Bab IV : Hasil Penelitian
TINJAUAN TEORITIS
B. Usaha Kecil dan Menengah
Definisi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) beberapa lembaga atau intansi bahkan UU memberikan definisi Usaha Kecil dan Menengah , diantaranya adalah kementrian negara koperasi dan usaha kecil menengah (Menengkop dan UKM), Badan pusat statistik (BPS), Keputusan Menteri Keuangan No. 316/KMK,016/1994,
dan UU. No. 20 Tahun 2008. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
Menurut UU No.9 tahun 1995 usaha kecil adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memilki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000.00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau yang memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000.00 dan milik Warga Negara Indonesia. (Adi, 2007 : 12). Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia kepada semua Bank Umum di Indonesia No. 3/9/Bkr, tanggal 17 Mei 2001, usaha kecil adalah usaha yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah)
c. Milik Warga Negara Indonesia.
d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berfaliasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.
e. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi (Adi, 2007 : 12)
Usaha Menengah menurut Instruksi Presiden No. 10 tahun 1999 adalah usaha menegah adalah usaha bersifat produktif yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 200.000.000.00, sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000.00, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
b. Milik Warga Negara Indonesia
c. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau berafiliasi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan usaha menengah atau usaha besar.
d. Berbentuk usaha perorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi (Adi, 2007 : 12).
UKM meliputi berbagai sektor bisnis, seperti pertanian, pertambangan, industri manufaktur, listrik, gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, transportasi, telekomunikasi, keuangan, penyewaan dan jasa. Terdapat beberapa kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam pengembangan UKM yaitu: keterbatasan modal usaha, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), keterbatasan teknologi, keterbatasan bahan baku dan kesulitan pemasaran. Untuk mengatasi keterbatasan modal, sering kali para pengusaha UKM meminjam dana dari lembaga keuangan dengan bunga yang cukup tinggi.
Adapun permasalahan umum yang terjadi pada UKM, antara lain : a) Kesulitan Pemasaran
Masalah pemasaran yang dialami yaitu tekanan persaingan baik di pasar domestik dari produk yang serupa buatan sendiri dan impor, maupun di pasar
internasional dan kekurangan informasi yang akurat mengenai peluang pasar di dalam maupun luar negeri.
b) Keterbatasan Finansial
Terdapat dua masalah utama dalam kegiatan UKM di Indonesia, yakni dalam aspek finansial jangka pendek modal awal, akses ke modal kerja dan finansial jangka panjang untuk investasi yang diperlukan untuk pertumbuhan output jangka panjang.
c) Keterbatasan SDM
Keterbatasan SDM terutama dalam aspek-aspek entrepreneurship, manajemen, teknik produksi, pengembangan produk, engineering design, quality control, organisasi bisnis, akuntansi, processing, teknik pemasaran, dan penelitian pasar.
d) Masalah Bahan Baku
Keterbatasan bahan baku merupakan kendala yang serius bagi pertumbuhan output ataupun kelangsungan produksi bagi UKM di Indonesia. Banyak pengusaha yang terpaksa berhenti dari usaha dan berpindah profesi ke kegiatan ekonomi lainnya akibat masalah keterbatasan bahan baku.
e) Keterbatasan Teknologi
UKM di Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi yang tradisional. Hal ini membuat produksi menjadi rendah, efisiensi menjadi kurang maksimal dan kualitas produk relatif rendah.
Kurangnya kemampuan pengusaha kecil menentukan pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap pengembangan usahanya yang akan membuat pengelolaan usaha menjadi terbatas.
g) Kemitraan
Kemitraan mengacu pada pengertian bekerja sama antara pengusaha dengan tingkatan yang berbeda yaitu antara pengusaha kecil dan pengusaha besar.
Pengusaha menghadapi kendala dalam hal orientasi pasar untuk men-dukung keberhasilan usaha mereka. Kelemahan usaha adalah kurangnya riset, aktivitas usaha yang tidak terencana dengan baik, lebih menggantungkan pada intuisi dan energi dari pemilik usaha, menempatkan dalam pemasaran pada prioritas yang rendah dibanding aspek usaha lainnya. Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah.
Secara garis besar jenis usaha UKM dikelompokkan menjadi: a. Usaha Perdagangan
Keagenan: agen Koran/majalah, sepatu, pakaian dan lain-lain; pengecer: minyak, kebutuhan pokok, buah-buahan, dan lain-lain; Ekspor/Impor: produk lokal dan internasional; sektor informal: pengumpul barang bekas, perdagang kaki lima, dan lain-lain.
b. Usaha Pertanian
Meliputi perkebunan: pembibitan dan kebun buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain-lain; Peternakan: ternak ayam petelur, susu sapi; Perikanan: darat/laut seperti tambak udangm, kolam ikan, dan lain-lain.
c. Usaha Industri
Industri makanan/minuman; pertambangan; Pengrajin; Konveksi dan lain-lain. d. Usaha Jasa
Jasa Konsultan; Perbengkelan; Restoran; Jasa Konstruksi, Jasa Trans-portasi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pendidikan, dan lain-lain.
Dalam perspektif perkembangannya, UKM dapat diklarifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu:
1. Livelihood Activities, merupakan UKM yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise, merupakan UKM yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4. Fast Moving Enterprise, merupakan UKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB). Teori pemasaran sebagaimana kita ketahui bahwa kegiatan pemasaran berbeda dengan penjualan , transaksi ataupun perdagangan. American Marketing Association, 1960, mengartikan pemasaran sebagai pelaksanaan dunia usaha yang mengarahkan arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen atau pihak pemakai. Definisi ini hanya memberikan penjelasan mengenai aspek distribusi daripada kegiatan pemasaran. Sedangkan fungsi-fungsi lain tidak diperhatikan, sehingga kita tidak
memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap tentang pemasaran. Sedangkan definisi lain, dikemukakan oleh Philip Kolter dalam bukunya “Marketing Management
Analysis, Planning, and Control”, mengartikan pemasaran lebih luas, bahwa
pemasaran adalah suatu proses sosial, dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan mereka inginkan dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.
Target market selama ini terlihat gejala semakin banyak perusahaan memilih pasar sasaran yang akan dituju, keadaan ini dikarenakan mereka menyadari bahwa pada dasarnya mereka tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Terlalu banyakya pelanggan dan tersebar diberbagai daerah, serta bervariatif dalam tuntutan kebutuhan dan keinginannya. Jadi arti dari pasar sasaran adalah sebuah pasar terdiri dari pelanggan potensial dengan kebutuhan atau keinginan tertentu yang mungkin maupun mampu untuk ambil bagian dalam jual beli, guna memuaskan kebutuhan atau keinginan tersebut. Karena konsumen yang terlalu heterogen itulah maka perusahaan perlu mengelompokkan pasar menjadi segmen-segmen pasar, lalu memilih dan menetapkan segmen pasar tertentu sebagai sasaran. Dengan adanya hal ini, maka perusahaan terbantu untuk mengidentifikasi peluang pasar dengan lebih baik, dengan demikian perusahaan dapat mengembangkan produk yang tepat, dapat menentukan saluran distribusi dan periklanan yang sesuai dan efisien serta mampu menyesuaikan harga bagi barang atau jasa yang ditawarkan bagi setiap target pasar.
C. Produksi
Produksi adalah menciptakan, menghasilkan, dan membuat. Kegiatan produksi tidak akan dapat dilakukan kalau tidak ada bahan yang memungkinkan dilakukannya proses produksi itu sendiri. Untuk bisa melakukan produksi, orang memerlukan tenaga manusia, sumber-sumber alam, modal dalam segala bentuk-nya, serta kecakapan. Semua unsur itu disebut faktor-faktor produksi (factors of production). Jadi, semua unsur yang menopang usaha penciptaan nilai atau usaha memperbesar nilai barang disebut sebagai faktor-faktor produksi.
Dalam pandangan Islam produksi sebagai usaha manusia untuk memperbaiki tidak hanya kondisi fisik materialnya, tetapi juga moralitas, sebagai sarana untuk mencapai tujuan hihup sebagaimana digariskan dalam agama Islam yaitu kebahagiaan dunia akhirat. Prinsip dasar ekonomi Islam tidak adalah keyakinan kepada Allah SWT sebagai Rabb dari alam semesta. Dengan keyakinan akan peran dan kepemilikan absolut Rabb semesta alam, maka konsep produksi di dalam ekonomi Islam tidak semata-mata bermotif maksimalisasikan keuntungan dunia, tetapi lebih penting memaksimalisasikan keuntungan akhirat.
Bagi Islam memproduksi sesuatu bukanlah sekedar untuk dikomsumsi sendiri atau dijual kepasar, karena dua motif tersebut hanya terbatas pada kegiatan ekonomi. Namun, Islam secara khas menekankan bahwa setiap kegiatan produksi harus pula mewujudkan fungsi sosial. Ini tercermin dalam QS. Al-Hadid (57 : 7)
“Berimanlah kamu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan nafkahkanlah (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. Melalui dasar inilah, kegiatan produksi harus bergerak diatas dua garis optimalisasi. Tingkat optimal permata adalah mengutamakan berfungsinya sumberdaya insani kearah pencapaian kondisi full employment, dimana setiap orang
bekerja dan menghasilkan suatu karya kecuali mereka yang seperti “udzur syar’I
seperti sakit dan lumpuh. Optimalisasi berikutnya adalah dalam hal memproduksi kebutuhan primer (dharuriyyat), lalu kebutuhan sekunder (hajiyyat), dan kebutuhan tersier (tahsiniyyat) secara proposional.
a. Kurva Produksi (Isoquant)
Gambar 1.1 Kurva Produksi Capital 6 IQ 3 3 IQ 2 2 IQ 1 1 IQ 0 1 2 3 6 Labour
Kurva tersebut dinamakan kurva produksi sama atau Isoquant. Ia meng-gambarkan gabungan tenaga kerja dan modal yang akan menghasilkan satu tingkat produksi tertentu. Kurva IQ1, IQ2, IQ3 yang terletak diatas IQ. Ketiga kurva lain tersebut menggambarkan tingkat produksi yang berbeda-beda.
Ciri-ciri isoquant
1. Mempunyai kemiringan yang negatif
2. Semakin ke kanan kedudukan isoquant menunjukkan semakin tinggi jumlah output
3. Isoquant tidak pernah berpotongan dengan isoquant yang lainnya 4. Isoquant cembung ke titik origin ( Sukirno, 2014 : 200).
b. Fungsi Produksi
Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu (Ferguson dan Gould, 1975 : 345). Fungsi produksi menunjukkan sifat hubungan di antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dapat dihasilkan. Faktor-faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan jumlah produksi selalu juga disebut sebagai output. Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam rumus seperti berikut (Sukirno, 2010 : 195).
Q = f (K,L,R,T) Q = Output
K = Kapital/Modal L = Labour/Tenaga Kerja
R = Resource/sumber daya T = Teknologi
c. Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Produksi Industri 1. Modal Kerja
Modal kerja adalah modal yang seharusnya tetap ada dalam perusahaan sehingga operasional perusahaan menjadi lebih lancar serta tujuan akhir perusahaan untuk menghasilkan laba akan tercapai (Ambarwati, 2010 : 12).
2. Bahan Baku
Menurut Mulyadi (2005 : 275) bahan baku adalah :
“Bahan baku merupakan bahan yang memebentuk bagian menyeluruh”.
Menurut Masiyal Kholmi (2003 : 29) bahan baku adalah :
“ Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian besar produk jadi,
bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari
pembelian lokal, impor atau hasil pengolahan sendiri”.
Sedangkan menurut Suyadi Prawirosentono (2001 : 61) bahan baku adalah: “Bahan baku adalah bahan utama dari suatu produk atau barang”. 3. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan istilah yang identik dengan istilah personalia, di dalamnya meliputi buruh. Buruh yang dimaksud adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian (Siswanto, 1989 : 9).
Selain itu juga, pengertian tenaga kerja menurut BPS adalah salah satu modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja selalu mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya dinamika penduduk. Ketidakseimbangan antara jumlah angkatan dan lowongan kerja yang tersedia menyebabkan timbulnya masalah-masalah sosial.
4. Pasar
Secara umum pasar adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembelian) dan penawaran (penjualan) dari suatu barang atau jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan (Suprayitno, 2008 : 205)
E. Kredit
Menurut Undang-undang Perbankan Nomor 14 Tahun 1967, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan 14 pihak lain dalam hal mana pihak peminjam berkewajiban melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditetapkan.
Menurut Kasmir (2004 : 72), kredit diartikan memperoleh barang dengan membayar dengan cicilan atau angsuran di kemudian hari atau memperoleh pinjaman uang yang pembayarannya dilakukan dikemudian hari dengan cicilan
Menurut Hasibuan (2006 : 87), kredit adalah semua jenis pinjaman yang harus dibayar kembali bersama bunganya oleh peminjam sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kredit yang diberikan didasarkan atas kepercayaan, sehingga pemberian kredit merupakan pemberian kepercayaan debitur dengan suatu janji untuk membayarnya di suatu waktu yang akan datang. Kredit dapat berupa uang atau tagihan yang dapat diukur nilainya.
a. Jenis-jenis kredit
Beragam jenis kegiatan usaha mengakibatkan beragam pula kebutuhan akan kebutuhan jenis kreditnya. Secara umum jenis-jenis kredit, antara lain:
1. Kredit Investasi
Menurut Kasmir (2005 : 109), kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi. Masa pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan dibutuhkan modal yang relatif besar pula. 2. Kredit Modal Kerja
Menurut Kasmir (2005 : 109) kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya. 3. Kredit produktif
Menurut Kasmir (2005 : 110), kredit produktif merupakan kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi.Kredit ini diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa. Kredit produktif yaitu kredit yang digunakan
untuk tujuan-tujuan produktif dalam arti dapat menimbulkan atau meningkatkan utility (faedah/kegunaan).
4. Kredit konsumtif
Menurut Kasmir (2005 : 110), kredit konsumtif merupakan kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha.
5. Kredit jaminan
a. Kredit dengan jaminan
Menurut Kasmir (2005 : 111), Kredit dengan jaminan merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang
berwujud atau tidak berwujud atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus melebihi jumlah kredit yang diajukan si calon debitur.
b. Kredit tanpa jaminan
Menurut Kasmir (2005 : 111), Kredit tanpa jaminan merupakan kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha, karakter serta loyalitas atau nama baik si calon debitur selama berhubungan dengan bank atau pihak lain. Menurut Firdaus dan Ariyanti (2004 : 18), kredit dilihat dari segi jaminannya. Kredit tidak memakai jaminan (unsecured loan) yaitu kredit yang diberikan benar-benar atas dasar kepercayaan saja, sehingga tidak
biasanya terjadi di antara sesama pengusaha (untuk tujuan produktif), atau diantara teman, keluarga, family (biasanya untuk tujuan konsumtif).
b. Unsur-unsur Kredit
Adapun unsur-unsur kredit adalah sebagai berikut : 1. Kepercayaan
Menurut Kasmir (2005 : 103), kepercayaan merupakan suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan akan benar-benar diterima kembali di masa yang akan datang sesuai dengan jangka waktu kredit. Oleh karena itu, sebelum kredit dikucurkan harus dilakukan penelitian dan penyelidikan lebih dulu secara mendalam tentang kondisi nasabah, baik secara interen maupun dari eksteren.
2. Kesepakatan
Menurut Kasmir (2005 : 103), disamping unsur kepercayaan didalam kredit jugamengandung unsur kesepakatan antara kedua belah pihak. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian di mana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing.
3. Jangka waktu
Menurut Kasmir (2005 : 104), setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati kedua belah pihak.Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.
4. Resiko
Menurut Kasmir (2005 : 104), resiko merupakan akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar resikonya, demikian pula sebaliknya. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang disengaja oleh kelalaian nasabah maupun oleh resiko yang tidak sengaja.
5. Balas jasa
Menurut Kasmir (2005 : 104), bagi bank balas jasa merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian suatu kredit. Dalam bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga. Disamping balas jasa dalam bentuk bunga bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang merupakan keuntungan bank. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah balasjasanya ditentukan dengan bagi hasil.
c. Prinsip-prinsip dalam penyaluran kredit
Pelaksanaan analisis kredit berpedoman pada UU No. 10 Tahun 1988 tentang Perubahan UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, khususnya Pasal 1 ayat 11, Pasal 8, dan Pasal 29 ayat 3. Kriteria penilaian yang harus dilakukan oleh bank untuk mendapatkan nasabah yang benar-benar menguntungkan dilakukan dengan analisis 5C, 7P, 3R dan 5 (lima) aspek usaha. Penilaian kredit dilakukan dengan menggunakan metode analisis 5C sebagai
berikut :
1. Character (Akhlak)
Character adalah sifat atau watak seseorang dalam hal ini debitur. Tujuannya adalah untuk memberikan keyakinan kepada bank bahwa, sifat dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang nasabah baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi (gaya hidup, keadaan keluarga, hoby dan sosial standingnya). Analisis ini sangat berhubungan dengan itikat baik atau kemauan membayar dari nasabah, yang merupakan resiko moral.
2. Capacity (Kemampuan)
Capacity adalah analisis untuk mengetahui kemampuan membayar dari nasabah, yang tergantung dari besarnya pendapatan yang diharapkan di masa datang. Hal ini merupakan risiko usaha yang tergantung pada lihainya, energi, ambisi, business dan judgment dari perusahaan itu.
3. Capital (Modal)
Capital juga harus dilihat dari sumber mana saja modal yang ada sekarang. Analisis ini merupakan gambaran keuangan nasabah yang dapat dilihat dari laporan keuangan dalam beberapa tahun terakhir secara berturut-turut. Dari neraca dan perhitungan rugi-laba tersebut dapat pula dilihat tentang likuiditas, rentabilitas, dan solvabilitas serta ukuran lainnya dari perusahaan nasabah.
Menurut Kasmir (2005 : 118), kondisi perekonomian akan mempengaruhi kegiatan dan prospek usaha peminjam, dalam rangka proyeksi pemberian kredit, kondisi perekonomian harus pula dianalisis (paling sedikit selama jangka waktu kredit). penilaian prospek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.
5. Collateral (Jaminan)
Menurut Kasmir (2005 : 119), analisis ini untuk menjamin dapat dilakukannya pembayaran sebagian atau seluruh pinjaman tanpa merugikan pihak kreditur baik secara fisik maupun nonfisik. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi suatu masalah maka jaminan yang dititipkan akan dapat digunakan secepat mungkin.
Menurut Thahir dan Rasyad (2002 : 187), collateral atau agunan yaitu menjamin dapat dilakukannya pembayaran sebagian atau seluruh pinjaman tanpa merugikan pihak kreditur. Agunan ini hanya merupakan jaminan tambahan atas proyek yang menjadi jaminan pokok.
F. Kredit Usaha Rakyat (KUR)