakaian bahan bakar fosil dapat menimbulkan pencemaran udara berupa gas SO2, NO2, H2S dan lain sebagainya. Hal ini dapat dikuragi dengan bahan bakar LNG (Liquified Natural Gases) yang menghasilkan gas buangan yang lebih bersih.

Contoh dengan memanfaatkan sumber panas bumi, namun tidak semua

tempat ada sumber panas bumi (geotermal). Kalaupun ada mungkin tidak memadai untuk keperluan industri dan teknologi. Cara lain adalah dengan pemakaian energi nuklir pada Pusat Statistik Tenaga Nuklir (PLTN). Bahan bakar fosil menimbulkan pencemaran udara dan persediaan di dunia makin menipis dan suatu saat akan habis.

c. Mengelola limbah

Secara umum tingkatan proses pengolahan limbah sebagai berikut:

1) Pengolahan Awal (Primary Waste Treatment)

Bahan buangan organik dan bahan buangan anorganik dipisahkan dan ditampung, dan pada tahap ini juga dilakukan pemisahan bahan buangan yang bisa didaur ulang dan tidak bisa didaur ulang. Bahan buangan berupa limbah cair, limbah ditampung dulu pada suatu bak besar dan didiamkan beberapa waktu sampai kotoran mengendap atau mengapung sehingga dapat dipisahkan. Bila sudah didapatkan cairan yang “bersih” maka cairan tersebut dapat dibuang kelingkungan dan telah memenuhi syarat baku mutu limbah cair yang telah ditentukan. Bila bahan buangan belum “bersih” maka pengolahan dilanjutkan ke proses selanjutnya.

2) Pengolahan Lanjutan (Secondary Waste Treatment)

Limbah buangan yang belum “bersih” ditambahkan mikroorganisme untuk mendegradasi bahan buangan (terutama bahan buangan organik), agar BOD untuk mikroorganisme dapat dipenuhi dengan baik, pada proses ini dialirkan udara untuk mencukupi kebutuhan oksigen. Oksigen yang cukup akan membentu mempercepat degradasi oleh mikroorganisme. Pada proses dilakukan pengendapan jika diperlukan pemisahan antara cairan dan padatan yang larut atau melayang. Penambahan zat kimia dilakukan untuk membantu proses pengendapan. Namun penambahan zat kimia tidak boleh mengakibatkan masalah pada akhir pembuangan.

3) Pengolahan Akhir (Advanced Waste Treatment)

Pada proses akhir ini diharapkan limbah sudah “bersih” sehingga dapat dibuang kelingkungan. Namun, biasanya masih terdapat bahan kimia berbahaya yang terlarut dan dapat mencemari lingkungan. Bahan kimia bahaya yang terlarut dapat dikurangi dengan menambahkan karbon aktif untuk mengadsorpsi bahan bahaya sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan.

Cara lain dapat dilakukan dengan memakai mesin penukar yang dimasukkan ke dalam air limbah yang belum “bersih” untuk menangkap bahan-bahan terlarut.

d. Menambah Alat bantu

Beberapa alat bantu yang digunakan untuk menanggulangi pencemaran lingkungan antara lain:

1) Filter Udara

Filter udara untuk menangkap abu atau partikel yang keluar pada cerobong atau stack, agar hanya udara bersih yang keluar dari cerobong.

Filter udara harus slalu dikontrol, kalau sudah penuh dengan abu/debu harus segera diganti dengan yang baru.

2) Pengendap Siklon

Pengendap siklon atau Cyclone Seperators adalah pengendap debu/abu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara/gas buangan yang sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel yang relatif “berat” akan jatuh kebawah. Ukuran partikel/debu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5u-40u. Makin besar ukuran debu makin cepat pertikel diendapkan.

3) Filter Basah

Prinsip kerja filter basah (scrubbers/wet collectors) adalah membersihkan udara yang kotor dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat.

Pada saat udara yang berdebu kontak dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air turun ke bawah. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bisa digabungkan dengan prinsip pengendap siklon dinamakan pengendap siklon filter basah.

4) Pengendap Sistem Gravitasi

Alat ini digunakan untuk membersihkan udara kotor yang ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 u atau lebih. Cara kerja pengendap sistem gravitasi adalah mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan ssecara tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul dibawah akibat gaya gravitasi. Kecepatan pengendapan tergantung pada dimensi alatnya.

5) Pengendap Elektrostatik

Alat pengendap elektrostatik diguanakan untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah yang relatif besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan udara dengan cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif bersih. Alat ini menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25-100 kv. Alat ini berupa tabung silinder, dindingnya diberi muatan positif sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif.

Adanya perbedaan tegangan cukup besar akan menimbulkan corona discharge di daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah silinder dan kemudian terhembus keluar.

BAB IV

MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR

Dalam dokumen DASAR DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN ISBN (Halaman 39-43)