pendirian condotel yang harus didapatkan di Dinas Pariwisata. 4.2 Temuan/Hasil Analisa
Adapun temuan atau hasil penelitian yang peneliti temukan dalam Implementasi dari Kebijakan Pemerintah kota Terhadap Standarisasi Pendirian Condominium Hotel mengacu kepada teoriEdward IIIyang terdiri dariempat indikator yaitu :
Komunikasi yang baik antar pegawai dalam pengawasan pendirian condotel, di dalam penyaluran komunikasi yang baik akan menghasilkan suatu implementasi yang baik juga. Penulis menemukan beberapa permasalahan komunikasi dalam implementasi kebijakan pemerintah kota terhadap standarisasi pendirian condotel. Seringkali yang terjadi dalam penyaluran komunikasi ialah adanya salah pengertian atau kesalah pahaman dari suatu hal dikarenakan komunikasi telah melalui beberapa tingkat dari birokrasi, sehingga apa yang diharapkan terdistorsi di tengah jalan. Kejelasan komunikasi yang diterima oleh para pelaksana kebijakan haruslah jelas dan tidak membingungkan.
Pengurusan izin terkait standarisasi pendirian condotel tidak mudah. Perlu meluangkan waktu lebih karena urusan perizinan tidakhanya sekali, dua kali berkunjung ke dinas perizinan terutama dalam pengurusan berkasnya. Seperti pernyataan Bapak Anak Agung Ngurah Surya Saputra,SH, Dinas Pariwisata Kota Denpasar :
“Tidak mudah untuk mengurus izin pendirian apapun itu termasuk condotel, karena khusus condotel kami memiliki kawasan eksekutif yang dilarang untuk didirikan bangunan condotel. Kami tidak langsung memberikan berkas-berkas atau syarat pendirian namun, kami mengarahkan untuk memenuhi syarat izin usaha terlebih dahulu dibeberapa dinas yang bersangkutan sebelum berurusan dengan standar pendirian bangunannya. Jadi pengurusan izin ini memakan waktu yang lumayan lama dan tidak cepat untuk mendapatkan semua yang berurusan dengan izin pendirian.Investorpun harus bersedia bolak-balik beberapa kali untuk mengurus izin dan lainnya.”
Di dalam penegakan implementasi, transmisi penyalurankomunikasi yang baik sangat diperlukan.Terutama penyaluran komunikasi internal antara staff dan staff yang terlibat sebagai implementator. Mereka harus mengetahui kebijakan yang dimaksud dan apa isi dari kebijakan tersebut. Saat ini condotel yang baru terdaftar di Kota Denpasar hanya satu condotel saja yaitu Aston Gatot Subroto. Menurut Ibu Luh Gede Tirtawati, Dinas Pariwisata Kota Denpasar :
“Untuk condotel yang baru terdaftar di Denpasar hanya satu yaitu Aston Gatot Subroto.Jadi kami tidak memiliki catatan berupa angka yang menyebutkan berapa jumlah condotel di Kota Denpasar.Di sini banyak terdaftar sebagai hotel berbintang saja jadi per kelasnya kami memiliki catatannya dan Badan Pusat Statistika (BPS) juga memilikinya.Karena hanya itu saja condotel yang baru terdaftar jadi nama condotel tersebut sudah di luar kepala saya.”
(hasil wawancara, 9 Juni 2015).
Namun sesuai bukti di atas kertas terdapat tiga PT yang telah terdaftar sebagai condotel, Anak Agung Ngurah Surya Saputra, SH memberikan pendapat serta bukti arsip ysng dimiliki oleh Dinas Perizinan Kota Denpasar :
“Yang terdaftar untuk condotel saat ini sudah ada tiga PT, di Gatot Subroto yaitu Hotel Aston, PT. Binakarya Cipta Sarana terdapat di daerah Hangtuah,Sanur dan satu lagi PT. Bali Mitra Wisatama terdapat di Jalan Pura Mertasari, Pemogan. Sisanya hanya terdaftar sebagai hotel berbintang.”
(hasil wawancara, 8 Juni 2015).
Pariwisata dengan Dinas Perizinan yang masih berhubungan dan satu atap.
Penyaluran komunikasi eksternal yang melibatkan staff dan investor tidak berjalan sesuai dengan harapan pembuat kebijakan.Hal ini dapat kita lihat bahwa kurangnya sosialisasi staff dengan para investor terkait tentang Peraturan Walikota Nomor 42 Tahun 2007.Mengakibatkan investor mendaftarkan izin ke hotel berbintang yang lebih umum diketahui. Tidak dipungkiri bahwa kehadiran Peraturan Walikota terkait bangunan condotel kurang diketahui oleh beberapa investor condotel, seperti pernyataan A.A. Trisna Anantasika, salah satu investor Hotel Aston Gatot Subroto :
“Saya mengetahui penjualan unit condotel dari media komunikasi antar masyarakat, kebetulan saya ditawari oleh suatu PT. untuk investasi unit kamar disebuah hotel yang bernama Aston.Setelah saya pelajari peluang bisnis tersebut dan dengan perjanjian yang tentunya sangat menguntungkan, saya mencoba investasi tersebut. Saya tidak tahu bahwa ada Peraturan Walikota yang mengatur khusus condotel, saya pikir condotel maupun hotel berbintang sama saja.Jarang rasanya orang menyebutkan condotel jadi terdengar asing di telinga saya.”
(hasil wawancara, 14 Juni 2015)
Tidak hanya investor bahkan masyarakat awam seperti, Ibu Harry Wijaya selaku pengunjung Dinas Perizinan Kota Denpasar yang sedang mengurus izin pendirian suatu usaha tidak mengetahui tentang keberadaan Peraturan Walikota yang membahas khusus tentang pendirian dan apa itu condotel. Berikut pernyataan Ibu Harry Wijaya :
“Peraturan Walikota khusus bangunan condotel, saya kurang tahu bahkan baru mengetahuinya.Saya mengetahui mungkin yang umum seperti hotel berbintang saja. Condotel itu apa saya juga kurang tahu dan kurang paham. Menurut saya semua sama saja seperti city hotel tidak ada yang perbedaan khusunya.”
(hasil wawancara, 15 Juni 2015)
Kejelasan komunikasi antar staff yang harus jelas.Hal ini berperan penting dalam melaksanakan atau mengimplementasikan suatu kebijakan agar mendapatkan informasi yang jelas, mudah dipahami dan untuk menghindari kesalahan dari pelaksanaan kebijakan.Informasi yang kurang jelas dari pelaksana kebijakan menyebabkan terjadi kesalahan pendaftaran izin pendirian condotel.Rata-rata yang mendaftarkan diri sebagai hotel berbintang beraktivitas layaknya condotel dan menjual unit kamarnya di media massa. Anak Agung Ngurah Surya Saputra,SH berpendapat:
“Kami kurang tahu tentang hotel berbintang yang di dalamnya beraktivitas seperti condotel.Karena para investor mendaftarkan dan menyatakan langsung jika mereka ingin mendirikan hotel berbintang. Dan tugas kami memberikan syarat-syarat dan menguji apakah sudah sesuai dengan ketentuan standar pendirian hotel berbintang sesuai kelas yang mereka inginkan, yang terpenting mereka telah memiliki izin usaha hotel berbintang karena condotel juga harus memiliki izin usaha hotel berbintang, karena setiap condotel memiliki bintangnya masing-masing sesuai dengan standar dan fasilitas yang mereka miliki.”
(hasil wawancara, 15 Juni 2015)
Sependapat dengan Bapak A. A. Ngurah Surya Saputra, SH, Ibu Ni Luh Gede Tirtawati selaku Kepala Seksi Akomodasi Dinas Pariwisata Kota Denpasar, juga berpendapat :
“Sebenarnya yang terpenting mereka telah memiliki izin usaha hotel berbintang.Jadi saat ada pemriksaan atau sidak sewaktu-waktu merka tidak mendapatkan masalah.Perkara di dalamnya mereka beraktivitas selaku condotel yang menjual unitnya, kita belum bisa banyak bicara.Jadi selama mereka memegang izin hotel berbintang dan beraktivitas selaku condotel menurut saya itu tidak masalah, dan bukan urusan kami karena kami memiliki SOP masing-masing.”
(hasil wawancara, 15 Juni 2015)
Salah satu Investor Fave Hotel yang sekarang berubah nama menjadi Lifestyle Hotel, A.A. Ngurah Bagus Aryana menyatakan bahwa beliau tidak mengetahui hotel yang menjadi investasinya belum memiliki izin condotel dan terdaftar sebagai hotel berbintang, berikut pernyataannya :
“Saya mengetahui penjualan unit kamar condotel ini dari media massa, tentu banyak orang yang membaca media massa berupa surat kabar.Saya bahkan tidak tahu condotel yang telah saya investasikan ini belum memiliki izin pendirian condotel.Karena saya tahu dari surat kabar jadi saya pikir izin yang dimiliki sudah lengkap hingga berani mengiklankan di media massa.”
(hasil wawancara 16 Juni 2015)
Konsistensi perintah yang diberikan dalam pelaksanaan kebijakan haruslah konsisten dan jelas. Apabila perintah yang diberikan sering berubah makaakan menyebabkan kebingungan bagi pelaksana kebijakan. Adanya aturan pelanggaran yang mengatur tentang condotel mestinya dapat menertibkan pembangunan condotel.Namun sesuai hasil pengamatan peneliti, kurangnya konsistensi dalam standar pendirian condotel terutama dalam luas lahan yang diterapkan dalam
pelaksana kebijakan.Izin pendirian juga harus konsisten dengan aktivitas yang ada di dalam perusahaan tersebut.Secara tidak langsung pelaksana kebijakan harus mengetahui lebih lengkap tentang pendirian bangunan tersebut, dari luas tanah sampai izin pendirian yang harus di berikan sehingga tidak terjadi penyalahgunaan bangunan.
2. Sumberdaya
Sumberdaya merupakan hal yang sangat utama di dalam implementasi kebijakan yakni staff atau orang yang melaksanakan suatu kegiatan guna untuk mengimplementasikan suatu kebijakan.Sangat diperlukan staff yang ahli dan mampu dalam mengimplementasikan suatu kebijakan. Implementator harus mengetahui apa yang akan mereka lakukan disaat mereka di beri perintah untuk melakukan tindakan. Sumberdaya di sini dalam pengimplementasian kebijakan terkait standarisasi pendirian condotel menurut Peraturan Walikota Denpasar nomor 42 tahun 2007.
Kapabilitas staff sangat diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan. Latar belakang pendidikan staff merupakan hal yang penting dalam mengukur sejauh mana mereka menguasai bidangnya masing-masing.Namun dalam pelaksanaan Peraturan Walikota hal tersebut tidak begitu terlihat mengganggu.Tidak semua staff memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan memegang jabatan penting, seperti pernyataan Ibu Ni Luh Gede Tirtawati:
“Saya sudah lama berkerja di Dinas Pariwisata ini bahkan sudah mau pensiun, rekan saya sudah dipindah tugaskan dulu yang bertugas di Dinas Pariwisata Kota Denpasar sekarang bisa bertugas di Dinas Perizinan. Jadi mereka belajar menyesuaikan diri lagi dan berusaha mengerti tentang apa yang belum mereka ketahui pada dasarnya karena bidang mereka bukan di sana. Karena saya sudah lama berkerja di sini saya diangkat menjadi Kepala Seksi Akomodasi di Dinas Pariwisata walaupun dari segi pendidikan saya dikatakan biasa saja, standar tidak ada gelar.Mungkin karena pengalaman saya yang sudah lama berkerja di sini saya dipercaya memimpin Seksi Akomodasi.Beberapa rekan saya juga memiliki hal serupa seperti saya dan mereka tetap bisa melaksanakan pekerjaanya dengan baik.Terpenting mau mencoba dan belajar jika sewaktu-waktu dipindah tugaskan atau dipercayai untuk memegang suatu jabatan yang penting.”
(hasil wawancara, Dinas Pariwisata Kota Denpasar, 9 Juni 2015)
Pemahaman teknologi merupakan hal yang wajib di pelajari untuk mempermudah melaksanakan proses implemetasi. Perkembangan teknologi sangat membantu dalam menjalankan suatu kebijakan.Sumber Daya Manusia yakni staff dalam kebijakan ini baiknya mengerti teknologi agar mempermudah kinerja dalam menyimpan data dan pelaksanaan kebijakan.Dalam hal teknologi para pelaksana kebijakan rata-rata telah mengetahui dasar penggunaan teknologi. Peneliti melihat tersedianya komputer dan alat elektronik lain yang tersedia di tiap ruangan guna membantu dan mempermudah staff dalam melaksanakan tugasnya.
Segala aturan yang tertuang di dalam Peraturan Walikota Nomor 42 tahun 2007 tentunya harus dipahami oleh para staff.Agar tidak terjadi kesalahan pemberian informasi terhadap pihak yang menjadi sasaran. Sedangkan yang terjadi para staff tidak semua mengerti
tentang peraturan Nomor 42 Tahun 2007, bahkan adastaff yang tidak mengetahui tentang aturan khusus condotel ini, bagian informasi Dinas Pariwisata Kota Denpasar mengungkapkan bahwa:
“Peraturan Walikota tentang standar pendirian condotel sudah tidak ada.Dulu ada, tetapi sekarang sudah tidak ada bahkan tidak ada yang mendaftarkan izin pendirian condotel lagi, mungkin di jadikan satu dengan izin pendirian hotel berbintang.”
(hasil wawancara, 9 Juni 2015).
Permasalahan yang peneliti dapatkan ialah sumberdaya manusia yang ada terkesan tidak peduli terhadap penerapan kebijakan yang telah dikeluarkan.Pelaksana kebijakan yang berperan disini kurang tegas dalam pengimplementasian kebijakan terkait dengan standarisasi pendirian condotel.Tercatat hanya tigaPT yang terdaftar sebagai condotel di Kota Denpasar (Dinas Perizinan Kota Denpasar, 16 Juni 2015).
Namun realitanya baik itu di media massa maupun dikalangan masyarakat luas mengetahui bahwa beberapa hotel berbintang di Kota Denpasar bertindak selayaknya condotel. Hal tersebut tercermin dari beberapa hotel berbintang yang menjual unit kamarnya diberbagai media massa, dan komunikasi antar masyarakat tetapi menurut Ibu Ni Luh Gede Tirtawati:
“Menurut saya bagi bangunan hotel berbintang yang memiliki izin pendirian hotel berbintang dan beraktivitas layaknya condotel.Tidak masalah, yang penting mereka telah memiliki izin pendirian hotel berbintang.Jika di dalam hotel tersebut beraktivitas seperti condotel yang unit kamarnya di
perjual-belikan itu urusan investor dengan PT. yang bersangkutan tidak ada urusannya lagi dengan kami.”
(hasil wawancara, Dinas Pariwisata Kota Denpasar, 20 Juni 2015)
Dalam hal ini, peneliti menyoroti para pelaksana kebijakan dan dinas yang bersangkutan sebagai sumberdaya tidak tegas atau terkesan kurang peduli dengan pelanggaran kebijakan. Meskipun para staff mengetahui hal tersebut, akan tetapi tidak ada tindakan yang tegas untuk penegakannya.Berdasarkan Peraturan Walikota Denpasar sudah jelas membedakan standar pendirian hotel berbintang dan Condominium hotel.
3. Disposisi
Menurut Edward III disposisi merupakan sikap, watak atau karakteristik dari pelaksana kebijakan, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Dalam hal ini peneliti melihat kinerja oknum yang terlibat dalam implementasi kebijakan pemerintah kota terhadap standarisasi pendirian condotel di kota Denpasar.
Para staff yang terlibat dalam pengimplementasiannya tidak semua berkerja mengikuti prosedur kebijakan.Ada beberapa staff yang kurang demokratis, sehingga jika ada yang ingin mendirikan condotel harus mengikuti prosedur dengan dengan ketat.Sebenarnyahal ini baik untuk diterapkan dan dicontoh, sehingga untuk standarisasi pendirian condotel harus sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Ada juga yang terkesan kurang peduli dalam pengimplementasiankebijakan pemerintah terkait dengan standarisasi pendirian condotel, sehingga lebih mudah bagi para investor untuk mendirikan condotel tanpa harus mengikuti prosedur yang ada.Hal ini disebabkan ada hubungan yang baik antara pelaksana kebijakan pemerintah dengan investor dan menyebabkan tidak tegasnya atau tidak efektifnya kebijakan untuk condotel karena pelanggaran tersebut menurut A.A. Ngurah Surya Saputra, SH:
“Di dalam Dinas Perizinan ini terdapat banyak kepala dan banyak pemikiran maupun persepsi.Tidak semua orang memiliki sikap tegas, jujur dan bersikap demokratis yang satu visi dan misi terhadap kebijakan ini.Ada yang hanya sekedar berkerja dan menjalankan tugasnya saja, ada juga yang benar-benar menginginkan perubahan di Kota Denpasar yang mulai penuh dengan pembangunan dan memiliki tujuan yang sama dengan pembuat kebijakan. Jadi sikap mereka dalam menghadapi investor yang ingin mendaftarkan izin berbeda-beda.Ada yang ketat dan tegas terhadap pemberian izin bahkan terlalu mendetail sehingga membuat beberapa investor yang ingin mendaftarkan izin bolak balik terus menerus. Walaupun investor yang ingin mengurus izin merupakan sanak saudaranya, staff tersebut hanya memudahkan dengan mengingatkan syarat apa saja yang harus dipenuhi. Namun ada juga staff yang memiliki hubungan baik dengan investor seperti sanak saudara, teman baik atau memiliki kepentingan tertentu lainnya tentu jarang memiliki sikap jujur atau tegas untuk mengimplementasikan kebijakan ini bahkan cenderung lebih memudahkan dan membantu investor untuk mendapatkan izin pendiriannya.”
(hasil wawancara, Dinas Perizinan Kota Denpasar, 11 Juni 2015).
Agar kebijakan yang di buat untuk mengatur standarisasi tidak sia-sia jika tidak di implementasikan oleh pelaksana kebijakan yang
berkaitan.Dibutuhkan staff yang memiliki satu tujuan dengan pembuat kebijakan agar semua kebijakan yang telah di buat dapat terimplementasikan dengan baik sesuai yang diinginkan oleh para pembuat kebijakan guna untuk menuju ke arah yang lebih baik.
4. Struktur Birokrasi
Struktur organisasi yang mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.Salah satu yang dapat mendongkrak kinerja dari struktur birokrasi/organisasi ke arah yang lebih baik, adalah membuatStandart Operating Procedures (SOP). Adapun SOP tersebut nantinya akan dijadikan pedoman bagi struktur birokrasi tersebut dalam bertindak.
Dalam hal ini peneliti melihat SOP yang dikeluarkan berjalan dengan baik.Struktur birokrasinya pun berjalan sebagaimana mestinya, dalam Dinas Pariwisata dan Dinas Perizinan Kota Denpasar setiap bidang telah membagi wewenang masing-masing. Di dalam bidang memiliki kelompok masing-masing dan mengurus wewenang mereka masing-masing tidak mencampuri bidang-bidang lainnya dalam dinas tersebut.
Namun terdapat kekurangan di bagian luar yang berinteraksi langsung dengan masyarakat umum.Hal ini dikarenakan kurangnya pembagian yang lebih khusus atau spesifikasi terkait dengan jenis-jenis
pendirian bangunan. Karena menurut Bapak Adi Wiryawan selaku pengunjung dinas Perizinan Kota Denpasar:
“Tidak semua staff mengetahui semua aturan atau syarat yang ingin kita tanyakan.Terkadang harus menunggu mereka berkonfirmasi kepada atasan ataupun rekannya.Mestinya mereka mengetahui minimal syarat pendirian untuk hotel berbintang, toko modern, villa.Akan tetapi sering di oper-oper untuk menanyakan sesuatu hal.”
(hasil wawancara, 11 Juni 2015)
Minimnya pengetahuan setiap pelaksana kebijakan yang langsung berinteraksi dengan masyarakat umum mengenai kebijakan yang dikeluarkan menyebabkan sering di oper-opernya masyarakat yang ingin mengurus atau meneliti tentang condotel atau hal lain yang ingin diketahui.Sehingga dapat dikatakan dalam pengimplementasiannya, struktur birokrasi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat umum tidak berjalan atau berfungsi sebagaimana yang di harapkan.
4.2.2 Kaitan Implementasi Standarisasi dengan Tata Ruang Tri Hita Karana Secara etimologis “Tri” artinya tiga, “Hita” artinya sejahtera dan “Karana” artinya sebab, terdiri dari parhyangan (lingkungan spiritual), pawongan (lingkungan sosial) dan palemahan (lingkungan alamiah).Dalam arti luas Tri HitaKarana memiliki dapat diartikan sebagai tiga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan lingkungan untuk mencapai keselamatan dan kedamaian alam semesta.Propinsi Bali dalam perkembangannya dipenuhi oleh pendatang dari luar, baik yang
menetap sebagai pemukim-pemukim liar sehingga menciptakan kesemrawutan dalam tata ruang dan mengakibatkan kumuhnya tatanan kota, maupun karena meningkatnya laju urbanisasi dan pariwisata yang berdampak pada tingginya kebutuhan dan pemakaian energi dan meningkatnya pencemaran yang terjadi.
Dalam melihat hubungan Tri Hita Karana dalam perkembangan pariwisata di Bali, dapat dikatakan bahwa instansi atau pengelola pariwisata akan melakukan segala macam cara untuk mampu bertahan, mengembangkan usahanya ditengah ketatnya persaingan saat ini tanpa memperdulikan dampak yang akan dihasilkan dalam proses ini nantinya. Walaupun terkadang usahanya tergolong tidak sesuai dengan aturan yang ada. Timbulnya kesembrawutan, pencemaran alam lingkungan yang disebabkan oleh usahanya, ternodainya kesucian tempat suci dan lainnya merupakan sebuah hasil yang yang membawa dampak ke depan yang tidak menguntungkan bagi semua pihak, tetapi malah akan membawa kerugian untuk masa depannya. Disinilah KonsepTri Hita Karana ini memiliki peranan yang sangat vital untuk memberi kesadaran pada semua pengelola, investor atau orang yang terjun dibidang ini untuk memikirkan bagaimana menjaga keseimbangan antara usaha dengan alam lingkungan sekitarnya sehingga akan tercipta sebuah keharmonisan secara usaha dan budaya yang akan berjalan secara stabil.
Implementasi yang bisa ditarik dariTri Hita Karana bagi pariwisata terutama standarisasi pendirian condotel saat ini adalah lebih memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan bagi alam sekitarnya tanpa melupakan Tuhan sebagai tonggak terpenting dalam usahanya.Hal ini secara nyata
dapat dilakukan dengan adanya sistem ramah lingkungan, dengan adanya pemeliharaan lingkungan sekala berkala, sehingga keasrian alam sekitar akan tetap terjaga, serta adanya timbal balik dan tukar pendapat antara pengelola dengan masyarakat sekitar dalam konteks lingkungan dan keamanan sehingga tercipta keharmonisan antara pengusaha dengan penduduk sekitar, dan juga dibangunnya dan dirawatnya sarana tempat suci yang akan membawa dampak secara rohani bagi anggota perusahaan dan juga masyarakat sekitar. Sehingga disini akan timbul suasana positif, antara pengelola, alam, masyarakat, dan juga tingkat spiritual yang terkadang dilupakan.
4.2.3 Pendapat Investor mengenai Condotel
Selama berlangsungnya penelitian ini penulis mendapati adanya beberapa komentar dari para investor terkait dengan banyaknya condotel yang muncul di denpasar.Aturan yang tidak tegas dari pemerintah terkait dengan standarisasi pendirian condotel(luas lahan) menjadi penyebab maraknya pendirian condotel di Denpasar.Semakin banyak condotel yang muncul maka semakin banyak pilihan bagi para wisatawan untuk menginap, selain itu banyaknya pilihan ini juga menyebabkan munculnya persaingan harga yang tidak sehat antar condotel. Setiap condotel berlomba-lomba perang tarif untuk menarik pelanggan yang tentunya dimana akanmempengaruhi biaya pengeluaran condotel yang menyebabkan penurunan terhadap kualitas condotel tersebut seperti yang diungkapkan Anak Agung Ngurah Aryana sebagai salah satu investor Fave/Lifestyle Hotel Teuku Umar:
“Awal saya memiliki niat untuk berinvestasi unit kamar condotel karena saya melihat peluang bisnis yang terdapat di pusat Kota Denpasar khususnya daerah Teuku umar. Sewaktu itu saya mendapati informasi penjualan unit kamar hotel tersebut dari media massa surat kabar. Pada tahun 2008 dengan harga kurang lebih 325 juta rupiah dengan lama kepemilikan selama 30 (tiga puluh) tahun.Pada saat itu hotel berbintang yang berada di daerah teuku umar dapat dihitung jari termasuk condotel tempat saya berinvestasi yaitu fave hotel, tidak seperti sekarang menjamur di mana-mana. Banyaknya pertumbuhan hotel-hotel maupun condotel menyebabkan persaingan tarif yang ketat sehingga pemasukan yang saya dapat juga mengalami hambatan dan tidak selancar dulu. Hal ini berdampak terhadap perusahaan, pemasukan yang sedikit, penjualan kamar condotel yang tidak mencapai target menyebabkan perusahaan harus menalangi dana yang dibagikan setiap bulannya terhadap masing-masing investor. Apabila terus menerus perusahaan menurunkan tarif kamar maka tidak lama lagi condotel ini akan mengalami gulung tikar. Sedangkan tidak seluruh investor telah kembali modalnya.Pendirian hotel dan condotel yang menjamur ini tidak memikirkan kerugian para investor yang terlibat di dalamnya.
(hasil wawancara, 1 Juli 2015)
Sependapat dengan Anak Agung Ngurah Aryana, Ibu A.A. Trisna Anantasika, investor Hotel Aston Gatot Subroto berpendapat: