A. Kronologis Kasus W ( Inisial )
2. Usaha – Usaha yang Dilakukan Damar
Tim Penanganan Kasus yaitu Eka, Uci dan Novie mendapatkan informasi via hot line service tentang korban trafficking yang kabur dari penyekapan di Asrama A- SKM. Dari diskusi tersebut diperoleh kesimpulan bahwa kasus didampingi oleh Damar dan KBH. Serta sesuai keinginan korban maka ia akan dipulangkan. Tetapi untuk sementara waktu selagi kasusnya berjalan di kepolisian dan menunggu biaya pemulangan korban ditampung dirumah aman milik Damar.
Kemudian, Tim Penanganan Kasus yaitu Eka, Uci, dan Novie mendampingi korban yang melapor kejadian itu pada polsek Pringsewu. Hari itu polisi Bripda Okta Devi langsung melakukan penyidikan pada korban.
Selanjutnya, menunggu selang beberapa hari untuk dipanggil kembali memberikan kesaksiannya, tetap Tim Penanganan Kasus yaitu Eka, Uci, dan Novie mendampingi korban yang dipanggil kembali .oleh Polsek Pringsewu untuk dimintai keterangan tambahan untuk kasusnya.
3. Analisis
Kasus ini merupakan kasus yang dapat dikategorikan Trafficking walaupun unsur – unsur lintas batas negara tidak ada. Adapun unsur – unsur yang dapat diterapkan adalah :
1. Unsur – unsure perekrutan dan pemindahtanganan ada dalam proses kasus ini. Jadi Wt direkrut oleh H dn dalam proses pelatihan dipindahtanganan ke asrama A-SKM Jakarta, Bekasi, akhirnya ke Pringsewu.
2. Korban memiliki posisi kerentanan, yakni situasi dimana seseorang tidak memiliki pilihan bebas.
3. Dalam proses penempatan ini, sarat dengan penipuan, baik penipuan yang bersangkutan dengan jenis kerja, kondisi kerja, maupun standar upah. 4. Dan dalam hal ini termasuk dalam kelompok False Promises (Dzuhyantin
dan Silawati 2001 : 79). B. Kronologis Kasus Rnk ( Inisial )
1. Kronologis Kejadian
Pada saat korban sedang mencari sayur dikebun dekat rumah bersama Gimen bulenya, korban dipanggil oleh teman mainnya, Yana. Yana adalah anak dari SI, berpesan bahwa ibunya ingin bertemu. Dengan penuh kepatuhan korban langsung mendatangi rumah temannya itu. Di rumah SI ternyata telah menunggu seorang lelaki separuh baya. SI mengatakan pada korban bahwa lelaki itu adalah Jm, orang paling kaya di Gemah Ripah, sawahnya luas, punya mobil, dan sangat baik hati. SI membujuk korban agar mau berkenalan dengan pelaku, maka korban akan dibelikan baju bagus dan diajak jalan – jalan naik mobilnya. Tak lupa SI mengajarkan agar korban mengaku bernama Dewi dan duduk kelas II SMP.
Kemudian korban berkenalan dengan pelaku, itulah kali pertama korban mengenalnnya. Meski letak rumah mereka tidak terlalu jauh namun baru kali ini korban melihat pelaku. Pelaku telah mempunyai 2 orang istri, dari istri pertama ia memiliki 2 orang anak, sementara istri keduanya sedang hamil.
Hari itu tepatnya pada pertengahan bulan Februari pelaku langsung mengajak korban jalan – jalan ke Tanjung Karang. Semula korban menolak karena takut pada pelaku yang baru dikenalnya. Tetapi SI terus membujuk korban, dengan mengatakan bahwa jika korban mau ikut ia akan dibelikan baju bagus, bedak dan akan diberi uang banyak untuk bayaran sekolah dan uang jajan. Mendengar perkataan SI korban langsung teringat bahwa ia belum bayar uang sekolah dan uang ulangan. Serta terbayang olehnya akan baju – baju yang bagus dan uang yang banyak. Apalagi SI berkali – kali meyakinkan bahwa pelaku adalah orang yang sangat baik dan sering membantu orang lain.
Siang itu korban termakan bujuk rayu SI. Mobil Suzuki Carry warna merah yang dikendarai pelaku membawa korban pergi ke Tanjung karang. Setelah menempuh perjalanan yang jauh akhirnya mobil berhenti di Pasar Bambu Kuning. Di pasar itu pelaku turun untuk berbelanja sementara korban menunggu di dalam mobil. Tak lama pelaku kembali membawa beberapa bungkusan untuk korban yang berisi antara lain, 1 buah baju pesta, 2 pasang baju stelan, 2 buah baju ―you can see‖, 1 buah bedak ―fanbo dan sebotol minyak wangi yang bermerk Harmoni. Setelah itu pelaku sempat mengajak korban berkeliling Tanjung Karang sebelum mengantarkan korban kembali ke Gemah Ripah. Setiba dari perjalanan ke Tanjung Karang korban diantarkan ke rumah SI. Tak lupa pelaku memberikan uang sebesar Rp.120.000, dengan rincian Rp.100.000 untuk membayar biaya
sekolah dan Rp20.000 untuk uang jajan. Tetapi uang Rp20.000 itu harus diberikan pada SI. Ajakan pertama ini korban tidak diapa – apakn oleh pelaku, hanya diajak jalan – jalan saja.
Kejadian berulang pada selang seminggu di bulan Februari akhir, korban kembali dibujuk oleh SI agar ikut dengan pelaku ke Tanjung Karang. Saat itu SI kembali mengatakan akan baju dan uang yang akan korban dapatkan apabila mau diajak pelaku pergi. Korban sempat menolak karena takut, namun SI membujuk dengan mengatakan bahwa pelaku adalah orang baik, sering membelikan baju, dan kemarin (kepergian yang pertama) korban tidak dicelakai oleh pelaku malah diajak jalan – jalan. Karen iming – imingan itu akhirnya korban mau diajak jalan – jalan lagi dengan mobil, dibelikan baju, kalung, dan diberi uang. Sebelum berangkat tak lupa SI berpesan pada korban bahwa jika korban mau kurus, langsing serta terlihat cantik maka korban harus mau disuntik dan meminum jamu yang diberikan oleh pelaku. Dan menyuruh korban untuk meminta baju, uang serta perhiasan sebanyak – banyaknya pada pelaku, ―Karena dia orang kaya jadi harus banyak diminta,‖ujar SI. Korban yang tidak mengerti maksud dan tujuan perkataan SI mengiyakan sementara terpikir dibenaknya bahwa ia memang ingin memiliki banyak baju, kalung, uang yang banyak agar bisa jajan.
Pelaku dan korban kembali pergi bersama menuju Tanjung Karang. Sudah dua kali kepergian itu korban tidak melihat ada orang lain yang mengetahui kepergian mereka. Mobil pergi menuju ke Bandar Lampung dan sempat berhenti di Pasar Pringsewu. Di pasar itu pelaku meninggalkan korban di dalam mobil untuk membelikan sebuah kalung emas seberat 3,5gr. Kemudian mereka kembali
melanjutkan perjalanan, tetapi di tengah perjalanan korban sempat pusing, dan oleh pelaku korban diberi obat berupa pil kecil berwarna kuning dengan tujuan agar korban tidak muntah. Namun setelah korban meminum obat tersebut, ia merasakn kepalanya bertambah pusing kemudian ia tertidur di dalam mobil tersebut.
Pelaku tetap mengendarai mobil tersebut. Tetapi ia membawa mobil itu menuju ―Hotel Jk‖ di Sukarame Bandar Lampung. Waktu menunjukkan pukul 18.30WIB saat mobil yang korban tumpangi memasuki sebuah hotel. Korban yang setengah terbangun dari tidurnya sempat membaca nama ―Jk‖ dan menyadari bahwa mobil masuk garasi dan pintunya langsung tertutup. Korban juga ingat mereka masuk sebuah kamar yang berada pertama dari pintu masuk hotel tersebut. Pada saat itu korban sempat bertanya tentang tempat yang mereka datangi dan siapa pemiliknya. Ia juga meminta pelaku untuk mengantarnya pulang karena ia takut. Namun pelaku menenangkan korban dan mengatakan bahwa tempat itu adalah rumah temannya, yang orangnya sangat baik.
Di dalam kamar korban diberi sebotol kecil minuman berwarna merah tua. Pelaku juga mengatakan bahwa jika korban meminum – minuman itu maka ia akan cantik dan langsing. Mendengar hal itu korban langsung teringat kata – kata SI ketika ia akan berangkat sehingga korban bersedia meminumnya meski tanpa dipaksa pelaku. Setelah minum, korban merasakan kepalanya semakin pusing dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Melihat reaksi korban, pelaku kembali mendekati korban sambil membawa sebuah suntikan yang berisi cairan berwarna putih seperti santan. Pelaku kemudian mengatakn pada korban bahwa suntikan itu
mempercantik dirinya dan tubuhnya kembali segar. Korban yang masih anak – anak dan sedikit mabuk diam saja, ia tidak pernah mengerti akibat yang akan terjadi dengan suntikan itu. Ia hanya membayangkan dirinya akan menjadi perempuan dewasa yang cantik dan langsing, seperti yang ia lihat di TV. Korban masih sadar ketika pelaku menyuntik pantatnya yang sebelah kiri dan setelahnya korban sadarkan diri.
Kira – kira pukul 04.30WIB korban tersadar dan bangun. Ia mendapatkan restleting celananya rusak dan seprei terdapat bercak darah, sementara disebelahnya masih tertidur pelaku. Masih dalam kondisi kepala pusing, sempoyongan dan badan yang terasa sakit serta nyeri, juga kebingungan yang teramat sangat. Ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang terdapat didalam kamar. Di dalam kamar mandi ketika hendakuang air kecil, ia merasakan kemaluannya sakit dan terasa nyeri, ia melihat disela – sela pahanya ada bercak – bercak darah bercampur cairan lender begitu juga didalam lubang kemaluannya. Saat buang air kecil itu darah kembali keluar bercampur dengan air seni. Merasakan kemaluannya yang perih korban hanya menangis dan tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia juga belum mengerti bahwa saat itu dirinya telah menjadi korban perkosaan.
Tepat pada pukul 08.00WIB korban diantarkan pulang oleh pelaku. Tetapi ia sempat dititipkan di rumah teman pelaku di daerah pagelaran karena pelaku akan bekerja. Pelaku berpesan pada korban untuk tidak pergi kemana – mana ketika menunggu ia pulang dari kerja dan berjanji akan mengantarkan korban pulang. Sepulang kerja sekitar pukul 14.00WIB pelaku mengantarkan korban ke rumah
SI, kemudian SI mengantarkan korban pulang ke rumah pamannya karena korban merasa takut semalam tidak pulang. Sesampainya di rumah, pamannya bertanya mengapa semalaman korban tidak pulang dan mengapa tidak sekolah, namun korban diam saja dan tidak menjawab. Pamannya tidak menduga bahwa kemenakannya telah menjadi korban perkosaan, dan hanya mengira bahwa korban bermalam di rumah saudara dari pihak ayahnya di Babakan.
Beberapa hari kemudian korban demam, namun ia masih ke sekolah dan mengangon kambing seperti biasanya. Ketika korban sedang melakukan pekerjaan yang setiap hari dilakoninya, mengangon kambing, seorang tetangganya bertanya mengapa korban terlihat pucat dan dijawab oleh korban bahwa ia masuk angin. Tetangga itu langsung menyampaikan pada paman korban. Kemudian pamannya segera menghubungi W, ibu korban, untuk mengabari korban yang sedang sakit. Disinilah kasus perkosaan itu terungkap. Pada malam hari di rumah pamannya, Gito, dihadapkan ibu, bibi dan pamannya yang lain, dengan berlinang air mata korban menceritakan semua yang telah ia alami. Yaitu bahwa dirinya telah menjadi korban perkosaan oleh tetangganya yang juga berprofesi sebagai seorang mantra desa. Cerita ini membuat seluruh keluarganya sangat terkejut, sedih, kecewa serta marah terhadap SI dan Jm.
Berita tentang perkosaan itu dengan cepat menyebar di desa Gemah Ripah. Tetapi tidak semua orang punya rasa empaty terhadap korban, banyak anggapan miring yang harus diterima korban. Cibiran ia dapat dari para tetangga, teman – teman bermainnya dan teman – teman sekolahnya. Sejak saat itu korban jadi enggan keluar rumah dan hanya melamun di dalam rumah. Ia juga tidak mau lagi pergi ke
sekolah karena malu dan jadi bahan ejekan teman – temannya, padahal sebentar lagi korban akan menghadapi ulangan umum.
Musibah itu akhirnya diketahui pula oleh Ustadz Ikhsan, guru ngaji korban. Beliau sangat terkejut mandengar kasus perkosaan yang menimpa murid ngajinya dan tidak menyangka bahwa pelakunya adalah watga pagelaran, tetangga dekat korban. Guru ngaji yang sangat prihatin terhadap peristiwa itu, segera memanggil korban untuk meminta keterangan lengkap pada korban, dan korban kembali menceritakan semua yang telah dialami. Ustadz Ikhsan juga meminta izin pada keluarga korban agar korban dapat tinggal di pondok pesantrennya ―AL Ikhsan‖ dalam beberapa waktu. Menurutnya di pesantren itu beliau akan memberikan bimbingan konseling kerohanian untuk penyembuhan fisik mentalnya, korban juga dapat kembalimengaji serta ditempat itu banyak teman – temannya agar korban tidak minder dan merasa sendiri lagi. Bukan itu saja, Ustadz juga menghubungi kepala sekolah korban untuk membicarakan masalah yang dialami korban serta meminta bantuan pada guru – guru sekolahnya untuk membantu mengawasi korban yang akan kembali bersekolah agar teman – temannya tidak mengejiknya lagi. Atas usaha ustadz tersebut akhirnya korban kembali sekolah, serta tetap tinggal di pondok pesantren itu.
Sudah lewat dari seminggu kejadian perkosaan itu, tepatnya pada hari itu korban diantar oleh Pak Rahmat tokoh masyarakat desa tersebut, pak Ikhsan, serta Pak Muhajir saudara korban, melaporkan kasus tersebut ke Polsek Pagelaran. Saat itu ibu korban dipaksa keterangannya mengenai kasus ini dan dibuatkan BAP, sedangkan untuk korban dilakukan pada besok hari.