BAB IV PROSES PENDATAAN ELEKTROK KARTU TANDA
C. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan dalam
Tuntutan masyarakat pada era desentralisasi terhadap pelayanan publik yang berkualitas akan semakin menguat. Oleh karena itu, kredibilitas pemerintah sangat ditentukan oleh kemampuannya mengatasi berbagai permasalahan di atas sehingga mampu menyediakan pelayanan publik yang memuaskan masyarakat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dari sisi mikro, hal-hal yang dapat diajukan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 41
1. Penetapan Standar Pelayanan.
Standar pelayanan memiliki arti yang sangat penting dalam pelayanan publik. Standar pelayanan merupakan suatu komitmen penyelenggara pelayanan untuk menyediakan pelayanan dengan suatu kualitas tertentu yang ditentukan atas dasar perpaduan harapan-harapan masyarakat dan kemampuan penyelenggara pelayanan. Penetapan standar pelayanan yang dilakukan melalui proses identifikasi jenis pelayanan, identifikasi pelanggan, identifikasi harapan pelanggan, perumusan visi dan misi pelayanan, analisis proses dan prosedur, sarana dan prasarana, waktu dan biaya pelayanan.
Proses ini tidak hanya akan memberikan informasi mengenai standar pelayanan yang harus ditetapkan, tetapi juga informasi mengenai kelembagaan yang mampu mendukung terselenggaranya proses manajemen yang menghasilkan pelayanan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Informasi lain yang juga dihasilkan adalah informasi mengenai kuantitas dan kompetensi-kompetensi sumber daya manusia yang dibutuhkan serta distribusinya beban tugas pelayanan yang akan ditanganinya.
2. Pengembangan Standard Operating Procedures (SOP).
Memastikan bahwa proses pelayanan dapat berjalan secara konsisten diperlukan adanya SOP. Dengan adanya SOP, maka proses pengolahan yang dilakukan secara internal dalam unit pelayanan dapat berjalan sesuai dengan
41
acuan yang jelas, sehingga dapat berjalan secara konsisten. Disamping itu SOP juga bermanfaat dalam hal:
a. Memastikan bahwa proses dapat berjalan uninterupted. Jika terjadi hal-hal tertentu, misalkan petugas yang diberi tugas menangani satu proses tertentu berhalangan hadir, maka petugas lain dapat menggantikannya. Oleh karena itu proses pelayanan dapat berjalan terus;
b. Memastikan bahwa pelayanan perijinan dapat berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku;
c. Memberikan informasi yang akurat ketika dilakukan penelusuran terhadap kesalahan prosedur jika terjadi penyimpangan dalam pelayanan;
d. Memberikan informasi yang akurat ketika akan dilakukan perubahan- perubahan tertentu dalam prosedur pelayanan;
e. Memberikan informasi yang akurat dalam rangka pengendalian pelayanan; f. Memberikan informasi yang jelas mengenai tugas dan kewenangan yang akan diserahkan kepada petugas tertentu yang akan menangani satu proses pelayanan tertentu. Atau dengan kata lain, bahwa semua petugas yang terlibat dalam proses pelayanan memiliki uraian tugas dan tangungjawab yang jelas;
3. Pengembangan Survey Kepuasan Pelanggan.
Untuk menjaga kepuasan masyarakat, maka perlu dikembangkan suatu mekanisme penilaian kepuasan masyarakat atas pelayanan yang telah diberikan oleh penyelenggara pelayanan publik. Dalam konsep manajemen pelayanan, kepuasan pelanggan dapat dicapai apabila produk pelayanan yang diberikan oleh penyedia pelayanan memenuhi kualitas yang diharapkan masyarakat. Oleh karena itu, survey kepuasan pelanggan memiliki arti penting dalam upaya peningkatan pelayanan publik;
4. Pengembangan Sistem Pengelolaan Pengaduan.
Pengaduan masyarakat merupakan satu sumber informasi bagi upaya- upaya pihak penyelenggara pelayanan untuk secara konsisten menjaga pelayanan yang dihasilkannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu perlu didisain suatu sistem pengelolaan pengaduan yang secara dapat efektif dan
efisien mengolah berbagai pengaduan masyarakat menjadi bahan masukan bagi perbaikan kualitas pelayanan;
Sedangkan dari sisi makro, peningkatan kualitas pelayanan publik dapat dilakukan melalui pengembangan model-model pelayanan publik. Dalam hal-hal tertentu, memang terdapat pelayanan publik yang pengelolaannya dapat dilakukan secara private untuk menghasilkan kualitas yang baik. Beberapa model yang sudah banyak diperkenalkan antara lain: contracting out, dalam hal ini pelayanan publik dilaksanakan oleh swasta melalui suatu proses lelang, pemerintah memegang peran sebagai pengatur; franchising, dalam hal ini pemerintah menunjuk pihak swasta untuk dapat menyediakan pelayanan publik tertentu yang diikuti dengan price regularity untuk mengatur harga maksimum. Dalam banyak hal pemerintah juga dapat melakukan privatisasi. Di samping itu, peningkatan kualitas pelayanan publik juga perlu didukung adanya restrukturisasi birokrasi, yang akan memangkas berbagai kompleksitas pelayanan publik menjadi lebih sederhana. Birokrasi yang kompleks menjadi ladang bagi tumbuhnya KKN dalam penyelenggaraan pelayanan.
Penerapan Standar pelayanan harus didukung adanya budaya pelayanan yang secara konsisten dikembangkan pada organisasi pelayanan publik. Dalam penyelenggaraaan pelayanan publik selama ini, penyelenggara pelayanan publik seringkali mendapatkan citra yang negatif karena proses yang panjang, dan bertele-tele serta ketidakjelasan biaya pelayanan.
Bagaimana mungkin seorang pemberi pelayanan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan baik, bila nilai-nilai, norma dan prinsip- prinsip organisasi tempatnya bekerja ternyata mengabaikan kearifan dan tanggungjawab terhadap kemaslahatan banyak orang.
Persoalan budaya pelayanan memainkan peran yang dominan dan melingkupi keseluruhan kegiatan yang dijalankan oleh unit pelayanan publik. Maka sebaiknya, nilai-nilai baik berupa azas/prinsip-prinsip, tujuan atau norma pelayanan yang baik, termasuk etika, sikap dan perilaku pemberi layanan, dibangun dan dikembangkan berlandaskan kebijakan yang dirumuskan secara jelas oleh organisasi penyelenggara pelayanan publik.
Perubahan mindset mutlak sangat diperlukan sebagai langkah awal melakukan perubahan budaya pelayanan. Pola pikir selama ini tentang aparat pemerintah yang emmiliki kedudukan dan kewenangan tak terbantahkan dibanding masyarakat yang dilayani, harus segera dibuang jauh-jauh. Budaya pelayanan sesegera mungkin harus berubah menjadi lebih peka terhadap harapan- harapan masyarakat. Namun demikian, perlu dicermati bahwa mengubah mindset aparat pemeringah tidak bisa dilakukan dengan pemberian motivasi melalui ceramah, kursus-kursus saja, tetapi yang utama adalah melalui penerapan manajemen yang benar mencakup pemberian kesejahteraan memadai dan penerapan reward dan punishment secara konsisten dan berkelanjutan.
Beberapa perubahan mindset aparat pelayanan publik yang diyakini dapat merubah budaya pelayanan antara lain dengan :42
1. Mengutamakan pendekatan tugas yang diarahkan kepada pengayoman dan pelayanan rakyat dan menghindarkan kesan pendekatan kekuasaan dan kewenangan;
2. Melakukan penyempurnaan organisasi yang bercirikan organisasi modern, ramping, efektif dan efisien yang mampu membedakan antara tugas-tugas yang perlu ditangani dan yang tidak perlu ditangani;
3. Melakukan perubahan sistem dan prosedur kerjanya yang lebih berorientasi pada ciri-ciri organisasi modern yakni pelayanan cepat, tepat, akurat, terbuka dengan tetap mempertahankan kualitas, efisiensi biaya dan ketepatan waktu;
4. Memposisikan diri sebagai fasilitator pelayanan publik daripada sebagai agen pembaharu (change of agent) pembangunan;
5. Melakukan transformasi diri dari birokrasi yang kaku (rigid) menjadi organisasi birokrasi yang strukturnya lebih desentralistis, novatif, fleksibel dan responsif.
Dalam upaya pembangunan budaya pelayanan ini membutuhkan keterbukaan seluruh aparat pelayanan publik untuk menerima perubahan budaya organisasi maupun pola pilir demi kemajuan unit pelayanan publik. Di dalam
42
perubahan tersebut, perubahan perilaku para pemberi pelayanan akan selalu dibandingkan dengan rekannya yang bekerja di unit layanan publik lainnya. Penciptaan budaya menghargai prestasi amat dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap organisasi.
Langkah yang dapat menumbuhkan budaya pelayanan antara lain sebagai berikut :
a. Tempatkan pegawai dari unit berbeda yang memiliki tugas dan fungsi jelas di unit pelayanan sebagai langkah awal menuju perubahan budaya;
b. Ciptakan rotasi pekerjaan secara berkala, kerja magang di lura unit, saling tudak menukar informasi seputar tugas dan fungsi antar unit, dan apabila memungkinkan melakukan perlombaan antar unit pelayanan publik;
c. Rayakan keberhasilan dalam pemberian pelayanan publik dengan memberikan penghargaan kepada pegawai yang berprestasi;
d. Ciptakan bahasa, kebiasaan, cerita sukses, dan simbol untuk mendorong rasa kebersamaan dan rasa kesatuan dalam tim unit pelayanan publik; e. Ciptakan mentala model baru dengan emngikutsertakan pegawai dalam
merancang misi organisasi, perlakuan nilai, kepercayaan, dan asumsi mereka sebagai investasi bagi keberhasilan unit pelayanan; dan
f. Ciptakan model sistem sebagai cara memberikan pemahaman tentang bagaimana sesuau bekerja dan bagaimana perubahan akan efektif. (standar Pelayanan Publik, PKMP-LAN)
Bahwa Implementasi Pelayanan Publik Administrasi Kependudukan belum sepenuhnya berjalan dengan baik diantaranya karena faktor komunikasi yang masih terhambat oleh fasilitas-fasilitas yang belum tersedia, sumber daya aparat pelaksana yang belum sepenuhnya melayani dengan baik, sikap yang diperlihatkan oleh petugas dalam melayani masyarakat, serta struktur birokrasi atau prosedur yang panjang dalam proses pembuatan e-KTP. Serta masih maraknya pungutan liar (pungli) terhadap pembuatan e-KTP, yang membuat masyarakat enggan untuk mengurusnya.
Pungli ini bisa tampil terbuka, bisa juga dilakukan dengan tertutup. Terbuka dengan cara menambah panjang jalur birokrasi pengurusan e-KTP atau
menambah ongkos kerja. Sementara tertutup dilakukan diam-diam dengan menggunakan topeng, misalnya: Pungli bertopengkan uang kemanisan hati. Artinya, karena mengurus e-KTP mengeluarkan energy tak sedikit, makanya petugas berharap warga bermanis hati memberikan uang capek.
Upaya–upaya yang ditempuh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kecamatan Amplas Kota Medan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam program e-KTP di Kecamatan Amplas Kota Medan. Melihat beberapa permasalahan dan kendala yang dihadapi pihak Pemerintah Daerah Kecamatan Amplas Kota Medan di atas, maka perlu dilakukan suatu upaya-upaya pemecahan masalah yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kecamatan Amplas Kota Medan. Hal ini bertujuan agar masalah yang sejenis dalam program yang sama khususnya tidak terulang kembali di kemudian hari. 43
43
Ibid
Terdapat beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Kecamatan Amplas Kota Medan dalam menangulangi kendala-kendala yang mungkin timbul dalam pelaksanaan kebijakan KTP berbasis elektronik di Kecamatan Amplas Kota Medan. Hal ini dapat diamati pada beberapa Pasal yang dimuat dalam Peraturan Daerah Kecamatan Amplas Kota Medan Nomor 2 Tahun 2011. Pasal-Pasal tersebut antara lain Pasal 8 ayat (2), Pasal 29, Pasal 52 dan Pasal 86. Pada Pasal 8 ayat (2) disebutkan:”Pembentukan UPT dengan memperhatikan kondisi geografis kecamatan dan/atau untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan masyarakat”.
Pemuatan Pasal ini akan membantu meminimalisir hambatan-hambatan yang mungkin terjadi agar tidak terjadi kekurangan tenaga pelaksana yang dapat mengganggu dan menghambat pelaksanaan program KTP berbasis elektronik di Kecamatan Amplas Kota Medan. Sehingga dengan dicantumkannya bunyi Pasal tersebut, diharapkan tidak terjadi adanya kekurangan tenaga pelaksana teknis dalam program tersebut. Kemudian dalam Pasal 29 disebutkan : “Penduduk yang tidak mampu melaksanakan sendiri pelaporan terhadap peristiwa kependudukan yang menyangkut dirinya sendiri dapat dibantu oleh Dinas atau meminta bantuan kepada orang lain”.
Melihat bunyi Pasal 29, bahwa Pasal tersebut telah berusaha untuk memberikan kesempatan dan peluang kepada penduduk yang tidak mampu dalam melaksanakan pelaporan terhadap peristiwa kependudukan yang menyangkut dirinya sendiri agar dibantu oleh Dinas sehingga kemungkinan penduduk yang tidak tercatat dalam program KTP berbasis elektronik karena kurang mampu dapat dimilimalisir dengan adanya kebijakan ini. Pasal 52 Peraturan Daerah Kecamatan Amplas Kota Medan Nomor 2 Tahun 2011 menetapkan: “Penduduk yang tidak mampu melaksanakan pelaporan sendiri pelaporan terhadap peristiwa penting yang menyangkut dirinya sendiri dapat dibantu oleh Dinas atau meminta bantuan kepada orang lain”. Tidak jauh berbeda dengan bunyi Pasal 29, Pasal 52 memudahkan penduduk yang kurang mampu agar dapat melaporkan peristiwa penting yang dialaminya. Kemudian dalam Pasal 86 menetapkan :
Adapun upaya-upaya pemecahan masalah dan kendala lainnya dalam bentuk pelaksanaan konkret yang telah ditempuh oleh Pemerintah Daerah Kota Medan khususnya Kecamatan Medan Amplas untuk mengatasi hambatan dalam Proses Pendataan Perolehan Kepemilikan (e-KTP) Di Kecamatan Medan Amplas antara lain dengan mengoptimalkan pelaksanaan administrasi kependudukan melalui pengadaan program e-KTP keliling atau disebut juga dengan e-KTP
mobile.44
Sehingga penduduk yang tempat tinggalnya memiliki jarak yang cukup berjauhan dengan Kantor Kecamatan wilayah domisili dari penduduk tersebut, tidak perlu lagi mendatangi kantor kantor Kecamatan, karena ia bisa
Program e-KTP keliling yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kecamatan Amplas Kota Medan melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilakukan melalui koordinasi dengan tiap-tiap Kepala Kelurahan, Lurah dan Kepala Dusun agar menginformasikan dan mengundang penduduknya untuk mendatangi RT/RW di wilayah masing-masing. Hal tersebut dilaksanakan dalam rangka melakukan pendataan serta untuk melaksanakan program e-KTP tersebut di kantor camat dan atau Kantor kelurahan wilayah domisili dari penduduk yang bersangkutan.
44
melakukannya di kantor camat ataupun di kantor kelurahan yang bersangkutan. Dengan upaya tersebut, Pemerintah Daerah Kecamatan Medan Amplas Kota Medan dapat menjangkau dan mengoptimalisasi proses pendataan penduduknya secara lebih spesifik dan maksimal, sehingga tujuan untuk menerapkan program e- KTP bagi seluruh penduduk di Kecamatan Medan Amplas Kota Medan dapat terealisasikan secara optimal sesuai dengan arahan dalam peraturan perundang- undangan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Setelah membahas skripsi ini beserta permasalahannya maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut
1. Pengaturan Tentang Kependudukan, Pasal 1 angka (14) Undang Undang No. 23 Tahun 2006 tentang kependudukan, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 Tentang penerapan kartu tanda penduduk berbasis nomor Induk kependudukan secara nasional.
2. Implementasi Kebijakan e-KTP Di Kecamatan Medan Amplas, memberikan pendelegasian wewenang kepada pemerintah daerah dalam hal ini adalah Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota/Kota seluruh Indonesia dengan tetap berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 serta peraturan perundang-undangan lainnya. Kewajiban pemerintah Kota/kota dalam pelaksanaan penyelenggaraan administrasi kependudukan tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 tahun 2006 yang bunyinya : “Pemerintah Kota/Kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan, yang dilakukan oleh bupati/walikota .
3. Hambatan dalam proses program e-KTP berbasis NIK antara lain sebagai berikut: Faktor penegak hukumnya, Faktor Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, Faktor masyarakat, Faktor kebudayaan.
B. Saran
Setelah ditarik kesimpulan maka saran yang dapat diberikan antara lain: 1. Pemerintah Kecamatan Medan Amplas hendaknya selalu berupaya
melakukan perbaikan untuk mengatasi permasalahan pada pelaksanaan program e-KTP, dengan cara melakukan evaluasi secara berkala antara
operator e-KTP dan pihak kecamatan, sehingga ketika ada permasalahan dilapangan dapat segera diselesaikan bersama.
2. Untuk meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat dalam melakukan pendataan, maka perlu diadakan sosialisasi yang lebih terarah kepada tiap- tiap Kelurahan yang terdapat di seluruh wilayah Kecamatan Medan Amplas sehingga masyarakat menyadari manfaat dan keuntungan yang mereka peroleh bila sudah melakukan pendataan di masing-masing wilayah.
3. Pemerintah Kecamatan Medan Amplas sebaiknya membentuk satu tim khusus yang memiliki kemampuan yang terkait dengan program e-KTP. Sehingga dapat menangani setiap permasalahan yang terjadi ketika program tersebut dilaksanakan dan diharapkan untuk kecamatan- kecamatan yang sudah mulai menerapkan e-KTP juga harus dengan segera memulai pendataan atau pembuatan e-KTP bagi warga penduduk di kecamatan tersebut. Hal ini dikarenakan agar adanya angsuran pendataannya sehingga tidak menambah hambatan untuk penerapan e KTP di daerah lainnya.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Astawa, I Gde Pantja, Problematika Hukum Otonomi Daerah di Indonesia,
Bandung: Alumni,2008.
Busroh Abu Daud, Sistem Pemerintahan Republik Indonesia , Jakarta : Bina Aksara, 1989.
Fachruddin, Irfan, Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan Pemerintah, Bandung: Alumni, 2004.
Hamidi, Jazim dkk, Teori Hukum Tata Negara, Jakarta: Salemba Humanika. Handayaningrat, Soewarno, Administrasi Pemerintahan Dalam Pembangunan
Nasional , Jakarta : Gunung Agung, 1986
Juanda, Hukum Pemerintahan Daerah, Bandung : Alumni, 2008.
Kumorotomo, Wahyudi, Etika Administrasi Negara, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001.
Mazmanian dan Sabatiar, dalam Solichin, Pengantar Analisis Kebijakan Negara,
Jakarta: Rineka Cipta, 1990.
Poerwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Ranggawidjaja, Rosjidi Pengantar Ilmu Perundang-undangan Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 1998.
Sinambela, Poltak Lijan, dkk, 2006, Reformasi Pelayanan Publik, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Soerjono Soekamto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001
Soemitro, Ronny Hanitijo. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999.
Siasah Masruri, Muhsinatun, dkk.Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup.Yogyakarta:UPT MKU UNY,2002.
Sabarno, Hari. Untaian Pemikiran Otonomi Daerah Memandu Otonomi Daerah Menjaga Kesatuan Bangsa, Jakarta: Sinar Grafika,2008
Soekanto, Soerjono, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta Rajawali Pers, 2012.
Sadu Wasistiono, “Desentralisasi, Demokrasi dan Good Governance” dalam Syamsuddin Haris (ed);Desentralisasi & Otonomi Daerah, LIPI, 2007.
Wahab, S. A. Analisis Kebijaksanaan: dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, Jakarta: Bumi Aksara,1997.
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2010.
B. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674);
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 161, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5080);
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi kependudukan, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 80, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4736);
Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil;
Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Penerapan KTP Berbasis NIK Secara Nasional;
Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional; Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor : 18 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Penduduk Dalam Kerangka Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (Simduk) dan Akta Catatan Sipil Di Kota Medan.
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan. Pendaftaran Penduduk.
C. Internet
Hifdzil, 2008, “Pengertian Negara Hukum” (Cited 2012, Oktober, 3), available from URL http:
Rizky Nugraha, “Perancangan Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) Sebagai Pengembangan E-Government menuju Good Governance” data diakses tanggal 21 Oktober 2012, available from:
Kementerian Dalam Negeri, (Cited: 2012 Okt. 5), available from: URL: http://www: e-ktp.com, diakses tanggal 1 Desember 2013
tanggal 1 Desember 2013
http://www.pemkomedan.go.id diakses pada 21 Desember 2013
D. Wawancara