• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DAMPAK PERLUASAN DAERAH KERJA BAGI PPAT

A. Urgensi Perluasan Daerah Kerja Bagi PPAT

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang disahkan pada tanggal 22 Juni 2016 lalu dan berlaku sejak saat diundangkan, yaitu pada tanggal 27 Juni 2016.

PP Nomor 24 Tahun 2016 tersebut cukup banyak membuat perubahan penting terhadap PP Nomor 37 Tahun 1998, khususnya mengatur mengenai perubahan atas :

1. Perubahan definisi dengan menghapus pasal 1 ayat 7 mengenai Formasi Notaris dan merubah Pasal 1 ayat 9 mengenai Menteri yang berwenang terhadap PPAT

2. Syarat untuk menjadi PPAT (Pasal 6 PP Nomor 24 Tahun 2016)

3. Profesi yang dilarang untuk dirangkap bersamaan dengan jabatan PPAT tersebut (Pasal 7 PP Nomor 24 Tahun 2016)

4. Berhentinya menjadi seorang PPAT (Pasal 8 PP Nomor 24 Tahun 2016) 5. Diubahnya ketentuan mengenai berhentinya jabatan PPAT karena

mengangkat sumpah Notaris di wilayah kerja lain (Pasal 9 PP Nomor 24 Tahun 2016)

6. Pemberhentian PPAT (Pasal 10 PP Nomor 24 Tahun 2016) 7. Penghapusan Pasal 11 PP Nomor 24 Tahun 2016

8. Wilayah Kerja PPAT (Pasal 12 ayat 1 di ubah dan ditambah 1 ayat yaitu ayat 3 PP Nomor 24 Tahun 2016).

9. Tempat kedudukan PPAT yang berada dalam lingkup wilayah kerjanya (Pasal 12-A PP Nomor 24 Tahun 2016) dan mengenai pemindahan tempat kedudukan dan daerah kerja (Pasal 12-B PP Nomor 24 Tahun 2016) 10. Pemekaran wilayah (Pasal 13 PP Nomor 24 Tahun 2016)

11. Penentuan Formasi PPAT oleh Mentri dihapus (Pasal 14 PP Nomor 24 Tahun 2016)

12. Pengangkatan jabatan PPAT (Pasal 15 PP Nomor 24 Tahun 2016) 13. Pelaksanaan jabatan PPAT (Pasal 19 PP Nomor 24 Tahun 2016)

14. Kantor PPAT Harus sama dengan kantor Notaris (Pasal 20 PP Nomor 24 Tahun 2016)

15. Protokol PPAT (Pasal 27 PP Nomor 24 Tahun 2016) 16. PPAT Pengganti (Pasal 31 PP Nomor 24 Tahun 2016)

17. Honorarium dan pungutan PPAT (Pasal 32 PP Nomor 24 Tahun 2016) 18. Pembinaan dan pengawasan PPAT (Pasal 33 PP Nomor 24 Tahun 2016)

Jika kita bandingkan dengan pasal 12 ayat 1 PP Nomor 37 Tahun 1998 disebutkan bahwa :

“Daerah kerja PPAT adalah satu wilayah kerja Kantor Pertanahan Kabupaten/Kotamadya”

Hal mana dipertegas dengan pasal 13 ayat 1 PP Nomor 37 Tahun 1998 yang menjelaskan bahwa:

“Apabila suatu wilayah Kabupaten/Kotamadya dipecah menjadi 2 (dua)atau lebih wilayah Kabupaten/Kotamadya, maka dalam waktu 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang tentang pembentukan Kabupaten/Kotamadya daerah Tingkat II yang baru PPAT yang daerah kerjanya adalah Kabupaten/Kotamadya semula harus memilih salah satu wilayah Kabupaten/ Kotamadya sebagai daerah kerjanya, dengan ketentuan bahwa apabila pemilihan tersebut tidak dilakukan pada waktunya, maka mulai 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang Pembentukan Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat tersebut daerah kerja PPAT yang bersangkutan hanya meliputi wilayah Kabupaten/Kota-madya letak Kantor PPAT yang bersangkutan.”

Sebelum adanya PP Nomor 37 Tahun 1998, maka para PPAT yang semula dapat menjalankan tugas dan jabatannya dalam satu provinsi “dipaksa” untuk memilih salah satu wilayah kerja sesuai dengan tempat kedudukan kantornya pada saat itu, atau pindah ke tempat kedudukan sesuai dengan yang diinginkan.105

Dengan adanya PP Nomor 24 Tahun 2016 ini berarti kembali seperti keadaan sebelum terbitnya PP Nomor 37 Tahun 1998, dimana wilayah kerja PPAT menjadi satu Propinsi. Jadi, PPAT yang berkedudukan di Kota Medan misalnya bisa membuat akta-akta PPAT di Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Padang Lawas dan seterusnya selama masih dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara.

105Boedi Harsono 4, Op.Cit., hal 77

Aturan tersebut menjadi selaras dengan kewenangan Notaris yang berwenang untuk menjalankan jabatannya (membacakan, menandatangani dan seterusnya) akta-akta notariil selama masih dalam wilayah kerjanya di dalam satu propinsi. Yang menjadi perhatian adalah: apakah urgensinya perluasan daerah kerja bagi PPAT? Jika disejajarkan dengan Pasal 18 ayat 1 dan ayat 2 UU No. 30 tahun 2004 juncto UU No. 2 tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwa:

“(1) Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah kabupaten atau kota .(2) Notaris mempunyai wilayah jabatan meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya.”

Maka perubahan wilayah jabatan PPAT dari semula 1 (satu) kantor pertanahan Kabupaten/Kota menjadi 1 (satu) provinsi sudah sesuai dengan

“nafas” dari UU Jabatan Notaris. Karena dalam praktik PPAT juga dijabat oleh Notaris. Selama ini dalam praktik sering menjadi masalah ketika wilayah jabatan PPAT berada di tempat yang berbeda dengan wilayah kerja Notarisnya.

Jika dipandang dari possibility dan meluasnya ruang kerja PPAT, maka untuk PPAT dalam suatu wilayah kerja tertentu sudah tidak usah lagi harus “lintas jabatan”. Artinya secara sempit merupakan rejeki bagi para PPAT dengan semakin luasnya wilayah jabatan tersebut. Namun di sisi lain, bagi PPAT yang masih “yunior” hal ini dianggap semakin mempersempit kesempatan untuk mendapatkan rejeki dengan semakin luasnya ruang gerak PPAT “senior” yang sudah memiliki banyak relasi. Ketentuan daerah kerja sama diartikan indentitas kewenangan seorang PPAT dalam menjalankan profesi tersebut. Karena setiap

pembuatan akta PPAT selalu berhubungan dengan ketentuan hukum yang mengatur menyangkut pendaftaran, peralihan hak dan pembebanan. Oleh karena itu, setiap kewenangan selalu berhubungan dengan tanggung jawab yang dijalankan oleh seorang PPAT. Tanggung jawab tersebut adalah memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi para pemegang hak disamping melaksanakan tertip administasi dibidang pertanahan.106

Dalam perkembangannya, perluasan daerah kerja PPAT menjadi provinsi ada yang mengapresiasi, bahwa langkah besar tersebut sesuatu yang sangat ideal dengan alasan, pekerjaan seorang PPAT tidak boleh terhambat pada wilayah kerja. PPAT adalah profesi yang membutuhkan profesionalitas tinggi maka dibutuhkan kemampuan dan wewenang. Namun hal tersebut harus ditinjau dari segi aturan hukum yang berlaku, supaya jangan timbul permasalahan hukum dikemudian hari.107

Regionalisasi wilayah PPAT dengan cakupan daerah pekerjaan yang diperluas membutuhkan aturan main yang jelas. Idealnya sebelum kebijakan ini diambil oleh Kementrian Agraria mengenai regionalisasi wilayah kerja PPAT maka sudah sepantasnya langkah-langkah yang harus dijalankan dengan melakukan pembahasan bersama antara Kementerian Agraria dengan Ikatan Pajabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) maupun pada instansi terkait lainnya.

Pembahasan ini sangat penting karena PPAT adalah selaku mitra dari Kantor pertanahan setempat, dengan melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah

106Hasil Wawancara dengan Nurlinda Simanjorang, Notaris dan PPAT di Kabupaten Deli Serdang, tamggal 20 Januari 2017

107Ibid

dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah.

Jika dilihat dari tanggal ditandatanganinya PP No. 24 tahun 2016, dan tanggal di undangkannya yakni pada tanggal 26 Juni 2016, apakah PPAT sudah mulai bisa membuat akta-akta untuk tanah-tanah di dalam satu provinsi? Dalam Peraturan Pemerintah tersebut biasanya akan ditindak lanjuti dengan petunjuk pelaksanaa dan petunjuk teknisnya.

Dalam Pasal 12 ayat 3 PP Nomor 24 Tahun 2016 tersebut di tetapkan bahwa segala ketentuan lebih lanjut mengenai Daerah Kerja PPAT diatur dalam Peraturan Menteri. Oleh karena Peraturan Menteri sebagai peraturan teknis yang mengatur daerah kerja belum dibentuk, maka Pasal 12 PP Nomor 24 Tahun 2016 tersebut belum dapat diaplikasikan secara sempurna.

B. Hubungan Perluasan Daerah Kerja Dalam Provinsi Dengan Efektivitas