E. KEBIJAKAN OPERASIONAL
2) UPT KARANTINA PERTANIAN :
a) Melaksanakan fungsi pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan, tumbuhan dan keamanan hayati, baik di tempat pemasukan atau pengeluaran yang ditetapkan maupun yang tidak ditetapkan, tempat lain di luar tempat pemasukan atau pengeluaran, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina;
b) Melaksanakan fungsi pengawasan terhadap penerapan Skim Audit Badan Karantina Pertanian (SAB);
c) Dalam melaksanakan fungsi pengawasan dan penindakan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud pada angka 2, unit kerja/unit pelaksana Pengawasan dan Penindakan pada UPT Karantina Pertanian, melakukan :
(1) kerjasama dan berkoordinasi dengan unit kerja / pejabat fungsional di UPT Karantina Pertanian yang bersangkutan serta pihak lain (Korwas PPNS, Kejaksaan, Pengadilan, UPT Karantina Pertanian dan lainnya);
(2) apabila diperlukan, UPT Karantina Pertanian dapat meminta bimbingan teknis ke Kantor Pusat Badan Karantina Pertanian; d) Melaporkan secara berkala maupun insidental ke Kantor Pusat Badan
Karantina Pertanian atas pelaksanaan fungsi pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan, tumbuhan dan keamanan hayati serta dapat menyampaikan masukan untuk penyempurnaan kebijakan teknis;
b. Mekanisme Operasional Pengawasan Dan Penindakan Lingkup Badan Karantina Pertanian
1) Bidang Pengawasan dan Penindakan pada BBKP, Seksi Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas I dan Koordinator Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas II, SKP Kelas I dan SKP Kelas II
melaksanakan fungsi pengawasan berupa verifikasi dan validasi
dokumen persyaratan mulai dari pemberitahuan atau laporan atas : a) pemasukan media pembawa HPHK, media pembawa OPTK, PSAT dan
agens hayati dari luar negeri; atau
b) pemasukan atau pengeluaran media pembawa HPHK dan media pembawa OPTK dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia; atau
c) pengeluaran media pembawa HPHK, media pembawa OPTK dan PSAT ke luar negeri oleh pemilik/kuasanya di tempat pemasukan atau pengeluaran sampai selesainya pelaksanaan tindakan karantina, baik
di dalam maupun di luar tempat pemasukan dan pengeluaran yang ditetapkan ataupun yang tidak ditetapkan, baik di dalam maupun di luar instalasi karantina.
2) Apabila dalam melaksanakan fungsi pengawasan sebagaimana dimakaud pada angka 1 di atas, ternyata :
a) ditemukan adanya dugaan pelanggaran oleh pemilik/kuasanya, maka dilakukan penindakan dengan berkoordinasi kepada pihak terkait, baik internal maupun eksternal;
b) ditemukan adanya dugaan pelanggaran oleh petugas karantina dan atau pegawai karantina lainnya, maka dilakukan penindakan dengan berkoordinasi kepada pihak internal, yaitu Unit Kerja di lingkup UPT Karantina Pertanian setempat, kantor pusat Badan Karantina Pertanian dan/atau Instansi lain lingkup Kementerian Pertanian; c) tidak ditemukan pelanggaran, maka dilakukan tindakan karantina
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3) Bidang Pengawasan dan Penindakan pada BBKP, Seksi Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas I dan Koordinator Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas II, SKP Kelas I dan SKP Kelas II dapat melakukan fungsi penindakan, apabila ada informasi berupa dugaan : a) pemasukan media pembawa HPHK, media pembawa OPTK, PSAT dan
agens hayati melalui tempat pemasukan yang ditetapkan dan tidak
dilaporkan kepada petugas karantina dan telah dilalulintasbebaskan
di dalam wilayah negara Republik Indonesia;
b) pemasukan media pembawa HPHK, media pembawa OPTK, PSAT dan agens hayati melalui tempat pemasukan yang tidak ditetapkan dan telah dilalulintasbebaskan di dalam wilayah negara Republik Indonesia.
4) Dalam melakukan fungsi penindakan sebagaimana dimaksud pada angka 3 di atas, Bidang Pengawasan dan Penindakan pada BBKP, Seksi Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas I dan Koordinator Pengawasan dan Penindakan pada BKP Kelas II, SKP Kelas I dan SKP Kelas II dapat berkoordinasi dengan instansi terkait;
2. Bidang Kerjasama Perkarantinaan a. Kerjasama Multilateral
1) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi Indonesia sebagai bahan bagi delegasi Indonesia untuk melakukan negosiasi dalam pertemuan kerjasama multilateral dalam mendukung fasilitasi perdagangan internasional;
2) memfasilitasi kehadiran DELRI dari Badan Karantina pada forum kerjasama internasional;
3) menotifikasikan draf peraturan Indonesia terkait SPS yang mempunyai dampak signifikan terhadap perdagangan internasional;
4) menyusun tanggapan Indonesia atas notifikasi negara mitra yang dapat menghambat ekspor komoditas pertanian Indonesia;
5) menyusun posisi Indonesia atas komentar negara mitra terhadap notifikasi Indonesia;
6) menjawab pertanyaan dan permintaan informasi SPS dari pihak-pihak terkait di dalam dan luar negeri;
7) memfasilitasi pertemuan dengan tamu luar negeri yang menawarkan technical assistance di bidang perkarantinaan dan keamanan hayati;
8) memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kerjasama multilateral di bidang perkarantinaan dan keamanan hayati.
b. Kerjasama Regional
1) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi Indonesia sebagai bahan bagi delegasi Indonesia untuk melakukan negosiasi dalam pertemuan kerjasama regional dalam rangka penetapan dan harmonisasi standar kesehatan hewan, kesehatan tumbuhan, dan keamanan hayati (EWG-HPM, EWG-MRLs Pesticide, APPPC);
2) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi Indonesia sebagai bahan bagi delegasi Indonesia untuk melakukan negosiasi dalam pertemuan kerjasama regional dalam rangka peningkatan perdagangan regional dalam forum Free Trade Area (FTA) regional (China FTA, ASEAN-AUS-NZ FTA, ASEAN-EU FTA, ASEAN-Korea FTA);
3) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi Indonesia sebagai bahan bagi delegasi Indonesia untuk melakukan negosiasi peningkatan perdagangan komoditas pertanian di wilayah lintas batas (BIMP-EAGA, IMT-GT);
4) memfasilitasi kehadiran DELRI dalam forum kerjasama regional;
5) memfasilitasi pertemuan dengan tamu luar negeri yang menawarkan technical assistance di bidang perkarantinaan dan keamanan hayati tingkat regional (APPPC, APEC, ASEAN, ASEAN +3, ASEAN FTA);
6) memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kerjasama Badan Karantina Pertanian dalam forum regional.
c. Kerjasama Bilateral
1) memfasilitasi pertemuan kerjasama bilateral dengan negara mitra;
2) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi indonesia sebagai bahan bagi delegasi indonesia untuk melakukan negosiasi dengan negara mitra dalam rangka harmonisasi standar kesehatan hewan, kesehatan tumbuhan, dan keamanan hayati, serta peningkatan perdagangan bilateral dengan negara mitra;
3) memfasilitasi penyiapan dan menyusun posisi indonesia sebagai bahan bagi delegasi indonesia untuk melakukan negosiasi dengan negara mitra dalam rangka harmonisasi standar kesehatan hewan, kesehatan tumbuhan, dan keamanan hayati, dengan negara tetangga (malaysia, png, timor leste, phillipines, dan singapore);
4) melakukan koordinasi dan memfasilitasi komunikasi dengan instansi terkait di bidang pertanian, perikanan, dan kehutanan (indonesia-australia wgaffc);
5) memfasilitasi koordinasi penyelesaian hambatan perdagangan dengan negara mitra;
6) memfasilitasi peran badan karantina pertanian sebagai salah satu unsur yang berperan dalam fasililtasi perdagangan untuk memperlancar market access;
7) memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kerjasama badan karantina pertanian dalam forum bilateral dengan negara mitra
d. Kerjasama Nasional
1) memfasilitasi pertemuan kerjasama di bidang perkarantinaan dan keamanan hayati antara Badan Karantina Pertanian dan instansi terkait (Bea Cukai, Postel, universitas, Perhubungan, POLRI, dll.);
2) memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara Badan Karantina Pertanian dengan instansi CIQS untuk meningkatkan kerjasama operasional perkarantinaan dan keamanan hayati di pintu pemasukan/pengeluaran;
3) memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara Badan Karantina Pertanian dan instansi terkait dalam menyelesaikan permasalahan operasional;
4) melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait untuk meningkatkan akselerasi ekspor komoditas pertanian;
5) memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kerjasama dengan instansi terkait;
3. Bidang Informasi Perkarantinaan
Mendukung Penguatan Penyelenggaraan Perkarantinaan yang tangguh dan terpercaya dengan pemanfaatan system tehnologi informasi yang akuntabel, tertelusur dan transparan melalui:
a. Pengembangan dan Pemanfaatan IT pada kegiatan operasional; b. Penguatan SDM dan infrastruktur IT;
c. Pengelolaan data center;
d. Kerjasama IT dengan instansi/negara lain. F. PROGRAM DAN KEGIATAN
Untuk mencapai tujuan dan sasaran Pusat KKIP, maka dalam penyusunan kegiatannya mengacu pada Program Barantan, yaitu Peningkatan Kualitas Pengkarantinaan Pertanian dan Pengawasan Keamanan Hayati. Adapun kegiatan Pusat KKIP, yaitu Peningkatan Kepatuhan, Kerjasama, dan Pengembangan Sistem Informasi Perkarantinaan dengan penjabaran kegiatan masing-masing bidang sebagai berikut :
A. Bidang Kepatuhan Perkarantinaan
1. Perumusan Pedoman Pengawasan dan Penindakan;
2. Pembinaan Teknis Peningkatan Kompetensi PPNS Karantina Pertanian; 3. DIKLAT Teknis Analis Intelijen Badan Karantina Pertanian
4. Sosialisasi Aplikasi Wasdak Barantan; 5. Penyusunan Kode Etik PPNS Barantan;
6. Penyusunan SOP Penyidikan oleh PPNS Barantan; 7. Penyusunan JUKNIS dan Tata Cara Verifikasi Kasus
8. Bimtek Koordinasi Bidang Pengawasan, Penindakan dan Kepatuhan; a. Rapat Koordinasi Nasional Pusat KKIP;
b. Rapat Koordinasi Bidang Kepatuhan Wilayah Barat; c. Rapat Koordinasi Bidang Kepatuhan Wilayah Timur; 9. Koordinasi dan Konsultasi Dengan Instansi Terkait
a. Rapat Koordinasi Dengan Instansi Terkait; b. Konsultasi dan Koordinasi ke Instansi Terkait; 10. Pengelolaan Pusat KKIP
a. Evaluasi Teknis Regional dan Nasional;
b. Penyusunan Rencana Kerja dan Pelaporan Pusat KKIP; c. Pengelolaan Administrasi Pusat KKIP;
d. Pengelolaan Administrasi PPNS, Intelijen dan Polsus;
e. Pelantikan dan Pengambilan Sumpah PPNS Badan Karantina Pertanian; f. Fasilitasi Pemusnahan MP HPHK/OPTK Barantan;
11. Layanan Diklat Teknis/Fungsional
a. Penyelenggaraan Diklat PPNS Pola 400 JP; b. Penyelenggaraan Diklat PPNS Pola 200 JP;
c. Penyelenggaraan Diklat Dasar Intelijen Pola 200 JP; d. Penyelenggaraan Diklat Intelijen Manajemen Pola 100 JP; e. Penyelenggaraan Diklat Polsus.
B. Bidang Kerjasama Perkarantinaan 1. Kerjasama Multilateral;
2. Kerjasama Regional Dan Sub Regional; 3. Kerjasama Bilateral;
4. Workshop kerjasama perkarantinaan hewan, tumbuhan dan keamanan hayati;
5. Fasilitasi Bantuan Luar Negeri;
6. Tindak Lanjut Hasil Pertemuan Internasional (Multilateral, Regional/Sub Regional, dan Bilateral);
7. Penerbitan News Letter SPS;
8. Kerjasama dan Koordinasi Antar Instansi terkait.
9. Fasilitasi dan Optimalisasi Kerjasama Internasional dan Nasional 10. Penyelenggaraan Pertemuan Internasional
11. Penyusunan Posisi DELRI dalam Pertemuan Internasional 12. Kesekretariatan SPS
13. Identifikasi Kebutuhan Peningkatkan Kerjasama Nasional dan Internasional 14. Monitoring dan Evaluasi hasil implementasi kerjasama
C. Bidang Informasi Perkarantinaan
1. Pembuatan aplikasi sistem pengolahan data Barantan; 2. Pembuatan aplikasi Sistem penilaian Instalasi KH 3. Pembuatan aplikasi pemanfaatan barcode;
4. Pembuatan Web servise Realisasi Perijinan Instansi terkait Lingkup Kementerian Pertanian;
6. Pembuatan Web Servise Realisasi uji Laborattorium PSAT dan PSAH; 7. Update Aplikasi Sistem informasi Barantan Terintegrasi;
8. Update Aplikasi Sistem informasi perijinan dengan Dinas prof/Kab; 9. Penyempurnaan sistem integrasi perijinan;
10. Penyempurnaan aplikasi monTIoring IAS post border;
11. Penyempurnaan aplikasi pelaporan elektronik laboratorium PSAT; 12. Pengembangan Aplikasi Sistem Persuratan;
13. Pengembangan Aplikasi SAB;
14. Pengembangan Aplikasi elektronik Certifikat;
15. Pengembangan Aplikasi trace n trak akses komodTIi unggulan;
16. Kajian Pertukaran Informasi Elektronik Hasil uji laboratorium dengan Instansi Terkait;
17. Pengkajian aplikasi informasi perijinan dgn dinas Prop/Kab/Kota; 18. Pengkajian sistem informasi persuratan UPT;
19. Pengkajian sistem aplikasi pengolahan data barantan KH/KT; 20. Pengkajian sistem aplikasi penilaian IKH;
21. Pengkajian web service realisasi perijinan instansi lingkup Kementan; 22. Pengkajian web service hasil uji laboratorium UPT;
23. Pengkajian aplikasi pemanfaatan barcode;
24. Penyusunan Pedoman umum aplikasi barantan (6 Manual); 25. Penyusunan Pedoman Standarisasi TI UPT KP;
26. Penyusunan bahan aplikasi informasi perijinan dgn dinas Prop/Kab/Kota; 27. Penyusunan bahan sistem informasi persuratan UPT;
28. Penyusunan bahan aplikasi pengolahan data Barantan KH/KT; 29. Penyusunan bahan sistem aplikasi penilaian IKH;
30. Penyusunan bahan webservice realisasi perijinan instansi lingkup kementan KH/KT;
31. Pengintegrasian Sistem informasi fungsional dgn Inhouse system;
32. Pengumpulan Penyiapan dan Penyajian Hasil Sinkronisasi Data Lalulintas Media Pembawa;
33. Pokja Integrasi dan sinkronisasi data lalulintas Media pembawa; 34. Penyusunan web service hasil uji laboratorium UPT.
Untuk lebih jelasnya, gambaran program dan kegiatan Pusat KKIP selama periode 2015-2019 dapat lihat pada Matriks Kinerja dan Matriks Pendanaan.
BAB IV PENUTUP
Renstra Pusat KKIP Tahun 2015-2019 merupakan penjabaran dari Renstra Barantan Tahun 2015-2019 dan disusun berdasarkan paket acuan teknis reformasi perencanaan dan penganggaran yang ditetapkan oleh Bappenas dan Kementerian Keuangan.
Secara umum, pentahapan reformasi di bidang perencanaan dan penanggaran berkaitan dengan jadwal pelaksanaan penganggaran bebasis kinerja (PBK) dan peneraan kerangka pengeluaran jangka menengah (KPJM). Beberapa tahapan yang akan menjadi perhatian untuk dipersapkan antara lain (1) penelaahan program dan kegiatan (2) penyusunan program dan kegiatan baru untuk periode 4 tahun (3) penyusunan anggaran tahun dasar (based year) (4) penyusunan prakiraan maju jangka menengah (forward estimates) untuk periode 4 tahun.
Berdasarkan tahapan implementasi reformasi di bidang perencanaan dan penganggaran, maka tidak tertutup kemungkinan beberapa penyempurnaan akan dilakukan pada Renstra Pusat KKIP ini mengikuti dinamika yang berkembang.