Indeks Pengeluaran Perkapita (Rp 000)
URUSAN KONKUREN, FUNGSI PENUNJANG URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN URUSAN PEMERINTAHAN UMUM
A. URUSAN WAJIB
2. Urusan Wajib Kesehatan 1 Dinas Kesehatan
Saat ini derajat kesehatan masyarakat telah meningkat dari waktu ke waktu, dilihat dari beberapa indikator capaian kinerja bidang kesehatan antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) Usia Harapan Hidup (UHH)
UHH penduduk di Provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan setiap tahunnya. UHH Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019 adalah 68,95 tahun. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diterbitkan oleh BPS, terjadi peningkatan UHH penduduk Sumatera Utara dari tahun ke tahun yakni 68,61 tahun pada tahun 2018; 68,37 tahun pada tahun 2017; 68,29 tahun pada tahun 2016; 68,21 tahun pada tahun 2015; 68,04 tahun pada tahun 2014 dan 67,46 tahun pada tahun 2010.
2) Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat orang tua si bayi tinggal dan sangat erat kaitannya dengan status sosial orang tua si bayi dengan demikian angka kematian bayi merupakan tolok ukur yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan.
Karena ketiadaan survei pada Angka Kematian Bayi (AKB) maka data yang diperoleh adalah berdasarkan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) dan Laporan dari Kabupaten/Kota, yakni dari jumlah kematian bayi dibagi sasaran lahir hidup dikali 1.000 Kelahiran Hidup.
Berdasarkan laporan rutin Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) bahwa pada tahun 2019 jumlah kasus kematian bayi adalah sebanyak 790 kasus dari 302.555 sasaran lahir hidup sehingga AKB Tahun 2019 adalah sebesar 2,61 per 1.000 Kelahiran Hidup (KH), angka ini menunjukkan penurunan kasus jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu 869 kasus dari 305.935 sasaran lahir hidup (AKB Tahun 2018 yakni 2,84 per 1.000 KH); dan tahun 2017 yaitu 1.066 kasus dari 300.358 sasaran lahir hidup (AKB Tahun 2017 yakni 3,52 per 1.000 KH).
Dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2019 yaitu 4,5 per 1.000 Kelahiran Hidup maka Angka Kematian Bayi di Provinsi Sumatera Utara tahun 2019 sudah melampui target.
3) Prevalensi Stunting pada Balita
Stunting pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekuarangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.
Dengan demikian periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seyogyanya mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang di masa depan.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018, diperoleh data prevalensi stunting pada balita di Provinsi Sumatera Utara sebesar 32,3%, angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2013 dimana prevalensi stunting pada balita di Sumatera Utara Tahun 2013 adalah 42,5%.
4) Angka Kesakitan (Morbiditas)
Angka kesakitan (morbiditas) merupakan indikator penting yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat secara umum yang dilihat dari adanya keluhan yang mengindikasikan terkena suatu penyakit tertentu.
Pengetahuan mengenai derajat kesehatan suatu masyarakat dapat menjadi pertimbangan dalam pembangunan bidang kesehatan, yang bertujuan agar semua lapisan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata.
Kurun waktu 5 tahun terakhir Angka Kesakitan di Sumatera Utara berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bidang kesehatan adalah 11,84% tahun 2015,
menurun menjadi 11,15% tahun 2016, 11,17% tahun 2017 dan 11,03% tahun 2018, namun tahun 2019 meningkat menjadi 11,97%.
Peningkatan angka kesakitan (morbiditas) ini disebabkan oleh antara lain meningkatnya faktor resiko kesakitan pada masyarakat berupa kerentanan penyakit yang meliputi : a. Kerentanan Individu (susceptibility);
b. Kerentanan Lingkungan;
c. Kerentanan Perilaku Penyebab Timbulnya Kesakitan.
5) Ketersediaan Sarana Kesehatan
Pada tahun 2019 tersedia 600 unit puskesmas dengan perincian 156 unit puskesmas rawat inap dan 444 puskesmas non rawat inap (rawat jalan), ketersediaan sarana kesehatan dasar (Puskesmas) ini bertambah 19 unit jika dibanding dengan tahun 2018 yakni 581 unit dengan perincian 155 unit puskesmas rawat inap dan 426 unit puskesmas non rawat inap (rawat jalan).
Persebaran puskesmas di kabupaten/kota sudah cukup merata, setiap kecamatan di Provinsi Sumatera Utara sudah memiliki paling sedikit 1 puskesmas. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Sumatera Utara (14.901.786 jiwa), maka 1 puskesmas melayani 24.836 jiwa. Bila dibandingkan dengan standar nasional dimana 1 puskesmas melayani 30.000 jiwa, maka Provinsi Sumatera Utara telah mampu menyediakan sarana kesehatan dasar sesuai standar nasional tersebut.
Untuk sarana pelayanan kesehatan rujukan (Rumah Sakit), tahun 2019 jumlah rumah sakit di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 211 unit, dimana 4 unit RS tutup di tahun 2019 dan 2 unit RS berdiri dan beroperasional. Jumlah rumah sakit berkurang 2 unit, menjadi 211 unit Rumah Sakit (RS) dari sebelumnya 213 unit tahun 2018. Rumah sakit yang berkurang adalah rumah sakit swasta yang tutup pada tahun 2018, yakni RS Keluarga di Kabupaten Deli Serdang dan RSU Kasih Ibu di Kabupaten Labuhanbatu.
6) Ketersediaan Tenaga Kesehatan
Tahun 2018 jumlah tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 58.767 orang dan bertambah menjadi 61.190 orang tenaga kesehatan pada tahun 2019.
Data ketenagaan yang dihitung adalah data tenaga kesehatan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang meliputi tenaga medis, tenaga psikologi klinis, tenaga keperawatan, tenaga kebidanan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, tenaga keteknisian medis, tenaga teknik biomedika, tenaga kesehatan tradisional dan tenaga kesehatan lainnya, karena pada tahun-tahun sebelumnya data yang dihitung dan disajikan adalah tenaga medis saja.
7) Ketersediaan Obat dan Vaksin
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada Pasal 36 menyebutkan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan perbekalan kesehatan, terutama Obat Esensial. Untuk tahun 2019
persentase ketersediaan obat dan vaksin di Provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari 93,36% pada tahun 2018 menjadi 95,10% pada tahun 2019.
8) Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin
Pada tahun 2019 jumlah penduduk miskin yang tercatat sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebagai peserta BPJS Kesehatan adalah sebanyak 6.217.681 jiwa. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018 yaitu 5.894.020 jiwa dan tahun 2017 yaitu 5.466.094 jiwa. Seluruh penduduk yang miskin yang tercatat sebagai PBI (100%) mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan di rumah sakit.
9) Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan Penyelidikan Epidemiologi < 24 jam
Pada tahun 2017, 2018 dan 2019, cakupan desa/kelurahan yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam oleh Tim Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara sudah mencapai 100%.
10) Cakupan Desa Siaga Aktif
Cakupan desa siaga aktif di Provinsi Sumatera Utara tahun 2019 sebesar 40%, capaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu 38% dan 36,06% pada tahun 2017.
2.2 Rumah Sakit Umum Haji Medan
Capaian indikator tingkat aksebilitas pelayanan kesehatan pada RS. Umum Haji Medan, dimana indikator ini juga ditentukan/diukur dengan Indikator di bawah ini, yaitu : 1) Bed Occupancy Rate (BOR) adalah persentase pemakaian
tempat tidur pada satuan waktu tertentu, target kinerja sebesar 55%. Kemudian diakhir tahun diukur tingkat pencapaian target kinerja dan diperoleh realisasinya sebesar 46 %, dengan capaian kinerja 84%.
2) Length Of Stay (LOS) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien, dengan target kinerja 5 hari. Kemudian diakhir tahun diukur tingkat pencapaian target kinerja dan diperoleh capaian realisasinya sebesar 4 hari. Sehingga dengan demikian dapat dijelaskan bahwa capaian kinerja pada indikator ini adalah 92%.
3) Turn Over Internal (TOI) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya, target kinerja 3 hari capaian realisasi 5 hari. Sehingga dengan demikian dapat dijelaskan bahwa capaian kinerja pada indikator ini adalah 57%.
4) Bed Turn Over (BTO) adalah frekwensi pemakaian tempat tidur pada satu periode. Berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu waktu tertentu, target kinerja 46 kali, capaian realisasi 38 kali dengan demikian dapat dijelaskan bahwa capaian kinerja pada indikator ini adalah 74%.
2.3 Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem
Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. M. Ildrem akan terus melaksanakan berbagai upaya program/kegiatan untuk pencapaian serta mempertahankan BOR yang ideal bagi suatu rumah sakit yang berkisar BOR 80-100%. Pencapaian angka BOR untuk Rumah Sakit Jiwa Prof Dr. Muhammad Ildrem pada tahun 2019 adalah 73.85%, berhasil diturunkan dari capaian BOR 85,00% pada tahun 2018.
Dalam hal penurunan ALOS (Average Lenght Of Stay) atau rata rata lama hari rawatan pasien tidak dapat tercapai di tahun ini. Capaian kinerja 91,40% dengan ALOS 70,59 hari dari 65 hari yang menjadi target. Tidak tercapainya target di tahun 2019 merupakan dampak yang harus dihadapi dengan dilaksanakannya kegiatan Pemulangan Pasien Terjadwal (Droping) kembali ke keluarganya (penanggung jawab) bagi pasien yang telah dianjurkan untuk Pulang Berobat Jalan (PBJ) oleh dokter. Diantara pasien yang dirawat ada yang memiliki masa rawatan cukup tinggi, sehingga mempengaruhi nilai rata rata masa rawatan yang diperoleh di tahun 2019. Kegiatan Droping ini harus dilaksanakan agar capaian kinerja BOR dan ALOS ditahun tahun mendatang dapat tercapai dengan baik.
3. Urusan Wajib Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang