• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha-Usaha Dalam Meningkatkan Kualitas Guru

BAB II PEMBAHASAN

B. Usaha-Usaha Dalam Meningkatkan Kualitas Guru

Peningkatan kualitas guru merupakan tuntutan yang perlu dilakukan terus-menerus, baik oleh guru sendiri maupun pihak lain yang terkait. Terlebih jika dihadapkan dengan perubahan lingkungan yang sudah pasti akan menuntut dilakukannya penyesuaian terhadap kemampuan atau keahlian yang dimiliki oleh guru sebelumnya.

Perkembangan tekhnologi, perubahan pola pikir, perubahan peraturan pemerintah, perubahan budaya dan kebiasaan, semuanya dapat mengakibatkan lingkungan yang dihadapi oleh guru tidak lagi sama seperti biasanya (Agung, 2014).

Peserta didik saat ini bisa dikatakan sebagai generasi digital di mana perkembangan teknologi membuat mereka dapat mencari sumber informasi lebih cepat, lebih beragam, dan lebih mudah. Perkembangan teknologi ini selanjutnya mempengaruhi pola pikir, budaya, dan perilaku siswa. Berbagai perubahan ini tentu saja harus menjadi perhatian bagi guru agar tugas utamanya menghasilkan generasi yang berkualitas dapat tercapai. Jangan sampai kemampuan guru jauh tertinggal dari perkembangan siswa. Oleh karena itu pengetahuan guru mengenai materi yang akan diajarkan dan metode pembelajaran harus lebih ditingkatkan (Agung, 2014).

Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru diantaranya sertifikasi guru, uji kompetensi guru, penilaian kinerja guru, pengembangan keprofesian berkelanjutan.

1. Sertifikasi Guru

Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

Dengan kata lain, sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik. Dalam hal ini sertifikasi merupakan prosedur untuk menentukan apakah seorang calon guru layak diberikan izin dan kewenangan untuk mengajar (Mulyasa, 2007).

Sertifikasi memiliki beberapa tujuan dan manfaat. Melalui sertifikasi terdapat jaminan dan kepastian tentang status profesionalisme guru dan juga menunjukkan bahwa pemegang sertifikat memiliki kemampuan tertentu dalam memberikan layanan professional kepada masyarakat (Payong, 2011).

a. Tujuan Sertifikasi Guru

Ada beberapa tujuan dari sertifikasi guru di antaranya:

1) Sertifikasi dilakukan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Melalui sertifikasi maka akan dilakukan seleksi terhadap guru manakah yang layak untuk mengajar dan

mendidik dan mana yang tidak layak mengajar. Sertifikasi dalam konteks ini sebagai suatu proses seleksi terhadap guru-guru yang diharapkan dapat menjalankan tugas sebagai guru professional untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

2) Sertifikasi dilakukan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan. Sebagaimana telah diuraikan di awal, guru merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan siswa dan menjadi unsur penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Karena itu melalui sertifikasi guru diharapkan dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan.

3) Sertifikasi dilakukan untuk meningkatkan martabat guru. Melalui sertifikasi guru maka wibawa dan martabatnya sebagai seorang profesional dapat dijaga bahkan ditingkatkan. Selama ini, guru dipandang sebagai pekerjaan yang dapat dimasuki oleh siapa saja dari berbagai latar belakang. Karena itu ada kecenderungan publik melihat guru adalah profesi yang dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang mudah. Sertifikasi juga untuk menjamin dan memastikan bahwa pekerjaan guru adalah pekerjaan yang berwibawa dan guru melalui pengalaman pendidikan dan pelatihan dapat memberikan layanan yang lebih baik.

4) Sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme guru. Guru yang telah menyelesaikan proses pendidikan pada jenjang pendidikan keguruan sudah memiliki sertifikat sebagai guru atau pengajar. Ijazah dan akta mengajar yang dimilikinya sudah memperilihatkan bahwa yang bersangkutan sudah layak menjadi guru. Sertifikasi tidak berlaku seumur hidup, sehingga

sertifikasi dan resertifikaksi dapat menjadi salah satu mekanisme untuk memastikan bahwa guru penyandang sertifikat masih tetap profesional dan memiliki kompetensi yang dapat diandalkan.

b. Manfaat Sertifikasi Guru

Selain tujuan, sertifikasi guru juga memiliki manfaat tertentu sebagai berikut (Mulayasa, 2013):

1) Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten yang dapat merusak citra guru. Sertifikasi guru merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap profesionalisme guru. Dengan disertifikasi maka profesi guru terlindungi sebagai sebuah profesi yang terhormat, karena dengan itu dapat diketahui manakah praktik-praktik guru yang profesional dan manakah yang tidak profesional. Hal ini dilakukan mengingat pekerjaan guru di masa lalu dapat dimasuki oleh siapa saja dari berbagai latar belakang kualifikasi pendidikan.

2) Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak professional. Sertifikasi menjadi sebuah proses bagi masyarakat untuk membedakan manakah praktik pendidikan yang bermutu dan profesional. Akibat dari semakin banyaknya sekolah yang bermunculan dan semakin banyaknya pengajar-pengajar menawarkan jasanya kepada masyarakat, maka melalui sertifikasi guru, masyarakat mendapatkan jaminan dan kepastian tentang mutu proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah. Semakin banyak guru di sertifikasi dapat

menjadi indikasi bahwa layanan pendidikan di sekolah menjadi semakin profesional.

3) Meningkatkan kesejahteraan guru. Sertifikasi juga membawa dampak finansial tertentu khususnya bagi guru pemegang sertifikat. Dalam konteks guru di Indonesia, pemerintah sudah menetapkan aturan bahwa guru yang telah disertifikasi berhak untuk mendapatkan tunjangan profesional setara dengan gaji pokok satu bulan. Dengan demikian dpat dipastikan bahwa tingkat kesejahteraan guru setelah sertifikasi semakin baik, dan guru dapat berkonsentrasi untuk melaksanakan tugas pokoknya sebagai pengajar dan pendidik di sekolah.

2. Uji Kompetensi Guru

Uji kompetensi merupakan tindak lanjut dari program pemerintah yang berkaitan dengan sertifikasi guru, yang pada awalnya dilakukan melalui portofolio. Uji kompetensi guru diperlukan untuk memenuhi harapan masyarakat dan lulusan sarjana agar dapat bekerja secara professional berbasis kompetensi yang memadai. Untuk kepentingan tersebut, setiap lembaga pencetak calon guru dituntut secara moral dan profesional untuk menyiapkan tenaga guru yang memiliki visi, misi, dan kompetensi yang sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat dan bangsa (Mulyasa, 2013).

Uji kompetensi guru dilakukan terutama untuk mengetahui kemampuan seorang guru, untuk kenaikan pangkat dan jabatan, serta untuk mengangkat kepala sekolah dan wakil kepala sekolah. Uji

kompetensi guru dapat dilakukan secara nasional, regional, maupun lokal.

Secara nasional dapat dilakukan oleh pemerintah pusat untuk menetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan secara keseluruhan. Secara regional dapat dilakukan oleh pemerintah provinsi untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan di provinsi masin-masin. Sedangkan secara lokal dapat dilakukan oleh daerah kabupaten dan kota untuk mengetahui kualitas dan standar kompetensi guru, dalam kaitannya dengan pembangunan pendidikan di daerah dan kota masing-masing (Mulyasa, 2007).

Uji kompetensi guru, baik secara teoritis maupun praktis memiliki manfaat yang sangat penting, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Berikut manfaat uji kompetensi guru:

a. Sebagai alat untuk mengembangkan standar kemampuan profesional guru Hasil uji kompetensi dapat digunakan sebagai sarana untuk menggambarkan kondisi guru yang berada di seluruh wilayah Indonesia.

Penggambaran kondisi guru ini dapat dilakukan secara aktual, sesuai dengan kondisi lapangan dan hasilnya dapat digunakan oleh berbagai pihak, terutama oleh pemerintah untuk melakukan pembinaan guru.

Uji kompetensi guru juga dapat digunakan untuk mengembangkan standar kompetensi guru. Berdasarkan hasil uji kompetensi, dapat diketahui kemampuan rata-rata para guru, aspek mana yang perlu

ditingkatkan, dan siapa guru yang perlu mendapat pembinaan, serta siapa guru yang telah mencapai standar kemampuan minimal (Mulyasa, 2013).

b. Sebagai alat seleksi penerimaan guru

Banyaknya calon guru mengakibatkan perlunya seleksi penerimaan guru untuk memilih guru sesuai dengan kebutuhan. Untuk kepentingan tersebut, perlu ditetapkan kriteria secara umum kompetensi-kompetensi dasar yang perlu dipenuhi sebagai syarat untuk menjadi guru. Kriteria calon guru merupakan pedoman yang sangat penting bagi para administrator dan pemerintah untuk memilih dan menentukan guru yang diperlukan untuk sekolah tertentu (Mulyasa, 2007).

Kriteria ini akan mendorong para calon guru untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya sehingga dapat diterima dan lolos uji kompetensi. Melalui uji kompetensi guru diharapkan dapat menghasilkan guru-guru yang kompeten, kreatif, profesional dan menyenangkan, sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Uji kompetensi ini dilakukan secara profesional, tidak berdasarkan suka atau tidak suka, atau alasan lain (Mulyasa, 2007).

c. Untuk mengelompokkan guru

Hasil uji kompetensi guru dapat digunakan untuk mengelompokkan dan menentukan nama guru profesional yang berhak menerima tunjangan profesi, tunjangan jabatan dan penghargaan profesi, serta guru yang tidak professional yang tidak berhak menerima tunjangan.

Dalam hal ini guru-guru dapat dikelompokkan berdasarkan hasil uji

kompetensi, misalnya kelompok tinggi, kelompok sedang, kelompok kurang (Mulyasa, 2013).

Untuk kelompok yang kurang maka harus mendapat perhatian dan pembinaan agar dapat meningkatkan kompetensinya karena jika karena jika kurun waktu tertentu misalnya 10 tahun tidak dapat meningkatkan kompetensinya dan tidak lulus uji kompetensi, mereka dapat diberhentikan sebagai guru, atau dialihkan menjadi tenaga non guru, misalnya tenaga administrasi (Mulyasa, 2013).

d. Sebagai bahan acuan dalam pengembangan kurikulum

Berhasil atau tidaknya pendidikan tercermin dalam kualitas pembelajaran dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Hal ini dapat dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan yang mempersiapkan calon guru atau calon tenaga kependidikan karena keberhasilan tersebut terletak pada berbagai unsur dalam proses pendidikan di lembaga pendidikan. Keberhasilan lembaga pendidikan yang mempersiapkan calon guru ditentukan oleh berbagai komponen dalam lembaga tersebut, misalnya kurikulum (Mulyasa, 2007).

Kurikulum lembaga pendidikan yang mempersiapkan calon guru harus dikembangkan berdasarkan kompetensi guru. Program pendidikan, system pembelajaran dan evaluasi perlu direncanakan sesuai dengan kebutuhan kompetensi guru baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial (Mulyasa, 2007).

e. Merupakan alat pembinaan guru

Untuk memperoleh guru yang baik perlu ditetapkan jenis kompetensi yang harus dipenuhi sebagai syarat agar seseorang dapat diterima menjadi guru. Dengan adanya syarat untuk menjadi calon guru, maka akan terdapat pedoman bagi para administrator dalam memilih, menyeleksi dan menempatkan guru sesuai dengan karakteristik dan kondisi, serta jenjang sekolah (Mulyasa, 2013).

f. Alat untuk mendorong kegiatan dan hasil belajar

Kegiatan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik tidak hanya ditentukan oleh manajemen sekolah, kurikulum, sarana dan prasarana pembelajaran, tetapi sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh karena itu uji kompetensi guru akan mendorong terciptanya kegiatan dan hasil belajar yang optimal.

Guru yang sudah teruji kompetensinya akan lebih mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kreatif dan efektif, sehingga mampu mengembangkan potensi seluruh peserta didiknya.

Dengan demikian uji kompetensi guru merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan setiap guru dan calon guru (Mulyasa, 2007).

3. Penilaian Kinerja Guru

Penilaian kinerja guru merupakan suatu kegiatan untuk membina dan mengembangkan guru profesional yang dilakukan dari guru, oleh guru, dan untuk guru. Penilaian kinerja guru dilakukan untuk menggambarkan kompetensi dan kinerja seluruh guru dalam berbagai

jenjang dan jenis pendidikan. Hasil penilaian kinerja tersebut dapat digunakan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk melakukan refleksi yang berhubungan dengan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kinerja guru (Mulyasa, 2013).

Penilaian kinerja guru juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memperoleh gambaran tentang pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, yang ditunjukkan dalam penampilan, perbuatan, dan prestasi kerjanya. Penilaian kinerja guru dilaksanakan rutin setiap tahun yang mrenyoroti empat belas kompetensi bagi guru pembelajaran dan tujuh belas kompetensi bagi guru bimbingan konseling atau konselor (Mulyasa, 2013).

Penilaian kinerja guru bertujuan untuk menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu para guru untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan membantu pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional. Untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah tenaga profesional dibidangnya dan sebagai pengahargaan atas prestasi kerjanya, penilaian kinerja guru harus dilakukan terhadap guru pada setiap satuan pendidikan, baik dilingkungan formal maupun non formal, yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat (Mulyasa, 2013).

4. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Pengembangan keprofesian berkelanjutan diperlukan untuk mendeskripsikan kinerja guru sesuai dengan tugas dan fungsinya, serta sesuai dengan prinsip bahwa guru harus menjadi pengajar sepanjang hayat yang senantiasa belajar. Pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru dapat dilakukan melalui berbagai wadah, antara lain kelompok kerja guru untuk guru sekolah dasar, dan musyawarah guru mata pelajaran untuk guru sekolah menengah. Di forum ini guru dapat melakukan banyak hal bersama teman-teman guru lainnya karena forum ini tidak hanya membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelajaran, tetapi juga untuk mendiskusikan dan mengembangkan berbagai kegiatan akademik dan melakukan refleksi diri (Mulyasa, 2013).

Pengembangan keprofesian berkelanjutan merupakan bentuk pendidikan berkelanjutan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk melakukan perubahan demi keberhasilan peserta didik. Semua peserta didik diharapkan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bahan ajar serta mampu menerapkan kompetensi yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu dikembangkan berbagai pendekatan dan strategi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga guru dapat belajar secara berkesinambungan setelah memperoleh pendidikan dan pelatihan awal. Pengembangan keprofesian berkelanjutan mencakup seluruh pribadi dan kompetensi-kompetensi yang dimiliki oleh pendidik yang disertai dengan kesadaran untuk meningkatkan pemahaman dan

memberikan layanan yang sesuai dengan standar kompetensi profesi (Mulyasa, 2013).

Secara umum, pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Secara khusus, pengembangan keprofesian berkelanjutan guru bertujuan untuk:

a. Meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan dalam peraturan perundangan yang berlaku.

b. Memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk memfasilitasi proses pembelajaran peserta didik.

c. Meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional.

d. Menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru.

e. Meningkatkan citra, harkat dan martabat profesi guru di masyarakat.

f. Menunjang pengembangan karir guru.

g. Menumbuhkan komitmen yang tinggi di kalangan para guru untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negaranya melalui pendidikan (Mulyasa, 2013).

C. Mutu Pendidikan di Indonesia dan Pengaruh Guru Terhadap

Dokumen terkait