Berikut penjelasan bahan-bahan yang digunakan pada sediaan sabun transparan:
a. Vitamin E
Vitamin E adalah bentuk dari alfa tokoferol (C29H50O2) dengan nama kimia dl-5,7,8-Trimethyltoco. Praktis tidak berbau, tidak berasa, berupa minyak kental jernih, warna kuning atau kuning kehijauan. Alfa tokoferol dapat berbentuk padat pada suhu dingin. Golongan alfa tokoferol tidak stabil terhadap udara dan cahaya (Depkes RI, 2014).
Gambar rumus bangun Vitamin E (alfa tokoferol) dapat dilihat pada Gambar 2.3
Dalam kosmetik, vitamin E biasanya dimanfaatkan sebagai pelembab dan agen antioksidan. Ia berperan penting dalam proses perawatan kulit, terutama untuk mengurangi proses penuaan dini akibat sinar matahari, melawan radikal bebas, mencegah serangan kanker, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Berikut adalah rincian beberapa manfaat dan keunggulan vitamin E yang utama bagi kulit, yaitu :
a. Sebagai senyawa antioksidan yang berperan penting dalam melindungi sel-sel kulit dari kerusakan akibat oksidasi.
b. Menjaga stabilitas jaringan ikat sel. Vitamin E berfungsi untuk menjaga kelenturan dan kekenyalan kulit. Kombinasi penggunaan vitamin E secara topikal dan oral sangat bermanfaat untuk menjaga elastisitas kulit, mencegah timbulnya keriput dan penuaan dini, serta menjaga pigmentasi kulit.
c. Berperan penting dalam melindungi kulit dari radiasi ultraviolet
d. Menjaga kelembaban kulit dengan cara mempertahankan ikatan air dalam kulit. Dalam kosmetik, vitamin E digunakan dalam produk kosmetik pelembab (moisturizer) dan sebagai agen antioksidan (Muliyawan, 2013).
Riset membuktikan bahwa vitamin E memberikan perlawanan terhadap kekeringan dengan membantu memberikan pelembab natural pada kulit.
Penelitian juga membuktikan bahwa vitamin E bisa mengurangi molekul jahat yang terjadi akibat paparan asap rokok (IOM, 2000).
b. Virgin Coconut Oil (VCO)
Minyak kelapa murni merupakan minyak yang diperoleh dari pengepresan bagian padat kering dari endosperma Cocos nucifera L. (Fam. Palmae), tanpa melalui proses kimia refining (penjernihan), deodorizing (penghilangan bau), dan
bleaching (pemutihan). Secara fisik minyak kelapa murni harus berwarna jernih (Setiaji, 2006).
VCO merupakan minyak stabil, jika dipanaskan akan menimbulkan asap pada suhu 198ºC serta mengandung vitamin E (tokoferol) yang berperan menjaga kestabilan minyak dan melindungi ketengikan. VCO dapat disimpan pada suhu kamar selama bertahun-tahun tanpa perubahan sifat. Minyak ini tidak mudah tengik karena kandungan asam lemak jenuhnya tinggi sehingga proses oksidasi tidak mudah terjadi (Darmoyuwono, 2006).
Minyak kelapa murni memiliki sifat kimia-fisika antara lain organoleptis (tidak berwarna dan berbentuk kristal seperti jarum) dan bau (ada sedikit berbau asam ditambah bau caramel). Kelarutan dari VCO yaitu tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol (1:1). pH VCO tidak terukur, karena tidak larut dalam air. Namun karena termasuk dalam senyawa asam maka dipastikan memiliki pH di bawah 7. Berat jenis 0,883 pada suhu 20oC. Persentase penguapan yaitu VCO tidak menguap pada suhu 21oC (0%). Titik cair 20-25oC, titik didih : 225oC, dan kerapatan udara (Udara = 1): 6,91. Tekanan uap (mmHg) yaitu 1 pada suhu 121oC (Darmoyuwono, 2006).
Kandungan utama VCO adalah asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh sekitar 10%. Asam lemak jenuh VCO didominasi oleh asam laurat. VCO mengandung ± 53% asam laurat dan sekitar 7% asam kaprilat.
Keduanya merupakan asam lemak rantai sedang yang biasa disebut Medium Chain Fatty Acid (MCFA). VCO mengandung 92% lemak jenuh, 6% lemak mono tidak jenuh dan 2% lemak poli tidak jenuh (Wardani, 2007).
Komposisi kandungan asam lemak VCO dapat dilihat dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Komposisi Asam Lemak yang Terkandung Dalam VCO
Asam Lemak Rumus Kimia Jumlah (%)
Asam Lemak Jenuh
Asam Kaproat C5H11COOH 0,0-0,8
Asam Kaprilat C7H17COOH 5,5-9,5
Asam Kaprat C9H19COOH 4,5-9,5
Asam Laurat C11H23COOH 44,0-53,0
Asam Miristat C13H27COOH 13,0-19,0
Asam Palmitat C15H31COOH 7,5-10,5
Asam Stearat C17H35COOH 1,0-3,0
Asam Arachidat C19H39COOH 0,0-0,4
Asam Lemak Tidak Jenuh
Asam Palmitoleat C15H29COOH 0,0-1,3
Asam Oleat C17H33COOH 5,0-8,0
Asam Linoleat C17H31COOH 1,5-2,5
Di bidang industri kosmetik, VCO umumnya digunakan untuk membuat sabun (sebagai pelembab) dan sampo (mengurangi ketombe). Selain itu banyak digunakan sebagai minyak pijat (massage oil), aromaterapi, dan minyak pembawa (carrier oil). Beberapa manfaat VCO bagi kecantikan kulit antara lain adalah :
1. Membantu mengurangi pigmentasi yang disebabkan radikal bebas melalui vitamin E (mikronutrien utama VCO) yang berkhasiat sebagai antioksidan.
2. Melembabkan dan mencerahkan kulit dengan cara menghilangkan sel-sel kulit mati di permukaan kulit.
3. Melindungi kulit dari radiasi sinar ultraviolet serta mengurangi resiko kanker kulit (Soraya, 2006).
c. Asam stearat
Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak, sebagian besar terdiri dari asam oktadekonoat (C18H36O2) dan heksadekanoat (C18H32O2). Berupa zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning pucat, sedikit berbau mirip lemak lilin, larut dalam 20 bagian etanol (95%) P, dalam 2 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P (Depkes RI, 1995).
Asam stearat memiliki atom karbon C18 yang merupakan asam lemak jenuh dan berperan dalam memberikan konsistensi dan kekerasan pada sabun (Mitsui, 1997).
d. Natrium Hidroksida (NaOH)
Sabun yang dibuat dari natrium hidroksida dikenal dengan sebutan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dari KOH dikenal dengan sebutan sabun lunak (soft soap) (Rizka, 2017). Pada penelitian ini dibuat sabun padat sehingga alkali yang digunakan adalah NaOH. Natrium hidroksida memiliki berat molekul 40 serta merupakan basa kuat yang larut dalam air dan etanol.
NaOH dapat berbentuk pellet, serpihan, batang, atau bentuk lain, selain itu juga memiliki warna yang putih dan bersifat higroskopis, bila dibiarkan diudara akan cepat menyerap CO2 dan lembab (Depkes RI, 1995).
e. Gliserin
Gliserin disebut juga dengan gliserol merupakan cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, berasa manis dan memiliki sifat higroskopis.
Gliserin mudah bercampur dengan air dan etanol 95% namun praktis tidak larut dalam kloroform, etanol, minyak lemak dan minyak jarak. Gliserin telah lama
digunakan sebagai humektan (moisturizer), yaitu skin conditioning agents yang dapat meningkatkan kelembaban kulit (Usmania dkk., 2012).
Dalam pembuatan sabun transparan, gliserol berfungsi untuk melembutkan kulit, mengurangi jumlah air yang meninggalkan kulit, dan memberikan efek transparan (Nugraha, 2015).
f. Propilen glikol
Propilen glikol merupakan cairan tidak berwarna, kental, praktis cair tidak berbau sedikit manis, rasa sedikit pedas, menyerupai gliserin. Digunakan sebagai pengawet antimikroba, desinfektan, humektan, plasticizer, pelarut, stabilizer untuk vitamin, kosolven. Konsentrasi penggunaan humektan sediaan topikal sampai dengan 15% (Rowe, 2009).
g. Etanol
Etanol adalah campuran etil alcohol dan air, mengandung tidak kurang dari 94,7% v/v atau 92,0% dan tidak dari 95,2% v/v 92,7%. C2H5OH sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P. Etanol tidak berbau dan tidak berasa tetapi memiliki bau yang khas. Bahan ini memabukkan jika diminum. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O7
(Depkes RI, 1979).
Etanol dalam sabun transparan berfungsi sebagai pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak. Selain sebagai pelarut etanol juga berfungsi sebagai pemberi efek transparan dan pengawet yang dapat menghambat timbulnya ketengikan pada berbagai produk berbahan baku minyak/lemak (Nugraha, 2015).
h. Gula
Gula dalam pembuatan sabun digunakan untuk membantu dalam pembentukan transparansi, membentuk tekstur sabun, membantu perkembangan kristal pada sabun, dan pengontrol kelembaban sabun. Semakin banyak konsentrasi gula pasir halus maka tekstur sabun yang dihasilkan akan semakan keras. Gula pasir halus dan gliserol jika dipanaskan akan membentuk polimer sederhana yang mudah terdegradasi dan pH yang tinggi, berfungsi untuk menyangga sabun agar tidak lembek (Usmania dkk., 2012).
i. Asam sitrat
Asam sitrat memiliki bentuk berupa kristal putih. Asam sitrat berfungsi sebagai agen pengelat. Asam sitrat juga berfungsi sebagai penurun nilai pH (Hambali dkk., 2005).
j. Natrium Klorida (NaCl)
NaCl berbentuk butiran berwarna putih. NaCl pada formulasi sabun transparan berfungsi sebagai elektrolit dan sebagai pengawet (Hambali dkk., 2005).
k. Trietanolamin
Trietanolamin memiliki pemerian cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat dan bersifat higroskopik (Depkes RI, 1979). Dalam suatu sediaan kosmetika, trietanolamin berfungsi sebagai surfaktan dan penstabil busa (Fachmi, 2008).
BAB III