• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORITIS

9. Usaha Preventif Masalah Pengelolaan Kelas

Tindakan pengelolaan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa tindakan pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio-emosional sehingga tersa benar oleh peserta didik rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar. Dimensi pencegahan dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan, dan lingkungan sosio-emosional.

1) Kondisi dan Situasi Belajar Mengajar a. Kondisi fisik

Lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil perbuatan belajar. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses perbuatan belajar peserta didik dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud akan meliputi hal-hal di bawah ini.

1. Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus memungkinkan semua bergerak leluasa tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu antar peserta didik saat melakukan aktifitas belajar.

2. Pengaturan tempat duduk, yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, sehingga guru dapat mengontrol tingkah laku peserta didik.

3. Ventilasi dan pengaturan cahaya harus cukup menjamin kesehatan peserta diidk. Dalam hal ini jendela harus cukup besar sehingga memungkinkan panas cahaya matahari masuk.

4. Pengaturan penyimpanan barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan kegiatan belajar.20

Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa lingkungan fisik tempat belajar yang baik dapat memberikan pengaruh positif terhadap hasil perbuatan belajar. Ruangan tempat belajar yang nyaman dan sehat akan mendukung meningkatnya intensitas proses perbuatan belajar peserta didik. 2) Kondisi Sosio-Emosional

Suasana sosio-emosional dalam kelas akan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan peserta didik merupakan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran.

1. Tipe kepemimpinan, dalam hal ini guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis yang memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan peserta didik dengan dasar saling memahami dan saling mempercayai.

2. Sikap guru, dalam hal ini guru dalam menghadapi peserta didik yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku peserta didik akan dapat diperbaiki.

3. Suara Guru, seorang guru harus menyesuaikan tekanan suaranya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.21

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa suasana sosio-emosional dalam kelas dapat dipengaruhi oleh tipe kepemimpinan yang dipakai oleh seorang guru saat mengajar, sikap guru dalam menghadapi peserta didik, dan tekanan suara guru yang harus disesuaikan.

10. Hambatan dalam Pengelolaan Kelas

Dalam pelaksanaan pengelolaan kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri maupun peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena faktor fasilitas. Berikut penjelasannya: a. Faktor Guru

Sudah dikatakan bahwa guru pun bisa merupakan faktor penghambat dalam melaksanakan penciptaan suasana yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Faktor penghambat yang datang dari guru dapat berupa hal-hal berikut:

1. Tipe Kepemimpinan Guru

Tipe kepemimpinan guru (dalam mengelola proses belajar mengajar) yang otoriter dan kurang demokratis akan menumbuhkan sikap pasif

atau agresif peserta didik. Kedua sikap peserta didik ini akan merupakan sumber masalah pengelolaan kelas.

2. Format Belajar Mengajar yang Monoton

Format belajar mengajar yang monoton akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik. Format belajar mengajar yang tidak bervariasi dapat menyebabkan para peserta didik bosan, frustasi/kecewa, dan hal ini akan merupakan sumber pelanggaran disiplin.

3. Kepribadian Guru

Seorang guru yang berhasil dituntut untuk bersikap hangat, adil, objektif, dan fleksibel sehingga terbina suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar. Sikap yang bertentangan dengan kepribadian tersebut akan menimbulkan masalah pengelolaan kelas. 4. Pengetahuan Guru

Terbatasnya pengetahuan guru tentang masalah pengelolaan dan pendekatan pengelolaan, baik yang sifatnya teoritis maupun pengalaman praktis. Mendiskusikan masalah ini dengan teman sejawat akan membantu mereka dalam meningkatkan keterampilan mengelola kelas dalam proses belajar mengajar.

5. Pemahaman Guru tentang Peserta Didik

Terbatasnya kesempatan guru untuk memahami tingkah laku peserta didik dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk dengan sengaja memahami peserta didik dan latar belakangnya, mungkin karena tidak tahu caranya ataupun karena beban

mengajar guru yang di luar batas kemampuannya yang wajar karena mengajar di berbagai sekolah sehingga guru datang ke sekolah semata-mata untuk mengajar.

b. Faktor Peserta Didik

Faktor lain yang dapat merupakan hambatan dalam pengelolaan kelas adalah faktor peserta didik. Peserta didik dalam kelas dapat dianggap sebagai seorang individu dalam suatu masyarakat kecil yaitu kelas dan sekolah. Mereka harus tahu hak-haknya sebagai bagian dari satu kesatuan masyarakat di samping mereka juga harus tahu akan kewajibannya dan keharusan menghormati hak-hak orang lain dan teman-teman sekelasnya.

c. Faktor Keluarga

Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orangtua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik pengganggu dan pembuat ribut. Mereka itu biasanya berasal dari keluarga yang tidak utuh dan kacau (broken-home).

d. Faktor Fasilitas

Faktor fasilitas merupakan penghambat dalam pengelolaan kelas. Faktor tersebut meliputi:

1. Jumlah Peserta Didik dalam Kelas

Kelas yang jumlah peserta didiknya banyak sulit untuk dikelola. Jumlah peserta didik dalam satu kelas di SLTA yang mencapai rata-rata 50 orang peserta didik merupakan masalah tersendiri dalam pengelolaan.

2. Besar Ruangan Kelas

Ruang kelas yang kecil dibandingkan dengan jumlah peserta didik dan kebutuhan peserta didik untuk bergerak dalam kelas merupakan hambatan lain bagi pengelolaan.

3. Ketersediaan Alat

Jumlah buku yang kurang atau alat lain yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya akan menimbulkan masalah pengelolaan dalam kelas.22

Demikian keempat faktor yang telah disebutkan di atas yaitu faktor guru, peserta didik, lingkungan keluarga, dan fasilitas merupakan faktor yang senantiasa harus diperhitungkan dalam menangani masalah pengelolaan kelas.

B. Keaktifan Belajar Siswa

Dokumen terkait