• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urban Friendly corridor

Dalam dokumen Pedoman Tata Bangunan Di Jl. Pemuda, Medan (Halaman 41-61)

Urban friendly corridor sebuah peri-kehidupan di pusat kota yang humanis, manusiawi dan bersahabat telah dikemukan oleh tokoh-tokoh gerakan arsitektur modern yang tergabung dalam CIAM Congres International of Architecture Modern. Ide tersebut mengarah kepada penghormatan lebih terhadap nilai-nilai manusiawi. Adapun ide tentang sebuah peri-kehidupan di pusat kota yang humanis tersebut dilatar-belakangi oleh pembangunan kota yang dititik-beratkan pada pembangunan jalan-jalan untuk kendaraan bermotor dan bangunan-bangunan tinggi sebagai simbol dari kemakmuran. Peri-kehidupan di pusat kota yang humanis merupakan usaha untuk mensejajarkan kembali manusia (pejalan kaki) dengan kendaraan bermotor dalam haknya untuk mempergunakan ruang kota dan menikmati arsitekturnya. Suatu hal yang sangat tragis yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia adalah tidak diperhatikannya kepentingan manusia di jalan sebagai ruang kota yang nyaman, aman, dan sehat bagi pejalan kaki. Keadaan yang tidak nyaman dan aman yang dialami oleh pejalan kaki juga berdampak kepada nyamanan dan ketidak-amanan bagi pengendara kendaraan. Keadaan tragis tersebut tidak terkecuali juga terjadi di kota Medan. Jalan-jalan yang ada di kota merupakan ruang kota yang memaparkan hampir semua kejadian kehidupan perkotaan. Oleh karena itu, kota akan disebut baik, aman, dan nyaman jika jalan-jalannya baik, aman, dan nyaman. Ahli perkotaan bernama Donald Appleyard dalam bukunya “Livable Streets” (1981)

menegaskan bahwa orang akan selalu tinggal dan menjalani kehidupan di jalan, yaitu suatu tempat dimana anak-anak pertama kali mengenal dunia, bertemu dengan para tetangga, dan merupakan pusat sosialisasi dari sebuah kota. Disamping itu jalan juga menjadi jalur transportasi dengan segala kebisingan, polusi, sampah, becek, dan lumpur. Jalan juga tempat dimana orang asing mengganggu dan tempat kriminalitas terjadi.

“Urban friendly corridor” merupakan perencanaan sebuah koridor Kota yang bersahabat adalah suatu konsep ideal tentang sebuah koridor kota yang menempatkan manusia/masyarakat penghuninya sebagai “tuan rumah” yang dapat merasakan kemakmuran, kenyamanan, kesehatan dan keamanan secara adil dan merata, dalam prinsip-prinsip kota yang berkesinambungan. Dapat dikatakan juga ruang kota yang bersahabat adalah “City for All” atau ruang kota untuk semua, baik untuk orang yang miskin, kaya, tua, muda, sehat, sakit, mampu, cacat, dan lain-lain. Sebagai kebalikannya, kota yang tidak bersahabat adalah kota yang secara langsung maupun tidak langsung mendeskriminasikan/mengesampingkan manusianya. Peran kota saat ini telah berubah, yaitu menjadi sebuah mesin besar yang merongrong kenyamanan, keamanan, kemakmuran, dan kesehatan. David Sucher, dalam “City Comforts How To Build an Urban Village” (1995) mengatakan “Manusia adalah alat ukur dari dunia, sehingga kenyamanan manusia adalah ukuran keberhasilan sebuah kota”. 2.2.1 Prinsip –prinsip dalam urban friendly corridor

Adapun prinsip-prinsip dalam Urban Friendly corridor adalah sebagai berikut:

Keseimbangan dengan alam menekankan pada pemanfaatan sumber daya dan mengeksploitasinya. Prinsip ini menegaskan penilaian lingkungan untuk mengidentifikasi zona kawasan d konservasi, pengendalian kepadatan,

Tradisi ini dimaksudkan untuk mengintegrasikan aset budaya yang ada, menghormati praktek-praktek tradisional pada suatu lingkungan (Spreiregen: 1965). Kearifan tradisional dalam tata letak pemukiman yang di tuangkan kedalam rencana pembangunan, dalam simbol dan tanda-tanda lainnya melalui dekorasi dan motif bangunan. Prinsip ini menghormati sistem yang ada pada sebuah bangunan selama

bertahun-tahun, adaptasi terhadap iklim, keadaan sosial, untuk bahan yang tersedia dan teknologi. Hal ini dilakukan menggambarkan kembali dan motif yang dirancang untuk mengkomunikasikan nilai-nilai budaya ada.

konstruksi, infrastruktur dan sistem lokal.

Prinsip keempat menjelaska hirarki tempat yang diciptakan untuk hiburan pribadi, persahabatan, percintaan, rumah tangga, "bertetangga," masyarakat dan kehidupan sipil (Jacobs: 1993).

Dalam hal ini masyarakat bersifat interaktif, sosial dan menawarkan banyak kesempatan untuk berkumpul dan bertemu satu dengan lainnya dan hal ini dapat dicapai melalui desain dan masyarakat yang beroperasi dalam hirarki dari sistem tingkatan sosial, dengan setiap tingkatan memiliki tempat fisik yang sesuai dalam struktur permukiman.

Menciptakan tempat-tempat yang menarik, seperti hutan kota, perbukitan perkotaan, sungai yang tenang dan taman-taman umum dan taman di mana orang dapat melarikan diri untuk bermeditasi dan berkontemplasi. Ruang ini dapat juga berupa halaman pada interior bangunan umum, atau bahkan ruang baca perpustakaan.

Dalam hal ini dijelaskan bahwa pada sebuah kota harus ada ruang untuk "indah, intim bahwa tempat tersebut tidak akan ada secara alami dalam sebuah perkotaan modern. Mereka harus menjadi bagian dari desain inti perkotaan, satu pusat perkotaan dan lingkungan, di mana orang dapat bertemu dengan teman-teman dan berbicara isu-isu kehidupan, kesedihan, kegembiraan dan dilemma. Ini merupakan bagian penting bagi

kehidupan emosional rakyat di mana persahabatan dapat berkembang dan tumbuh. Pada beberapa hal masih banyak ditemukan ruang kota yang tidak bersahabat dengan kondisi lingkungan yang ada, ini akan berdampak pada kenyaman masyarakat lingkungan yang ada di sekitar kawasan tersebut dan perancangan kota tersebut.

Hal ini merupakan kehidupan social, bahwa perilaku masyarakat mengambil dimensi baru dan kelompok-kelompok belajar untuk hidup damai di antara satu sama lain. Melalui lingkungan bahwa antara rumah tangga dan individu yang beragam. Ini adalah dasar rasional bagi hubungan sosial dalam kelompok sosial yang lebih besar dan dalam masyarakat, hal-hal yang dianggap beberapa orang tidak penting hal itu sangat berpengaruh bagi kehidupan kelangsungan dari kehidupan kota tersebut secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan elemen-elemen perancangan kota.

Secara historis, masyarakat adalah suku yang berbagai dan pola perilaku budaya. Di daerah perkotaan kontemporer masyarakat terbentuk dari orang yang beragam, akan tetapi setiap orang memiliki kebutuhan umum untuk bernegosiasi dan mengelola pengaturan spasial mereka melalui prinsip ini disebut ikatan sosial yang ditemukan dalam dan ruang sosial.

Prinsip efisiensi menjelaskan keseimbangan antara konsumsi sumber daya seperti energi, waktu dan sumber daya fiskal, dengan tetap memperhatikan kenyamanan, keselamatan, keamanan, akses, kepemilikan lahan, produktivitas dan kebersihan.

Prinsip ini menekankan pada pola perkotaan untuk berorientasi berdasarkan dimensi antropometri. Aksioma taat perencanaan kota da menjadi tempat berkumpulnya masyarakat ramai, trotoar pejalan kaki dan ruang publik di mana orang dapat bertemu secara bebas. Pinsip ini juga menjelaskan penggunaan skala pejalan kaki bergerak pada jalur yang bertentangan dengan skala mobil di jalan bebas hambatan. Hal-hal ini juga perlu dilakukan pada bangunan yang ada di sekitarnya fasad bangunan agar mendorong visibilitas pergerakan pejalan pada level orang memandang bangunan tersebut.

Prinsip ini bertujuan untuk meningkatkan akses ke tempat tinggal, perawatan kesehatan dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kondisi higienis. Kota merupakan mesi menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan keseimbangan kota dalam perdagangan dan hal ini lebih penting bagi individu yang menetap di kota. Beberapa hal yang terkadang perlu diketahui bahwa kota merupakan mesi

ekonomi dan hal ini berkaitan dengan produk perkotaan tahunan yang dapat menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan keseimbangan kota dalam perdagangan dan hal ini lebih penting bagi individu yang menetap di kota.

2.6 Studi Banding

2.6.1 Ramblas Barcelona

Ramblas Barcelona adalah salah satu jalan terbaik di dunia. Jalan ini berada di pusat kota Barcelona dengan ketinggian bangunan 5-7 lantai, dengan membaginya menjadi tiga bagian, yaitu jalur sirkulasi kendaraan di sebelah kiri dan kanan, sedangkan pedestrian besar berada di tengah-tengah, jalur sirkulasi dengan pepohonan sebagai pendukung pemandangan. Ramblas sangat terkenal dengan suasana lingkungan yang diciptakan dari bangunan yang ada di sekitar kawasan. Bangunan lama/bersejarah di kawasan ini masih sangat terpelihara dengan baik, karena konteks lingkungan yang ada di kawasan masih dipertahankan (Gambar 2.30).

Gambar 2.30 Ramblas, Barcelona Sumber: WWW.Google.Com

Ramblas dirancang untuk kegiatan berjalan kaki dan hal itu berhasil, baik dari lebar jalan, panjangnya jalan dan peletakkan street furniture di kawasan tersebut (Gambar 2.31).

Kondisi kawasan yang ada di Ramblas dapat dilihat pada potongan jalan yang menggambarkan kondisi lingkungan yang ada di sekitar kawasan. Lebar jalan yang ada di sekitar kawasan memiliki lebar yang cukup memadai dengan bangunan-bangunan yang melingkupi kawasan yang membuat suasana menjadi lebih menarik dan nyaman serta kegiatan aktifitas yang ada di sekitar kawasan (Gambar 2.32).

Gambar 2.31 Kegiatan berjalan kaki di Ramblas Barcelona Sumber: WWW.Google.Com

Lebar pedestrian yang berada di tengah memiliki lebar yang bervariasi, yaitu antara 11 - 13 meter dan terdapat pepohonan di sepanjang jalur pedestrian, jarak antar pohon memiliki jarak 6 meter dan dari pinggir bahu jalan memiliki jarak 60 cm. Jalur sirkulasi kendaraan di bagi menjadi dua arah, masing-masing memiliki jarak yang bervariasi antara 4,5 – 10 meter. Terdapat jalan setapak sepanjang bangunan dengan ukuran yang bervariasi 3 – 6 meter. Total keseluruhan sirkulasi, baik untuk jalur kendaraan, jalan setapak dan pedestrian memiliki lebar 31 meter. Pepohonan di sepanjang pedestrian membentuk susunan yang teratur dan indah sehingga suasana lingkungan yang tercipta terasa nyaman.

Gambar 2.32 Potongan jalan Ramblas Barcelona Sumber: Jacob .B. Allan, 1991: 93

Café dengan struktur kain layar yang temporer di sediakan sepanjang bagian dari jalur pedestrian yang luas, selama musim semi dan musim panas (Gambar 2.33).

Ramblas, Barcelona dirancang dengan spesial, dengan sangat mengesankan sebagai ruang publik. Di tengah-tengah kepadatan bangunan dan banyaknya aktivitas orang-orang baik di dalam maupun di luar ruangan, ruang publik di rancang untuk menciptakan suatu kegiatan hiburan dan sosialisasi yang menyenangkan dengan tetap memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Bangunan-bangunan pada jalan ini memiliki ketinggian yang hampir sama yaitu sekitar 5-7 lantai (24 meter) dan jalan didominasi oleh Bangunan-bangunan retail/toko yang fasadenya terdiri dari jendela-jendela dan entrance dengan arsitektur bangunan gotik. Sepanjang pedestrian terdapat tempat duduk, lampu-lampu taman yang menghiasi Ramblas, Barcelona pada malam hari, aneka barang-barang yang dipamerkan dan dijual, atraksi menarik dari sekelompok orang untuk menciptakan suasan yang menyenangkan dan menarik dan

Gambar 2.33 Café di sepanjang pedestrian Ramblas Barcelona

Gambar 2.34 Regent Street London Sumber: WWW.Google.Com

hal ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang berbeda dari jalan-jalan besar di kota lainnya, sehingga pada saat seseorang dating ke Ramblas, Barcelona orang-orang akan merasakan suasana berbeda yang diciptakan di lingkungan Ramblas, Barcelona dan pada simpul-simpul jalan di buat bagian yang berbeda sehingga saat seseorang berjalan di pedestrian tersebut awal dan akhir dari pedestrian tersebut akan lebih mudah diingat oleh orang-orang melintas dengan kendaraan ataupun berjalan kaki di kawasan tersebut.

2.6.2 Regent Street London

Regent Street London merupakan salah satu jalan yang terkenal di pusat kota London pada tahun 1800s oleh arsitek yang bernama John Nash yang merancangan dengan baik, sehingga jalan ini merupakan salah satu jalan yang terkenal di dunia. Adanya sirkulasi pejalan kaki yang dirancang dengan baik, dengan tiang-tiang yang merupakan bagian dari struktur bangunan yang membentuk kolonade (Gambar 2.34 dan 2.35).

Regent Street, London memiliki jalur sirkulasi kendaraan dan jalur sirkulasi pejalan kaki, untuk jalur sirkulasi kendaraan memiliki lebar 16 meter dan untuk jalur sirkulasi pejalan kaki memiliki lebar 5,4 meter dan total keseluruhan memiliki lebar 26 meter, dengan lebar jalan yang memadai di sekitar kawasan menciptakan lingkungan yang menarik dan nyaman (Gambar 2.36).

Gambar 2.35 Jalur sirkulasi di

Regent Street London Sumber: WWW.Google.Com

Bentuk jalan yang di bentuk berbentuk diagonal dengan bentuk yang beraturan. Skala bangunan yang yang jelas yang disesuaikan dengan lebar jalan, sehingga adanya satu kesatuan dan terlingkupi antara jalan dengan bangunan yang terbentuk dan fungsi bangunan di kawasan ini adalah bangunan komersial.

Ketinggian bangunan memiliki tinggi yang sama, yaitu antara 6 – 7 lantai sekitar 70 kaki (21 meter). Material yang digunakan pada bangunan, yaitu sejenis batu alam atau batu gamping dengan warna keabu-abuan dan dipadukan dengan warna coklat. Bangunan dirancang dengan mengekspos kolom-kolom bangunan, pintu masuk utama dan bangunan di sekitar Regent Street, London banyak menggunakan jendela serta dinding bangunan yang direlief (Gambar 2.37).

Gambar 2.38 Castro Street Mountain

California Sumber: WWW.Google.Com

2.6.3 Castro Street Mountain California

Castro Street Mountain California merupakan suatu jalan yang terkenal di California dan sudah ada sejak tahun 1990 yang dikonsep dalam tingkatan yang fleksibilitas dengan disain yang kuat dan jelas. Jalan ini didisain dalam tiga tingkatan, yaitu: untuk trotoar kakilima, parkir kendaraan dan jalur sirkulasi kendaraan. Dalam disain, trotoar pejalan kaki yang didisain secara lebih efektif untuk memisahkan pejalan kaki dari parkir kendaraan. Castro Street Mountain California memiliki lebar keseluruhan 24 meter, jalur sirkulasi pejalan kaki masing-masing di sebelah kanan dan kiri memiliki lebar 3 meter, sedangkan untuk jalur sirkulasi kendaraan dan parkir kendaraan memiliki lebar 18 meter (Gambar 2.38 dan 2.39).

Gambar 2.37

Tampak bangunanRegent Street London Sumber: WWW.Google.Com

Pepohonan di sepanjang jalur trotoar di arahkan untuk memberikan transisi fleksibel antara zona trotoar pejalan kaki dengan zona parkir kendaraan. Kawasan ini dirancang dengan baik dengan fungsi bangunan komersial, café dan retail yang memusatkan aktivitas pada trotoar kakilima dengan tetap memberikan ruang untuk jalur sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan. Hal ini dapat meningkatkan vitalitas ekonomi di kawasan tersebut, tetapi tidak dalam kaitan disain jalan melainkan suatu disain yang melakukan pendekatan yang disesuaikan dengan penggunaan lahan dan konteks lingkungan di kawasan tersebut (Gambar 2.40).

Gambar 2.39 Potongan jalanCastro Street

Mountain California Sumber: Jacob .B. Allan, 1991: 168

2.6.4 Bahnhofstrasse Zurich

Bahnhofstrasse Zurich merupakan salah satu jalan yang terkenal yang ada di Negara Switzerland dan jalan ini berkembang sejak tahun 1860. Bahnhofstrasse, zurich merupakan salah satu tempat pusat perbelanjaan dengan retail-retail toko area ini dirancang khusus dengan mengorganisir kegiatan berbelanja dengan berjalan kaki. Tranportasi di sekitar kawasan adalah kereta api yang melintasi kawasan tersebut. Kawasan ini memiliki lebar jalan 7 meter dan hanya dilewati oleh kereta api, sedangkan untuk jalur pedestrian pejalan kaki disebelah kanan dan kiri masing-masing memiliki lebar 9 meter sehingga total keseluruhan sirkulasi pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan memiliki lebar 25 meter (Gambar 2.41 dan 2.42).

Gambar 2.40 Kegiatan komersial diCastro Street Mountain California Sumber: WWW.Google.Com

Gambar 2.41 Bahnhofsrasse, Zurich

Sumber: WWW.Google.Com

2.6.5 Braga Bandung

Jalan Braga di Kota Bandung terletak di jantung kota dan berhimpitan dengan Jalan Asia Afrika yang dikenal dengan Gedung Merdeka. Jalan ini memiliki panjang sepanjang lebih kurang 700 meter. Di sisi kanan dan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota yang tetap mempertahankan ciri arsitektur lama pada masa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan tersebut mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu (1920-1940-an) sebagai kota mode yang cukup termasyhur seperti halnya kota Paris pada saat itu. Identitas Braga dengan Art Deco-nya akan dikembangkan menjadi tema arsitektural Braga City Walk.

Gambar 2.42 Potongan jalan Bahnhofsrasse Zurich

Sumber: Jacob .B. Allan, 1991: 168

Direncanakan Braga City Walk dapat menjadi tempat rendevouz berbagai tataran waga kota, yang akhirnya diharapkan dapat menjadi ciri baru (new landmark) tujuan wisata khas kota Bandung. Fasilitas retail akan mengadopsi konsep lifestyle Center. Lifestyle shopping adalah trend terbaru cara masyarakat berbelanja setelah

trend shopping center (tahun 80-an) dan trend Malleisure space. Oleh karenanya

lifestyle center bukan saja akan menjadi tempat belanja yang nyaman tapi juga menjadi pusat akulturasi budaya lokal dan lokal budaya metropolis. Luas lifestyle center ini meliputi 20.000 m², yang tersebar di 3 lantai bangunan. Kekhasan Braga City Walk yang akan menjadi daya tarik utama masyarakat adalah disediakannya plaza terbuka (open-air plaza) yang dapat digunakan untuk berbagai acara. Plaza terbuka ini direncanakan seperti plaza terbuka kota-tua di Eropa.

Braga adalah salah satu jalan di pusat Kota Bandung. Pada masa kolonial jalan ini sangat prestisius. Seperti halnya Ochard Road di Singapura atau Ginza di Tokyo. Ketika itu jalan Braga yang khas seperti kota-kota tua di Eropa menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang berkunjung ke Bandung. Sejak jaman kolonial hingga akhir 70-an Braga dikenal sebagai CBD-nya Bandung. Jalan Braga dikenal sebagai kawasan berbelanja paling elit di Bandung. Namun kini kepopulerannya mulai surut. Braga kalah bersaing dengan pusat belanja baru lainnya. Seperti Bandung Super Mall, Bandung Indah Plaza, atau Istana Plaza. Braga memiliki potensi yang sangat besar untuk kembali menjadi CBD-nya Kota Bandung. Lokasinya yang strategis pada lingkungan historis memberikan peluang untuk menjadi bukan saja tempat yang indah tapi juga menjadi tempat yang menarik.

Gambar 2.44 Pertokoan di sepanjang Jl.

Braga Bandung Sumber: WWW.Google.Com

Gambar 2.43 Braga Bandung Sumber: WWW.Google.Com

Ruang Jalan Braga sebagai sebuah kawasan pertokoan elit dengan kondisi lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki baik untuk tujuan belanja maupun sekadar jalan-jalan. Proporsi ruang yang terbentuk menurut Dibyo Hartono dkk, adalah sebuah proporsi yang sangat baik dengan perbandingan ketinggian di dua sisi Jalan dan lebar jalannya proposional terhadap skala manusia.Sepanjang jalan ruang Braga terdapat berbagai peninggalan karya arsitektur dalam bentuk bangunan dengan berbagai gaya style. Tetapi mempunyai proporsi dan harmonisasi yang baik, sehingga menimbulkan kesan sebagai satu kesatuan yang dinamis dan adanya keterkaitan di dalam kawasan yang berkesinambungan dengan bangunan yang ada di sekitar kawasan dengan tetap memperhatikan elemen lainnya (Gambar 2.43 dan 2.43).

Gambar 2.45 Boulevard Saint-Michel

Luxembourg Sumber: WWW.Google.Com

2.6.6 Boulevard Saint-Michel

Boulevard Saint Michel merupakan salah satu jalan yang terkenal di kota Luxembourg. Jalan ini memiliki lebar keseluruhan 100 kaki (30 meter) yang terdiri dari sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki yang masing-masing memiliki lebar 7,2 meter. Ketinggian bangunan di kawasan ini memiliki ketinggian yang sama, yaitu lima lantai. Terdapat pepohonan sebagai pendukung pemandangan yang ada di sepanjang trotoar kakilima, setiap pohon memiliki jarak antara pohon yang satu dengan pohon yang lainnya, yaitu sekitar 5,10 meter dengan ketinggian pohon mencapai 9,5 meter (Gambar 2.45 dan 2.46).

Gambar 2.46 Potongan jalan Boulevard

Saint-Michel Luxembourg Sumber: Jacob .B. Allan, 1991: 8

Gambar 2.47 Kegiatan di sekitar Boulevard Saint-Michel Luxembourg Sumber: WWW.Google.Com

Kawasan ini di rancang untuk kegiatan berbelanja dan hiburan sehingga di kawasan ini banyak terdapat toko-toko yang menjual berbagai macam perlengkapan mulai dari toko pakaian sampai dengan toko furniture dan café. Trotoar kakilima di sediakan juga tempat duduk dengan banyak bangku dan meja dengan tetap memperhatikan jarak dengan jalur sirkulasi pejalan kaki (Gambar 2.47).

Di kawasan ini ketinggian bangunan rata-rata 5 lantai, fasade bangunan banyak menggunakan jendela dengan ukuran yang besar dan panjang, warna

Dalam dokumen Pedoman Tata Bangunan Di Jl. Pemuda, Medan (Halaman 41-61)

Dokumen terkait