BAB IV HASIL PENELITIAN
C. Usaha Memperbaiki Buku Langka dari Kerusakan
Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara yang telah dilakukan penulis terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan PNRI seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa perbaikan bahan pustaka termasuk buku langka dibagian preservasi dibagi menjadi tiga bidang yaitu bidang konservasi, bidang transformasi digital dan bidang reprografi.
Kegiatan yang dilakukan bidang konservasi meliputi kegiatan perbaikan buku seperti proses deasidifikasi kertas, kegiatan menambal dan menyambung buku, laminasi, dan penjilidan. Buku langka yang telah diperbaiki di bagian konservasi dikembalikan ke bagian penyimpanan PNRI untuk dilayankan kembali agar dapat digunakan oleh para pemustaka, dan
14
Martoatmodjo. Pelestarian Bahan Pustaka, h. 101.
15Ibid
daftar buku langka yang telah dikembalikan oleh bidang konservasi terdapat pada lampiran 6. Sedangkan bidang transformasi digital melakukan kegiatan alih media dalam bentuk CD, dan bidang reprografi melakukan pelestarian buku langka dalam bentuk mikro dan foto.
Berikut adalah data dari jumlah koleksi buku langka yang telah dilestarikan dari tahun 1990-2011.
Tabel 7.
Data Buku Langka yang sudah dilestarikan dari seluruh kegiatan preservasi bahan pustaka
No. Tahun (Setiap 10 tahun) Jumlah (Buku) Persentase
1. 1990-2000 11.000 13,75%
2. 2001-2011 10.000 12,5%
Jumlah 21.000 26,25%
Setiap satu tahun kegiatan pelestarian buku langka dilakukan sebanyak 500-1000 buku, ini berarti dari keseluruhan koleksi yaitu 80.000 buku. Dari tabel diatas dapat dilihat setiap sepuluh tahun yaitu dari tahun 1990-2000 buku yang telah dilestarikan sebanyak 11.000 atau 13,75% buku dan selanjutnya dari tahun 2001-2011 sebanyak 10.000 atau 47,6 % buku. Apabila telah dilaksanakan kegiatan preservasi bahan pustaka dari tahun 1990-2011 maka buku yang telah dilestarikan hanya sebnyak 21.000 atau 26, 25% buku dari koleksi buku langka yang dimiliki Perpustakaan Nasional RI untuk seluruh kegiatan pelestarian yang ada di PNRI. Hal ini menunjukkan bahwa PNRI memiliki prioritas-prioritas lain dalam melaksanakan kegiatan pelestarian tidak hanya buku langka saja tetapi berbagai macam koleksi diantaranya naskah nusantara, peta kuno, surat kabar, foto bersejarah, majalah, dan koleksi buku.
Kegiatan yang dilakukan oleh bidang konservasi antara lain deasidifikasi, laminasi, menambal dan menyambung, serta penjilidan. Untuk bidang transformasi mengerjakan kegiatan alih media bentuk dan bidang reprografi mengerjakan kegiatan dalam bentuk mikro. Dan untuk masing-masing kegiatan bidang konservasi, transformasi digital dan reprografi tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Deasidifikasi
Deasidifikasi adalah proses menetralkan asam pada kertas. Sebelum dilakukan tahap deasidifikasi, maka langkah yang dilakukan oleh bagian konservasi PNRI dalam melestarikan buku langka yaitu proses bleaching.
Langkah yang pertama pada buku langka yang akan di bleaching yaitu buku langka di paginasi atau diberi penomoran ulang setelah itu jilidan buku dibongkar secara hati-hati. Kemudian buku diberi kasa nyamuk berguna sebagai pegangan buku bila dimasukkan kedalam air larutan. Lalu buku direndam selama ± 5 menit di dalam air kran. Sambil menunggu buku yang direndam, buat larutan PK 25 gram dalam dua setengah liter air. Dari rendaman air kran tadi, buku diangkat dan direndam lagi ke dalam larutan PK yang telah dibuat selama kurang lebih tiga puluh menit.
Langkah selanjutnya adalah membuat larutan asam oksalat 50 gram ke dalam dua setengah liter air, buku yang telah direndam tadi diangkat lalu dibilas dengan air bersih agar larutan PK hilang, kemudian
proses selanjutnya buku tersebut dimasukkan ke dalam larutan asam oksalat, proses ini dilakukan untuk menghilangkan noda dan sisa PK yang belum hilang. Selanjutnya buku diletakkan ke dalam air yang mengalir agar asam oksalat tadi berkurang.
Setelah proses ini selesai, barulah ke tahap proses deasidifikasi cara yang dilakukan yang pertama adalah dengan menimbang Magnesium Hidro Karbonat yang dicampur dengan CO2 kemudian dilarutkan ke dalam satu galon air agar larut. Larutan ini bersifat basa dan kertas bersifat basa, maka apabila buku dilarutkan ke dalam larutan tersebut maka kertas menjadi netral dan pH menjadi 7.
2. Laminasi
Laminasi adalah melapisi dua sisi dokumen yang rapuh dengan tissue jepang. Proses laminasi yang dilakukan terhadap buku langka di PNRI caranya sama dengan laminasi pada umumnya.
3. Menambal dan Menyambung
Langkah-langkah perbaikan lain yang dilakukan oleh pihak perpustakaan bagian Preservasi Bahan Pustaka bidang konservasi adalah menambal dan menyambung. Kegiatan menambal yang dilakukan bidang konservasi adalah dengan cara menutup bagian bahan pustaka yang berlubang dengan menggunakan tissue jepang. Menambal dilakukan untuk merekatkan bagian yang robek atau patah karena lipatan pada kertas.
Sedangkan untuk kegiatan menyambung buku langka yang telah rusak dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan mesin dan manual. Dengan cara mesin menggunakan bubur kertas (palp) sedangkan dengan cara manual menggunakan tissue jepang. Hasil yang diperoleh dengan cara mesin ini lebih banyak dibandingkan dengan cara manual yang lebih sedikit, karena dengan cara manual diperlukan ketelitian konservator yang mengerjakannya.
4. Penjilidan
Untuk koleksi buku langka yang jilidannya rusak, dilakukan tahap penjilidan ulang terhadap buku yang telah rusak tersebut. Setiap tahunnya PNRI memperbaiki buku langka dengan menjilid kurang lebih lima ratus buku per tahun. Biasanya dalam kegiatan penjilidan di PNRI disesuaikan dengan anggaran yang ada.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah penulis lakukan terhadap informan, adapun tahapan-tahapan atau prosedur yang dilakukan dalam kegiatan penjilidan buku langka ini adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi buku, apakah buku langka tersebut masih bisa dijilid atau tidak, kalau tidak bisa dijilid maka dibuatkan portopel.
b. Untuk buku yang masih bisa dijilid ulang, maka dilakukan tahap pembersihan debu, dan pemisahan cover buku dan isi buku dengan cara dicabut atau melepas jilidan yang telah rusak.
c. Jika pinggiran buku rusak, maka terlebih dahulu buku ditambal atau disambung dengan kertas minyak atau tissue jepang.
d. Kemudian buku dijahit dengan menggunakan pita rimpis atau kain keras.
e. Buku yang sudah dijahit diberi lem perekat agar buku tidak mudah lepas atau rusak lagi.
f. Langkah selanjutnya yaitu membuat hard cover dari buku yang rusak tersebut dengan menggunakan sampul linen.
g. Lalu melakukan penggabungan dengan menggunakan lem perekat anatar cover dengan buku yang telah diperbaiki tersebut.
h. Kemudian buku di press selama ± 5 menit.
i. Langkah terakhir adalah menggabungkan cover asli yang telah dipisah tadi dengan hard cover dengan dijahit.
5. Alih Media
Alih media bentuk merupakan salah satu kegiatan pelestarian bahan pustaka. Alih media bentuk yang dilakukan oleh PNRI meliputi dua metode yaitu dalam bentuk digital dan bentuk mikro.
Program alih media bahan perpustakaan ke dalam bentuk digital di PNRI sudah dilakukan sejak tahun 1990an, dimana koleksi-koleksi yang dialih mediakan hanya terbatas untuk bahan perpustakaan yang sifatnya butuh penanganan segera, khususnya dari akibat kerusakan secara fisik. Dalam hal ini Bidang Transformasi Digital melakukan kegiatan alih media digital sebagai upaya penyelamatan kandungan isi informasi yang terdapat bahan perpustakaan, sehingga isinya dapat dimanfaatkan untuk selama-lamanya. Adapun prioritas utama bahan perpustakaan yang akan dialihmediakan, meliputi kriteria sebagai berikut:
1) Prioritas. Koleksi naskah Nusantara, buku langka, peta kuno, gambar, foto bersejarah, majalah, surat kabar lama, karena dengan pertimbangan koleksi yang butuh penanganan dari segi kondisi fisiknya yang sudah lama dan banyak mengalami kerusakan.
2) Koleksi dengan permintaan yang tinggi atau sedang.
3) Koleksi yang relatif tidak dikenal, karena diakses lewat digital diharapkan meningkatkan permintaan.
4) Kriteria. Tema yang menjadi prioritas adalah sejarah terbentuknya zaman kolonial, kemerdekaan dan lain-lain.
Untuk proses pendigitalisasian pada koleksi buku langka sasaran dan target program alih media yang telah dicapai oleh PNRI pada tahun 2008 kegiatan alih media digital sebanyak 50 judul 3000 halaman, pada tahun 2009 kegiatan alih media digital buku langka sebanyak 130 judul, dan pada tahun 2010 kegiatan alih media digital
koleksi buku langka sebanyak 120 judul, sedangkan untuk tahun 2011 kegiatan alih media masih dalam tahap pengerjaan sehingga data jumlah buku langka belum direkapitulisasikan berapa jumlah koleksi seluruhnya yang telah dialih mediakan ke dalam bentuk digital.
1) Prosedur Digitalisasi
Dalam melaksanakan kegiatannya Bidang Transformasi Digital menetapkan prosedur ataupun alur kerja alih media digital. Hal ini bertujuan supaya kegiatan alih media digital bekerja secara sistematik dan terkontrol. Dimulai dengan pengumpulan koleksi yang masih dalam bentuk cetakan sampai akhirnya dikemas ke dalam bentuk multimedia interaktif. Alur kerja Bidang Transformasi Digital terdapat dalam Lampiran 2.
Untuk koleksi buku langka sendiri prosesnya dilakukan apabila kondisi buku langka tidak memungkinkan untuk didigitalisasikan maka buku langka diperbaiki terlebih dahulu sampai kondisinya siap untuk melakukan proses digitalisasi. setelah buku langka di digitalisasikan, maka buku langka dikembalikan ke bagian penyimpanan dan koleksi dapat diakses pada website PNRI.
2) Peralatan Digitalisasi Bahan Pustaka
Selain sumber daya manusia yang mendukung kegiatan alih media digital di Perpustakaan Nasional RI ini adalah alat ataupun mesin-mesin pendukung dalam proses alih media digital antara lain:
a) Perangkat komputer dengan kualifikasi tingkatan multimedia. b) Scanner A0 yang berfungsi untuk menscan yang sifatnya
lembaran seperti peta dan surat kabar.
c) Scanner A4 digunakan untuk buku yang sifatnya tebal maupun tipis.
d) Flatbath atau A3 yang berfungsi untuk menscan tabloid-tabloid mingguan.
e) Scanner book drive yang berfungsi untuk menscan buku-buku tebal seperti buku-buku langka, serta mesin konversi mikrofilm ke dalam format digital.
f) Kamera digital.
g) Handycam dan video recorder. h) Tape recorder
i) Serta software pendukung proses alih media digital.
Gambar 5. Scanner A3
b. Bentuk Mikro
Pelestarian isi intelektual (informasi) buku langka juga dilakukan dengan alih media kedalam bentuk mikro, CD-ROM, foto dan fotokopi. Dari metode ini teknik alih media dalam bentuk mikro dan mikrofilm memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan bentuk yang lain. Kelebihan tersebut dilihat dari faktor ketahanan, tempat penyimpanan yang sangat ringkas, biaya yang relatif murah, dan mudah digandakan.
Kegiatan pengalihmediaan dalam bentuk mikro khusus untuk koleksi buku langka yang dilakukan PNRI pada tahun ini tidak dilaksanakan, hanya dari tahun 1990-2010 buku langka telah dimikrofilmkan. Menurut informan bahwa pada tahun ini Bidang Reprografi PNRI dalam kegiatan pengalih media bentuk mikro hanya fokus pada surat kabar saja, hal ini karena kebijakan dari kepala bagian konservasi yang mengharuskan dalam tahun ini fokus pada pekerjaan mengalihmediakan surat kabar ke dalam mikrofilm.